Dari tempatku berbaring, aku bisa melihat jelas betapa tegap dan kokohnya tubuhnya — siluet yang seharusnya melindungi, namun kini justru menjadi bayang-bayang yang menakutkan. Pemandangan itu justru membuat rasa takut di dadaku semakin memuncak, napasku tercekat di kerongkongan. Tanpa memberi waktu untuk bernapas lega, ia menarik pergelangan kakiku hingga tubuhku makin mendekat padanya — lantai dingin terasa menjauh saat aku terseret di atas kasur — lalu menindihku dengan berat badannya sehingga aku tak sanggup lagi bergerak sedikit pun. Satu tangannya dengan mudah menahan kedua pergelangan tanganku di atas kepala, cengkeramannya begitu kuat hingga tak ada celah sekecil apa pun bagiku untuk melepaskan diri — jari-jarinya menekan ke daging hingga terasa nyeri tajam yang menjalar ke siku.
“Malam ini aku akan memberimu pelajaran yang takkan pernah kau lupakan seumur hidup,” bisiknya dengan nada yang sedingin es, napasnya menyapu leherku namun tak menyisakan sedikit pun belas kasih.
Mataku terbelalak penuh ngeri, aku menggeleng berulang kali sementara air mata terus mengalir deras membasahi pipi, menetes ke pelipis, lalu hilang di antara rambutku yang berantakan. “Jangan… tolong jangan lakukan ini… Aku memohon!”
Namun kata-kataku seolah tak pernah sampai ke telinganya — atau mungkin ia sengaja menutup telinga agar tak mendengar rintihan itu. Ia langsung menempelkan bibirnya ke leherku, lalu menggigitnya dengan keras hingga rasa perih yang tajam seketika menjalar ke seluruh tubuhku, seolah gigi itu menembus kulit hingga ke urat.
“Akkkk! Sakit!” jeritku tertahan, tubuhku berontak sekuat tenaga — kaki menendang, pinggang berusaha bergeser — namun tenagaku tak ada artinya di hadapan kekuatannya. Aku terasa seperti burung yang sayapnya sudah dipatahkan, terperangkap di bawah tubuh yang jauh lebih besar dan kuat.
Aku hanya bisa menangis pasrah saat merasakan tangannya yang lain menyusuri tubuhku perlahan — menyentuh tempat yang tak berhak ia sentuh tanpa izin — membuatku merasa semakin tak berdaya. Segala harapan untuk melawan seakan lenyap begitu saja, digantikan oleh rasa malu, takut dan sakit yang menyesakkan dada.
Belum sempat aku mengatur napas atau mengerti apa yang hendak dilakukannya selanjutnya, tanpa sadar kepalaku bergerak sendiri dan menabrak keras ke arah kepalanya — dahiku terasa perih saat menabrak dahinya. Cengkeramannya sedikit terlepas karena terkejut, dan kesempatan itu kugunakan sebaik-baiknya—tanganku terayun keras dan mendarat tepat di pipinya dengan seluruh sisa tenaga yang kumiliki.
PLAK!
Suara itu memecah keheningan kamar — nyaring, tajam, dan penuh kemarahan yang tak sanggup kuucapkan dengan kata-kata.
Adrian tertegun lebar, sejenak tak menyangka sama sekali apa yang baru saja terjadi. Matanya membelalak menatapku, seolah tak percaya bahwa gadis yang lemah ini berani menyentuhnya. Tanpa membuang waktu, aku segera memanfaatkan kebingungannya itu. Aku merangkak mundur secepat yang kucapai — lututku tersandung tepi kasur, tubuhku terhuyung — lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku dengan rapat, bersembunyi sepenuhnya di balik kain itu sambil tubuhku gemetar hebat dan isak tangis terus tertahan di tenggorokan. Aku meringkuk seperti janur, menutup telinga, menutup mata, berharap semuanya hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir.
Adrian masih mematung sejenak di tepi ranjang, sisi pipinya perlahan tampak memerah bekas tamparan itu — merah yang makin pekat seiring berjalannya waktu. Ia menatap ke arah gundukan selimut tempat aku bersembunyi dengan pandangan yang makin tajam, dingin, dan seolah tak menyisakan sedikit pun perasaan — matanya biru yang biasanya penuh kekuasaan kini berubah menjadi bongkahan es yang tak lagi mencair.
“Berani sekali kau mengangkat tanganmu padaku…” ucapnya dengan suara yang rendah namun berat — berat seperti batu yang akan menimpaku kapan saja — lalu terdengar tawa pendek yang terasa begitu dingin dan mengerikan, tawa tanpa sedikit pun kehangatan. “Hebat. Ternyata kau menyimpan tenaga yang cukup besar untuk melawanku.”
Tawanya lenyap seketika, digantikan oleh tatapan yang semakin tajam seolah ingin menembus kain selimut dan melihat ketakutan di mataku. “Ingatlah baik-baik apa yang terjadi malam ini. Lain kali, kau tak akan sempat melihat hal yang selembut ini lagi.”
Ia segera turun dari ranjang dengan gerakan cepat dan kasar, menyambar kemeja dan dasi yang tergeletak di lantai — pakaian yang tadi ia lepaskan dengan niat yang berbeda — lalu berbalik pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Pintu kamar itu terbanting keras hingga dinding dan jendela pun terasa bergetar hebat — bunyi yang menandakan bahwa di dalam ruangan ini kini hanya tersisa aku dan kesepian yang penuh luka. Aku hanya bisa melihat bayangan punggungnya yang menjauh hingga hilang di balik pintu itu — punggung yang tegap, tak goyah sedikit pun oleh tangisanku.
Aku meringkuk makin rapat di balik selimut, memeluk lututku seerat mungkin seolah itu satu-satunya perlindungan yang kumiliki. Akhirnya isak tangisku pecah sepenuhnya, rintihan kecil keluar tanpa kuasa menahannya: “Sakit… aku sungguh takut…” Bahuku terguncang hebat mengikuti setiap tangis yang keluar, air mata terus mengalir deras tanpa henti, membasahi bantal yang kini terasa basah dan dingin, sementara seluruh tubuhku masih terus gemetar tak berhenti — gigi bergemeretak, tangan dingin berkeringat, dada sesak seolah tak mampu lagi menghirup udara.
“Hhh… hiks… sakit… Ibu… Ayah… aku takut…” Tubuhku bergetar hebat, bahuku terguncang keras saat aku menangis sejadi-jadinya sendirian di sana — di kamar yang luas, di kasur yang empuk, namun terasa seperti dipenjara di ruang yang sempit dan gelap. Tak ada yang mendengar. Tak ada yang datang. Tak ada yang peduli. Leherku terasa perih saat menyentuhnya dengan tangan gemetar — bekas gigitan itu masih terasa panas, menandakan bahwa semua ini sungguh terjadi, bukan mimpi.
Sementara itu di luar, Adrian langsung melangkah masuk ke kamar mandi dengan langkah yang berat dan cepat. Suara keran terbuka nyaring, air mengalir deras membasahi seluruh tubuhnya — seolah ingin menghapus jejak yang baru saja ia tinggalkan. Ia berdiri diam terpaku di bawah guyuran air itu, matanya menatap tajam ke pantulan cermin yang ada di dinding — cermin yang berembun namun tetap memperlihatkan wajahnya yang penuh amarah yang tertahan. Di sana terlihat jelas bekas kemerahan di pipinya — bekas tamparan dariku. Melihatnya begitu, urat di pelipisnya makin menonjol, dan amarah yang tadi belum sempat habis kini berkobar kembali seketika — api yang tak kunjung padam, makin besar setiap kali ia menatap pantulan itu.
Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Adrian keluar, hanya melilitkan handuk putih di pinggangnya yang menutupi dari bawah pusar hingga ke lutut. Tubuhnya yang kekar terlihat jelas di sana — garis otot dada yang padat, perut yang rata dan berisi tenaga yang tak terbayangkan, setiap lekuk ototnya menegang keras menahan emosi yang meluap.
Cahaya remang dari balik tirai jendela hanya mampu membentuk siluet tubuhnya yang tegap dan kokoh. Di tengah suasana kamar yang sepi dan agak gelap itu, terlihat jelas garis otot yang terukir rapi di sekujur tubuhnya, seolah setiap lekuknya menyimpan kekuatan yang tak terduga — kekuatan yang baru saja ia gunakan untuk menindihku. Ia menunduk perlahan, tangannya terulur pelan mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja dekat ambang jendela — layarnya menyala samar, memantulkan wajahnya yang penuh ketegangan. Bayangannya jatuh panjang di balik kain tirai yang tembus pandang cahaya malam. Tak ada suara lain yang terdengar, namun kehadirannya saja sudah cukup membuat suasana terasa semakin dingin dan penuh tekanan yang berat — tekanan yang bisa meremukkan siapa pun di bawahnya.
Adrian langsung mengangkat telepon yang masuk itu — jari-jarinya masih basah, meneteskan air ke lantai. Baru saja ia menyapa dengan suara yang masih berat dan kasar, suara dari seberang terdengar penuh kegelisahan, seolah menahan napas:
“Tuan…”
“Ada apa?” potongnya dengan nada yang tegas dan rendah, tak sabar sedikit pun.
“Begini Tuan… kabarnya keadaan Nyonya Besar— makin memburuk. Tuan sebaiknya segera datang melihatnya sesegera mungkin.”
Adrian tertegun sejenak, matanya sedikit melebar tak percaya mendengar hal itu — amarah di wajahnya seketika tertahan, digantikan oleh sesuatu yang lebih dalam dan lebih kompleks. “Baiklah. Siapkan penerbangan untukku malam ini juga. Sekarang.”
“Baik, Tuan. Segera kami atur.”
Panggilan pun berakhir. Ia berjalan perlahan kembali menghadap cermin — langkahnya pelan, berat, seolah beban di pundaknya. Ia menatap pantulan dirinya sendiri — pria yang baru saja menyakiti seorang gadis. Bekas merah di pipinya masih terlihat jelas. Perlahan sudut bibirnya terangkat sedikit seolah menyimpan sesuatu namun seketika itu juga raut wajahnya kembali dingin tanpa menyisakan perasaan sedikit pun. Ia berpakaian dengan cepat, setiap gerakan penuh ketegasan — kemeja kancing rapi, dasi terikat sempurna, jas hitam menutupi tubuhnya — menyembunyikan segala emosi di balik kain yang mahal itu.
Di saat yang sama, begitu perintah itu sampai, Yamal langsung bergerak cepat — efisien, tenang, tanpa pertanyaan. Ia mengurus segala persiapan penerbangan, memerintahkan agar pesawat pribadi segera bersiap sepenuhnya supaya perjalanan bisa dilakukan secepat mungkin. Setelah memastikan semua urusan tertata rapi dan tak ada satu pun yang tertinggal, ia segera melajukan mobil menuju kediaman Adrian — lampu depan membelah kegelapan malam, menembus hujan yang mulai turun rintik-rintik.
Sesampainya di sana, Yamal masuk ke dalam rumah dan berdiri diam menunggu dengan sopan tepat di depan pintu kamar Adrian — tak mengetuk, tak bersuara, hanya menunggu. Tak lama berselang pintu terbuka, dan Adrian keluar dengan penampilan yang sudah sangat rapi dan sempurna — tak ada satu pun kerutan, tak ada satu pun yang menunjukkan apa yang baru saja terjadi di balik pintu itu. Ia langsung berjalan menuju mobil yang sudah menanti, tanpa menoleh ke arah kamarku, tanpa melambat sedikit pun. Sementara Yamal masuk sebentar ke dalam kamar — matanya menyapu ruangan yang remang, melihat gundukan selimut yang bergetar di atas kasur — namun ia tak berhenti, hanya mengangkat koper besar serta tas berisi tumpukan dokumen pekerjaan yang sudah disiapkan sebelumnya, lalu berbalik keluar dengan langkah yang tetap tenang.
Mobil hitam yang tampak gagah itu akhirnya berhenti dengan tenang di atas landasan, tepat di hadapan pesawat pribadi yang sudah menanti sejak tadi — mesinnya menderu rendah, lampu landasan menyala terang memantul di badan pesawat yang putih bersih. Pintu terbuka, dan Adrian melangkah turun dengan langkah yang mantap dan penuh wibawa, seolah segala sesuatu di tempat ini tunduk pada kehendaknya — tak ada jejak keraguan, tak ada jejak kelembutan. Tak lama kemudian Yamal ikut keluar dari mobil yang lain. Para pengawal berjas hitam yang bertubuh tinggi dan kekar yang sudah menanti di sana langsung berdiri tegap, lalu memberi hormat saat melihat kedatangan Adrian — gerakan serempak yang sempurna. Setelah hormat dicabut, mereka segera bergerak sigap mengangkat dan membawa koper serta segala keperluan Adrian dengan hati-hati namun tetap cepat.
Adrian berjalan lurus menuju tangga pesawat tanpa menoleh sedikit pun ke arah lain — ke arah kota, ke arah rumah yang baru saja ia tinggalkan, ke arah kamar di mana aku masih meringkuk menangis. Wajahnya tetap tenang, namun menyimpan kekuatan dan pengaruh yang luar biasa besar. Yamal berjalan beberapa langkah di belakangnya, selalu siaga menjaga keamanan tuannya, sementara pengawal yang lain menyebar menjaga jarak di sekeliling mereka agar tak ada yang mengganggu. Setelah semua barang sudah dimasukkan dan keadaan dipastikan aman sepenuhnya, Adrian pun melangkah naik masuk ke dalam pesawat — langkah terakhir yang memisahkannya dari tempat ini — diikuti oleh Yamal. Tak lama kemudian pintu pesawat tertutup rapat, dan suara mesin mulai terdengar berat bersiap membawa mereka pergi.