Matahari sudah tenggelam sejak 30 menit yang lalu. Aku masih duduk diam menunggu adekku memesan martabak untuk cemilan kami malam ini.
Sebelum adekku selesai menyerahkan lembaran uang berwarna ungu pada penjual martabak, hujan tiba-tiba turun tanpa peringatan lebih dulu. Aku tidak membawa jaket, terpaksa aku dan adekku menerobos hujan dengan motor yang aku kendarai.
Malam-malam, hujan-hujan, selama di jalan, aku teringat waktu kebersamaan dengan teman-temanku sebelum pandemi dulu.
oOo
"La, udah, pulang yuk!"
"Entar, ini aku belum selesai, satu soal lagi."
"Ya elah La, udah mau malam inih... besok aja remedinya, guru udah pada mau pulang juga." Temanku, Yeye mengeluh, kembali duduk di kursi sebelahku.
"Soal apa?" tanya Yeye.
"Matematika."
"Ya elah La! Itu kamu butuh 1 jam menjawab satu soal, itu pun belum tentu jawabanmu benar, La. Ini mata pelajaran yang jawabannya bisa beranak-anak. Sudahlah, besok saja." Yeye menggerutu, malas menunggu.
"Ish bentar! 10 menit lagi!" Aku berseru sebal. Kenapa Yeye tidak bisa sabar sih?
"La, Ye, ayo pulang! Udah mau malam nih, gak baik anak perawan pulang malam-malam." Ersih yang baru balik dari ruang guru mengantar lembar jawaban remedinya langsung bersorak di depan pintu.
"Iya tuh, Lala katanya satu soal lagi." Yeye yang menjawab.
"Mata pelajaran apa?" tanya Ersih melangkah ke dalam kelas.
"Matematika," jawab Yeye.
"Ya elah La! Itu kamu butuh 1 jam menjawab satu soal, itu pun belum tentu jawabanmu benar, La. Ini mata pelajaran yang jawabannya bisa beranak-anak. Sudahlah, besok saja." Tanggapan Ersih sama persis dengan tanggapan Yeye.
"Ish kalian ini! Kalau mau pulang-pulang dulu saja! Aku bisa pulang sendiri." Aku kesal, gara-gara mereka aku tidak bisa fokus.
Yeye dan Ersih saling tatap, menghela nafas. Mereka kini diam di kursi masing-masing.
10 menit kemudian aku selesai mengerjakan soal remidi. Setelah mengantar soal ke ruang guru, aku, Yeye dan Ersih berjalan ke rumah, pulang.
"Ya udah gelap kan." Yeye mendengus sebal. Ersih nampak santai.
"Kan udah aku bilang kamu pulang duluan saja," ucapku.
"Mana bisa, aku orangnya setia kaw--"
Draaaaaassss.....
Sebelum Yeye menyelesaikan kalimatnya, hujan langsung turun dengan deras secara tiba-tiba.
Aku, Yeye dan Ersih langsung berlari mencari tempat berteduh, tapi sayangnya seragam kami sudah terlanjur basah semua.
Kami saling tatap, tertawa bersama. Akhinya kami tidak jadi berteduh, kami langsung berjalan ke rumah seperti biasa, di bawah langit yang tengah menangis saat itu. Kami tertawa riang bersama menempuh hujan, bermain-main percakan air hujan.
Esoknya, kami semua sakit. Libur sekolah.
Aaaah... aku rindu sekolah, aku rindu pulang sekolah bersama teman-temanku.
Pandemi... kapan kau berakhir?