Suasana di dalam mobil mewah yang membawa kami pulang dari pelelangan terasa begitu pekat. Liam tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemariku sedetik pun. Ia diam, namun napasnya yang berat dan tatapannya yang sesekali mencuri pandang ke arahku menunjukkan badai yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.
Begitu pintu mansion Alexander tertutup di belakang kami, kesunyian malam seolah menelan semua suara. Para pelayan sudah beristirahat, menyisakan lampu temaram di lorong menuju kamar utama.
"Blair," suara Liam terdengar parau saat kami sampai di depan pintu kamar.
Aku berbalik, menatap matanya yang hitam pekat. "Ya, Liam?"
[Jangan masuk ke kamar sendirian... kumohon. Malam ini kau begitu berbeda. Kau membelaku di depan Andreas, kau menolak Elodie, dan kau bilang kau milikku. Apakah aku boleh berharap lebih? Apakah malam ini aku tidak perlu tidur di sofa atau kamar tamu?]
Aku tersenyum tipis, meraih kerah jasnya yang mahal dan menariknya sedikit mendekat. "Kau masih ingin tidur di kamar tamu malam ini, Tuan Alexander?"
Liam menegang. Ia menelan ludah dengan susah payah, jakunnya naik turun. "Aku... jika kau mengizinkan."
"Masuklah," ucapku sambil membuka pintu kamar.
Di dalam kamar, aroma mawar dan maskulin bercampur menjadi satu. Liam melepaskan jasnya, menyisakan kemeja putih yang kini dua kancing atasnya sudah terbuka. Ia berdiri di dekat jendela, menatapku dengan tatapan yang sangat intens—tatapan seorang pria yang sudah sangat lapar akan kasih sayang selama belasan tahun.
Aku melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapannya. Tanganku terangkat, perlahan mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.
"Blair, apa yang kau lakukan?" bisik Liam, suaranya bergetar hebat. Tangannya mencengkeram pinggiran meja rias di belakangnya untuk menahan diri agar tidak langsung menerjangku.
"Menjadi istrimu yang sebenarnya," jawabku jujur. "Maafkan aku karena membuatmu menunggu selama enam belas tahun, Liam."
Liam mematung. Matanya mulai berkaca-kaca.
[Enam belas tahun... aku…
Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!
Bab 9: Penantian Enam Belas Tahun
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 121 Episodes
Comments
aditya rian
busettt lama bener .... Liam Lo kuat sih hebattt
2026-04-06
0
Nia Nara
Ada kah laki-laki seperti liam di dunia nyata?
2026-07-17
0
umie chaby_ba
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
2026-04-07
0