Aroma harum kopi dan roti panggang kembali memenuhi ruang makan besar keluarga Biantara. Hanum sibuk menyiapkan beberapa sarapan lainnya, sementara Siska membaca koran dengan tenang. Abraham sudah duduk di kursi utama, kemeja putihnya rapi, dasi tergantung longgar di leher, menunggu sarapan yang baru saja diletakkan Hanum di hadapannya.
“Silakan, Tuan Abraham,” ucap Hanum lembut, lalu buru-buru menunduk. Abraham hanya mengangguk, mengambil sendok dan mulai makan tanpa banyak kata. Namun, di sudut matanya, ia sempat menangkap bayangan Hanum yang sedang mengusap dagu Kevin agar tidak belepotan dengan botol asi. Ada senyum kecil yang nyaris tak terlihat muncul di wajahnya, namun cepat ia sembunyikan. Suasana pagi itu terasa damai, hingga suara bel pintu besar mengisi ruangan.
Seorang pelayan masuk dengan sopan. “Nyonya, ada tamu bernama Rania. Dia mengatakan ingin bertemu Tuan Abraham.”
Hanum sontak menoleh, keningnya berkerut samar. Abraham menghentikan gerakan sendoknya, menegakkan tubuhnya, tatapannya dingin menatap pelayan. “Rania?” ulangnya lirih, seolah nama itu menyeretnya ke masa lalu. Tak lama, seorang wanita anggun masuk. Rambut hitamnya terurai sebahu, gaun sederhana tapi elegan membalut tubuhnya. Wajahnya cantik, dewasa, dengan senyum yang ramah namun ada kesedihan yang membayang.
“Bibi…” suara Rania bergetar pelan. “Aku baru saja kembali dari luar negeri. Baru semalam aku tahu kabar Alma … aku sungguh tidak menyangka. Aku datang untuk menyampaikan belasungkawa.”
Suasana meja makan sontak membeku. Hanum menunduk, menahan rasa asing yang menjalari dadanya. Nama Alma, wanita yang tak pernah ia kenal langsung, tapi begitu sering terdengar dalam rumah ini, kembali hadir di hadapannya. Alma, istri pertama Abraham.
Siska meletakkan korannya, tersenyum sopan. “Silakan duduk, Rania. Sudah lama sekali kau tidak datang ke rumah ini.”
Rania mengangguk, lalu menatap Abraham dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku benar-benar menyesal, Bian. Aku tahu, Alma sangat mencintaim…
Ibu Susu Bayi Sang Duda
17. kau tetap istriku.
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 62 Episodes
Comments
Lusi Hariyani
nah gitu dong bian km hrs tegas sm org yg akn menghina istrimu dia itu akn jd pelakor jgn ksh harapan
2025-09-26
1
Teh Euis Tea
rania maksud hati ingin mengucapkan bela sungkawa dan berharap dudanya bian tp ternyata bian sudah menikah🤣
2025-09-26
1
Sandisalbiah
hah... Hanum harus sekolah kepribadian biar lebih tanggu.. kalau dia tetap jd istri lemah.. segudang suami yg dia punya bakalt raib di gondol pelakor kalau istrinya tdk bisa membela harga dirinya juga menjaga suaminya.. 🤦♀️
2026-06-26
0