Anika mulai terduduk lemas di kursi panjang lorong rumah sakit, bahunya naik turun tangisnya tumpah seperti menahan hujan bertahun-tahun, bukan karena lemah akan tetapi ia terlalu kuat selama ini berjuang sendiri, dan di kala rasa kuat itu mulai tertanam masalalu datang dengan penyesalannya dan pertahanannya pun runtuh.
"Aku sudah cukup kuat berjuang sendiri tanpamu ... Tapi maaf aku tidak akan kuat jika anakku tersiksa menahan rindu kepadamu ...," ucap Anika dengan derai air matanya.
Wanita kuat itu mulai menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tangisnya semakin membuncah mulut tertutup menahan suara isaknya. Ya saat ini dia memang sudah runtuh akan tetapi dia tidak kalah, hatinya menerima bukan berarti menyerahkan.
Sementara di balik tirai kamar 212 ada suatu pemandangan yang perlahan merobek dinding hati pria yang berdiri dari sisi ranjang itu, tubuhnya berdiri tegap menatap bayangan wajah yang begitu mirip dengannya, alis tebal, rahang tegas dan hidung mancung, bahkan saat terlelap seperti ini wajahnya benar-benar mirip.
Aslan mulai mendekat, duduk di kursi samping ranjang, matanya mulai memancarkan semburat penyesalan, lalu tangannya terulur menggenggam tangan kecil yang sudah di tancapkan infus.
"Aku sudah datang Nak, meskipun sebagai ayah yang terlambat," tangis Aslan pecah ketika menatap wajah pucat yang terlelap.
Tiba-tiba tangan kecil itu bergerak, kelopak matanya bergetar lalu terbuka perlahan, tatapannya kosong seperkian detik sebelum mengerjap melihat seseorang yang ada di hadapannya.
"Om ... Aslan ..." ucapnya menggantung seolah tidak percaya dengan kehadiran pria yang selama ini ia nanti.
"Sayang, Papa ... Eh Om Aslan datang Nak," ralat Aslan.
Anak kecil itu langsung tergugah ketika melihat sosok yang saat ini tengah berada di hadapannya, tawanya perlahan mulai muncul dari sudut bibirnya, tangannya mulai menggenggam tangan besar nan kokoh itu lalu ia menyelipkan sebuah kata-kata.
"Jangan pernah pergi, kita bertiga butuh Om, agar kita bebas dari tema…
Om Aslan Ini Ketiga Anakmu
Bab Dua Puluh Lima
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 90 Episodes
Comments
Danny Muliawati
nangis loh aq bc nta bgr Arjuna meluk PP nya D bilang jangan pergi lg huhuhu 😭😭
2025-10-30
0
Herta Siahaan
Hadehhh jawaban laki2 tak bertanggung jawab yah selalu begitu... kamu akan tau setelah dewasa. Tak berani kan jujur. Arjuna andai kamu tau Aslan tdk cinta bunda Anika... seperti nya Arjuna ini pengganti Aslan lemah
2025-10-20
0
Ellya Muchdiana
novelnya banyak bawang merahnya, tisu mana tisu,,,,
2025-09-03
1