Apartemen Kirana berada di lantai dua belas, menghadap ke arah barat. Dari jendela ruang tamu, matahari siang memantul di kaca gedung-gedung lain, membuat ruangan itu terasa hangat tanpa harus dinyalakan lampu. Ketika bel berbunyi, Kirana sedang melipat pakaian di kamar. Ia terdiam sesaat, menebak-nebak siapa yang datang. Samudera sedang di tempat usahanya bersama sang teman. Tidak ada janji dengan siapa pun.
Ia membuka pintu dan mendapati Papa Surya berdiri di depan sana. Untuk sesaat, waktu seperti berhenti.
“Pa,” ucap Kirana akhirnya. Nada suaranya datar, tapi sopan. Ia menyingkir sedikit, memberi jalan. “Masuk.”
Papa Surya melangkah masuk, menatap sekeliling apartemen itu. Bersih, rapi, mewah tapi nyaman. Ada aroma masakan yang masih tersisa di udara.
“Kamu sendiri?” tanya Papa.
“Iya. Sam belum pulang,” jawab Kirana singkat. Ia menutup pintu, lalu berjalan ke dapur. “Papa mau minum apa?”
“Air putih saja.”
Kirana mengangguk. Ia mengambil gelas, menuangkan air dingin dari dispenser, lalu meletakkannya di hadapan Papa yang duduk di sofa ruang tamu. Gerakannya tenang, nyaris tanpa emosi berlebih. Seolah yang datang bukan ayahnya, tapi tamu biasa.
Papa memperhatikan setiap gerakan itu. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, perasaan yang sulit ia namai. Kirana tampak dewasa. Jauh berbeda dengan Tissa yang selalu kasak-kusuk.
“Papa sudah makan?” tanya Kirana setelah duduk di kursi seberang.
“Belum.”
“Aku baru masak. Kalau Papa mau, kita makan siang sekalian,” tawarnya, tetap dengan nada yang sama,tidak hangat, tapi juga tidak dingin.
Papa ragu sejenak, lalu mengangguk. “Boleh.”
Kirana berdiri lagi. Ia mengambil piring tambahan, memanaskan masakan sederhana, sayur bening dan ikan goreng. Tak ada obrolan berarti selama mereka makan. Hanya bunyi sendok bertemu piring dan dengung AC yang mengisi ruangan.
Papa Surya makan dengan lahap. Masakan Kirana selalu begitu, sederhana tapi pas. Ia ingat, dulu Kirana sering memasak untuk mereka sekeluarga. Ingatan itu datang tanpa d…
Berondongku Suamiku
Bab Enam Puluh Satu
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 102 Episodes
Comments
Tamirah
Kenapa papanya Kirana gak intropeksi diri, kalau selama ini dia lebih sayang sama anak tiri nya dibandingkan dgn anak kandungnya . Tentu saja biar aman dan nyaman Kirana memilih keluar dari rumah itu .
Ternyata sdh nikah pun Tisa dan suaminya masih jadi tanggungan papanya.Gitu kok papanya Kirana gk nyadar.
2026-06-06
0
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lah trus kenapa kalo butuh uang buat lahiran? kalo emang uang buat lahiran belum ada harusnya jangan hamil apalagi hamil di luar nikah 😏 keluarga nya bener2 ga recommend lah bintang satu 🙏🏻🥲
2026-08-06
0
Radya Arynda
Jadi orang tua ngak adil semogah cepat dapat karma,,,lumpuh di telantarkan sama manusia2 serakah dan laknat,,,,,mantap kirana,,,,samudra pasti lihat semua,,,,
2025-12-22
0