Ada percakapan yang bermula dari hal-hal sederhana—tentang langit yang terlalu luas, angin yang datang tanpa permisi, atau sebatang pohon yang tetap tumbuh meski tak pernah tahu siapa yang akan berteduh di bawahnya.
Malam itu, jarak kembali menjadi sesuatu yang tak terlihat, tetapi terasa. Arsen berada di tempatnya, sementara Kirana jauh di seberang layar. Mereka hanya dipisahkan oleh beberapa kilometer, sebuah layar kecil, dan waktu yang terus berjalan.
Kirana sedang bercerita tentang alam.
Tentang mengapa ia menyukai suara angin, teduh pepohonan, warna langit menjelang senja, dan bagaimana ia bisa berlama-lama memperhatikan kupu-kupu yang berpindah dari satu bunga ke bunga lainnya.
Arsen mendengarkan.
Bukan karena ceritanya luar biasa, melainkan karena ia selalu percaya bahwa cara seseorang mencintai alam sering kali menyimpan cara ia memandang kehidupan.
Maka dari sebuah percakapan sederhana tentang alam, Arsen mulai bertanya.
Ia belum tahu bahwa pembicaraan tentang kupu-kupu dan nektar itu perlahan akan berubah menjadi percakapan tentang manusia—tentang rasa yang hanya singgah, tentang kebebasan untuk pergi, dan tentang sesuatu yang mungkin lebih sulit ditemukan daripada cinta:
rumah.
Arsen : "Aku selalu penasaran, kenapa kamu selalu suka dengan alam?
Apa karena alam memang punya cara sendiri untuk menenangkan manusia, atau karena di antara pepohonan, angin, dan langit, kamu menemukan sesuatu yang nggak kamu temukan di keramaian?
Aku cuma penasaran… mungkin ada alasan tertentu kenapa kamu begitu dekat dengan alam, Kirana?"
Kirana : "Mungkin karena alam nggak pernah memaksaku untuk menjadi apa-apa, Mas. Aku bisa duduk diam tanpa harus menjelaskan kenapa aku diam. Bisa memandang langit tanpa harus mencari jawaban dari apa pun.
Aku suka melihat kupu-kupu. Menurutku, mereka aneh sekaligus indah. Mereka nggak pernah tahu bunga mana yang akan mereka hinggapi. Mereka cuma terbang, mengikuti arah angin, lalu berhenti ketika menemukan sesuatu yang membuat mereka nyaman.
Mungkin manusia juga begitu.
Kadang kita seperti kupu-kupu yang hanya mencari nektar. Bukan untuk memiliki bunganya, bukan pula untuk membuat bunga itu menjadi milik kita. Hanya ingin mencicipi sedikit manisnya, lalu melanjutkan perjalanan.
Karena nggak semua yang membuat kita nyaman harus kita miliki, kan?
Pepohonan nggak pernah bertanya kenapa aku datang. Angin nggak pernah menuntut aku untuk tinggal. Langit pun nggak pernah kecewa ketika aku memilih pergi.
Mungkin itu yang aku suka dari alam...
Ia mengajarkan bahwa sesuatu bisa begitu indah tanpa harus menjadi milik kita."
Arsen : "Jadi menurutmu, kita semua cuma kupu-kupu yang sedang mencari nektar?"
Kirana : "Mungkin."
Arsen : "Lalu kalau suatu hari kupu-kupu menemukan nektar yang berbeda dari biasanya?"
Kirana : "Berbeda bagaimana?"
Arsen : "Yang membuatnya nggak ingin terbang lagi."
Kirana : "..."
Arsen : "Apa dia masih akan pergi?"
Kirana : "Kalau nektarnya cuma membuat dia nyaman, mungkin dia akan pergi."
Arsen : "Kalau membuatnya ingin pulang?"
Kirana : "Itu bukan lagi soal nektar, Mas Arsen."
Arsen : "Lalu?"
Kirana : "Mungkin... itu sudah soal rumah."
Arsen : "Dan kalau rumah itu ternyata seseorang?"
Kirana : "Kamu selalu punya cara untuk membuat percakapan sederhana jadi rumit, ya?"
Arsen : "Aku cuma sedang belajar memahami cara kamu memandang dunia."
Kirana : "Hati-hati."
Arsen : "Kenapa?"
Kirana : "Kadang, terlalu lama memahami seseorang membuat kita lupa... kalau kita sendiri sudah mulai menyukainya."
Arsen : "Kalau begitu, mungkin aku harus berhenti memahami kamu."
Kirana : "Kenapa?"
Arsen : "Takutnya aku malah terlalu betah."
Kirana : "Betah di mana?"
Arsen : "Di percakapan ini."
Kirana : "Cuma di percakapan?"
Arsen : "Untuk sementara."
Kirana : "Kenapa sementara?"
Arsen : "Karena jarak punya cara sendiri untuk mengingatkan kita bahwa tidak semua yang terasa dekat benar-benar bisa disentuh."
Kirana : "Kamu ngomong seperti orang yang pernah kehilangan."
Arsen : "Mungkin semua orang yang pernah berharap memang sedikit banyak pernah kehilangan."
Kirana : "Lalu menurutmu, apa yang paling menyakitkan? Kehilangan seseorang atau kehilangan harapan tentang seseorang?"
Arsen : "Kehilangan harapan."
Kirana : "Kenapa?"
Arsen : "Karena kalau seseorang pergi, kita masih bisa menerima bahwa dia sudah tidak ada. Tapi kalau harapan yang pergi..."
Kirana : "..."
Arsen : "Kita masih sering mencarinya di tempat yang sebenarnya sudah kosong."
Kirana : "Kamu ternyata lebih dalam dari yang kelihatan."
Arsen : "Aku cuma kebanyakan minum kopi."
Kirana : "Nah, kan. Aku kira mau romantis."
Arsen : "Boleh romantis sedikit."
Kirana : "Sedikit saja."
Arsen : "Kalau begitu... mungkin aku seperti kupu-kupu yang tadi kamu ceritakan."
Kirana : "Terus?"
Arsen : "Aku terbang ke mana-mana, sampai akhirnya menemukan satu bunga yang membuatku ingin berhenti."
Kirana : "Dan kamu yakin bunganya nggak akan layu?"
Arsen : "Aku nggak tahu."
Kirana : "Kalau ternyata layu?"
Arsen : "Aku nggak akan menyalahkan bunganya."
Kirana : "Lalu?"
Arsen : "Mungkin aku akan berterima kasih karena pernah menemukan nektar di sana."
Kirana : "Kamu tahu nggak?"
Arsen : "Apa?"
Kirana : "Kadang bunga juga punya ketakutan."
Arsen : "Takut apa?"
Kirana : "Takut kupu-kupu datang hanya karena nektarnya."
Arsen : "Lalu apa yang harus dilakukan bunga?"
Kirana : "Entahlah."
Arsen : "Mungkin menunggu sampai kupu-kupu itu datang bukan karena rasa manisnya."
Kirana : "Tapi karena bunganya?"
Arsen : "Iya."
Kirana : "Dan kalau kupu-kupunya sudah tidak membutuhkan nektar?"
Arsen : "Mungkin justru saat itu dia benar-benar tahu kenapa dia datang."
Kirana : "Kamu sadar nggak sih, Sen?"
Arsen : "Apa?"
Kirana : "Dari tadi kamu sebenarnya nggak sedang membicarakan kupu-kupu."
Arsen : "Ketahuan?"
Kirana : "Sangat."
Arsen : "Kalau begitu, menurutmu aku sedang membicarakan apa?"
Kirana : "Seseorang."
Arsen : "Siapa?"
Kirana : "Aku nggak tahu."
Arsen : "Kirana."
Kirana : "Hm?"
Arsen : "Kalau suatu hari aku menemukan rumah di tempat yang bahkan nggak pernah aku rencanakan untuk singgahi..."
Kirana : "..."
Arsen : "Menurutmu, aku harus tetap pergi karena sejak awal aku cuma berniat mencari nektar?"
Kirana : "Nggak."
Arsen : "Lalu?"
Kirana : "Kalau benar-benar terasa seperti rumah, mungkin untuk pertama kalinya kamu nggak perlu bertanya apakah harus tinggal."
Arsen : "Kenapa?"
Kirana : "Karena rumah yang sebenarnya nggak pernah memaksa seseorang untuk menetap."
Arsen : "Tapi membuatnya ingin pulang?"
Kirana : "Iya."
Arsen : "Kalau begitu..."
Kirana : "Apa?"
Arsen : "Mungkin aku sudah menemukan alasan kenapa aku betah bicara denganmu."
Kirana : "Apa?"
Arsen : "Karena ternyata ada tempat yang terasa seperti rumah, meskipun aku belum pernah benar-benar sampai ke sana."
Kirana : "..."
Arsen : "Kirana?"
Kirana : "Aku masih di sini."
Arsen : "Kok diam?"
Kirana : "Sedang mikir."
Arsen : "Tentang?"
Kirana : "Tentang kupu-kupu."
Arsen : "Masih?"
Kirana : "Iya."
Arsen : "Apa yang kamu pikirkan?"
Kirana : "Mungkin selama ini aku salah."
Arsen : "Salah bagaimana?"
Kirana : "Aku kira kupu-kupu mencari bunga karena nektarnya."
Arsen : "Lalu?"
Kirana : "Mungkin ada saatnya seekor kupu-kupu berhenti mencari rasa manis."
Arsen : "Karena?"
Kirana : "Karena ia akhirnya menemukan bunga yang ingin ia jaga, bukan sekadar ia hinggapi."
Arsen : "Dan kalau bunganya bertanya kenapa?"
Kirana : "Mungkin kupu-kupu itu cukup menjawab..."
Arsen : "Apa?"
Kirana : "Karena untuk pertama kalinya, aku nggak ingin terbang terlalu jauh."
Arsen : "..."
Kirana : "Kenapa diam?"
Arsen : "Nggak apa-apa."
Kirana : "Bohong."
Arsen : "Aku cuma sedang menikmati sesuatu."
Kirana : "Apa?"
Arsen : "Nektarnya."
Kirana : "Dasar..."
Arsen : "Kenapa?"
Kirana : "Kamu memang selalu berhasil mengubah percakapan jadi gombalan."
Arsen : "Tapi kamu masih di sini."
Kirana : "Iya."
Arsen : "Kenapa?"
Kirana : "Mungkin..."
Arsen : "Mungkin apa?"
Kirana : "Aku juga belum menemukan alasan untuk terbang."
Arsen : "Kalau begitu, jangan terbang dulu."
Kirana : "Jangan membuat janji yang belum tentu bisa kamu tepati, Sen."
Arsen : "Aku nggak berjanji."
Kirana : "Lalu?"
Arsen : "Aku cuma sedang menikmati bunga yang kebetulan sedang berbicara denganku."
Kirana : "Arsen..."
Arsen : "Iya?"
Kirana : "Selamat malam."
Arsen : "Kok tiba-tiba?"
Kirana : "Sebelum percakapan ini membuatku benar-benar percaya bahwa kupu-kupu bisa jatuh cinta pada bunganya."
Arsen : "Bukankah itu sudah terjadi?"
Kirana : "Tidur, Sen."
Arsen : "Selamat malam, Kirana."
Kirana : "Selamat malam."
Arsen : "Kirana?"
Kirana : "Hm?"
Arsen : "Besok kalau kamu lihat kupu-kupu lagi..."
Kirana : "Kenapa?"
Arsen : "Jangan buru-buru menyuruhnya terbang."
Kirana : "Kenapa?"
Arsen : "Barangkali ia sedang belajar menemukan rumah."
Kirana : "..."
Kirana : "Dan kalau dia sudah menemukannya?"
Arsen : "Semoga dia cukup berani untuk tinggal."
Malam pun kembali sunyi.
Di antara dua kota yang dipisahkan jarak, percakapan mereka berakhir tanpa pengakuan, tanpa janji, dan tanpa satu pun kata cinta.
Namun terkadang, perasaan memang tidak lahir dari kata-kata yang terang.
Ia tumbuh diam-diam—
seperti nektar di dasar bunga,
seperti kupu-kupu yang perlahan lupa jalan pulang,
dan seperti dua manusia yang belum sadar bahwa dari sekian banyak tempat di dunia,
mereka mulai menemukan rumah
di dalam percakapan satu sama lain.