Dua puluh tahun lalu, di sebuah jalanan kecil yang membelah hutan belantara, hujan turun sangat deras. Mobil yang dikendarai Mia dan Reno melaju limbung. Di dalam kabin, bau alkohol menyengat. Mereka berdua masih sangat muda, tertawa-tawa tanpa peduli pada malam yang makin larut.
Lalu, di balik tirai hujan dan kegelapan hutan, sesosok tubuh mendadak melangkah ke tengah jalan.
Brak!
Benturan itu terdengar mengerikan. Tubuh itu terpental ke depan, lalu jatuh menghantam aspal yang basah sebelum akhirnya tergeletak diam di tengah derasnya hujan.
Tawa di dalam mobil terhenti seketika. Hening menyeruak, hanya diselingi bunyi deru mesin dan deru napas mereka berdua yang memburu.
Reno turun lebih dulu. Langkah kakinya gemetar saat mendekati tubuh yang tergeletak di pinggir jalan. Dari dalam mobil, Mia memperhatikan dengan kedua tangan mencengkeram erat roknya.
"Apa dia... mati?" bisik Mia saat Reno kembali ke mobil, wajah pria itu pucat pasi.
Reno tidak langsung menjawab. Matanya menyapu sekeliling. Hanya ada pepohonan tinggi, kegelapan, dan suara gemericik air hujan. Tidak ada rumah, tidak ada kendaraan lain, tidak ada siapa pun.
Reno menatap tubuh itu sekali lagi. Napasnya semakin berat. Tangannya gemetar, sementara pikirannya dipenuhi bayangan tentang polisi, ruang interogasi, dan jeruji besi.
"Kalau ada yang menemukan kita di sini, kita habis," katanya pelan.
Mia menggeleng sambil menangis. "Kita tetap harus lapor."
Reno tidak menjawab. Tatapannya justru beralih ke kegelapan di sisi jalan, tempat sebuah jurang dalam menghilang di antara pepohonan.
"Kalau kita lapor polisi, kita bakal masuk penjara, yang," kata Reno, suaranya parau menahan panik. "Hidup kita bakalan hancur."
"Trus gimana? kita biarin?!" Mia mulai menangis. "Kita enggak bisa ninggalin dia gitu saja dong, kita harus lapor!"
"Kau mau mendekam di penjara?!" bentak Reno. "Kita berdua mabuk! Enggak akan ada yang percaya kalo ini cuma kecelakaan!"
Reno kemudian melihat ke arah tepi jalan. Di sana ada jurang dalam yang menganga ke arah hutan belantara. Tanpa membuang waktu, Reno menyeret tubuh dingin itu ke tepi jurang. Mia hanya bisa memandangnya dengan tubuh gemetar hebat. Dengan satu dorongan keras, mayat itu jatuh dan menghilang ditelan kegelapan bawah jurang.
Dua puluh tahun berlalu.
Mia berhasil menata kembali hidupnya hingga menjadi sosok wanita yang sangat sukses. Ia memiliki karier yang cemerlang, menikah dengan seorang pria penyayang, dan dikaruniai dua orang putri yang manis.
Selama dua puluh tahun, Mia tidak pernah membicarakan malam itu kepada siapa pun. Ia belajar hidup seolah kejadian tersebut tidak pernah terjadi.
Dan selama dua puluh tahun pula, tidak ada seorang pun yang datang mencarinya.
Sampai di suatu siang, saat Mia sedang fokus bekerja di ruang kerjanya yang luas, pintu diketuk oleh sekretarisnya.
"Bu Mia, ada seseorang di luar yang ingin bertemu."
Mia mendongak. "Siapa? Apa dia udah buat janji?"
"Belum, Bu. Tapi katanya dia kenal ibu, namanya Reno."
Pena di tangan Mia terlepas begitu saja. Jantungnya berdegup kencang. Untuk beberapa detik, ia hanya mampu menatap kosong ke arah pintu.
"Suruh dia masuk," bisik Mia dengan tenggorokan kering.
Pintu terbuka. Reno melangkah masuk. Penampilannya sangat berbeda dari Mia. Pria itu tampak kurus, wajahnya kusam, dan matanya cekung dengan lingkaran hitam pekat di sekelilingnya, seperti sosok yang sudah bertahun-tahun tidak pernah tidur dengan tenang.
Mia berdiri dari kursinya. "Reno...?"
Reno menatap Mia, lalu tersenyum pahit. "Kaget ya lihat aku?"
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Mia, berusaha menekan getaran di suaranya.
Reno menarik kursi di depan meja Mia dan langsung duduk. "Aku datang bukan buat minta uang atau apa pun dari kamu."
Reno menarik napas panjang.
"Aku cuma mau bilang... aku akan menyerahkan diri."
Mia menatapnya tidak percaya. "Setelah dua puluh tahun?"
"Aku sudah terlalu lama diam."
Reno menunduk. Jari-jarinya saling menggenggam erat.
"Aku pikir waktu bakal membuat semuanya hilang. Ternyata enggak. Setiap malam aku masih ingat suara benturannya. Aku masih ingat wajahnya sebelum kita membuang dia ke jurang."
Ia mengangkat wajahnya kembali.
"Aku sudah enggak sanggup hidup seperti ini."
Mia mendekati Reno, berusaha mengontrol situasi. "Reno, dengerin aku. Itu kecelakaan! Dan itu udah puluhan tahun lalu!"
"Bagimu mungkin," potong Reno. Matanya berkaca-kaca. "Tapi bagiku... hidupku ancur setelah malam itu. Rasa bersalah terus ngehantuin aku... Tapi... aku ke sini cuman mau bilang, aku udah enggak kuat. Aku bakal nyerahin diri."
Mia mengepalkan tangannya rapat-rapat. Pikirannya berputar liar. Kehidupan bahagianya, suaminya, kedua putrinya yang masih kecil, semuanya akan hancur jika Reno pergi ke polisi.
"Jangan, Ren! Tolong," pinta Mia. "Kamu mau keluargaku hancur? Kenapa kamu ngelakuin ini sekarang?"
"Maaf, tapi tenang aja, yang bakal di penjara lama cuman aku kok, kan aku yang nyetir," balas Reno datar seraya berdiri dan berbalik menuju pintu keluar.
Melihat punggung Reno yang semakin menjauh, pikiran Mia dipenuhi satu hal: keluarganya.
Ia membayangkan polisi datang ke rumah. Membayangkan suaminya mengetahui semuanya. Membayangkan kedua putrinya tumbuh dengan seorang ibu yang ternyata pernah membuang mayat seseorang ke dalam jurang.
Tidak.
Ia tidak bisa membiarkan semua itu terjadi.
Reno mungkin tidak akan menerima hukuman sebesar dirinya karena dialah yang mengemudikan mobil malam itu, tetapi pengakuannya tetap akan menghancurkan hidup Mia.
Tangannya perlahan meraih sebuah patung pajangan perunggu yang berat di atas meja.
Mia melangkah tanpa suara, lalu menghantamkan benda berat itu tepat ke belakang kepala Reno.
Brak!
Reno ambruk seketika di atas lantai. Darah segar mengalir membasahi karpet.
Mia berdiri mematung, napasnya memburu hebat. Ia menatap tubuh Reno yang tak lagi bergerak, lalu menatap tangannya sendiri yang gemetar. Dalam ketakutan, Mia berjalan perlahan menuju jendela ruang kerjanya untuk menenangkan diri dan memikirkan cara membuang mayat Reno.
Saat ia menatap ke arah jalan raya di bawah, sebuah kejadian menarik perhatiannya.
Sebuah mobil pintar tanpa pengemudi melaju di jalan. Di saat yang sama, seorang pejalan kaki yang sedang menyeberang tiba-tiba terjatuh ke aspal.
Brak!
Tubuh pria itu tersenggol mobil tersebut.
Orang-orang di sekitar langsung berlarian mendekat, sementara mobil itu berhenti beberapa meter setelah melewatinya.
Mia refleks menatap ke bawah dari balik jendela. Baru kemudian ia sadar, posisinya terlalu terbuka. Jika seseorang di jalan mendongak, mereka mungkin bisa melihatnya berdiri di sana.
Ia buru-buru menarik tirai dan menutup jendelanya.
Malam harinya, Mia memasukkan tubuh Reno ke bagasi mobilnya dan berkendara menuju salah satu proyek pembangunan gedung milik perusahaannya.
Proyek itu masih berada pada tahap awal pembangunan. Sebagian besar pekerja sudah pulang, dan malam itu tidak ada aktivitas di area fondasi.
Mia tahu persis bagian mana yang belum dicor karena beberapa kali ia datang untuk memeriksa perkembangan proyek.
Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, ia menyeret tubuh Reno ke salah satu lubang fondasi yang masih terbuka. Ia kemudian menutupinya dengan campuran semen yang telah disiapkan untuk pengecoran.
Mia berdiri beberapa saat di atas permukaan yang mulai mengeras.
Tidak akan ada yang mencarinya di sini.
Keesokan harinya, di Markas Kepolisian, seorang detektif bernama Fatimah sedang menangani kasus kecelakaan mobil pintar yang terjadi kemarin sore.
Korban kecelakaan itu adalah seorang pria yang berprofesi sebagai gitaris. Akibat tabrakan tersebut, tangannya cedera parah hingga ia tak bisa tampil. Sang gitaris sangat marah dan menuntut ganti rugi uang dalam jumlah yang sangat besar kepada perusahaan pembuat mobil pintar tersebut, mengklaim bahwa sistem otomatis mobil itu yang galat.
Di era ini, kepolisian telah menggunakan teknologi yang disebut pemindai ingatan. Perangkat kecil itu dapat membaca kembali rekaman visual yang tersimpan dalam otak seseorang dan menampilkannya pada layar.
Namun alat tersebut tidak memutar seluruh ingatan seseorang begitu saja. Penyidik harus menentukan rentang waktu yang ingin diperiksa, karena memori manusia dapat berisi ribuan kejadian dan tidak semuanya relevan dengan penyelidikan.
Teknologi itu juga tidak membaca pikiran atau mengetahui apa yang dipikirkan seseorang. Ia hanya menampilkan kembali apa yang benar-benar pernah dilihat oleh mata target.
Fatimah menempelkan alat pemindai itu ke kepala sang gitaris.
Layar monitor menyala. Dari sudut pandang sang gitaris, terlihat suasana jalanan kemarin sore. Sebelum menyeberang, mata gitaris itu sempat tertuju pada seorang wanita yang sangat cantik berdiri di trotoar. Wajah wanita cantik itu terekam sangat jelas di layar karena sang gitaris memang sempat terpesona melihatnya. Namun, tepat ketika sang gitaris hendak melangkah ke jalan, rekaman visualnya berubah kacau. Pandangannya berguncang, kemudian gambar menjadi buram selama beberapa detik.
Setelah itu, yang terlihat hanyalah kilatan cahaya dan suara benturan.
Fatimah mengerutkan kening.
Ada bagian penting yang tidak berhasil ditangkap dengan jelas oleh ingatan sang gitaris.
"Ingatannya hilang tepat sebelum benturan," gumam Fatimah. Bukti dari sang gitaris masih belum cukup untuk menyalahkan sistem mobil pintar.
Malamnya, Fatimah pulang ke rumah dengan raut wajah lelah. Suaminya menyambut di ruang tamu sambil menyodorkan sebuah wadah kecil.
"Ini buat kamu," kata suaminya tersenyum.
Fatimah melihat ke dalam wadah. Seekor kura-kura kecil bergerak lambat di dalamnya. Fatimah mendesah. "Kura-kura? Kamu kan tahu aku kurang suka hewan begini, Mas."
Suaminya tertawa kecil. "Ya udah, kalo enggak mau. Nanti Mas aja yang urus dan kasih makan." Suaminya lalu meletakkan wadah kura-kura itu di atas meja kayu di ruang tamu.
Keesokan siangnya, setelah pamit pada suaminya dan mencium pipi anak balitanya yang sedang bermain, Fatimah kembali bertugas. Dari data kepolisian, ia berhasil menemukan identitas wanita cantik yang ada di dalam ingatan sang gitaris.
Fatimah mendatangi wanita cantik tersebut dan meminta izin untuk memeriksa ingatannya. Wanita itu kooperatif. Saat alat dipasang, rekaman ingatannya menunjukkan suasana jalanan sore itu. Wanita itu memang tidak melihat momen tabrakan secara langsung, namun sudut pandang visualnya menangkap sesuatu di latar belakang. Di lantai atas sebuah gedung di seberang jalan, ada seseorang yang berdiri di balik jendela dan sedang menatap ke arah jalan.
Fatimah memperhatikan wajah orang tersebut. Wajahnya tidak terlihat sempurna, tetapi cukup jelas untuk menjadi petunjuk.
Fatimah kemudian mencari tahu siapa yang berada di gedung tersebut pada saat kecelakaan terjadi. Dari data gedung dan identitas penyewa ruangan, ia menemukan nama Mia. Setelah mencocokkannya dengan foto identitas yang tercatat di kepolisian, Fatimah memastikan bahwa wanita di dalam rekaman itu memang Mia.
Setelah mengantongi nama dan alamat Mia, Fatimah langsung bergerak mendatangi rumah Mia.
Saat pintu rumah dibuka, Mia terkejut melihat seorang detektif berdiri di depannya.
"Bu Mia?" tanya Fatimah.
"Iya, benar. Ada apa ya?" Mia membalas curiga.
"Saya Detektif Fatimah dari kepolisian. Saya sedang menyelidiki kasus kecelakaan mobil pintar kemarin sore dekat kantor Anda, dan butuh memindai ingatan Anda sebentar sebagai saksi."
Jantung Mia serasa berhenti berdetak. Memindai ingatan? Jika alat itu ditempelkan di kepalanya, pembunuhan Reno yang baru dilakukannya kemarin pasti akan terbaca!
"Maaf, saya tidak mau," kata Mia tegas seraya hendak menutup pintu. "Saya tidak tahu apa-apa soal kecelakaan itu."
Fatimah menahan pintu. "Bu Mia, jika Anda menolak, saya bisa kembali lagi ke sini bersama tim lengkap membawa surat perintah resmi dari pengadilan. Itu justru akan membuat situasi jadi lebih rumit bagi Anda."
Mia mengepalkan tangan di balik punggungnya. Ia terdesak. "Baiklah... tapi tolong berikan saya waktu sebentar untuk menenangkan diri."
Mia masuk ke ruangan lain selama beberapa menit.
Ia tahu tidak ada cara untuk menghapus apa yang telah terjadi. Ingatan tentang Reno masih terlalu baru, dan jika alat itu memang mampu membaca beberapa menit terakhir, semuanya bisa terbongkar.
Yang bisa ia lakukan hanyalah berharap Fatimah tidak memeriksa lebih jauh dari bagian kecelakaan.
Mia menarik napas panjang, merapikan pakaiannya, lalu kembali ke ruang tamu.
Layar monitor di tangan Fatimah mulai memutar ingatan Mia saat berada di jendela kantor. Di layar terlihat jelas: sang gitaris sebenarnya terpeleset dan jatuh sendiri di atas jalanan yang licin sebelum mobil pintar itu melintas. Mobil pintar itu hanya menyenggol sedikit karena korban sudah terjatuh duluan. Kasus kecelakaan itu akhirnya terang benderang.
Fatimah tersenyum lega. "Terima kasih, Bu Mia. Kecelakaan itu ternyata bukan..."
Namun, Fatimah belum langsung mematikan alat pemindai. Ia ingin memastikan tidak ada bagian penting yang terlewat dari kejadian tersebut.
Karena rekaman kecelakaan hanya berlangsung beberapa menit, Fatimah memperlebar rentang waktu pemeriksaan beberapa menit ke belakang.
Layar kembali bergerak.
Jalan raya.
Jendela.
Kemudian sebuah ruangan.
Fatimah mengerutkan kening ketika melihat seorang pria tergeletak di lantai dengan darah mengalir dari kepalanya.
Ia tidak mengenal pria itu.
Namun satu hal sudah jelas.
Pria tersebut baru saja dibunuh.
Fatimah segera mematikan alat pemindai.
"Keterangan Anda sudah cukup, Bu Mia. Saya permisi dulu."
Fatimah berusaha menjaga wajahnya tetap tenang sambil berjalan menuju pintu.
Mia memperhatikannya.
Tidak ada yang dikatakan Fatimah, tetapi dari cara detektif itu terburu-buru pergi, Mia tahu ada sesuatu yang telah dilihatnya.
Dan sesuatu itu bukan kecelakaan mobil pintar.
Mia tahu. Detektif itu telah melihat ingatan pembunuhan Reno.
Saat Fatimah berjalan cepat di halaman rumah menuju mobilnya, Mia menyusul dari belakang tanpa suara. Mia mengambil sebuah balok kayu dekoratif di dekat garasi dan menghantamkannya kuat-kuat ke belakang kepala Fatimah.
Brak!
Fatimah jatuh pingsan di tempat.
Saat terbangun, Fatimah mendapati dirinya sudah terikat erat di sebuah kursi di dalam ruangan tertutup. Mia duduk di hadapannya sambil memegang alat pemindai ingatan milik Fatimah.
"Mia, tolong..." bisik Fatimah parau dengan napas memburu. "Aku... aku janji tidak akan memberi tahu siapa pun soal apa yang aku lihat!"
Mia menoleh dingin. "Kau pikir aku sebodoh itu? Siapa saja yang tahu kau datang ke rumahku hari ini?"
Fatimah memilih bungkam. Ia tidak mau menjawab sepatah kata pun.
"Kau tidak mau bicara?" Mia mengangkat alat pemindai ingatan. "Tidak masalah. Alat milikmu ini bisa memberitahuku segalanya."
Mia menempelkan alat pemindai itu ke kepala Fatimah yang terikat. Layar visual menyala, memutar kembali ingatan terbaru Fatimah sebelum pergi bekerja tadi siang.
Di dalam ingatan Fatimah, terlihat suasana rumahnya sebelum berangkat. Ia berpamitan kepada suaminya yang sedang berada di ruang tamu, lalu mencium anak balitanya yang sedang bermain.
"Aku pergi sebentar. Ada seseorang yang harus kutemui," kata Fatimah dalam ingatannya.
Suaminya mengangguk tanpa bertanya lebih jauh.
Mia mematikan alat pemindai.
Setidaknya sekarang ia tahu suami Fatimah melihatnya pergi. Dan jika Fatimah benar-benar hilang setelah datang ke rumahnya, orang pertama yang akan mencarinya tentu adalah keluarganya.
"Bagus. Berarti hanya keluargamu yang tahu kau keluar rumah," kata Mia dingin.
Tanpa belas kasihan, Mia langsung menghabisi nyawa Fatimah di tempat.
Untuk memastikan tidak ada jejak tersisa dan tidak ada saksi yang mungkin pernah mendengar cerita dari Fatimah, Mia mendatangi rumah sang detektif malam itu juga.
Mia menyusup masuk ke dalam rumah Fatimah yang sepi. Di ruang tamu, suami Fatimah sedang duduk santai tanpa menyadari bahaya. Mia muncul dari belakang dan langsung membunuhnya.
Mia kemudian berbalik hendak pergi. Namun, dari arah kamar terdengar suara langkah kecil.
Ia menoleh.
Anak Fatimah berdiri di ambang pintu sambil menatapnya. Bocah itu tidak menangis. Ia hanya memandang Mia dengan wajah bingung, seolah belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Mia membeku.
Anak itu telah melihat wajahnya.
Dengan adanya pemindai ingatan, Mia tahu ia tidak bisa membiarkannya tetap hidup.
Beberapa saat kemudian, rumah itu kembali sunyi.
Mia berdiri di tengah ruang tamu dan memandangi kedua tubuh yang tergeletak di lantai. Ia tidak mungkin membawa keduanya keluar dari rumah. Itu justru akan membuatnya lebih mudah dicurigai.
Ia memutuskan meninggalkan semuanya di sana.
Mia memastikan tidak ada barang miliknya yang tertinggal, lalu mengambil alat pemindai milik Fatimah. Setelah itu, ia meninggalkan rumah dan menutup pintu seperti semula.
Mia kembali ke rumahnya dan menjalani pagi seperti biasa.
Sementara itu, Fatimah tidak kunjung muncul di kantor. Setelah beberapa jam tidak dapat dihubungi, polisi mendatangi rumahnya.
Di sana mereka menemukan suami dan anak Fatimah telah tewas.
Di ruang tamu, mereka juga menemukan sebuah wadah kecil berisi kura-kura.
Keesokan harinya, Mia sedang menikmati sarapan pagi di rumah mewahnya. Suaminya sedang menyesap kopi sambil membaca koran, sementara kedua putri mereka tertawa riang menyantap makanan. Suasana terasa sangat damai dan sempurna.
Tiba-tiba, suara sirene polisi meraung-raung di luar rumah.
Brak!
Pintu depan rumah Mia didobrak paksa hingga hancur.
"Polisi! Jangan bergerak!"
Puluhan petugas bersenjata lengkap menerobos masuk, mengepung meja makan. Suami Mia berteriak panik, sementara kedua putrinya menangis histeris dan memeluk erat tubuh Mia.
Mia membeku di kursinya. "Apa-apaan ini?! Kenapa kalian mendobrak rumah saya?!"
Seorang komisaris polisi melangkah maju. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet yang menampilkan hasil pemindaian. Di sampingnya, seorang petugas membawa wadah kecil berisi seekor kura-kura.
"Mia, Anda ditahan atas pembunuhan, Detektif Fatimah, dan keluarganya," kata komisaris itu tegas.
"Mana buktinya?! Anda tidak punya bukti apa pun!" teriak Mia berusaha membela diri.
Petugas polisi itu lalu mengarahkan layar tablet ke hadapan Mia.
Layar itu memutar sebuah rekaman memori visual dari sudut pandang yang sangat rendah, sudut pandang dari meja ruang tamu rumah Fatimah. Di layar terekam jelas saat Mia masuk ke rumah malam itu, membunuh suami Fatimah yang sedang duduk, lalu anak Fatimah. Wajah Mia terekam amat sangat jelas saat ia sempat menoleh ke arah meja ruang tamu.
Mia menatap layar itu dengan mata membelalak penuh horor.
Tangannya akhirnya diborgol.
Ia diseret keluar rumah diiringi tangisan suami dan kedua putrinya, sementara kura-kura kecil di dalam wadah itu hanya diam, bergerak perlahan tanpa tahu bahwa ingatannya telah menjadi bukti terakhir yang menjatuhkan Mia.