Restoran sore itu terasa hangat dan ramai, sinar matahari menembus dari jendela besar, memantul di meja marmer yang mengilap. Hanum duduk di samping Abraham, sementara Julio di seberang mereka, sibuk meninjau hasil laporan proyek yang baru saja mereka selesaikan bersama.
Hari itu berjalan lancar, proyek pembangunan cabang baru perusahaan Abraham di pinggiran kota telah selesai tepat waktu dan Hanum menunjukkan performa luar biasa selama prosesnya. Bahkan Julio beberapa kali berkomentar kagum melihat ketelitian dan cara Hanum berkomunikasi dengan para pekerja di lapangan.
“Jujur aja, Tuan,” ujar Julio sambil tersenyum kecil, “kalau Bu Hanum terus turun lapangan, saya bisa pensiun lebih cepat.”
Hanum menatap Julio sambil tertawa pelan. “Jangan begitu, Pak Julio. Saya ini baru belajar.”
Abraham tersenyum, matanya menatap Hanum dengan kebanggaan yang tak disembunyikan. “Belajar, tapi hasilnya seperti ini? Kalau semua karyawan sepertimu, aku nggak perlu lagi ikut proyek.”
Pipi Hanum langsung bersemu. Ia menunduk, menyibukkan diri dengan meneguk jus lemonnya agar tidak terlihat gugup.
Beberapa menit berlalu dengan tawa ringan dan obrolan santai. Lalu Hanum berbisik pada suaminya, “Aku ke toilet sebentar ya.”
Abraham mengangguk, “Baik, Julio temani Hanum.”
“Siap, Tuan.” jawab Julio cepat, namun Hanum menolak halus, “Nggak perlu, Pak Julio. Toilet-nya kan dekat, aku bisa sendiri.”
Julio hanya mengangguk. Hanum pun berjalan pelan menuju arah belakang restoran.
Sementara itu, Abraham menatap layar ponselnya sebentar, mengecek beberapa email dari klien. Julio masih duduk di depannya, tapi kemudian izin untuk menelepon bagian proyek sebentar. Tinggallah Abraham sendirian di meja.
Dan saat itulah, suara langkah hak tinggi mendekat dari arah pintu masuk restoran. Aroma parfum tajam langsung menguar sebelum sosoknya muncul.
Wanita itu mengenakan gaun hitam elegan, bibirnya merah pekat, dan senyum liciknya seperti racun yang sudah lama menunggu waktu untuk disebarkan lagi.
“Sudah l…
Ibu Susu Bayi Sang Duda
42. Restoran
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 62 Episodes
Comments
Naufal Affiq
aku heran si rania ini gak bosan-bosan ingatin sama bian tentang alma,aku aja bosan,di pikiran si rania ,selalu aja merusak rumah tangga orang
2025-10-06
0
RaDja
bukan melupakan tapi cinta itu dia kunci diruang lain
dan sekarang ruang luas itu sudah dipenuhi istri baru
jadi ga dulu sekarang dan selamanya kamu ga akan bisa menempati hatinya karena kamu ga layak dicintai dengan hatimu yang sakit
2025-10-06
0
Kar Genjreng
kapan jera rania bikin mumet mau ngrayu seperti apa Abraham ga peduli dan tidak tertarik sedikitpun
2025-10-07
0