Ditengah derasnya hujan, semua rahasia terbongkar. Ternyata selama dua setengah tahun belum cukup untukku mengenalnya. Dia kekasihku, Tapi dia bukan manusia.
~~~~~~~
Hari itu langit tertutup awan hitam, bulan yang harusnya menerangi bumi di tutup secara paksa oleh awan tersebut. Air dari awan hitam itu, menetes dengan debit yang cukup kuat.
Aku duduk di sofa rumahku bersama kekasiku Sambil membaca beberapa Novel romantis, sangat menyenangkan. Namun semuanya berubah saat ia mengambil bubuku dan menutupnya lalu kemudian menaruhnya di atas meja dekat sofa kami.
"Kenapa? Saya belum melihat lanjutan kisahnya." Kata ku dan ingin meraih kembali buku tersebut. Namun ia menahan tanganku dan menatapku dengan dingin.
"Anda tau siapa saya?" Tanyanya dengan lemah.
"Tentu. Anda adalah hal terbaik dalam hidup saya." Kataku dengan nada senang.
"Berjanjilah anda tidak akan meninggalkan saya jika anda tau siapa saya yang sebenarnya."
"Baik, saya berjanji. Bubuh saya jika saya meninggalkan anda." Kata ku karena umur kami yang sudah dewasa, tentunya sebentar lagi kami akan menikah.
"Saya bukanlah seorang manusia." Perkataannya membuat seisi kepalaku berhenti bekerja. Selama ini ia tidak pernah bercanda jika mengatakan tentang dirinya.
"Anda tau betapa saya menginginkan anda? Dan saya rasa saya sudah cukup untuk menahan hal ini."
"Apa maksud anda?" Tanyaku yang tidak mengerti dengan perkataannya.
" Anda ingin tau?" Tanyanya dan aku hanya menatapnya tanpa sedikitpun berpaling.
"Sepuluh puluh tahun yang lalu, saya menaiki bus untuk berangkat ke sekolah. Saya melihat seorang gadis sedang duduk di depan saya, saya tau kalau saya menyukainya. Setelah bus tersebut berhenti, gadis itu turun lalu menaiki bus yang berbeda. Saya mengikutinya dan duduk di bus yang sama." Tuturnya lalu berhenti sejenak.
Aku mencoba mengingat hal tersebut. Yaa aku pernah melakukan hal tersebut waktu di bangku SMP, saya menaiki bus yang berbeda karena rutenya di ubah.
"Gadis itu turun di depan sekolah nya, dan betapa senangnya saya ketika tau tempatnya bersekolah. Saya tetap duduk di bus tersebut sambil memandangnya untuk hilang. Namun bus tersebut menabrak pembatas jalan tanpa alasan, semua orang panik saya ingin keluar tetapi saya memilih untuk menolong orang-orang yang ada di dalam. Tetapi setelah semua orang turun, saya ingin menolong sopir bus tersebut, namun bus tersebut meledak." Katanya yang membuat jantungku memainkan dram.
"Saya tidak tenang, saya merasa ini semua karena gadis itu. Jadi saya ingin membawanya juga bersama saya, dan untungnya saya menemukan gadis yang sangat saya sukai sekaligus saya benci. Apa anda mau menolong saya untuk membawa gadis tersebut bersama saya?" Tanyanya kepada ku.
"Te...tentu, i....itu agar a..nda tenang kan." Kataku dengan terbata-bata.
"Kalau begitu mari." Ia mengambil sebuah pisau pemotong buah yang ada di atas meja lalu menusuk dadaku. Aku tidak bisa merasakan dadaku, itu menyakitkan ketika ia mencabu kembali pisau tersebut dan menusukkan nya di perutku.
"Gadis itu adalah anda." Katanya lalu menghilang dengan cahaya biru.
Aku mencoba mencabut kembali pisau yang masih tertancap. Darahku terlalu banyak keluar, lalu mataku tertutup. Aku mencoba membukanya namun tidak bisa.
~~~~
Anda membaca cerita saya? Bisakah saya mengajak anda juga? Kenapa anda diam? Saya anggap anda mau menemani saya. Nantikan saya malam ini, saya mungkin akan mengagetkan anda.
"Tolong buka kan pintu untuk saya malam ini"