Apakah kalian mempunyai seorang sahabat yang memang benar benar mengerti arti sebuah persahabatan ?
Persahabatan mereka sudah memakan waktu belasan tahun dan mereka sudah menganggap saudara satu sama lain, persaudaraan mengajari mereka tentang pemahaman watak masing masing serta rasa peduli yang besar terhadap sesama.
"Bau busuk apa ini."teriak Ana mendengus mencium lalu menutup hidungnya.
"Bau busuk?"balas Jingga mencari sumber bau busuk itu.
"Kalian tampak bodoh, bau busuk kalian hirup dalam dalam."lanjut Bintang beranjak meninggalkan ruangan.
"Jangan jangan?"Bintang!..."teriak Ana curiga Bintang buang angin.
"Hahaha orang orang bodoh itu."batin Bintang senang menjahili para sahabatnya itu.
Bau busuk menyengat yang membubarkan rapat tiga sekawan idiot.
"Ana aku lapar."gerutu Jingga memelas menekan perutnya dengan kedua tangan.
"Sama, kita makan diluar saja aku sedang tak ingin memasak."jawab Ana menata rambut indahnya didepan cermin.
"Apa kau sedang datang bulan."balas Bintang penasaran.
"Kau ini selalu saja sok tahu."balas Jingga memukul dada Bintang.
"Diam!.."bentak Ana memegang erat sisir menatap lewat cermin.
"Haha kau lihat Jingga, sahabat kita ini sedang dalam kondisi dimana emosinya mudah pecah."jelas Bintang merangkul Jingga tersenyum menggoda Ana.
"Sudah tau tapi tak melakukan apa apa."cetus Ana melanjutkan kegiatannya.
"Jingga kau beli pembalut, aku beli perban."jelas Bintang kepada Jingga yang merasa agak Aneh.
"Perban?"buat apa kau membeli perban."jawab Ana bingung menatap Bintang dari cermin.
"Pakai pembalut lalu ikat dengan perban hahaha."jawab Bintang tertawa menepuk kepala Jingga tampak bingung.
"Keluar kau Bintang!"teriak Ana melempar botol parfume membuat Bintang dan Jingga melompat keluar dari kamar.
"Heuh...ada ada saja kelakuanmu."ujar Jingga duduk lesu menahan lapar.
"Haha aku hanya bercanda."balas Bintang mengambil kunci mobil menuju pintu.
"Kau mau kemana?"tanya Jingga menoleh Bintang yang hendak pergi.
"Ada urusan sebentar."balas Bintang berlalu meninggalkan Jingga.
Setelah pergi beberapa belas menit akhirnya Bintang kembali membawa makanan dengan bungkusan plastik kecil.
"Ana ini obat dan keperluanmu selama menjalani tugas bulananmu."jelas Bintang menaruh bungkusan plastik yang berisi pembalut serta minuman pereda rasa nyeri.
"Yeayy thanks Bintang."balas Ana senang merangkul Bintang.
"Cih...kalian ini seperti sepasang kekasih saja."cetus Jingga menatap kedua sahabatnya dengan tatapan curiga.
"Kenapa?..apa tidak boleh?"jawab Bintang balas menatap Jingga yang sedang mengunyah.
"Euh...Jingga iri, sini sini aku peluk."balas Ana memeluk erat Jingga.
"Nah begini baru adil."cetus Jingga merasa senang karena pelukan hangat Ana.
Bintang, jingga, dan Ana adalah sahabat yang memang benar benar sahabat, mereka sudah berteman dari kecil sebelum menjadi sahabat diusia remaja sekarang.
Orang tua mereka juga bersahabat dan merekalah yang membuat Bintang, Jingga, dan Ana tinggal dalam satu Apartemen, anak anak itu menghargai persahabatan mereka yang sudah seperti kakak adik, karena mereka bisa memahami serta peduli satu sama lain.