Sinopsis:
Sumire adalah Trance Medium yang mampu melihat entitas. Takio Amamiya adalah public figure Jepang yang tiba-tiba gift-nya aktif dan menghancurkan karirnya. Mereka tidak saling kenal, tidak saling mencari, tapi oracle, vision, dan hujan tanpa mendung di Desa Ainokura mempertemukan mereka. Karena beberapa pertemuan memang sudah takdir.
Tokoh Utama:
1. Sumire (FC)
Sumire bertubuh mungil 150cm dengan tubuh sintal berisi, rambut ikal hitam panjang sebahu, wajah oval berkacamata, bermata coklat hazel karena mendiang orang tuanya darah blasteran Jawa dan Belanda. Banyak yang bilang Sumire cantik, tapi banyak juga yang membully bahwa dia jelek dan gendut. Dia adalah Trance Medium Psychic, Reiki Practitioner, dan Oracle Reader yang bekerja di bidang spiritual.
2. Takio Amamiya (MC)
Takio Amamiya (雨宮 - Kuil Hujan), asli Jepang. Tinggi 175cm, bertubuh atletis proposional karena dia juga seorang model, rambut coklat gelap lurus setengah panjang tapi bukan gondrong, berwajah tampan dengan wajah pahatan sempurna. Seorang public figure yang tiba-tiba ada di suatu kondisi kemampuan dia aktif, bisa lihat vision/masa depan dan intuisi semakin kuat yang sehingga berpengaruh di karirnya.
Lokasi: Desa Ainokura, Gokayama, Toyama. Desa warisan dunia UNESCO, 20 rumah gassho-zukuri berusia 100-350 tahun yang masih dihuni, di pinggir Sungai Sho dikelilingi hutan cedar kuno. Tempat yang masih memegang tradisi yui dan dianggap power spot spiritual.
🌹Sudah tiga bulan Sumire tidak bisa membaca oracle untuk dirinya sendiri.
Setiap kali ia mengocok kartu untuk dirinya, kartunya selalu kosong. Putih. Atau melompat kartu yang sama: The Hermit — pertapa yang berjalan sendiri membawa lentera.
Sampai malam itu.
Ia sedang membereskan altar Reiki-nya ketika deck-nya yang sudah lama diam tiba-tiba panas. Dua kartu melompat keras ke lantai.
The Hermit dan The Village.
Bersamaan dengan itu, ruangan yang tadinya wangi dupa, berubah bau kayu basah yang sangat tua dan suara sungai. Sumire yang seorang trance medium langsung tahu, ini bukan halusinasi. Ini panggilan.
Panggilan itu menyebut satu nama: Ainokura.
Sumire tidak pernah berlibur. Kliennya selalu butuh dibersihkan rumahnya dari entitas, butuh di-Reiki chakranya. Tapi kali ini, ia menuruti kartunya. Ia memesan bus paling pagi ke Toyama.
Di sisi lain Jepang, di sebuah apartemen mewah di Tokyo, Takio Amamiya menatap naskah drama terbarunya tanpa bisa membaca satu huruf pun.
Tiga bulan lalu, sebuah lampu lighting jatuh tepat di samping kepalanya saat syuting. Sejak itu, dunia menjadi terlalu berisik. Ia bisa melihat vision. Ia melihat lawan mainnya akan menangis 10 detik sebelum air matanya jatuh. Ia melihat sutradara akan memaki sebelum mulutnya terbuka. Ia melihat komentar netizen bahkan sebelum mereka mengetik.
Intuisinya menjadi terlalu kuat. Sebagai aktor yang pekerjaannya adalah berpura-pura, ia tiba-tiba tidak bisa lagi berpura-pura. Ia bisa merasakan semua kebohongan di industri itu. Semua topeng.
Karirnya berhenti. Agensi bilang burnout. Dokter bilang anxiety.
Hanya neneknya di Aomori yang dulu seorang itako yang pernah berbisik, "Gift-mu akhirnya bangun, Takio."
Ia muak. Ia ingin bebas dari dunia selebriti untuk sesaat. Ingin merasakan kembali menjadi dirinya sendiri tanpa harus tersenyum sebagai Takio Amamiya. Ia menyuruh sopirnya jalan tanpa tujuan. Sopir yang lelah salah baca GPS dan menurunkan dia di sebuah papan kayu bertuliskan: Ainokura - Warisan Dunia. 2km jalan kaki.
Takio berjalan karena kesal. Jalannya menanjak, hutan cedar di kanan kiri.
Sumire tiba satu jam lebih dulu. Ia duduk di pelataran kuil kecil di ujung desa. Ia memejamkan mata, mencoba masuk ke trance ringan. Desa ini aneh. Biasanya di tempat wisata bersejarah, banyak entitas penasaran yang tertinggal. Tapi di Ainokura tidak. Energi di sini sangat bersih, sangat tua, dan sangat tenang. Roh-roh di sini bukan gentayangan, tapi penjaga. Mereka menjaga tradisi yui — gotong royong.
Lalu energi itu datang. Sangat berisik. Sangat terang tapi retak.
Sumire membuka mata. Di tangga batu kuil, seorang pria dengan hoodie hitam, masker, dan topi duduk sambil memegang kepalanya.
Aura emasnya retak di bagian kepala. Cakra ajnanya terbuka paksa, tidak stabil.
Sumire tahu, orang ini sama sepertinya. Tapi gift-nya baru lahir dan ia tidak tahu cara mematikannya.
"Kamu tidak nyasar," kata Sumire pelan dalam bahasa Jepang. "Kamu dipanggil kesini."
Takio mendongak kaget. Suara itu bukan bahasa Jepang Tokyo yang biasa ia dengar. Ada aksen asing yang lembut.
"Kamu bisa lihat aku?" tanya Takio. Selama tiga bulan ia merasa tidak ada yang bisa melihat penderitaannya.
Sumire tersenyum dan mengeluarkan deck oracle-nya. Tanpa dikocok, satu kartu melompat dan jatuh tepat di antara mereka.
Kartunya bergambar mata besar yang terbuka. The Eye.
"Cakra ajna kamu kebuka paksa," kata Sumire, kali ini dalam bahasa Inggris pelan agar lebih mudah. "Bukan burnout. Gift kamu aktif. Makanya kamu pusing lihat semua topeng dan kebohongan. Itu bukan kutukan."
Takio membeku. Kata gift. Tidak ada yang menyebutnya gift selama tiga bulan. Semua bilang sakit.
"Kamu... seperti aku?"
"Aku Sumire. Aku kerja di bidang spiritual."
Saat itu juga, hujan turun. Gerimis tipis. Padahal langit di atas Ainokura cerah. Tidak ada mendung sama sekali.
Seorang kakek desa yang lewat tersenyum melihat mereka. "Amefurimachi... Amamiya ga kaette kita," gumamnya. Hujan tanpa awan, keluarga Kuil Hujan sudah pulang.
Takio Amamiya. Amamiya berarti Kuil Hujan. Dan ia baru saja kembali ke tempat yang namanya sama dengan marganya.
Sumire merinding. Ini bukan kebetulan. Ini takdir.
"Kepala kamu sakit kan? Sudah tiga bulan tidak berhenti berdengung?" tanya Sumire.
Takio mengangguk. Ia sudah tidak tahan.
Sumire mengangkat kedua telapak tangannya, tidak menyentuh, hanya mengarah ke kepala Takio. Ia berbisik, "Aku izin ya, aku salurkan Reiki."
Hawa hangat mengalir. Bukan hangat biasa, tapi hangat yang seperti selimut. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, suara-suara vision di kepala Takio diam. Sunyi total.
Di dalam kesunyian itu, Takio melihat sesuatu. Bukan vision masa depan yang menakutkan. Tapi vision seminggu lalu — dirinya sendiri yang sedang melihat foto Desa Ainokura di tablet tanpa tahu kenapa ia terus menatapnya.
"Jadi ini... ini yang aku lihat seminggu lalu," bisik Takio, air matanya jatuh. Ia melepas maskernya.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak menjadi public figure. Ia hanya menjadi Takio.
Sumire masuk ke trance yang lebih dalam. Di belakang Takio, ia melihat sesuatu yang membuatnya menutup mulut.
Bukan entitas gelap. Tapi seorang anak kecil yang duduk sendirian di tengah panggung yang sangat terang, memeluk lututnya. Anak itu menangis karena lampu panggung terlalu terang dan terlalu panas.
"Dia bukan monster yang menghantui kamu," kata Sumire dengan suara bergetar, karena ia sebagai medium bisa merasakan emosi anak itu. "Itu kamu kecil. Dia cuma takut lampunya terlalu terang. Dia cuma ingin lampunya diredupkan sebentar, bukan dimatikan selamanya."
Takio menangis. Tidak ada yang pernah tahu kalau sejak umur 7 tahun ia sudah menjadi model cilik dan tidak pernah punya waktu menjadi anak-anak.
"Bagaimana kamu tahu?" tanyanya.
"Karena gift kita sama," jawab Sumire. "Kita cuma jembatan. Kamu jembatan untuk karakter fiksi, aku jembatan untuk roh. Kita lupa cara menjadi diri sendiri."
Hujan tanpa mendung itu berhenti. Matahari sore masuk di antara atap gassho-zukuri yang seperti tangan berdoa.
Takio menatap Sumire. Untuk pertama kalinya ada orang yang tidak melihatnya sebagai wajah tampan di billboard, dan Sumire untuk pertama kalinya ada orang yang tidak melihatnya dari tubuhnya, tapi dari gift-nya.
"Kartu oracle-ku selama tiga bulan kosong. Baru hari ini keluar lagi," kata Sumire sambil menunjukkan kartu terakhir yang keluar di pangkuannya.
Kartu itu bergambar dua orang di bawah kuil hujan. Tulisannya: Destined Meeting - Pertemuan Takdir.
Takio tersenyum. "Nenekku bilang, kalau gift sudah bangun, dia akan mencarikan gurunya sendiri."
Sumire tertawa kecil. "Aku bukan guru. Aku cuma... teman yang bisa lihat hal yang sama."
Mereka duduk berdua di pelataran kuil Ainokura yang sepi sampai matahari tenggelam. Dua orang yang sama-sama kabur untuk mencari diri sendiri, ternyata dipertemukan di desa yang doanya masih berbentuk atap rumah, oleh hujan yang turun tanpa awan.
Karena memang, beberapa pertemuan sudah ditulis jauh sebelum mereka lahir.
TAMAT
(bersambung ke part 2 : KUIL HUJAN - PART 2 : BENIH DAN MASA LALU)
~ Selly Agtus WP 🌹~
Tolong tinggalkan review yg positif ya teman-teman,biar energi nya selaras. Terima kasih banyak sebelumnya 🙏🏻🫶🏻🌹