Malam itu, Seoul dipenuhi cahaya.
Lampu gedung pertunjukan berkilauan di antara gedung-gedung tinggi, sementara suara tepuk tangan memenuhi sebuah auditorium besar.
Di atas panggung, seorang gadis menari sendirian.
Namanya Han Areum.
Seorang balerina muda yang dikenal karena gerakannya yang lembut dan anggun. Setiap langkah kakinya seolah tidak menyentuh lantai. Setiap putaran tubuhnya seperti kelopak bunga yang tertiup angin.
Namun malam itu, bukan tepuk tangan penonton yang paling Areum tunggu.
Melainkan seseorang yang duduk di antara penonton.Seorang idol K-pop terkenal bernama Kang Jaeha.
Ketika pertunjukan berakhir, Areum membungkukkan tubuhnya.
Tepuk tangan bergemuruh.
Tetapi matanya hanya mencari satu orang.
Dan ketika akhirnya tatapan mereka bertemu, Jaeha tersenyum.
Senyum sederhana.
Namun bagi Areum, senyum itu terasa seperti seluruh dunia.
---
Beberapa hari kemudian, mereka bertemu secara tidak sengaja di sebuah kafe.
"Areum?"
Gadis itu terkejut.
Jaeha berdiri di hadapannya dengan topi dan masker yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kamu masih ingat aku?"
Areum tersenyum kecil.
"Mana mungkin aku lupa?"
Jaeha tertawa.
Sejak hari itu, mereka mulai sering bertemu. Awalnya hanya berbicara tentang musik dan balet.Kemudian tentang mimpi.
Tentang kesepian.
Tentang kehidupan mereka yang sama-sama dipenuhi tuntutan.Jaeha membuat Areum merasa dimengerti.Dan tanpa sadar, perasaan itu tumbuh.
Semakin hari semakin dalam.
Sampai akhirnya Areum menyadari bahwa ia telah jatuh cinta.
---
"Aku punya satu permintaan."
Suatu malam, Jaeha berkata kepadanya.
"Apa?"
"Aku sedang menghadapi masalah dengan agensi. Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan."
Areum mengangguk.
"Aku bisa membantu apa?"
Jaeha terdiam beberapa saat.
"Kamu benar-benar mau membantuku?"
"Kalau aku bisa, tentu."
Senyum Jaeha muncul.
"Terima kasih."
Sejak saat itu, Areum mulai melakukan banyak hal untuk Jaeha.
Ia membantu menghubungi beberapa orang.
Mengantarkan dokumen.
Menemani Jaeha ketika ia membutuhkan seseorang.
Bahkan beberapa kali membatalkan latihan baletnya sendiri karena Jaeha mengatakan sedang membutuhkannya.
Areum tidak pernah keberatan.
Baginya, membantu orang yang dicintainya terasa seperti sesuatu yang wajar.
Suatu malam, Jaeha berkata,
"Kamu satu-satunya orang yang bisa kupercaya."
Kalimat itu membuat Areum tersenyum.
Ia tidak tahu bahwa kalimat tersebut perlahan akan menjadi alasan terbesar mengapa hatinya hancur.
---
Waktu berlalu.
Karier Jaeha semakin bersinar.
Nama grupnya muncul di berbagai papan iklan.
Lagu-lagunya menduduki tangga musik.
Sementara Areum mulai kehilangan sesuatu.
Dirinya sendiri.
Latihan baletnya semakin berantakan.
Ia sering kelelahan.
Beberapa pertunjukan terlewatkan.
Bahkan pelatihnya mulai bertanya.
"Areum, apa sebenarnya yang sedang terjadi padamu?"
"Tidak apa-apa."
"Kamu terus mengatakan itu."
Areum hanya tersenyum.
"Aku hanya sedang membantu seseorang."
Namun ternyata, orang yang ia bantu tidak pernah melihat pengorbanannya seperti yang ia bayangkan.
---
Suatu sore, Areum datang ke gedung agensi Jaeha.
Ia ingin memberikan sebuah hadiah kecil.
Namun ketika melewati sebuah ruangan, ia mendengar percakapan dari dalam.
"Jaeha, semuanya berjalan sesuai rencana."
Areum berhenti.
Ia mengenali suara manajer Jaeha.
"Perempuan itu benar-benar membantu?"
"Ya."
Jantung Areum berdegup.
Kemudian terdengar suara Jaeha.
"Bagus."
Areum semakin mendekat.
"Kalau begitu, urusan itu bisa segera selesai."
Manajer tertawa kecil.
"Awalnya aku kira dia akan curiga."
"Dia terlalu percaya padaku."
Hening.
Kemudian Jaeha berkata,
"Selama dia masih percaya bahwa aku menyukainya, dia akan melakukan apa pun yang kuminta."
Dunia Areum seakan berhenti.
Tangannya yang memegang kotak hadiah perlahan bergetar.
Air matanya jatuh tanpa suara.
"Tapi setelah semuanya selesai?"
"Ya sudah."
Suara Jaeha terdengar datar.
"Aku akan menikah dengan orang yang sudah dipilih keluargaku."
Areum membeku.
Kotak hadiah itu terlepas dari tangannya.
Bruk.
Suara itu membuat percakapan di dalam ruangan terhenti.
Pintu terbuka.
Jaeha berdiri di sana.
Mata mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya, Areum melihat Jaeha bukan sebagai seseorang yang ia cintai.
Melainkan sebagai orang asing.
"Areum..."
Gadis itu mundur selangkah.
"Kamu..."
Suaranya bergetar.
"Selama ini aku cuma alat buatmu?"
Jaeha tidak menjawab.
Dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Areum tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Tetapi karena hatinya terlalu sakit untuk menangis lebih keras.
"Aku membatalkan latihan."
"Aku kehilangan kesempatan tampil."
"Aku selalu datang setiap kali kamu membutuhkan bantuan."
Air matanya terus mengalir.
"Dan ternyata..."
Ia menatap Jaeha.
"Semua itu tidak pernah berarti apa-apa?"
Jaeha menundukkan pandangan.
"Maaf."
Hanya itu.
Satu kata yang tidak mampu mengembalikan apa pun.
Areum menggeleng.
"Jangan minta maaf."
Ia menghapus air matanya.
"Karena aku tidak ingin menerima permintaan maaf dari orang yang sejak awal tidak pernah mencintaiku."
Kemudian ia pergi.
Tanpa menoleh lagi.
---
Beberapa bulan kemudian, nama Kang Jaeha kembali memenuhi berita.
Bukan karena album baru.
Melainkan karena pernikahannya.
"Idol Kang Jaeha Resmi Menikah dengan Putri Pengusaha Ternama."
Foto Jaeha bersama seorang wanita cantik memenuhi layar televisi.
Mereka tersenyum.
Terlihat bahagia.
Sementara di sebuah studio balet kecil, Areum berdiri di depan cermin.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia kembali mengenakan sepatu baletnya.
Ia menarik napas.
Musik dimulai.
Satu langkah.
Kemudian langkah berikutnya.
Tubuhnya bergerak mengikuti irama.
Tidak sempurna.
Tidak seindah dulu.
Tetapi kali ini ia menari untuk dirinya sendiri.
Bukan untuk seseorang yang ia cintai.
Bukan untuk mendapatkan perhatian seseorang.
Bukan untuk membuktikan bahwa dirinya layak dicintai.
Hanya untuk dirinya.
Setelah musik berhenti, Areum menatap pantulan dirinya di cermin.
Air mata kembali mengalir.
Namun kali ini, ia tersenyum.
"Selamat tinggal."
Ia tidak tahu apakah kalimat itu ditujukan kepada Jaeha atau kepada dirinya yang dulu.
Mungkin keduanya.
Di luar jendela, salju turun perlahan.
Dan untuk pertama kalinya, Areum mengerti—
tidak semua orang yang kita cintai ditakdirkan untuk tinggal.
Ada orang yang datang hanya untuk mengajarkan bagaimana rasanya mencintai.
Ada yang datang untuk mengajarkan bagaimana rasanya kehilangan.
Dan ada yang pergi...
agar kita akhirnya belajar mencintai diri sendiri.
Malam itu, seorang balerina kembali menari.
Bukan dengan hati yang utuh.
Tetapi dengan hati yang pernah hancur dan perlahan sedang belajar sembuh.
Karena meskipun cintanya berakhir tragis,
hidupnya tidak harus berakhir bersamanya.