Cahaya temaram di ruang arsip itu seolah menghisap udara di sekitarku. Detak jantung Liam yang beradu dengan dadaku terasa begitu nyata, namun genggamannya tiba-tiba melonggar. Ia melepaskan pelukannya dengan gerakan yang sangat kaku, seolah-olah ada sengatan listrik yang memaksanya menjauh.
Wajahnya kembali mengeras. Tatapan pemujaan yang tadi sempat kulihat kini terkunci rapat di balik jeruji obsidian matanya yang dingin.
"Keluar dari sini, Blair," suaranya kembali menjadi bariton yang angkuh dan tanpa perasaan. "Kembali ke kamarmu dan lupakan semua omong kosong yang kau dengar tadi."
Aku tertegun, masih merasakan sisa kehangatan tubuhnya. "Tapi Liam... kau baru saja mengaku..."
"Aku tidak mengaku apa pun!" gertak Liam. Ia merapikan kemejanya dengan kasar, matanya melirik ke arah sudut langit-langit ruangan seolah ada kamera pengawas yang sedang mengintai setiap gerak-gerik kami.
[Maafkan aku, Blair... aku harus melakukan ini. Sang Editor tidak pernah benar-benar pergi. Dia ada di mana-mana, di setiap glitch cahaya dan di setiap sela frekuensi. Jika dia mendeteksi bahwa aku telah memulihkan memoriku sepenuhnya, dia akan menganggap 'anomali' ini tidak terkendali. Dia akan menarik kita kembali ke kehampaan, atau lebih buruk lagi... dia akan menghapusmu secara permanen dari realitas ini.]
Aku membeku. Suara hatinya terdengar begitu panik di bawah ketenangannya yang palsu. Aku menyadari satu hal: Liam sedang bersandiwara bukan untuk menyakitiku, tapi untuk menipu sistem yang sedang mengawasi kami.
Sarapan dalam Ketegangan
Pagi harinya, suasana di meja makan terasa lebih mencekam daripada malam sebelumnya. Liam duduk di sana, membaca koran bisnis seolah tidak ada hal luar biasa yang terjadi semalam. Axelle muncul dengan wajah yang jauh lebih gelap. Ia tidak menyapa, hanya duduk dan menatapku dengan sorot mata yang penuh luka sekaligus kerinduan yang salah arah.
"Pagi, Ma," ucap Axelle. Kata 'Ma' itu keluar dari bibirnya seperti sebuah kutukan yang ia paksakan…
Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!
Bab 91: Topeng di Balik Sandiwara
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 121 Episodes
Comments