Adrian menatap Zara lekat sejenak—tubuhnya yang terkulai lemas di pelukannya, wajahnya yang pucat tanpa darah, napasnya yang nyaris tak terasa—lalu segera menahan langkah Yamal yang hendak bergegas: “Panggil dokter keluarga, sekarang. Sekarang juga.”
Ia perlahan mengangkat tubuh Zara ke dalam pelukannya. Satu tangan menopang punggung gadis itu dengan penuh kehati-hatian, sementara tangan lainnya memeluk pinggangnya dengan erat namun lembut, seolah takut ia akan hancur jika digenggam terlalu kuat. Saat melangkah menaiki anak tangga, gumaman pelan lolos dari bibirnya yang penuh rasa tak percaya dan kepedihan yang mendalam: “Sangat ringan… apakah dia tidak pernah makan sama sekali?” Ia menatap wajah pucat itu lekat-lekat sejenak, jantungnya mencelos perih, lalu terus melangkah masuk ke kamar dan membaringkan Zara dengan hati-hati di atas kasur—seolah meletakkan benda paling rapuh.
Sementara itu, Yamal yang masih tampak gelisah tiba-tiba teringat akan dokter pribadi keluarga, lalu segera menelepon dan meminta orang itu datang secepat mungkin.
Tak lama kemudian dokter pun tiba. Setelah memeriksa sebentar—menyentuh kening yang membara, meraba nadi yang lemah—ia menoleh ke arah Adrian dengan raut serius dan penuh kekhawatiran: “Tuan, Nyonya Zara mengalami demam yang sangat tinggi. Ditambah lagi tubuhnya lama terpapar hawa dingin hujan… keadaannya cukup berbahaya. Pakaian basah yang menempel itu harus segera dilepas sebelum saya memberikan penanganan lebih lanjut. Jika dibiarkan, demamnya bisa naik lebih tinggi lagi.”
Adrian tertegun. Baru saat itulah ia benar-benar menyadari seluruh pakaian Zara basah kuyup dan menempel berat di tubuhnya—kain yang gelap, berat, meneteskan air ke mana-mana. Namun di rumah ini tidak ada pelayan wanita, sedangkan dokter dan semua orang yang ada di sana adalah laki-laki sama seperti dirinya. Ia terdiam terpaku, bingung tak tahu harus melakukan apa—berpikir, berdebat dengan dirinya sendiri, bergumam tanpa suara.
Sesaat sebuah pikiran melintas di benaknya: Biarkan dokter saja yang melakukannya, ya benar juga. Dia dokter.
Adrian pun berbicara singkat, suaranya terdengar berat dan paksa: “Baiklah, tolong lepaskan pakaiannya.”
Dokter itu terbelalak tak percaya mendengar perintah itu, matanya membelalak seolah tak percaya pada telinganya sendiri: “Apa yang Tuan katakan? Bagaimana mungkin Tuan menyuruh seorang laki-laki menyentuh istri Anda sendiri? Tuan meminta saya mengganti pakaiannya? Dia adalah istri Tuan! Kehormatannya adalah kehormatan Tuan juga!”
“Lakukan saja seperti perintahku,” tegas Adrian tanpa mengubah raut wajahnya, namun matanya memancarkan kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan.
“Tuan, apakah Tuan masih sadar akan apa yang Tuan minta?” Dokter berusaha menolak, menatapnya tak percaya, namun seketika ia terdiam saat tatapan tajam Adrian tertuju padanya—tatapan yang cukup membuat siapa pun merasa terintimidasi dan tak berani menawar lagi. Itu bukan sekadar tatapan marah, itu tatapan seorang pria yang sedang berperang dengan dirinya sendiri.
Saat tangan dokter yang tampak gemetar hampir menyentuh ujung baju Zara—jarak hanya beberapa sentimeter—tiba-tiba Adrian menepis tangan itu dengan keras, bunyi tamparan di udara yang tajam dan tegas. “Cukup. Keluarlah dan tunggu di luar saja,” ucapnya dingin dan singkat, matanya memancarkan kilat amarah—bukan pada dokter, melainkan pada dirinya sendiri karena sempat berpikir membiarkan orang lain melihatnya.
Dokter terpaku bingung, tak berani menawar, lalu berjalan keluar dan menunggu bersama Yamal tepat di depan pintu kamar—keduanya saling berpandangan, penuh keheranan namun tak berani bersuara.
Di dalam kamar, Adrian tampak gelisah. Ia mondar-mandir sebentar di tepi kasur, langkahnya tak menentu, sesekali melirik sosok Zara yang terbaring diam tak sadarkan diri di bawah selimut tipis. Akhirnya ia duduk di kursi depan tempat tidur, matanya tak lepas menatap wajah gadis itu yang kian tampak pucat dan rapuh.
Dalam hatinya ia bergumam, berdebat dengan dirinya sendiri: Aku belum pernah menyentuh wanita mana pun seumur hidupku. Aku bukan orang yang memanfaatkan keadaan. Aku punya harga diri. Tapi jika aku tidak melakukannya… keadaannya akan memburuk. Dia bisa makin sakit. Dia bisa… Ia tak sanggup menyelesaikan kalimat itu.
Ia menatap Zara dengan raut bingung yang tak mampu ia sembunyikan—takut, ragu, namun di balik ketakutan itu ada sesuatu yang lebih besar: rasa tanggung jawab yang tak bisa ia tolak.
Tak lama kemudian Adrian bangkit berdiri dengan tekad yang mantap—seolah telah mengambil keputusan terberat dalam hidupnya. Ia berjalan menuju lemari pakaian Zara, lalu mencari satu setel baju tidur yang terbuat dari kain paling lembut yang bisa ia temukan—putih bersih, renda halus, kain sutra yang tak akan menyakiti kulitnya. Setelah menutup lemari perlahan, ia meletakkan pakaian itu di tepi kasur. Sekali lagi ia menatap wajah pucat itu lama sekali—menghafal setiap lekuk wajahnya, meminta maaf dalam hati—sebelum akhirnya berjalan perlahan menuju pintu dan mematikan lampu utama kamar.
Namun ruangan itu menjadi terlalu gelap, dan Adrian merasa cemas jika sampai ia melakukan kesalahan tanpa sengaja—menyakitinya, menarik kain terlalu kuat, menabraknya tanpa sadar. Maka ia menyalakan lampu kecil yang terpasang di meja samping tempat tidur—cahayanya cukup terang untuk melihat sekilas, namun tetap redup sehingga tidak menyilaukan atau membuatnya merasa sungkan. Cahaya keemasan yang lembut menyelimuti ruangan, menyembunyikan segala sesuatu dalam bayang-bayang yang penuh rasa hormat.
Ia perlahan naik ke atas permukaan kasur—berat sekali langkahnya, seolah mendaki bukit yang curam. Menatap wajah Zara yang tenang namun pucat itu cukup lama, napasnya terasa tertahan di dada seolah ada beban di sana. Perlahan tangannya terulur, sempat terhenti dan ragu sejenak—jari-jarinya gemetar—sebelum akhirnya dengan gerakan yang sedikit gemetar menyentuh ujung baju yang basah itu, lalu mulai membuka kancingnya satu per satu dengan kehati-hatian yang luar biasa.
Sepanjang waktu itu ia terus memalingkan wajah ke arah jendela besar di sisi lain ruangan—matanya menatap kegelapan di luar, berusaha sekuat tenaga agar tidak menatap langsung ke arah Zara, dan hanya mengandalkan perasaan dari rabaan tangannya saja. Setiap sentuhan penuh rasa hormat, setiap gerakan penuh permohonan maaf yang tak terucap.
Setelah semua kancing terbuka, Adrian perlahan menopang punggung Zara agar sedikit terangkat—lengan kirinya melingkar di belakangnya, merasakan tulang belikatnya yang terlalu menonjol—lalu melepas pakaian luar yang basah itu dari tubuhnya dengan sangat pelan. Ternyata pakaian dalam yang dikenakannya pun sama lembap dan basahnya—menempel dingin di kulitnya. Tangannya mengepal erat menahan rasa ragu dan canggung, napasnya tercekat di tenggorokan, namun ia memberanikan diri melanjutkan pekerjaannya dengan sangat hati-hati. Ia membiarkan tubuh Zara bersandar lemah di pelukannya agar lebih mudah mengenakan pakaian yang kering—merasakan kehangatan tubuhnya yang menggigil, namun tak pernah sekali pun matanya beralih ke arah yang seharusnya tak ia lihat.
Ia bisa merasakan kehangatan serta lekuk tubuh gadis itu di dekatnya, namun matanya tetap berpaling ke arah jendela yang gelap. Tidak ada sedikit pun niat buruk atau keinginan memanfaatkan keadaan yang ada di dalam hatinya. Seluruh perhatiannya hanya tertuju pada satu hal: memakaikan pakaian yang kering agar Zara tidak semakin jatuh sakit. Hanya itu. Tak ada yang lain.
Begitu selesai—Adrian turun perlahan dari kasur lalu menyalakan kembali lampu kamar. Sekilas matanya menangkap bagian bahu dan dada Zara yang belum tertutup sempurna—ternyata ia cukup berani saat melepas pakaian lama, namun kembali merasa tidak sanggup dan canggung saat hendak merapikan pakaian yang baru. Rautnya sempat terlihat sedikit goyah—pipi kemerahan, napas tercekat—namun ia segera mengumpulkan kembali kesadarannya. Ia memejamkan mata sejenak, lalu meraba-raba mencari selimut dan menyelimuti tubuh Zara hingga tertutup rapat sampai ke bagian leher—menutupnya sepenuhnya dari pandangan siapa pun, termasuk dirinya sendiri.
Tepat saat itu ia teringat akan sesuatu yang terasa kasar dan menonjol saat tangannya menopang punggung Zara tadi—permukaan kulit yang tak seharusnya ada. Perlahan ia mengangkat sedikit ujung selimut, napasnya seketika tertahan panjang—seolah paru-parunya tiba-tiba lupa cara bernapas.
Di sana, di atas kulit pucat yang seharusnya halus dan murni, tersebar banyak sekali bekas luka—garis memar yang masih berwarna merah segar dan ungu tua, berselang-seling dengan bekas cambuk lama yang sudah menggelap dan menebal. Semuanya bertumpuk rapat, menindih satu sama lain, seolah tak pernah diberi waktu untuk benar-benar sembuh sebelum luka baru datang menambah kepedihannya. Punggung itu adalah peta penderitaan yang tak pernah bercerita kepada siapa pun.
Tangan Adrian gemetar hebat di udara, nyaris menyentuh namun tak berani—takut menyakiti bahkan dengan satu sentuhan. Matanya membelalak lebar, napasnya terputus-putus, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Adrian merasa malu—bukan pada dirinya sendiri, tapi pada dunia yang membiarkan hal ini terjadi pada gadis yang selembut dia.
Baru saat itulah Adrian menyadari bahwa alas kasur itu pun ikut basah kuyup terkena air hujan yang menetes dari tubuh Zara—bukan hanya air hujan, tapi juga darah yang merembes dari luka-luka yang basah itu. Ia tahu tidak mungkin membiarkan gadis itu tetap berbaring di tempat seperti itu—dingin, lembap, penuh luka yang bisa terinfeksi. Tanpa menunggu lagi, ia membuka pintu kamar perlahan, lalu mengangkat kembali tubuh Zara dengan penuh kehati-hatian dan membawanya menuju kamar pribadinya sendiri untuk dibaringkan di sana—di tempat yang paling hangat, paling aman, dan paling miliknya. Yamal dan dokter yang masih menunggu di luar hanya saling berpandangan dengan penuh rasa heran, namun tetap mengikuti langkah Adrian masuk ke dalam kamar itu—kamar yang tak pernah dikunjungi siapa pun sebelumnya.
Adrian menarik selimut hingga menutupi rapat Zara sampai ke leher, memastikan tidak ada bagian tubuh yang terlihat lagi. Baru setelah itu dokter maju ke depan dan mulai memeriksa keadaan Zara kembali dengan teliti—jari-jarinya bergerak pelan, matanya penuh simpati saat menyadari apa yang baru saja ia lihat sekilas.
“Nyonya Zara mengalami dehidrasi yang cukup parah, Tuan,” ucap dokter dengan suara rendah dan penuh keprihatinan. “Dari kondisi tubuhnya terlihat bahwa ia sudah lama kurang makan dan kurang istirahat—tulang-tulangnya menonjol, otot-ototnya lemah. Ditambah demam tinggi yang dideritanya saat ini, saya akan segera memasang infus dan memberikan obat penurun panas. Izinkan saya meminta perlengkapan dan obatnya segera dibawa ke sini.”
“Bawakan juga obat dan salep untuk mengobati luka memar serta lecet,” sahut Adrian dengan cepat, suaranya bergetar menahan amarah yang mendidih di dalam dada. “Yang paling kuat. Yang paling lembut. Semuanya.”
“Baik, Tuan, semua itu sudah saya siapkan.”
Tak lama kemudian alat infus terpasang dengan rapi di lengan Zara—jarum yang halus, selang yang lentik. Dokter kemudian menyarankan agar obat minum segera diberikan, namun keduanya terdiam sejenak saat menyadari Zara masih belum sadarkan diri sama sekali. Adrian tampak bingung tak tahu cara memberikannya—takut tersedak, takut masuk ke paru-paru. Dokter hanya tersenyum tipis dengan penuh pengertian, lalu membisikkan cara yang tepat untuk melakukannya tanpa harus membangunkan pasien, sebelum akhirnya pamit meninggalkan mereka karena tidak ada lagi yang perlu dikerjakan untuk saat ini.
Adrian meminta Yamal mengantar dokter itu keluar, lalu kembali masuk ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat—mengunci nya. Ia duduk kembali di tepi kasur, menatap cukup lama wajah Zara yang tampak tenang namun masih sangat pucat, sementara keringat dingin mulai muncul kembali di pelipisnya—gugup, takut, penuh rasa bersalah. Adrian mengambil gelas air serta obat yang disiapkan dokter, lalu perlahan menopang punggung Zara agar posisinya sedikit terangkat. Ia menempelkan bibir gelas ke sudut bibir Zara, lalu meneteskan obat dan air sedikit demi sedikit agar dapat tertelan dengan aman—seperti yang baru saja dijelaskan dokter. Namun obat itu sulit masuk, sehingga Adrian terpaksa menggunakan cara lain yang lebih teliti—dia menempelkan obat ke bibir Zara memasukkan obat ke dalam mulutnya dan Adrian meminum air di gelas perlahan dengan ragu menunduk
Setelah tugas itu selesai, ia meletakkan kembali gelas dan sisa obat ke atas meja, lalu mengambil wadah salep yang telah disiapkan. Dengan sangat hati-hati ia memiringkan tubuh Zara sedikit ke samping, lalu mengangkat perlahan ujung pakaian di bagian punggungnya—hanya cukup untuk mengoleskan obat, tak lebih. Matanya tetap ia alihkan ke arah lain—menatap dinding, menatap lantai—sementara tangannya bekerja mengandalkan perasaan saja. Meski tatapannya tampak dingin dan tenang, setiap sentuhan tangannya begitu lembut dan hati-hati mengoleskan salep ke setiap luka tanpa menekan sedikit pun—seolah tak ingin menambah rasa sakit yang sudah terlalu banyak. Setelah selesai, ia kembali menurunkan pakaian itu, merapikan posisi tidur Zara agar nyaman, lalu berjalan perlahan keluar kamar dan menutup pintu kembali—langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya.
Adrian menuruni anak tangga sambil mengenakan pakaian ganti yang lebih santai—lengan digulung, kancing terbuka—namun matanya masih gelap dan penuh badai. Sesampainya di ruang tamu, ia memanggil salah satu penjaga yang bertugas. Suaranya terdengar rendah namun penuh penekanan yang berat, seolah setiap kata diucapkan dengan beban yang tak terlihat: “Ceritakan kepadaku semuanya dengan jelas dan sejujurnya. Apa saja yang terjadi selama aku pergi? Jangan sembunyikan satu hal pun.”
Penjaga itu berdiri dengan tubuh yang gemetar ketakutan, kepalanya tertunduk dalam-dalam, keringat dingin menetes di pelipisnya: “Tuan… sejak hari Tuan berangkat, Nyonya Elina selalu mengirim orang untuk menjemput Nyonya Zara setiap hari. Nyonya Zara tidak pernah lagi berangkat ke sekolah sejak saat itu. Ia selalu dikembalikan ke rumah ini dalam keadaan yang sudah terlambat, dan ada kalanya… bahkan kadang ia dibawa pulang tanpa sadar sama sekali.” Ia menelan ludah dengan susah payah, kakinya terasa lemas tak berani bergerak sedikit pun.”
Keheningan yang mematikan menyelimuti ruangan itu. Adrian hanya diam dalam keheningan yang cukup lama—detik terasa seperti jam—rahangnya mengeras seketika menahan emosi yang mulai meluap, urat di lehernya menonjol, tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Selama ini dia berpikir Zara rapuh karena sifatnya. Selama ini dia tak tahu bahwa setiap hari saat dia pergi, dia disiksa di bawah atap rumahnya sendiri. Di bawah atap rumahnya.
“Kau boleh pergi sekarang,” ucapnya singkat dan berat—suara yang terdengar seperti berasal dari kedalaman bumi.
“Terima kasih, Tuan,” jawab penjaga itu pelan, lalu segera berbalik dan menjauh dengan langkah tergesa namun tetap sopan—bersyukur masih bisa berdiri tegak.
Adrian masih duduk diam terpaku di kursi itu cukup lama—sendirian dalam kegelapan ruang tamu—sebelum akhirnya perlahan bangkit berdiri. Kakinya terasa berat saat melangkah kembali menaiki anak tangga—seolah terikat rantai. Sebenarnya niat awalnya adalah beristirahat di ruangan lain, tidur di sofa, jauh dari godaan dan rasa bersalah. Namun kakinya seolah bergerak sendiri, membawanya ke satu-satunya tempat yang ia tahu harus ia berada: di sampingnya. Langkahnya berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Ia menempelkan telinganya sejenak, lalu perlahan membuka pintu sedikit saja hanya untuk memastikan keadaan Zara baik-baik saja.
Namun dari dalam kamar terdengar suara rintihan pelan—lemah, penuh ketakutan, memecah keheningan malam. Adrian segera masuk mendekat ke arah kasur, langkahnya tanpa bunyi. Ia melihat Zara tampak gelisah meski sedang terlelap, keringat dingin kembali membasahi wajahnya, napasnya terdengar berat serta tersengal-sengal seolah sedang berlari dari sesuatu yang tak terlihat. “Ibu… Ayah… aku takut…” gumamnya lirih, tubuhnya seketika meringkuk perlahan seolah sedang berusaha melindungi dirinya sendiri—lengan melingkari lutut, kepala menunduk. “Jangan… tolong jangan… aku takut…” Air mata perlahan merembes keluar dari sudut matanya, membasahi bantal—seolah ada mimpi buruk yang sangat mengerikan sedang menghantuinya saat itu juga. Dan mimpi buruk itu bukanlah mimpi—itu adalah ingatan yang nyata.
Adrian hanya diam menatapnya sejenak—dada sesak, napas tertahan, perlahan mengusap lembut kening Zara dengan punggung tangannya. Sentuhannya begitu lembut, penuh permohonan maaf yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata. “Masih sangat panas,” gumamnya pelan dengan nada yang sulit dimengerti maknanya—bukan sekadar suhu tubuh, tapi panas yang menyakitkan, panas yang membakar. Tak lama kemudian napas Zara perlahan kembali teratur dan raut wajahnya tampak lebih tenang—seolah sentuhan itu saja sudah cukup untuk menenangkan badai di dalam mimpinya. Adrian pun berjalan menuju kursi yang berada tepat di samping kasur, lalu duduk di sana dengan tekad bulat untuk tidak pergi ke mana-mana lagi. Ia akan tetap duduk menjaga Zara sepanjang malam itu.