Pada hari kematianku, aku melihat seseorang yang paling kubenci.
Diriku sendiri.
Namaku dulu Elena Arabelle.
Aku adalah putri keluarga bangsawan yang mati pada usia dua puluh tiga tahun karena diracun oleh suamiku sendiri.
Setidaknya, itulah yang kuingat.
Aku ingat rasa sakitnya.
Aku ingat darah yang mengalir dari sudut bibirku.
Aku juga ingat suara suamiku berbisik sebelum semuanya menjadi gelap.
“Maaf, Elena. Kalau kau tetap hidup, aku tidak akan pernah bisa menjadi raja.”
Aku mati dengan satu penyesalan.
Aku terlalu percaya pada orang yang salah.
Namun ketika membuka mata…
Aku kembali menjadi anak berusia tujuh tahun.
Di kamar yang sangat kukenal.
Di tubuh yang sangat kukenal.
Aku berlari menuju cermin.
Wajah kecil itu menatapku balik.
Rambut hitam.
Mata biru.
Bekas luka kecil di bawah telinga.
Aku kembali.
Tahun 1 sebelum aku bertemu calon suamiku.
Tahun 1 sebelum keluargaku dihancurkan.
Tahun 1 sebelum aku mati.
Kali ini aku bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Aku akan menghindari pria itu.
Aku akan menyelamatkan keluargaku.
Dan yang paling penting…
aku tidak akan pernah menikah dengannya.
Sepuluh tahun berlalu.
Aku berhasil mengubah banyak hal.
Aku menggagalkan beberapa rencana yang dulu menghancurkan keluargaku.
Aku menjauh dari pria yang kelak menjadi suamiku.
Namanya Lucien Armand.
Anehnya, semakin aku berusaha menjauhinya, semakin sering kami bertemu.
Sampai suatu malam, Lucien menghampiriku di sebuah pesta kerajaan.
“Aku ingin menanyakan sesuatu.”
“Apa?”
Dia menatapku lama.
“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
Jantungku berhenti sesaat.
“Tidak.”
Lucien tersenyum samar.
“Aneh.”
“Apa yang aneh?”
“Setiap kali melihatmu…”
Dia mendekat.
“…aku merasa seperti sedang bertemu seseorang yang sudah lama hilang.”
Aku mundur.
“Perasaanmu salah.”
Aku hendak pergi.
Namun Lucien tiba-tiba berkata,
“Elena.”
Aku berhenti.
Dia menyebut namaku dengan cara yang berbeda.
Bukan seperti seseorang yang baru mengenalku.
Melainkan seperti seseorang yang sudah mengucapkannya ribuan kali.
“Aku bermimpi tentangmu.”
Aku perlahan menoleh.
“Apa?”
“Dalam mimpiku, kau mati.”
Darahku terasa membeku.
Lucien melanjutkan,
“Dan aku adalah orang yang membunuhmu.”
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Malam itu aku tidak tidur.
Jika Lucien mengingat kehidupan sebelumnya…
berarti ada sesuatu yang salah.
Keesokan harinya, aku diam-diam mencari tahu tentang kehidupan masa laluku.
Dan aku menemukan sesuatu yang membuat seluruh tubuhku gemetar.
Catatan kerajaan menyebutkan bahwa…
Lucien tidak pernah membunuhku.
Orang yang meracuniku adalah seseorang yang lain.
Seseorang yang tidak pernah aku curigai.
Ayahku sendiri.
Aku membaca halaman itu berulang kali.
Tidak mungkin.
Ayah mencintaiku.
Atau setidaknya…
begitulah yang selalu kupercaya.
Lalu aku menemukan surat terakhir dari kehidupanku sebelumnya.
Surat itu ditulis oleh Lucien.
Elena, jika kau membaca surat ini, berarti aku gagal menyelamatkanmu.
Jangan percaya pada siapa pun.
Termasuk dirimu sendiri.
Aku membeku.
Di bagian paling bawah surat itu terdapat satu kalimat terakhir.
Kau bukan orang pertama yang terlahir kembali.
Aku menjatuhkan surat itu.
Di saat yang sama, pintu kamar terbuka.
Lucien berdiri di sana.
Wajahnya pucat.
“Sekarang kau sudah tahu?”
Aku menatapnya.
“Tahu apa?”
Lucien berjalan mendekat.
“Bahwa kita sudah mengulang kehidupan ini…”
Dia berhenti tepat di depanku.
“…sebanyak tujuh kali.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Setiap kehidupan berakhir dengan kematianmu.”
“Dan setiap kali aku mencoba menyelamatkanmu.”
Tatapan Lucien berubah sedih.
“Tapi selalu gagal.”
Aku menatapnya dengan ketakutan.
“Lalu kehidupan ini?”
Lucien tersenyum tipis.
“Ini kesempatan terakhir kita.”
“Kenapa?”
Dia menatapku dalam-dalam.
“Karena di kehidupan sebelumnya…”
Tangannya menggenggam tanganku.
“…kau yang membunuhku.”
Dan untuk pertama kalinya sejak aku terlahir kembali…
aku menyadari sesuatu.
Mungkin aku tidak kembali ke masa lalu untuk menyelamatkan diriku.
Aku kembali untuk mengingat siapa sebenarnya pembunuhku.