"Turunkan senjatamu, Liam Alexander. Kau sedang mencoba melawan penulis dengan sebuah peluru timah. Itu sungguh sebuah metafora yang sangat buruk dan kasar."
Suara pria itu—Sang Arsitek—terdengar begitu jernih melewati kaca jendela, seolah-olah ia sedang duduk tepat di kursi penumpang sebelahku. Liam tidak bergeming; tangannya yang memegang pistol gemetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang mencapai titik didih. Urat-urat di lehernya menonjol, dan aku bisa mendengar deru napasnya yang berat dan sesak.
[Bajingan ini... dia bicara seolah-olah dia adalah Tuhan! Dia mengincar istriku, dia mengancam anakku, dan sekarang dia berdiri di sana dengan payung seolah-olah ini adalah pertemuan minum teh?! Aku akan menarik pelatuk ini! Aku tidak peduli dengan laser-laser merah itu! Jika aku harus mati di sini, aku akan membawanya bersamaku ke neraka!]
"Blair, jangan buka pintunya," desis Liam, suaranya parau dan penuh tekanan. "Pak Haris, tetap injak remnya. Jangan biarkan mereka mendekat."
"Liam, lihatlah sekelilingmu," ucapku dengan nada yang sangat tenang, meski jantungku berdegup kencang di balik mantel. "Laser-laser itu tidak tertuju padamu. Mereka tertuju pada Axelle. Jika kau menarik pelatuk itu, kau hanya akan memastikan akhir cerita yang tragis untuk putra kita."
Aku menoleh ke belakang, melihat Axelle yang duduk membeku. Wajah kecilnya pucat pasi, namun matanya tetap tajam, merekam setiap detil pria di luar sana.
"Turunkan senjatamu, Liam," perintahku sekali lagi, kali ini dengan otoritas seorang bankir yang sedang menutup kesepakatan berisiko tinggi. "Aku akan keluar bicara padanya."
"Blair, tidak! Aku tidak akan membiarkanmu!"
"Dia tidak ingin membunuhku, Liam. Dia menginginkanku sebagai 'karakter utamanya'. Dia tidak akan merusak koleksi berharganya sebelum pameran dimulai."
Aku membuka pintu mobil secara perlahan. Udara dingin dan aroma tanah basah langsung menyergap masuk. Aku melangkah keluar ke bawah guyuran hujan, berdiri tepat di h…
Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!
Bab 55: Dialog di Tengah Badai
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 121 Episodes
Comments
umie chaby_ba
siapakah sang arsitek? pembaca setia novel Elodie ini? apakah dia yang akhiri memegang sepenuh alur ini🫣🫣🫣🫣
2026-04-15
0