Saat pertama kali bertemu Rena, Damar berusia dua puluh tahun.
Ia adalah tipe pria yang selalu meminta maaf bahkan ketika tidak melakukan kesalahan.
Pemalu.
Pendiam.
Dan terlalu baik untuk dunianya sendiri.
Rena menyukai itu.
Setidaknya pada awalnya.
Ia suka bagaimana Damar selalu menunggu pesan darinya.
Suka bagaimana Damar mengingat hal-hal kecil.
Suka bagaimana Damar rela mengorbankan apa saja hanya untuk melihatnya tersenyum.
Dan Damar mengira itu cinta.
Ia tidak tahu bahwa beberapa orang menyukai bunga hanya untuk memetiknya.
Bukan untuk merawatnya.
Tahun pertama terasa indah.
Tahun kedua mulai retak.
Tahun ketiga berubah menjadi mimpi buruk.
Rena mulai membandingkannya dengan pria lain.
Mengolok-olok hobinya.
Menertawakan cita-citanya.
Mengatakan bahwa tidak ada wanita lain yang akan tahan menghadapi seseorang sepertinya.
Awalnya Damar membela diri.
Kemudian ia mulai diam.
Lalu percaya.
Mungkin memang benar.
Mungkin dirinya memang tidak cukup.
Mungkin dirinya terlalu lemah.
Terlalu membosankan.
Terlalu tidak berguna.
Luka yang paling dalam bukan berasal dari bentakan.
Melainkan dari kalimat-kalimat kecil yang diucapkan berulang kali sampai menjadi kebenaran.
"Kamu beruntung aku masih bertahan."
"Kamu tidak akan dapat siapa-siapa selain aku."
"Kamu terlalu merepotkan."
"Kamu terlalu sensitif."
"Kamu terlalu banyak."
Terlalu banyak.
Terlalu banyak.
Terlalu banyak.
Sampai akhirnya Damar mulai merasa keberadaannya sendiri adalah beban.
Ia berhenti menggambar.
Berhenti bermain gitar.
Berhenti bertemu teman-temannya.
Dunia Damar menyusut menjadi satu orang.
Dan orang itu terus menghancurkannya sedikit demi sedikit.
Ironisnya...
Damar tetap mencintainya.
Karena orang yang kelaparan sering kali tidak bisa membedakan makanan dan racun.
Lalu pada suatu sore hujan.
Rena meninggalkannya.
Tidak ada pertengkaran besar.
Tidak ada drama.
Hanya satu pesan singkat.
"Aku menemukan seseorang yang lebih cocok."
Selesai.
Lima tahun.
Hancur menjadi dua belas kata.
Damar tidak menangis saat itu.
Ia hanya duduk memandangi layar ponsel sampai malam.
Lalu pagi.
Lalu malam lagi.
Seolah tubuhnya masih hidup tetapi jiwanya tertinggal di hari kemarin.
Hari-hari berikutnya menjadi kabur.
Ia kehilangan berat badan.
Sulit tidur.
Sulit makan.
Sulit bernapas.
Kadang ia terbangun karena mimpi buruk.
Kadang ia menangis tanpa alasan.
Kadang ia menatap cermin dan merasa asing dengan wajah yang ada di sana.
Ia tidak membenci Rena.
Yang lebih menyakitkan adalah...
Ia membenci dirinya sendiri.
---
Musim hujan berikutnya datang.
Dan pada salah satu hari yang dingin itu, Damar bertemu seorang wanita asing.
Namanya Alina.
Mereka bertemu di toko buku.
Tidak ada percikan cinta.
Tidak ada takdir yang megah.
Hanya seorang wanita yang melihat buku jatuh dari rak dan membantu mengambilkannya.
"Itu buku favoritku."
Begitu katanya.
Lalu tersenyum.
Sesederhana itu.
Tetapi Damar hampir lupa bahwa senyum bisa terasa hangat.
Mereka mulai bertemu sesekali.
Ngopi.
Berjalan.
Mengobrol.
Dan setiap kali Alina melakukan sesuatu yang baik, Damar selalu bingung.
Karena ia terbiasa mencari harga yang harus dibayar.
Ketika Alina membelikannya minuman.
Ketika Alina mengingat tanggal wawancaranya.
Ketika Alina mengirim pesan menanyakan apakah ia sudah makan.
Damar selalu menunggu bagian buruknya.
Menunggu kritik.
Menunggu hinaan.
Menunggu manipulasi.
Menunggu luka.
Tetapi bagian itu tidak pernah datang.
Justru itulah yang membuatnya takut.
Sangat takut.
Suatu malam, Alina terlambat datang hampir satu jam.
Damar duduk sendirian di halte.
Ponselnya bergetar di tangannya.
Pikirannya kacau.
Dia bosan.
Dia pergi.
Dia berubah pikiran.
Dia menemukan orang lain.
Jantungnya berdegup terlalu cepat.
Tangannya gemetar.
Napasnya sesak.
Saat Alina akhirnya datang, ia menemukan Damar sedang menangis.
Bukan menangis pelan.
Melainkan tangisan seseorang yang sudah terlalu lama menahan semuanya sendirian.
"Damar?"
Pria itu langsung berdiri.
"M-maaf."
Alina terkejut.
"Aku benar-benar minta maaf."
"Damar, kenapa?"
"Aku tahu aku merepotkan."
Matanya merah.
"Aku tahu aku tidak menarik."
Suaranya pecah.
"Aku tahu orang akhirnya selalu pergi."
Alina membeku.
Karena tidak ada orang yang berbicara seperti itu jika mereka tidak pernah dihancurkan.
Perlahan ia mendekat.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Damar tidak diminta menjelaskan dirinya.
Tidak diminta membela diri.
Tidak diminta berubah.
Alina hanya berkata,
"Aku terlambat karena ban motorku bocor."
Damar terdiam.
"Sudah itu saja alasannya."
Lalu wanita itu menambahkan,
"Aku tidak sedang meninggalkanmu."
Kalimat sederhana.
Namun sesuatu di dalam diri Damar runtuh saat itu juga.
Seluruh pertahanan yang ia bangun.
Seluruh rasa takut yang ia sembunyikan.
Seluruh luka yang ia paksa diam.
Hancur.
Dan ia menangis lebih keras lagi.
---
Mereka mulai bersama beberapa bulan kemudian.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Karena cinta bagi Damar sudah seperti api.
Indah.
Tetapi juga menakutkan.
Namun Alina tidak pernah memaksanya.
Ia selalu sabar.
Selalu lembut.
Selalu memberi ruang.
Dan justru karena itulah Damar semakin dekat.
Semakin bergantung.
Semakin sulit melepaskan.
Kadang Alina bangun pagi dan menemukan Damar sudah duduk di sampingnya sambil membaca.
Kadang ia menoleh dan menemukan Damar memperhatikannya diam-diam.
Kadang pria itu hanya ingin memastikan bahwa Alina masih ada.
Masih nyata.
Masih memilih tinggal.
Suatu malam, Alina terbangun karena merasakan genggaman di tangannya.
Damar tertidur di sebelahnya.
Tetapi bahkan dalam tidurnya, ia tidak melepaskan tangan wanita itu.
Seolah takut jika ia bangun dan semuanya hilang.
Alina menatap wajahnya lama.
Lalu mengusap rambutnya perlahan.
Damar tidak tahu.
Tetapi saat itu Alina hampir menangis.
Karena ia menyadari sesuatu.
Orang-orang sering membicarakan betapa indahnya dicintai.
Namun tidak banyak yang tahu betapa menyedihkannya dicintai oleh seseorang yang pernah hancur.
Karena di balik setiap pelukan yang terlalu erat...
Ada ketakutan.
Di balik setiap tatapan yang terlalu lama...
Ada luka.
Di balik setiap "jangan pergi"...
Ada seseorang yang dulu pernah ditinggalkan ketika sedang paling membutuhkan.
Dan malam itu, saat Damar tanpa sadar menggenggam tangannya lebih erat, Alina hanya berbisik pelan.
"Aku masih di sini."
Mungkin besok dunia akan berubah.
Mungkin masa depan tidak pasti.
Mungkin tidak ada janji yang bisa bertahan selamanya.
Tetapi untuk malam ini.
Untuk saat ini.
Damar akhirnya bisa tidur tanpa takut kehilangan rumahnya lagi.