"Hei berhenti!" Suara seorang wanita yang memberhentikan pelancong yang tengah memaku beberapa papan kayu untuk membangun sebuah rumah sederhana di Desa Berkabut yang terletak ditengah hutan. Pria itu pun berhenti dan menoleh pada sumber suara itu. Tak ada siapapun disekelilingnya, ia kemudian berpikir, mungkin itu merupakan khayalannya saja karena kelelahan.
Setelah selesai membangun rumah kecil berbahan kayu ia turun bukit menuju ke sebuah desa dibawahnya untuk membeli keperluan sehari-hari. Ia bercerita tentang desa yang ia akan tinggali. Terlihat si penjual barang itu pucat, ia bergidik. "Disana tidak ada desa nak!" Ucapnya. Namun si pria pelancong malah tertawa dan langsung pergi dari toko setelah membayar borongan belanjaannya. "Hei nak! Hati-hati saja!" Kata si Penjual dengan suara teriakan yang cemas. "Siapapun yang pergi kesana tidak pernah kembali!" Lanjutnya lirih dengan lesu.
Perjalanan menaiki bukit untuk menuju desa yang selalu berkabut itu sangat melelahkan. Malam sudah tiba. Tak nampak cahaya bulan, hanya samar-samar cahaya berkabut yang terkena sinar lentera dari rumah-rumah didesa berkabut itu saja yang menemani. Tak ada suara binatang, hanya sesekali dia gemerisik daun dan semak yang tergoyang angin.
Jhonny si pria pelancong mengintip dari celah kayu yang ia buat dirumahnya. Beberapa orang desa terlihat sibuk di jalanan tanah itu. "Huh! Oang yang tadi rupanya tidak pernah keluar rumah, sampai saja bilang tak ada desa lagi diatas desanya." Gumamnya sambil memperhatikan orang yang keluar masuk rumah untuk memasang lentera didepan rumah mereka. "Padahal desa ini lebih sibuk dari desanya!" Lanjutnya.
Tiba-tiba ia dikejutkan dengan ketukan pintu dari arah belakangnya. Ia bangkit dan membuka pintu itu. Seorang wanita cantik dengan wajah dan kulit putih mulus, badan yang semok terlihat didepan pintu. Dibalut dengan kemeja putih yang hampir transparan dan rok pendek yang melengkapi penampilannya. Jhonny sempat melongo melihatnya. Namun wanita itu mengayunkan lengannya lewat depan wajah Jhonny. "Hei kau tak apa?"
"Oh ya aku tak apa!" Kata Jhonny kemudian. "Silakan masuk!"
Mereka duduk disebuah kursi kayu dengan hidangan beberapa roti yang ia beli di desa sebelah sore tadi.
"Aku hanya ingin berkenalan dengan tetangga baruku!" Kata wanita itu mendekati Jhonny.
"Tentu saja. Kupikir tidak akan ada orang yang peduli dengan tetangga baru," kata Johnny tertawa.
Tiga hari sudah berlalu, tak ada yang aneh dalam desa itu. Hanya kabut yang selalu menyelimuti saja yang membuat desa itu lain. Jhonny sudah semakin dekat dengan wanitanya yang bernama Teresa.
Malam itu benar-benar sepi diluar. Tapi Jhonny tiak sendirian di rumah kayunya. Ia bersama dengan wanita yang kali ini telah menjadi kekasihnya yangvtak lain adalah Theresa. Ia menemani Jhonny tidur sepanjang malam. Perbuatan Jhonny dan Theresa suah terlewat batas. Mereka melakukan hal yang bukan sepantasnya pasangan yang belum menikah lakukan. Theresa benar-benar memancing Jhonny. Sedang Jhonny terlalu mudah terpancing oleh Theresa.
Malam menunjukkan pukul dua. Tak ada aktivitas lagi diluar sana. Jhonny mengintip dari celah kayu ke lingkungan luar. Kagetnya aalah ketika tak ada rumah lain lagi. Semua rumah telah tiada. Ia menegok ke arah Theresa yang masih terlelap dengan hanya terbalut selimut. Wajahnya menegang, ia kembali megintip tapi rumah belum juga muncul.
Tiba-tiba cengkraman kuat mengagetkan dirinya. Ia berbalik, Theresa yang tadinya cantik jelita benar-benar berubah menjadi makhluk menyeramkan dengan kuku yanh panjang dan gigi yang penuh darah dan tajam. Wajahnya sebagian busuk menimbulkan bau anyir dengan darah yang melumuri bagian lehernya. Jhonny berteriak dengan berusaha melawan cengkraman kuat itu. Namun ia masih kalah kuat. Ia terpental ke dinding kayu hingga dindingnya jebol. Kuku panjang nan tajam dari hantu Theresa mulai menusuk perut Jhonny. Rasa perih menghampiri dilanjut dengan robekan diperut yang menyebabkan darah mencur kemana-mana. Kini Jhonny masih bisa merasakan sakit itu namun sekejap ia tak sadar lagi. Matanya masih membuka dengan bulat.
Theresa benar-benar menghabisi Jhonny. Diambilnya sesuatu yang panjang seperti tali dari dalam perut itu. Kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya yang menjijikkan. Kemudian ia merobek bagian dada, dikeluarkannya jantung danm hati lalu memakannya. Kepala Jhonny ia penggal dengan kukunya yang teramat tajam, dibantingnya penggalan kepala hingga tengkoraknya pecah. Diambilnya sesuatu dari kepalanya itu yang tak lain adalah otak. Mata Jhonny telah terlempar satu dari kepalanya. Otaknya hilang. Kepala ya ya g terpisah telah terbelah menjadi dua, Tubuhnya kosong tanpa organ. Darah dimana-mana, Hantu Theresa terdengar tertawa melengking dengan suaranya yang tinggi.
Jhonny benar-benar tak menyangka jiak pelancongan ke desa berkabut alias desa ghaib itu merupakan pelancongan terakhirnya didunia ini. Jhonny tak pernah kembali lagi kedesa dibawah ataupun pulang kembali ke tempat asalnya.
"Sudah kuduga ini akan terjadi," kata si penjual desa di bawah setelah 5 bulan Jhonny dilaporkan hilang tanpa jejak.