Sinopsis Part 3:
Setelah dua malam di Ainokura, Sumire dan Takio Amamiya harus kembali ke Tokyo. Dunia nyata yang berisik sudah menunggu Takio dengan press conference dan rumor hiatus. Sumire yang hanya seorang praktisi spiritual dari pelosok harus ikut masuk ke dunia itu, dan disanalah janji past life mereka diuji untuk pertama kalinya.
Tokoh Tetap:
1. Sumire (FC)
Sumire bertubuh mungil 150cm dengan tubuh sintal berisi, rambut ikal hitam panjang sebahu, wajah oval berkacamata, bermata coklat hazel karena mendiang orang tuanya darah blasteran Jawa dan Belanda. Banyak yang bilang Sumire cantik, tapi banyak juga yang membully bahwa dia jelek dan gendut. Dia adalah Trance Medium Psychic, Reiki Practitioner, dan Oracle Reader.
2. Takio Amamiya (MC)
Takio Amamiya (雨宮 - Kuil Hujan), asli Jepang. Tinggi 175cm, bertubuh atletis proposional karena dia juga seorang model, rambut coklat gelap lurus setengah panjang tapi bukan gondrong, berwajah tampan dengan wajah pahatan sempurna. Seorang public figure yang gift-nya baru aktif bisa lihat vision masa depan.
🌹CERITA PART 3
Bus dari Ainokura ke Toyama pagi itu sepi.
Sumire duduk di dekat jendela, deck oracle di pangkuannya. Takio duduk di sebelahnya, memakai hoodie dan masker lagi. Tapi kali ini berbeda. Semalam, setelah vision past life itu, dengungan di kepala Takio tidak lagi berisik. Masih ada, tapi pelan, seperti radio yang volume-nya akhirnya bisa dikecilkan.
"Kamu yakin mau ikut ke Tokyo?" tanya Takio pelan.
Sumire mengangguk. Kartu Soul Contract masih ia simpan di saku. "Kartuku bilang belum selesai. Akar kita masih melilit. Kalau aku pulang sekarang, kamu akan kambuh lagi."
Takio menatapnya. Selama ini tidak ada yang mau ikut masuk ke dunianya yang berisik. Semua orang hanya ingin foto bersamanya.
Tokyo menyambut mereka dengan brutal.
Begitu keluar dari stasiun, flash kamera langsung menyala. Berita "Takio Amamiya Menghilang 3 Hari" sudah jadi trending nomor 1. Manajernya, Sato-san, hampir pingsan melihat Takio muncul dengan seorang perempuan asing.
"Takio! Kemana saja kamu! Kita ada press conference dalam 2 jam! Siapa ini?" bisik Sato-san panik.
"Dia Sumire. Dia... konsultan spiritualku," jawab Takio. Itu pertama kalinya ia mengakui pekerjaannya secara jujur di depan manajernya.
Press conference itu penuh. Ratusan wartawan. Sumire duduk di barisan paling belakang, memegang tas berisi alat Reiki. Ia bisa melihat semua entitas yang menempel di ruangan itu — entitas ambisi, entitas iri, entitas lapar akan sensasi.
Takio naik ke panggung. Lampu sorot yang dulu membuatnya sakit, sekarang masih membuatnya pusing. Vision-vision itu datang lagi. Ia melihat wartawan di baris kedua akan memotong pembicaraannya. Ia melihat pertanyaan jahat akan datang dari sebelah kiri.
Tangannya gemetar.
Dari barisan belakang, Sumire mengangkat tangannya sedikit, tidak terlihat orang lain. Ia menyalurkan Reiki jarak jauh. Ia berbisik pelan, mantra yang hanya Takio yang bisa dengar karena gift mereka sudah terhubung sejak Ainokura.
"Jangan lawan. Lihat sebagai awan lewat. Kamu bukan panggungnya. Kamu hanya penontonnya."
Takio menarik napas. Ia melakukan apa yang diajarkan Sumire semalam. Ia tidak melawan vision itu. Ia membiarkannya lewat.
Ia tersenyum — senyum yang tulus, bukan senyum public figure.
"Saya minta maaf membuat khawatir. Tiga bulan terakhir saya sakit. Bukan sakit fisik. Tapi saya tiba-tiba bisa merasakan terlalu banyak hal. Dan saya butuh waktu untuk belajar cara mengaturnya. Saya pergi ke Desa Ainokura untuk itu."
Ruangan heboh. Seorang public figure mengaku punya kemampuan spiritual? Itu bunuh diri karir di Jepang.
Tapi Takio melanjutkan, matanya mencari Sumire di belakang.
"Di sana saya bertemu dengan guru saya. Yang mengajari saya bahwa gift ini bukan kutukan. Dan bahwa beberapa pertemuan memang sudah takdir, jauh sebelum kita lahir."
Sumire membeku. Kata takdir itu.
Malamnya, setelah press conference yang kacau tapi jujur itu, Takio mengajak Sumire ke rooftop apartemennya. Tokyo terlihat kecil dari atas.
"Kamu lihat apa di vision tadi? Pas aku di panggung?" tanya Takio.
Sumire memejamkan mata, masuk ke trance. Kali ini bukan Takio yang dibantu, tapi Sumire yang melihat.
Ia melihat dengan sangat jelas. Kuil Hujan yang besar itu terbakar. Samurai muda itu — Takio — terluka parah di depan gerbang, masih memegang pedang untuk melindungi miko di belakangnya — Sumire. Miko itu memeluknya dari belakang, menangis, tangannya mencoba menghentikan darah dengan kekuatan penyembuhan.
"Reiki," bisik Sumire sambil menangis dalam trance. "Aku dulu juga menyembuhkan kamu dengan tangan. Sama seperti sekarang."
Takio memeluknya dari belakang. Bukan pelukan romantis drama. Pelukan yang menahan agar Sumire tidak jatuh dalam trance terlalu dalam.
"Kita gagal waktu itu kan?" bisik Takio. "Kita tidak berhasil selamatkan kuilnya."
Sumire menggeleng di dalam pelukannya. "Tidak. Kita berhasil. Kita berjanji. Janjinya adalah... kalau kuil itu hancur, kita akan bertemu lagi di kehidupan lain, di saat kuil itu sudah tidak ada tapi namanya masih ada. Amamiya."
Takio mengerti. Marga yang ia bawa seumur hidupnya bukan sekadar nama. Itu adalah janji.
Benih rasa yang tumbuh sejak Ainokura malam itu, di rooftop Tokyo yang berisik, akhirnya berbunga pelan. Bukan karena mereka saling suka sebagai pria dan wanita yang baru bertemu 3 hari.
Tapi karena jiwa mereka akhirnya ingat janji yang pernah mereka buat di bawah hujan, di depan kuil yang terbakar ratusan tahun lalu.
Sumire membalikkan badan di dalam pelukan itu. Untuk pertama kalinya, ia melepas kacamatanya.
"Aku masih takut," bisiknya jujur.
"Aku juga," jawab Takio. "Tapi kali ini kita tidak sendirian."
Di bawah mereka, Tokyo masih berisik. Tapi di rooftop itu, di antara dua jiwa yang sudah terhubung di past life, hujan tipis turun lagi.
Tanpa mendung. Untuk ketiga kalinya.
BERSAMBUNG KE PART 4 : JANJI DI KUIL YANG TERBAKAR
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Terima kasih banyak ya sudah mampir ke cerpenku. Saling bantu dan support dengan energi positif ya teman-teman 🙏🏻
Jangan lupa tinggalkan jejak positif ya 🙏🏻
Boleh juga follow IG aku @javawitch13 @poembyselly
Love 🌹