BRAK!
"Apa?! Mobil baru?!"
Suara meja yang digebrak, disusul bentakan keras Rahardja, menggema di ruang kerja itu. Beberapa berkas bergeser dari tumpukannya, bahkan kotak pena ikut terangkat dari meja.
Saking terkejutnya kedua bahu Saras refleks terangkat.
"Saras, kamu ini selalu mengikuti gaya hidup orang lain tanpa memikirkan manfaatnya. Maunya serba mewah, padahal hanya menghamburkan uang."
Raharja mengatur napasnya sebelum melanjutkan. "Lihat kakakmu. Dia bekerja keras membangun kariernya sendiri. Sedangkan kamu..."
Rahardja tak melanjutkan kata-katanya.
Tangan Saras di atas pangkuannya terkepal erat. Selalu saja ia dibandingkan dengan kakak tirinya.
"Pa, Kak Chantika itu polwan. Urusannya sama penjahat, mana ada pakai barang-barang mewah. Sedangkan aku berada di lingkungan pebisnis yang menuntutku bergaul di kalangan sosialita yang glamor. Jadi gak adil kalau Papa membandingkan aku sama Kak Chantika," protes Saras.
"Kalau mau bergaya, pakai uangmu sendiri. Papa gak bakal nambahin uang bulananmu," tegas Rahardja.
Saras mendengus. "Aku hanya seorang staf. Papa tahu berapa gajiku. Mana mungkin aku punya banyak uang. Kalau Papa menaikkan posisiku menjadi manajer, aku gak bakal minta uang tambahan lagi sama Papa."
"Manajer?" ulang Rahardja sambil tersenyum sinis. "Apa kau layak?"
"Kalau terus dibiarkan jadi staf, kapan Papa tahu kemampuanku?" tantang Saras. "Semua orang di perusahaan hanya melihatku sebagai putri pemilik perusahaan, bukan sebagai orang yang bisa memimpin."
"Baik."
Rahardja mengangguk, lalu mengambil sebuah map dari laci mejanya.
Plak!
Ia melempar map itu hingga melayang dan mendarat tepat di depan Saras.
"Dapatkan investor untuk proyek ini, maka Papa akan menaikkan posisimu menjadi manajer."
Ia menatap putrinya lurus. "Kalau kau gagal, jangan pernah lagi meminta kenaikan jabatan ataupun uang tambahan dari Papa."
Saras mengangkat map tanpa berkata-kata, lalu melangkah keluar dari ruang kerja ayahnya.
Pintu tertutup sedikit keras di belakangnya, membuat Rahardja mengembuskan napas kasar.
"Sepertinya aku memang terlalu memanjakan anak ini," gumamnya pelan penuh sesal.
***
Malam itu, Saras melangkah masuk ke sebuah klub malam. Suara dentuman musik memenuhi klub malam seolah ikut menggema di dalam kepalanya. Lampu strobo membuat silau matanya.
Di sofa VIP, seorang pria bersandar santai. Dua wanita cantik duduk di kanan dan kirinya. Yang satu menyuapinya potongan buah, sementara yang lain memijat bahunya dengan manja.
Saras merapikan pakaiannya sebelum menghampirinya.
Bryan. Pria yang terkenal sebagai Casanova, pecinta seribu wanita, alias buaya darat.
"Tuan," Saras menyapa dengan seulas senyum ramah. "Saya ingin menawarkan kesempatan investasi yang sangat menguntungkan."
Bryan melirik sekilas tanpa minat. "Keuntungan?"
Saras mengangguk. "Perusahaan keluarga kami sedang berkembang pesat."
Bryan terkekeh pelan. "Benefit? Aku sudah punya terlalu banyak uang."
Ia menatap tubuh Saras dengan tatapan menilai tanpa menutupinya. "Jika kamu bisa memberikan keuntungan yang gak bisa kubeli, mungkin aku akan tertarik untuk berinvestasi."
Saras terdiam beberapa saat. Tatapannya bergantian mengarah pada dua wanita yang memeluk pria itu. Lalu sebuah ide muncul di kepalanya.
"Papa selalu saja membandingkan aku dengan Chantika dan selalu membanggakan dia." Senyum licik yang samar, nyaris tak terlihat, tersungging di bibirnya. "Mungkin ini kesempatanku menjatuhkan dia di depan papa."
Ia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka sebuah foto. "Bagaimana kalau... keuntungan yang tidak dimiliki pria lain?"
Bryan melirik layar ponsel yang disodorkan Saras. Di sana terpampang wajah Chantika. Cantik, berwibawa, dengan seragam polisi yang membuatnya tampak berbeda dari wanita-wanita yang biasa mengelilinginya.
Sudut bibir Bryan perlahan terangkat. "Siapa dia?"
Senyum Saras makin lebar. "Kakak tiriku."
***
Saras menghentikan mobilnya di area parkir sebuah hotel berbintang lima.
Chantika menyipitkan mata. Sejak tadi ia merasa ada yang janggal. Tidak biasanya adiknya bersikeras minta ditemani bertemu seorang investor. Apalagi malam-malam di tempat seperti ini.
"Ayo, Kak," ajak Saras. Ia melangkah lebih dulu masuk ke dalam hotel.
Tak lama kemudian, mereka sudah berhenti di depan sebuah kamar hotel.
"Kenapa membicarakan bisnis di kamar hotel?" tanya Chantika. Entah mengapa ia merasakan ada firasat buruk. "Bukankah biasanya pertemuan seperti ini dilakukan di ruang rapat, restoran, atau lounge hotel?"
Saras tersenyum tipis. "Kak, orang ini sangat sulit ditemui. Ini kesempatan emas. Aku sudah susah payah mencari tahu keberadaannya."
"Tapi...."
"Sudahlah, jangan buang waktu lagi," potong Saras. "Memangnya Kakak takut apa? Kakak 'kan seorang polwan. Bahkan berprestasi."
Chantika mengembuskan napas pelan. Meski masih merasa ragu, ia akhirnya memilih mengikuti adiknya.
Saras mengetuk pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun berdiri di ambang pintu. Bryan.
Tubuhnya tinggi, mengenakan jas mahal tanpa dasi. Beberapa kancing kemejanya sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan kesan santai sekaligus arogan.
Senyum tipis menghiasi bibirnya, tetapi sorot matanya tajam, seperti pria yang terbiasa menilai wanita hanya dalam sekali pandang.
"Tuan Bryan, saya Saras. Dan ini kakak saya, Chantika." Saras memberi isyarat memperkenalkan mereka. "Kami dari Rahardja Group ingin menawarkan kerja sama investasi."
Bryan tidak langsung menjawab. Tatapannya justru berhenti pada Chantika. Matanya bergerak dari ujung kepala hingga kaki tanpa berusaha menyembunyikan ketertarikannya.
Chantika jelas merasa tak nyaman dengan tatapan pria itu. Garis rahangnya menegang samar.
"Sebenarnya aku sedang tidak berminat membicarakan investasi," ujar Bryan santai. "Tapi karena aku selalu menghargai wanita cantik... silakan masuk."
Ia membuka pintu lebih lebar.
Saras tersenyum puas. "Terima kasih, Tuan."
Ia segera menarik tangan Chantika memasuki kamar hotel. Setelah dipersilakan duduk, mereka menempati sofa yang berhadapan dengan Bryan.
Bryan menyilangkan kedua kakinya dengan gaya elegan. "Baiklah. Coba jelaskan proyek yang ingin kalian tawarkan."
Saras yang sejak tadi tegang langsung membuka map. Ia memaparkan rencana pembangunan kawasan komersial lengkap dengan proyeksi keuntungan yang sudah dipersiapkan.
Bryan mendengarkan sambil sesekali mengangguk.
"Angka pertumbuhannya lumayan," katanya tenang ketika membaca isi map, lalu membalik beberapa halaman proposal. "Tapi risiko investasinya juga tinggi."
"Karena itu kami berharap Tuan Bryan bersedia menjadi investor utama kami," ujar Saras cepat, penuh harap.
Bryan menutup map itu perlahan. "Berapa nilai investasi yang kalian harapkan?"
Saras menyebutkan nominalnya.
Bryan hanya terkekeh pelan. "Jumlah sebesar itu bukan keputusan yang kubuat dalam lima menit."
Ia meraih sebotol wine, lalu menuangkannya ke tiga gelas kristal. Saat memutar cincin di jarinya, butiran putih nyaris tak terlihat jatuh ke salah satu gelas.
"Setidaknya kita bisa berbincang lebih santai dulu." Ia mendorong dua gelas ke depan kakak beradik itu. Gelas yang telah dicampuri sesuatu sengaja diletakkan di depan Chantika. "Silakan."
Chantika menggeleng sopan. "Maaf, saya tidak minum alkohol."
Bryan tidak memaksa. Ia hanya tersenyum tipis, lalu berkata, "Sayang sekali. Wine ini baru saja kudatangkan dari Prancis."
Ia menyesap gelasnya sendiri lebih dulu, seolah ingin menunjukkan bahwa minuman itu aman.
"Lagipula, aku gak suka membahas bisnis dalam suasana yang terlalu kaku."
Saras segera menyenggol pelan lengan kakaknya. "Kak... tolong sekali ini saja," bujuk Saras. "Aku sudah susah payah mendapatkan kesempatan bertemu beliau."
"Tidak," tolak Chantika dengan tegas.
Saras kembali memohon. "Kak... cuma sedikit. Anggap saja menghargai tuan rumah."
Tapi Chantika bergeming.
Suara Saras kembali terdengar. Kali ini sedikit lebih pelan. "Kak, kalau memang tidak mau membantu perusahaan keluarga, setidaknya bantu aku kali ini."
Chantika diam beberapa detik, menimbang. Ia tahu dirinya tak punya peran di perusahaan keluarga. Ia menghela napas, mengangkat gelas, lalu meneguk sedikit.
Alisnya mengernyit. Ada aftertaste yang aneh, dingin di ujung lidahnya; sesuatu seperti logam. Naluri polisinya berdentang pelan.
"Aku harus hati-hati," pikirnya. Ia menurunkan gelas, hendak meletakkannya.
Sebelum gelas itu menyentuh meja, suara Bryan memotong, "Aku gak suka melihat minuman yang kuberikan dibuang."
Ia menyandarkan tubuhnya, suaranya halus tapi ada ancaman di baliknya.
Saras menarik pelan ujung lengan baju Chantika.
"Kak... please," mohon Saras dengan suara bergetar.
...🔸🔸🔸...
..."Pengkhianatan paling menyakitkan bukan datang dari musuh, melainkan dari orang yang kita percaya tanpa ragu."...
..."Iri hati membuat seseorang rela mengorbankan keluarga demi memenuhi ambisinya sendiri."...
..."Nana 17 Oktober"...
......🌸❤️🌸......
.
To be continued
"Kak, proyek ini menyangkut ribuan karyawan." Saras menatap kakaknya dengan sorot mata penuh permohonan sekaligus frustrasi. "Di perusahaan, Papa sedang menghadapi krisis, Kak. Please... hanya minum segelas doang."
Chantika menggenggam gelas itu lebih erat sebelum akhirnya meneguk isinya hingga tandas.
"Jika ada yang mulai gak beres, aku harus segera pergi." Itulah yang ada di kepalanya.
Senyum tipis terukir di sudut bibir Bryan. "Bagus."
Saras ikut tersenyum. "Kalau begitu, sekarang kita bisa lanjut membicarakan investasi, 'kan?"
"Tentu." Bryan mengangguk pelan. "Tapi sebelumnya, Nona Saras, aku mau meminta bantuanmu mengambil dokumen proposal yang tertinggal di mobilku. Aku baru ingat, asistenku menitipkannya di sana."
"Tentu." Saras langsung berdiri.
"Biar Kakak saja, Ras." Chantika ikut berdiri.
"Nona Chantika tetap di sini saja," kata Bryan. "Aku sekalian ingin mengenal calon rekan bisnis keluargamu."
"Kak, temani sebentar ya," pinta Saras. Ia mendekat ke kakaknya, lalu berbisik, "Kakak bisa berkelahi. Jika ada apa-apa Kakak bisa membela diri. Sedangkan aku... Kakak gak mau terjadi apa-apa 'kan sama adikmu ini?"
Lalu tanpa menunggu jawaban dari kakaknya Saras segera meraih kunci dari Bryan, kemudian keluar dari kamar.
Mau tak mau Chantika kembali duduk. Karena yang dikatakan adiknya memang masuk akal.
Begitu pintu tertutup, pandangan Bryan beralih pada Chantika. "Aku dengar... putri tertua keluarga Rahardja memilih menjadi seorang polwan. Itu kamu, bukan?"
"Benar."
Namun, sebelum sempat melanjutkan kalimatnya, kepala Chantika mendadak terasa berat. Pandangannya mulai berputar. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
"Maaf... saya permisi sebentar."
Ia berusaha berdiri. Namun, baru beberapa langkah, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terhuyung.
Bryan memerhatikan perubahan pada wajah Chantika. Kedua pipi gadis itu mulai memerah. Napasnya sedikit memburu, sementara sorot matanya perlahan kehilangan fokus.
Sudut bibir Bryan bergerak samar, nyaris tak terlihat. Lalu bergumam pelan, nyaris berbisik, "Akhirnya bekerja juga."
Chantika mengerjapkan mata beberapa kali. Kepalanya terasa semakin berat.
"Apa... yang kau masukkan ke dalam minuman itu?" suaranya mulai melemah.
"Aku hanya ingin kita bisa berbincang dengan lebih santai." Bryan bangkit dari sofa, lalu melangkah perlahan mendekatinya.
Spontan Chantika mundur selangkah. "Jangan mendekat."
"Tenang saja." Bryan masih tersenyum. "Aku tidak akan menyakitimu."
Tatapan Chantika berubah tajam. Meski pandangannya mulai kabur, nalurinya sebagai penegak hukum menangkap bahaya yang terpancar dari pria itu.
"Kau bohong."
Bryan terus mendekat. "Kau cantik, Nona Chantika. Sangat disayangkan kalau malam ini berakhir begitu saja."
Ia mengulurkan tangan hendak menyentuh pipi Chantika.
Plak!
Chantika menepis tangan itu sekuat tenaga. "Jangan sentuh aku!"
Bryan mengembuskan napas kesal. "Kau masih bisa melawan rupanya."
"Kalau kau mendekat lagi, aku akan menangkapmu," ancam Chantika.
Ucapan itu justru membuat Bryan tertawa. "Menangkapku? Lihat dirimu dulu."
Bryan malah menerjang.
Meski tubuhnya limbung, refleks Chantika masih terlatih. Begitu Bryan meraih lengannya, Chantika memutar tubuh, melepaskan cengkeraman lawan, lalu menghantam siku pria itu.
Brak!
Bryan terdorong menghantam meja. Tanpa memberi kesempatan, Chantika menendang lututnya. Pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut.
"Sial!"
Chantika memanfaatkan kesempatan itu. Dengan napas tersengal, ia berlari menuju pintu.
"Berhenti!"
Bryan berusaha mengejar, tetapi benturan tadi membuat langkahnya lambat. Namun ia berhasil menarik ujung blouse Chantika.
Tak ingin terus di kejar, dengan gerakan goyah Chantika menendang perut Bryan. Lalu--
BUGH!
Chantika memukul tengkuk pria itu. Dalam hitungan detik Bryan kehilangan kesadaran. Dan--
BRUK!
Tubuh Bryan jatuh ke lantai.
Chantika membuka pintu dan berlari keluar. Lorong hotel tampak berputar di depan matanya. Lampu di langit-langit seperti titik-titik cahaya. Namun ia terus memaksa kedua kakinya melangkah meski tubuhnya semakin lemah.
"Aku... harus bertemu dokter...."
Langkahnya mulai sempoyongan. Dinding menjadi satu-satunya penopang agar ia tidak jatuh.
Dengan tangan gemetar, ia membuka tasnya, mencari ponsel.
"Sial!" umpatnya pelan.
Sebelum meminum wine itu, ia memang sudah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Jika terjadi sesuatu, ia akan segera menghubungi rekan kerja atau kantor polisi. Namun, ponselnya hilang.
"Siapa yang ngambil?"
Kepalanya semakin berat. Ia tak punya waktu memikirkan jawabannya.
Tangannya meraba setiap pintu kamar yang dilewatinya, berharap menemukan seseorang yang bisa dimintai pertolongan.
Hingga akhirnya, telapak tangannya menekan sebuah pintu yang ternyata tidak terkunci.
Klik.
Pintu itu terbuka ke dalam. Tubuh Chantika kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya jatuh ke arah seorang pria yang baru saja keluar dari ruang tengah kamar.
Pria itu refleks menangkap tubuhnya.
Mata Chantika yang mulai berat berusaha menatap wajah pria tersebut, tetapi semuanya terlihat buram.
"Tolong...."
Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibirnya sebelum kesadarannya benar-benar menghilang di dalam pelukan pria asing itu.
Tangannya tanpa sengaja menyentuh kulit dada pria yang mengenakan kimono tidur itu. Anehnya, ia merasakan ketenangan dari sentuhan tersebut.
"Nona, apa kau sadar dengan yang kau lakukan?" tanya pria itu dengan suara rendah.
"Panas," gumam Chantika. Tubuhnya tampak gelisah. "Tolong aku...."
Ia menempelkan pipinya di dada Enzo yang, entah mengapa, terasa begitu nyaman. Tangannya bergerak tanpa sadar di atas dada bidang pria itu.
Enzo, yang biasanya sangat benci disentuh wanita, entah mengapa kali ini justru tak mampu menjauh dari gadis yang telah lancang menyentuh tubuhnya.
"Bantu aku...." Chantika menarik leher pria itu, lalu mengecup bibirnya.
Enzo mengepalkan tangan saat Chantika menciumnya semakin agresif. Ia tak ingin memanfaatkan gadis yang jelas sedang berada di bawah pengaruh obat itu. Namun, entah mengapa jantungnya justru berdegup kencang dan darahnya mengalir lebih cepat. Hal yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Matanya terpejam, berusaha meredakan gejolak dalam dirinya. Namun....
"Kau yang menggodaku. Jadi, jangan salahkan aku."
Tanpa aba-aba, Enzo melingkarkan lengannya di bawah bokong Chantika dan mengangkat tubuh gadis itu. Dengan kakinya, ia menutup pintu, lalu membawa Chantika ke atas ranjang.
...🔸🔸🔸...
..."Takdir sering kali datang bukan melalui jalan yang indah, melainkan melalui pengkhianatan yang tak pernah kita duga."...
..."Orang yang berniat menjatuhkanmu mungkin berhasil membuatmu tersandung, tetapi takdir tetap mampu membawamu kepada seseorang yang telah dipersiapkan untukmu."...
..."Ada pintu yang kita buka karena putus asa, tanpa menyadari bahwa di baliknya, hidup kita akan berubah selamanya."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Chantika yang terpengaruh obat langsung menyambut agresif kala Enzo mengecup bibirnya. Jemarinya bergerak gelisah mencari kenyamanan di kulit pria yang kini di atasnya.
Enzo tak menyangka malam ini akan bertemu seorang gadis yang tidak membuatnya merasa risih saat disentuh. Bahkan sentuhan ini meski seperti mengantarkan arus listrik ke seluruh tubuhnya, anehnya ia malah merasa nyaman di antara hasratnya yang makn menggelora.
Tak sabar, ia menarik tali kimono tidur yang tak lagi menutupi seluruh tubuhnya karena ulah Chantika. Ia melepas dan melemparkan baju itu asal.
Ia benar-benar merasa gila. Tak menyangka bahwa mencium seorang wanita bisa membuatnya nyaman dan gelisah dalam waktu bersamaan.
"Ahh..."
Chantika mendesah ketika bibir Enzo mengecup dan menyesap kulit lehernya.
KRAK!
Enzo yang sudah tak sabar menarik blouse yang dikenakan Chantika. Ia melucuti pakaian mereka berdua hingga tak tersisa.
Pria itu mengecup setiap inci kulit putih itu. Ia menghisap ujung benda bulat yang ia temukan hingga cairan putih keluar. Tanpa ragu ia menelannya. Lidahnya terjulur menjilat cairan putih yang tertinggal di sudut bibirnya.
"Enak," gumamnya di antara deru napasnya.
Tubuh polos itu bergesekan, bertabrakan tanpa penghalang. Enzo menyelipkan jemarinya di antara jemari Chantika, menggenggamnya erat di atas kasur.
Pinggangnya bergerak semakin cepat. Napasnya memburu, jantungnya berlarian. Sumpah demi apapun ia belum pernah merasakan kenikmatan yang membuatnya merasa gila dan candu sekaligus. Gerakkannya membuat tubuh Chantika terombang ambing.
Wanita itu mendesah, bahkan memekik dalam kungkungan Enzo. Tubuh mereka bergolak, tenggelam dalam kenikmatan yang tak seharusnya mereka reguk.
Hingga akhirnya suara lenguhan panjang keduanya memenuhi ruangan. Enzo mendekap erat tubuh Chantika.
"Mulai malam ini.. Kau adalah milikku," bisik Enzo dengan napas yang belum stabil. "Wanitaku."
Enzo mengecup lembut kening Chantika yang basah oleh peluh.
Malam itu menjadi malam pertama Enzo menyentuh seorang wanita, sekaligus malam pertama ia menyerahkan dirinya pada hasrat yang selama ini selalu berhasil ia kendalikan.
Anehnya, setelah semuanya usai dan Chantika terlelap di dadanya, rasa kantuk perlahan datang menghampirinya.
Pria yang selama ini harus menelan pil tidur agar bisa beristirahat itu kini justru terlelap tanpa meminum apa pun. Entah mengapa, kehangatan dan aroma lembut tubuh Chantika menghadirkan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, hingga akhirnya ia tenggelam dalam mimpi.
***
Di kamar lain_
Bryan akhirnya tersadar. Tangannya terangkat memegang tengkuknya, lalu menyapu pandangan ke seluruh ruangan.
"Sial!"
Umpatnya begitu menyadari Chantika sudah tak ada lagi.
Ia berusaha bangkit, tetapi lutut dan perutnya masih terasa nyeri. Semua itu akibat serangan Chantika.
"Benar-benar liar," gumamnya. Salah satu sudut bibirnya perlahan terangkat. "Padahal dosis obat itu sudah cukup tinggi, tapi dia masih bisa melawan dan bahkan melumpuhkanku. Benar-benar seorang polisi."
Sesaat kemudian, senyum tipis kembali terukir di bibirnya.
"Aku jadi makin penasaran padanya."
Tatapannya kemudian beralih ke map proposal di atas meja yang tadi dibawa Saras.
"Gadis licik itu harus mengobati kekecewaanku malam ini."
Bryan mengambil ponselnya dan menghubungi Saras.
Tak lama, nada sambung terdengar.
Di dalam mobil yang melaju menuju rumah, Saras mengernyit saat melihat nama Bryan muncul di layar ponselnya.
"Kenapa dia menghubungiku? Bukannya sekarang seharusnya dia dan Chantika..."
Meski begitu, ia tetap menerima panggilan dan menyalakan mode pengeras suara.
"Halo, Tuan."
"Cari di mana kakakmu itu," suara Bryan terdengar dingin dari seberang. "Aku mau dia kembali ke kamarku secepatnya."
Saras mengernyit.
"Eh, Tuan. Bukankah kita sudah sepakat kalau aku hanya mengantarnya sampai ke kamar Tuan? Selebihnya itu urusan Tuan sendiri," jawabnya, tak ingin disalahkan.
Meski begitu, ia juga penasaran ke mana Chantika pergi. Bukankah tadi kakaknya sudah meminum wine yang dicampur obat?
"Aku tidak peduli," potong Bryan dingin. "Kalau malam ini dia gak kembali ke kamarku, jangan harap kau mendapat investasi dariku."
"Eh, Tuan—"
Tut... tut... tut...
Sambungan terputus. Saras mengembuskan napas kasar.
"Kenapa semuanya jadi berantakan begini? Semua ini gara-gara Chantika. Sialan."
Saras akhirnya menepikan mobilnya di tepi jalan. Ia segera menghubungi nomor Chantika. Namun, sesaat kemudian terdengar nada dering dari dalam tasnya.
"Damn!"
Saras memukul setir dengan kesal. Ia baru teringat. Saat di hotel tadi, diam-diam ia mengambil ponsel Chantika dari dalam tas kakak tirinya itu ketika perempuan tersebut sedang meneguk wine.
Tujuannya jelas. Ia tak ingin Chantika meminta bantuan kepada siapa pun. Bagaimanapun, Chantika adalah seorang polwan. Jika sempat menghubungi rekan kerja atau kantor polisi, seluruh rencananya bisa berantakan. Namun kini, justru ponsel itu menjadi masalah baginya sendiri.
"Ah! Kenapa semuanya jadi berantakan begini?"
Saras mengembuskan napas kasar, lalu menyalakan kembali mesin mobil dan memutar kemudi menuju hotel.
Sesampainya di sana, ia bergegas menghampiri meja resepsionis.
"Maaf, Kak. Apa Anda melihat wanita yang tadi masuk ke hotel ini bersama saya?"
Resepsionis tersenyum sopan. "Maaf, Bu. Saya kurang memerhatikan."
Saras mulai gelisah. "Kalau begitu, boleh saya melihat rekaman CCTV? Nomor kakak saya tidak bisa dihubungi. Saya takut terjadi sesuatu."
Resepsionis menggeleng pelan. "Maaf, Bu. Rekaman CCTV tidak dapat diperlihatkan kepada tamu karena merupakan kebijakan hotel. Jika memang ada keadaan darurat, saya bisa menghubungi petugas keamanan untuk membantu melakukan pengecekan."
Saras mengepalkan tangannya di balik tas. "Kalau begitu... tolong bantu saya. Kakak saya menghilang."
Melihat kepanikan di wajah Saras, resepsionis segera menghubungi petugas keamanan hotel. Tak lama kemudian, seorang petugas keamanan datang menghampiri.
"Ada yang bisa kami bantu, Bu?"
"Saya mencari kakak saya. Tadi kami datang bersama sekitar pukul delapan, tetapi sekarang dia menghilang. Saya khawatir terjadi sesuatu."
Petugas keamanan mengangguk.
"Baik, Bu. Kami akan membantu melakukan pengecekan melalui sistem CCTV internal. Namun, mohon maaf, rekamannya tidak bisa kami perlihatkan secara langsung. Jika kami menemukan keberadaan atau arah perginya, kami akan segera memberi tahu Ibu."
"Baik, tolong secepatnya, ya. Saya benar-benar khawatir," pinta Saras dengan wajah cemas.
"Baik, Bu. Mohon tunggu sebentar."
Petugas keamanan mengangguk, lalu bergegas menuju ruang kontrol CCTV. Sesampainya di sana, ia segera meminta petugas operator memutar rekaman sesuai waktu kedatangan Saras.
Layar monitor memperlihatkan Saras memasuki hotel bersama seorang wanita. Beberapa menit kemudian, Saras terlihat keluar seorang diri.
"Kembalikan sedikit," pinta petugas keamanan.
Operator mengangguk, lalu memutar ulang rekaman. Tampak jelas Saras dan wanita itu memasuki salah satu kamar VIP.
"Kamar VIP milik Tuan Bryan," gumam operator.
...🔸🔸🔸...
..."Tak semua langkah yang tersesat berakhir pada kehancuran. Kadang, justru di sanalah takdir mempertemukan dua jiwa yang tak pernah saling mencari."...
..."Orang yang berniat menjatuhkanmu mungkin berhasil mengubah arah hidupmu, tetapi tidak pernah bisa mengubah takdir yang telah ditetapkan untukmu."...
..."Manusia bisa menyusun rencana, tetapi takdir selalu memiliki jalan yang tak mampu ditebak siapa pun."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!