Vano terkekeh melihat putrinya memasukkan balok yang bukan pada tempatnya, tapi Laura malah memukul-mukul agar balok itu masuk dan tetap saja tidak bisa, yang pada akhirnya Laura melempar mainan shape sorter tersebut.
"Masih kecil aja udah emosian, gimana gedenya?" Ia tak hentinya terkekeh melihat kelakuan putrinya.
"Kenapa, Van?" Tanya Cinta yang baru saja selesai mandi, mendapati suaminya yang duduk di tepi tempat tidur sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Itu, si Laura. Masukin balok bukan muatannya, dipukul-pukul dipaksa masuk tapi gak bisa masuk juga jadinya dilempar deh," jawab Vano sambil menunjuk shape soter yang telah bergelinding jauh dari karpet tempat Laura duduk.
"Hem, anak siapa ya suka emosi gak jelas?" Cinta pun ikut terkekeh.
Vano berdecak pelan. Ia berdiri dan memeluk istrinya dari belakang, menyandarkan kepala di pundak, menghirup aroma sabun di tubuh sang istri yang begitu memanjakan indera penciumannya.
"Jadi, aku seperti itu dimata kamu? Suka emosi yang tidak jelas?"
"Aku gak bilang seperti itu," Cinta mencoba mengelak.
Vano mengurai pelukannya, lalu memutar tubuh sang istri berhadapan dengannya. "Apa Evan ada menghubungi kamu?" tanyanya kemudian.
Cinta mengerutkan keningnya, kemudian menggeleng pelan. "Aku ganti nomor saat dia keluar negeri," jawabnya. "Kenapa nanyain dia?"
"Gak apa-apa," Vano tersenyum tipis. "Ini sudah lebih seminggu sejak bertemu dia di panti waktu itu, dan sampai sekarang dia gak mendatangi kita. Apa itu artinya dia mau berdamai dengan keadaan?"
Cinta mengangkat bahu. "Entahlah. Tapi bagus kalau seperti itu. Kita juga gak perlu mengungkit tentang Laura dengannya."
Vano menggeleng pelan sambil menghela nafas. "Tapi bagaimanapun juga dia itu keluarga Laura, bahkan dia yang lebih berhak dari aku."
"Jadi, kamu mau memberitahu Evan kalau Laura itu keponakannya?"
Vano tak menjawab. Jujur saja ia juga memiliki rasa takut untuk mengakui tentang putrinya, ia takut Evan akan merebut Laura darinya. Tapi kembali lagi, akan samp…
Janji CINTA
BAB 94.
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 106 Episodes
Comments
Dwi Rustiana
g usah mancing2 perkara deh Evan dah syukur adik sama keponakan kamu itu ketemunya Vano cba kalo lelaki lain modelan buaya darat g bakal jelas nasib dua2nya heran deh jadi orang itu yang legowo manusia itu g ada yang sempurna bkin emosi aja
2025-04-12
1
Eva Karmita
bingung mau bela yg mana ,, sama" berhak atas Laura semoga ada solusinya biar mereka bisa damai
2025-04-12
1
Pujierde
btw papa azka sama mama kinan sudah diberitahu belum akan masalah ini jangan sampai nnt mereka kaget loh mereka kan juga sudah sayang dengan laura
2025-04-17
0