Pagi di SMA Pelita Harapan biasanya menjadi panggung bagi Axelle Alexander untuk berjalan dengan dagu tegak, mengabaikan kerumunan gadis yang memekikkan namanya. Namun hari ini, sang pangeran IT itu terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan seluruh baris kodenya.
Axelle berdiri di koridor dekat perpustakaan, merapikan kerah seragamnya untuk ke-20 kalinya. Di tangannya, ada sebuah buku tentang astronomi yang sebenarnya sudah ia hafal isinya, tapi ia butuh alasan untuk duduk di meja yang sama dengan dia.
"Oke, Axelle. Kau pernah meretas server pusat Alexander Capital. Bicara dengan satu gadis pasif bukan masalah besar," bisiknya pada diri sendiri.
Ia melangkah masuk. Di pojok ruangan, Giselle sedang duduk dengan sebuah buku catatan tebal dan pena yang menari-nari di atas kertas. Rambutnya yang sebahu menutupi sebagian wajahnya, memberikan kesan misterius yang membuat jantung Axelle berdegup tak keruan.
Axelle menarik kursi di depan Giselle. Suara derit kursi itu terdengar seperti ledakan di telinganya. Giselle mendongak, matanya yang tenang menatap Axelle dengan datar.
"Hai," sapa Axelle. Suaranya terdengar dua oktav lebih tinggi dari biasanya.
Giselle hanya mengangguk kecil, lalu kembali menulis.
"Buku itu... maksudku, kau sedang... buku," Axelle terbata. Tangannya gemetar hebat saat ia mencoba membuka buku astronominya sendiri, tapi sialnya, buku itu terbalik. "Maksudku, astronomi itu bintang. Dan kau... kau suka bintang?"
Giselle berhenti menulis. Ia menatap buku di tangan Axelle yang terbalik, lalu beralih menatap wajah Axelle yang kini sudah semerah kepiting rebus.
"Buku itu terbalik, Axelle," ucap Giselle pelan. Suaranya halus, seperti angin sore.
"Ah! I-ini... ini teknik membaca baru! Me-meretas perspektif visual!" Axelle segera membalik bukunya dengan panik, hingga buku itu jatuh ke lantai. Saat ia membungkuk untuk mengambilnya, kepalanya justru terantuk pinggiran meja. Duk!
"Aduh..." Axelle meringis, memegangi keningnya. Ia merasa ingin…
Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!
Bab 106: Algoritma yang Lumpuh
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 121 Episodes
Comments