Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

1. Segelas Pengkhianatan

BRAK!

"Apa?! Mobil baru?!"

Suara meja yang digebrak, disusul bentakan keras Rahardja, menggema di ruang kerja itu. Beberapa berkas bergeser dari tumpukannya, bahkan kotak pena ikut terangkat dari meja.

Saking terkejutnya kedua bahu Saras refleks terangkat.

"Saras, kamu ini selalu mengikuti gaya hidup orang lain tanpa memikirkan manfaatnya. Maunya serba mewah, padahal hanya menghamburkan uang."

Raharja mengatur napasnya sebelum melanjutkan. "Lihat kakakmu. Dia bekerja keras membangun kariernya sendiri. Sedangkan kamu..."

Rahardja tak melanjutkan kata-katanya.

Tangan Saras di atas pangkuannya terkepal erat. Selalu saja ia dibandingkan dengan kakak tirinya.

"Pa, Kak Chantika itu polwan. Urusannya sama penjahat, mana ada pakai barang-barang mewah. Sedangkan aku berada di lingkungan pebisnis yang menuntutku bergaul di kalangan sosialita yang glamor. Jadi gak adil kalau Papa membandingkan aku sama Kak Chantika," protes Saras.

"Kalau mau bergaya, pakai uangmu sendiri. Papa gak bakal nambahin uang bulananmu," tegas Rahardja.

Saras mendengus. "Aku hanya seorang staf. Papa tahu berapa gajiku. Mana mungkin aku punya banyak uang. Kalau Papa menaikkan posisiku menjadi manajer, aku gak bakal minta uang tambahan lagi sama Papa."

"Manajer?" ulang Rahardja sambil tersenyum sinis. "Apa kau layak?"

"Kalau terus dibiarkan jadi staf, kapan Papa tahu kemampuanku?" tantang Saras. "Semua orang di perusahaan hanya melihatku sebagai putri pemilik perusahaan, bukan sebagai orang yang bisa memimpin."

"Baik."

Rahardja mengangguk, lalu mengambil sebuah map dari laci mejanya.

Plak!

Ia melempar map itu hingga melayang dan mendarat tepat di depan Saras.

"Dapatkan investor untuk proyek ini, maka Papa akan menaikkan posisimu menjadi manajer."

Ia menatap putrinya lurus. "Kalau kau gagal, jangan pernah lagi meminta kenaikan jabatan ataupun uang tambahan dari Papa."

Saras mengangkat map tanpa berkata-kata, lalu melangkah keluar dari ruang kerja ayahnya.

Pintu tertutup sedikit keras di belakangnya, membuat Rahardja mengembuskan napas kasar.

"Sepertinya aku memang terlalu memanjakan anak ini," gumamnya pelan penuh sesal.

***

Malam itu, Saras melangkah masuk ke sebuah klub malam. Suara dentuman musik memenuhi klub malam seolah ikut menggema di dalam kepalanya. Lampu strobo membuat silau matanya.

Di sofa VIP, seorang pria bersandar santai. Dua wanita cantik duduk di kanan dan kirinya. Yang satu menyuapinya potongan buah, sementara yang lain memijat bahunya dengan manja.

Saras merapikan pakaiannya sebelum menghampirinya.

Bryan. Pria yang terkenal sebagai Casanova, pecinta seribu wanita, alias buaya darat.

"Tuan," Saras menyapa dengan seulas senyum ramah. "Saya ingin menawarkan kesempatan investasi yang sangat menguntungkan."

Bryan melirik sekilas tanpa minat. "Keuntungan?"

Saras mengangguk. "Perusahaan keluarga kami sedang berkembang pesat."

Bryan terkekeh pelan. "Benefit? Aku sudah punya terlalu banyak uang."

Ia menatap tubuh Saras dengan tatapan menilai tanpa menutupinya. "Jika kamu bisa memberikan keuntungan yang gak bisa kubeli, mungkin aku akan tertarik untuk berinvestasi."

Saras terdiam beberapa saat. Tatapannya bergantian mengarah pada dua wanita yang memeluk pria itu. Lalu sebuah ide muncul di kepalanya.

"Papa selalu saja membandingkan aku dengan Chantika dan selalu membanggakan dia." Senyum licik yang samar, nyaris tak terlihat, tersungging di bibirnya. "Mungkin ini kesempatanku menjatuhkan dia di depan papa."

Ia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka sebuah foto. "Bagaimana kalau... keuntungan yang tidak dimiliki pria lain?"

Bryan melirik layar ponsel yang disodorkan Saras. Di sana terpampang wajah Chantika. Cantik, berwibawa, dengan seragam polisi yang membuatnya tampak berbeda dari wanita-wanita yang biasa mengelilinginya.

Sudut bibir Bryan perlahan terangkat. "Siapa dia?"

Senyum Saras makin lebar. "Kakak tiriku."

***

Saras menghentikan mobilnya di area parkir sebuah hotel berbintang lima.

Chantika menyipitkan mata. Sejak tadi ia merasa ada yang janggal. Tidak biasanya adiknya bersikeras minta ditemani bertemu seorang investor. Apalagi malam-malam di tempat seperti ini.

"Ayo, Kak," ajak Saras. Ia melangkah lebih dulu masuk ke dalam hotel.

Tak lama kemudian, mereka sudah berhenti di depan sebuah kamar hotel.

"Kenapa membicarakan bisnis di kamar hotel?" tanya Chantika. Entah mengapa ia merasakan ada firasat buruk. "Bukankah biasanya pertemuan seperti ini dilakukan di ruang rapat, restoran, atau lounge hotel?"

Saras tersenyum tipis. "Kak, orang ini sangat sulit ditemui. Ini kesempatan emas. Aku sudah susah payah mencari tahu keberadaannya."

"Tapi...."

"Sudahlah, jangan buang waktu lagi," potong Saras. "Memangnya Kakak takut apa? Kakak 'kan seorang polwan. Bahkan berprestasi."

Chantika mengembuskan napas pelan. Meski masih merasa ragu, ia akhirnya memilih mengikuti adiknya.

Saras mengetuk pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun berdiri di ambang pintu. Bryan.

Tubuhnya tinggi, mengenakan jas mahal tanpa dasi. Beberapa kancing kemejanya sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan kesan santai sekaligus arogan.

Senyum tipis menghiasi bibirnya, tetapi sorot matanya tajam, seperti pria yang terbiasa menilai wanita hanya dalam sekali pandang.

"Tuan Bryan, saya Saras. Dan ini kakak saya, Chantika." Saras memberi isyarat memperkenalkan mereka. "Kami dari Rahardja Group ingin menawarkan kerja sama investasi."

Bryan tidak langsung menjawab. Tatapannya justru berhenti pada Chantika. Matanya bergerak dari ujung kepala hingga kaki tanpa berusaha menyembunyikan ketertarikannya.

Chantika jelas merasa tak nyaman dengan tatapan pria itu. Garis rahangnya menegang samar.

"Sebenarnya aku sedang tidak berminat membicarakan investasi," ujar Bryan santai. "Tapi karena aku selalu menghargai wanita cantik... silakan masuk."

Ia membuka pintu lebih lebar.

Saras tersenyum puas. "Terima kasih, Tuan."

Ia segera menarik tangan Chantika memasuki kamar hotel. Setelah dipersilakan duduk, mereka menempati sofa yang berhadapan dengan Bryan.

Bryan menyilangkan kedua kakinya dengan gaya elegan. "Baiklah. Coba jelaskan proyek yang ingin kalian tawarkan."

Saras yang sejak tadi tegang langsung membuka map. Ia memaparkan rencana pembangunan kawasan komersial lengkap dengan proyeksi keuntungan yang sudah dipersiapkan.

Bryan mendengarkan sambil sesekali mengangguk.

"Angka pertumbuhannya lumayan," katanya tenang ketika membaca isi map, lalu membalik beberapa halaman proposal. "Tapi risiko investasinya juga tinggi."

"Karena itu kami berharap Tuan Bryan bersedia menjadi investor utama kami," ujar Saras cepat, penuh harap.

Bryan menutup map itu perlahan. "Berapa nilai investasi yang kalian harapkan?"

Saras menyebutkan nominalnya.

Bryan hanya terkekeh pelan. "Jumlah sebesar itu bukan keputusan yang kubuat dalam lima menit."

Ia meraih sebotol wine, lalu menuangkannya ke tiga gelas kristal. Saat memutar cincin di jarinya, butiran putih nyaris tak terlihat jatuh ke salah satu gelas.

"Setidaknya kita bisa berbincang lebih santai dulu." Ia mendorong dua gelas ke depan kakak beradik itu. Gelas yang telah dicampuri sesuatu sengaja diletakkan di depan Chantika. "Silakan."

Chantika menggeleng sopan. "Maaf, saya tidak minum alkohol."

Bryan tidak memaksa. Ia hanya tersenyum tipis, lalu berkata, "Sayang sekali. Wine ini baru saja kudatangkan dari Prancis."

Ia menyesap gelasnya sendiri lebih dulu, seolah ingin menunjukkan bahwa minuman itu aman.

"Lagipula, aku gak suka membahas bisnis dalam suasana yang terlalu kaku."

Saras segera menyenggol pelan lengan kakaknya. "Kak... tolong sekali ini saja," bujuk Saras. "Aku sudah susah payah mendapatkan kesempatan bertemu beliau."

"Tidak," tolak Chantika dengan tegas.

Saras kembali memohon. "Kak... cuma sedikit. Anggap saja menghargai tuan rumah."

Tapi Chantika bergeming.

Suara Saras kembali terdengar. Kali ini sedikit lebih pelan. "Kak, kalau memang tidak mau membantu perusahaan keluarga, setidaknya bantu aku kali ini."

Chantika diam beberapa detik, menimbang. Ia tahu dirinya tak punya peran di perusahaan keluarga. Ia menghela napas, mengangkat gelas, lalu meneguk sedikit.

Alisnya mengernyit. Ada aftertaste yang aneh, dingin di ujung lidahnya; sesuatu seperti logam. Naluri polisinya berdentang pelan.

"Aku harus hati-hati," pikirnya. Ia menurunkan gelas, hendak meletakkannya.

Sebelum gelas itu menyentuh meja, suara Bryan memotong, "Aku gak suka melihat minuman yang kuberikan dibuang."

Ia menyandarkan tubuhnya, suaranya halus tapi ada ancaman di baliknya.

Saras menarik pelan ujung lengan baju Chantika.

"Kak... please," mohon Saras dengan suara bergetar.

 

...🔸🔸🔸...

..."Pengkhianatan paling menyakitkan bukan datang dari musuh, melainkan dari orang yang kita percaya tanpa ragu."...

..."Iri hati membuat seseorang rela mengorbankan keluarga demi memenuhi ambisinya sendiri."...

..."Nana 17 Oktober"...

......🌸❤️🌸......

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Anonim

Anonim

Saras benar-benar tega menjadikan kakak tirinya tumbal demi dirinya mendapatkan investor. Kalau berhasil papanya akan menaikkan posisinya menjadi manajer. Gile kau Saras.

Mereka berdua sudah berada di depan kamar hotel.

Chantika merasakan firasat buruk. Membicarakan bisnis di kamar hotel.

Saras mengatakan alasannya, berusaha meyakinkan Chantika yang seorang polwan.

Chantika meski ragu kok ya mau saja mengikuti adiknya yang gak bener.

Saras mengetuk pintu. Pintu terbuka. Bryan penghuni kamar tersebut.

Bryan melihat kecantikan Chantika sepertinya tertarik nih.

2026-07-25

1

Anonim

Anonim

Saras tidak mau dibanding-bandingkan dengan kakak tirinya, Chantika.
Chantika itu polwan, urusannya sama pejahat, menurutnya mana ada pakai barang-barang mewah.

Biar tidak minta uang tambahan sama papanya, Saras minta papanya menaikkan posisinya menjadi manajer.

Papanya tersenyum sinis. Bertanya, apa kau layak ?

Saking sudah muak mungkin sama Saras, papanya sampai melempar sebuah map, hingga mendarat di depan Saras.

Untuk menaikkan posisi sebagai manajer, papanya memberikan Saras pekerjaan - mendapatkan investor.

2026-07-25

1

Anonim

Anonim

Seorang Ayah membanding-bandingkan anak-anaknya bijaksana tidak sih. Tapi mungkin anaknya ada yang keterlaluan.

Seperti Saras ini. Sukanya kemewahan, menghambur-hamburkan uang. Beli mobil baru bukan memakai uangnya sendiri.

Saras hanya mementingkan diri sendiri, dengan dalih dia berada di lingkungan pebisnis yang menurutnya menuntut bergaul di kalangan sosialita glamor. Gila ini anak.

Pantas Papanya sangat marah. Membandingkan dia dengan kakaknya yang bekerja keras membangun kariernya sendiri.

2026-07-25

1

lihat semua
Episodes
1 1. Segelas Pengkhianatan
2 2. Pertolongan dari Pintu yang Salah
3 3. Rencana yang Berantakan
4 4. Takdir Tak Bisa Dijebak
5 5. Harga Sebuah Ambisi
6 6. Takdir yang Tak Terduga
7 7. Ketagihan
8 8. Wanita Pertama Tuan Enzo
9 9. Harga Sebuah Kesepakatan
10 10. Sidik Jari Sang Nyonya
11 11. Wanita yang Diakui Sang CEO
12 12. Kebenaran yang Tertunda
13 13. Identitas yang Kusimpan
14 14. Rahasia di Balik Pria Biasa
15 15. Pria Biasa dengan Rahasia Luar Biasa
16 16. Makan Malam Pertama
17 17.Ketika Dua Dunia Bertemu
18 18. Rindu yang Menyusup di Tengah Malam
19 19. Rumah Bernama Kamu
20 20. Selangkah Menuju Pernikahan
21 21. Jejak yang Tak Sinkron
22 22. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan
23 23. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan
24 24. Jejak Kebenaran dan Sebuah Lamaran
25 25. Sebelum Lamaran Itu Datang
26 26. Kejujuran Seorang Putri
27 27. CEO atau Staf Biasa?
28 28. Restu di Ambang Lamaran
29 29. Akses ke Keluarga Rahardja
30 30. Lamaran Seorang Staf Biasa
31 31. Siapa Kamu Sebenarnya?
32 32. Ujian Tanpa Gelar
33 33. Keputusan Rahardja
34 34.Keputusan Seorang Ayah
35 35. Hasrat Memiliki
36 36. Kecurigaan Saras
37 37. Rahasia di Balik Tirai
38 38. Rahasia yang Tak Terbukti
39 39. Bukan Sekadar Kontrak
40 40. Profesionalisme Seorang Enzo
41 41. Rahasia Calon Menantu
42 42. Jejak yang Disembunyikan
43 43. Jejak yang Mulai Diburu
44 44. Satu Langkah Sebelum Pernikahan
45 45. Jebakan Sebuah Kepercayaan
46 46. Janji di Tengah Ancaman
47 47. Janji di Gerbang Kehormatan
48 48. Selangkah Lebih Dulu
49 49. Target Bernama The Ghost
50 50. Rumah Bernama Kamu
51 51. Senyum yang Mulai Terusik
52 52. Badai Mulai Bergerak
53 53. Dua Wajah Seorang Enzo
54 54. Saat Sang Ghost Kembali
55 55. Topeng Sang Legenda
56 56. Di Balik Topeng Putih
57 57. Saat Rasa Penasaran Tumbuh
58 58. Jejak yang Mengarah Padanya
59 59. Jejak yang Sengaja Dihapus
60 60. Jejak Menuju Gudang Timur
61 61. Sedetik Sebelum Peluru
62 62. Kelemahan Sang Hantu
63 63. Jejak yang Mulai Terbaca
64 64. Di Antara Hangat dan Bahaya
65 65. Semakin Dekat dengan Rahasia
66 66. Semakin Dekat, Semakin Jauh
67 67. Jabatan Bukan Warisan
68 68. Jalur Mundur yang Tertutup
69 69. Di Tengah Kepungan
70 70. Sandera di Tengah Baku Tembak
71 71. Sang Penembak Misterius
72 72. Puzzle Sang Pemburu
73 73. Tempat untuk Pulang
74 74. Musuh yang Mulai Memahami
75 75. Pertanyaan Rahardja
76 76. Pelajaran Tentang Hormat
77 77. Lawan yang Akhirnya Berhadapan
78 78. Duel Tanpa Peluru
79 79. Mencari Celah
80 80. Celah yang Tak Akan Diberikan
81 81. Menjaga Batas
82 82. Batas yang Tak Boleh Dilanggar
83 83. Rumah yang Harus Dilindungi
84 84. Dua Garis, Dua Takdir
85 85. Pilihan yang Menyesakkan
86 86. Rahasia yang Tersingkap
87 87. Pilihlah Jujur
88 88. Tiga Bulan yang Terlambat
89 89. Seorang Ayah Menagih Pertanggungjawaban
90 90. Harga Sebuah Tanggung Jawab
91 91. Di Antara Dosa dan Tanggung Jawab
92 92. Takdir yang Enggan Pergi
93 93. Badai Baru di Ambang Pintu
94 94. Tanggung Jawab yang Tak Bisa Ditunda
95 95. Bukan Bagian dari Rahardja
96 96. Hak yang Tak Boleh Dirampas
97 97. Tanggung Jawab Tak Bisa Dipindahkan
98 98. Kejujuran yang Pahit
99 99. Restu yang Bukan Karena Kepercayaan
100 100. Langkah Bryan Dimulai
101 101. Umpan untuk Sang Hantu
102 102. Jebakan di Balik Penyergapan
103 103.
104 104. Kelemahan Sang Ghost
105 105. Satu Luka, Satu Petunjuk
106 106. Dua Jejak, Satu Identitas
107 107. Aroma yang Terlalu Familiar
108 108. Ingatan yang Terkubur
109 109. Saudara di Balik Topeng
110 110. Di Antara Hukum dan Keadilan
111 111. Kebohongan yang Mulai Terlihat
112 112. Pintu yang Dibuka dari Dalam
113 113. Langkah yang Membuka Rahasia
114 114. Satu Nama yang Mengubah Segalanya
115 115. Di Antara Hukum dan Keadilan
116 116. Antara Cinta dan Hukum
117 117. Tak Ada Lagi Rahasia
118 118. Keluarga yang Akhirnya Kembali
119 119. Jalan Keluar yang Salah
120 120. Kasih Sayang Bukan Hak Waris
121 121. Kesempatan Sebelum Hukum Datang
122 122. Pertanyaan Seorang Ayah
123 123. Antara Penyesalan dan Perburuan
124 124. Batas Baru Sang Bayangan
125 125. Tak Ada Lagi Tempat Bersembunyi
126 126. Belajar Berdiri Sendiri
127 127. Alasan Baru Sang Bayangan
128 128. SUAMIMU BUKAN SUAMIMU
129 129. Pada Akhirnya, Kita Memilih
Episodes

Updated 129 Episodes

1
1. Segelas Pengkhianatan
2
2. Pertolongan dari Pintu yang Salah
3
3. Rencana yang Berantakan
4
4. Takdir Tak Bisa Dijebak
5
5. Harga Sebuah Ambisi
6
6. Takdir yang Tak Terduga
7
7. Ketagihan
8
8. Wanita Pertama Tuan Enzo
9
9. Harga Sebuah Kesepakatan
10
10. Sidik Jari Sang Nyonya
11
11. Wanita yang Diakui Sang CEO
12
12. Kebenaran yang Tertunda
13
13. Identitas yang Kusimpan
14
14. Rahasia di Balik Pria Biasa
15
15. Pria Biasa dengan Rahasia Luar Biasa
16
16. Makan Malam Pertama
17
17.Ketika Dua Dunia Bertemu
18
18. Rindu yang Menyusup di Tengah Malam
19
19. Rumah Bernama Kamu
20
20. Selangkah Menuju Pernikahan
21
21. Jejak yang Tak Sinkron
22
22. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan
23
23. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan
24
24. Jejak Kebenaran dan Sebuah Lamaran
25
25. Sebelum Lamaran Itu Datang
26
26. Kejujuran Seorang Putri
27
27. CEO atau Staf Biasa?
28
28. Restu di Ambang Lamaran
29
29. Akses ke Keluarga Rahardja
30
30. Lamaran Seorang Staf Biasa
31
31. Siapa Kamu Sebenarnya?
32
32. Ujian Tanpa Gelar
33
33. Keputusan Rahardja
34
34.Keputusan Seorang Ayah
35
35. Hasrat Memiliki
36
36. Kecurigaan Saras
37
37. Rahasia di Balik Tirai
38
38. Rahasia yang Tak Terbukti
39
39. Bukan Sekadar Kontrak
40
40. Profesionalisme Seorang Enzo
41
41. Rahasia Calon Menantu
42
42. Jejak yang Disembunyikan
43
43. Jejak yang Mulai Diburu
44
44. Satu Langkah Sebelum Pernikahan
45
45. Jebakan Sebuah Kepercayaan
46
46. Janji di Tengah Ancaman
47
47. Janji di Gerbang Kehormatan
48
48. Selangkah Lebih Dulu
49
49. Target Bernama The Ghost
50
50. Rumah Bernama Kamu
51
51. Senyum yang Mulai Terusik
52
52. Badai Mulai Bergerak
53
53. Dua Wajah Seorang Enzo
54
54. Saat Sang Ghost Kembali
55
55. Topeng Sang Legenda
56
56. Di Balik Topeng Putih
57
57. Saat Rasa Penasaran Tumbuh
58
58. Jejak yang Mengarah Padanya
59
59. Jejak yang Sengaja Dihapus
60
60. Jejak Menuju Gudang Timur
61
61. Sedetik Sebelum Peluru
62
62. Kelemahan Sang Hantu
63
63. Jejak yang Mulai Terbaca
64
64. Di Antara Hangat dan Bahaya
65
65. Semakin Dekat dengan Rahasia
66
66. Semakin Dekat, Semakin Jauh
67
67. Jabatan Bukan Warisan
68
68. Jalur Mundur yang Tertutup
69
69. Di Tengah Kepungan
70
70. Sandera di Tengah Baku Tembak
71
71. Sang Penembak Misterius
72
72. Puzzle Sang Pemburu
73
73. Tempat untuk Pulang
74
74. Musuh yang Mulai Memahami
75
75. Pertanyaan Rahardja
76
76. Pelajaran Tentang Hormat
77
77. Lawan yang Akhirnya Berhadapan
78
78. Duel Tanpa Peluru
79
79. Mencari Celah
80
80. Celah yang Tak Akan Diberikan
81
81. Menjaga Batas
82
82. Batas yang Tak Boleh Dilanggar
83
83. Rumah yang Harus Dilindungi
84
84. Dua Garis, Dua Takdir
85
85. Pilihan yang Menyesakkan
86
86. Rahasia yang Tersingkap
87
87. Pilihlah Jujur
88
88. Tiga Bulan yang Terlambat
89
89. Seorang Ayah Menagih Pertanggungjawaban
90
90. Harga Sebuah Tanggung Jawab
91
91. Di Antara Dosa dan Tanggung Jawab
92
92. Takdir yang Enggan Pergi
93
93. Badai Baru di Ambang Pintu
94
94. Tanggung Jawab yang Tak Bisa Ditunda
95
95. Bukan Bagian dari Rahardja
96
96. Hak yang Tak Boleh Dirampas
97
97. Tanggung Jawab Tak Bisa Dipindahkan
98
98. Kejujuran yang Pahit
99
99. Restu yang Bukan Karena Kepercayaan
100
100. Langkah Bryan Dimulai
101
101. Umpan untuk Sang Hantu
102
102. Jebakan di Balik Penyergapan
103
103.
104
104. Kelemahan Sang Ghost
105
105. Satu Luka, Satu Petunjuk
106
106. Dua Jejak, Satu Identitas
107
107. Aroma yang Terlalu Familiar
108
108. Ingatan yang Terkubur
109
109. Saudara di Balik Topeng
110
110. Di Antara Hukum dan Keadilan
111
111. Kebohongan yang Mulai Terlihat
112
112. Pintu yang Dibuka dari Dalam
113
113. Langkah yang Membuka Rahasia
114
114. Satu Nama yang Mengubah Segalanya
115
115. Di Antara Hukum dan Keadilan
116
116. Antara Cinta dan Hukum
117
117. Tak Ada Lagi Rahasia
118
118. Keluarga yang Akhirnya Kembali
119
119. Jalan Keluar yang Salah
120
120. Kasih Sayang Bukan Hak Waris
121
121. Kesempatan Sebelum Hukum Datang
122
122. Pertanyaan Seorang Ayah
123
123. Antara Penyesalan dan Perburuan
124
124. Batas Baru Sang Bayangan
125
125. Tak Ada Lagi Tempat Bersembunyi
126
126. Belajar Berdiri Sendiri
127
127. Alasan Baru Sang Bayangan
128
128. SUAMIMU BUKAN SUAMIMU
129
129. Pada Akhirnya, Kita Memilih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!