Keputusan Tissa bukanlah keputusan yang lahir karena emosi sesaat. Ia tidak mengucapkannya dalam kondisi marah, tidak pula dalam keadaan tertekan. Justru sebaliknya, keputusan itu muncul setelah hatinya kosong, setelah semua air mata habis, dan setelah harapan yang selama ini ia rawat mati perlahan.
Sejak hari di pemakaman itu, Tissa benar-benar berhenti menoleh ke belakang.
Ponselnya beberapa kali bergetar. Nama Irfan muncul berkali-kali di layar. Pagi, siang, malam, bahkan dini hari. Tapi Tissa tak pernah lagi menyentuh tombol hijau.
Awalnya pesan-pesan Irfan panjang. Terlalu panjang. Seperti seseorang yang takut ditinggalkan, tapi tak tahu caranya bertahan.
"Tis, aku mohon. Jangan gini caranya. Aku tahu aku salah, tapi aku masih suamimu. Kita bisa perbaiki semuanya."
Tissa membacanya sekali. Hanya sekali. Setelah itu, ponselnya ia letakkan kembali di atas meja tanpa ekspresi apa pun. Dadanya memang masih terasa sesak, tapi bukan lagi karena ragu, melainkan karena lelah.
Lelah berharap dan menunggu. Lelah memperjuangkan sesuatu sendirian.
Mama memperhatikan perubahan itu dengan hati-hati. Ia tak lagi melihat Tissa menangis histeris. Tapi justru ketenangan itulah yang membuatnya khawatir.
Suatu sore, saat mereka duduk berdampingan di teras, Mama akhirnya memberanikan diri bertanya.
“Kamu benar-benar yakin, Nak?”
Tissa menoleh. Tatapannya tenang, nyaris datar.
“Yakin, Ma.”
“Ini bukan karena emosi kan?”
Tissa menggeleng pelan. “Kalau karena emosi, aku sudah teriak dari dulu. Ini karena aku sudah nggak punya tenaga lagi.”
Mama terdiam. Ada nyeri yang tak bisa ia ucapkan. Ia ingin melindungi anaknya, tapi ia juga tahu, Tissa sudah terlalu lama bertahan demi orang lain.
“Kalau nanti dia datang lagi?” tanya Mama lirih.
“Aku tetap nggak akan berubah,” jawab Tissa tanpa ragu. “Aku sudah selesai.”
Kata selesai itu terdengar sederhana, tapi maknanya dalam. Bukan hanya tentang pernikahan. Tapi tentang seluruh luka yang selama ini ia simpan.
Sementara itu, Irfan justru makin t…
Berondongku Suamiku
Bab Sembilan Puluh Enam
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 102 Episodes
Comments
Ilfa Yarni
kalian Kirana bdn kecil hamil ank kembar gmn ga repot tuh untung s suami siaga ga pernah ninggalin Kirana seperti irfan dan tissa bagus lah jgn larut dlm kesedihan jadikan ini pelajaran buatmu kdpnnya hidup trus berjalan tata diri km kembali
2026-01-06
0
Teh Euis Tea
mudah2an kirana lahirannya lancar dan selamat, bayinya sehat
untuk tissa semangat ya perbaiki dirimu jgn berbuat kesalahan lg, mungkin itu karmamu tissa tp yg penting km bisa berubah ke yg lebih baik lg
2026-01-06
1
Ning Suswati
hai tissa nikmati aja kisah hidupmu, bukannya sdh menjadi pilihanmu merampas laki2 gk modal.banget hihihihi, gk ayah kandung gk butir gk satir semua penjahat dlm rumah tangga sendiri, nikmati saja semua nya
2026-05-25
0