Hujan selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan seseorang pada masa lalu.
Bagi Laras, hujan adalah suara yang membawa kembali banyak hal yang sudah berusaha ia lupakan. Tentang seseorang yang pernah datang dengan senyum sederhana, lalu pergi meninggalkan begitu banyak pertanyaan.
Malam itu, hujan turun sejak sore.
Laras duduk sendirian di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota. Di hadapannya ada secangkir cokelat panas yang sejak tadi tidak disentuh. Tangannya sibuk membuka sebuah kotak kayu tua yang sudah bertahun-tahun ia simpan di dalam lemari.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar surat.
Surat-surat yang tidak pernah dikirim.
Surat pertama ditulis enam tahun lalu.
Untuk seseorang bernama Raka.
Laras tersenyum tipis ketika membaca kalimat pertama.
"Raka, hari ini aku melihat hujan dan tiba-tiba teringat padamu. Entah kenapa, setiap hujan turun, aku selalu berharap kamu datang lagi."
Ia menghela napas.
Enam tahun.
Waktu yang cukup lama untuk membuat seseorang berubah.
Namun ternyata tidak cukup lama untuk membuat hati benar-benar lupa.
"Laras?"
Suara itu membuat tubuhnya membeku.
Tangannya berhenti membalik surat.
Ia mengenal suara tersebut.
Sangat mengenalnya.
Perlahan Laras mengangkat wajah.
Seorang laki-laki berdiri beberapa langkah di depannya.
Rambutnya sedikit basah. Jaket hitam melekat di tubuhnya. Di tangan kanannya terdapat payung yang baru saja dilipat.
Laras menatapnya tanpa berkedip.
Raka.
Orang yang selama enam tahun hanya hidup dalam ingatan.
Orang yang berkali-kali ingin ia temui, tetapi selalu ia paksa untuk dilupakan.
"Raka?"
Laki-laki itu tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang dulu membuat Laras percaya bahwa beberapa pertemuan memang ditakdirkan untuk menjadi cerita panjang.
"Aku tidak menyangka akan bertemu kamu di sini."
Laras buru-buru menutup kotak kayu itu.
"Aku juga."
Raka menarik kursi di depannya.
"Boleh duduk?"
Laras mengangguk.
Untuk beberapa detik, mereka hanya diam.
Suara hujan di luar menjadi satu-satunya percakapan.
"Apa kabarmu?" tanya Raka.
"Baik."
"Masih suka cokelat panas?"
Laras menatap cangkir di hadapannya.
"Kamu masih ingat?"
"Ada banyak hal tentang kamu yang masih aku ingat."
Kalimat sederhana itu membuat jantung Laras berdegup lebih cepat.
Ia mengalihkan pandangan.
"Kamu tinggal di kota ini sekarang?"
"Sudah dua bulan."
"Kenapa tidak pernah menghubungiku?"
Raka terdiam.
Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.
Pertanyaan yang selama enam tahun tersimpan di kepala Laras.
Raka menunduk.
"Aku pernah."
Laras mengernyit.
"Kapan?"
"Empat tahun lalu."
"Aku tidak pernah menerima pesanmu."
"Aku tahu."
"Bagaimana kamu tahu?"
"Karena nomormu sudah berubah."
Laras terdiam.
Raka tersenyum pahit.
"Aku mencoba mencari kamu. Tapi waktu itu aku pikir kamu sudah bahagia tanpa aku."
Laras menggenggam jemarinya sendiri.
"Jadi kamu memilih pergi?"
"Aku memilih tidak mengganggu hidupmu."
"Lalu selama ini kamu pikir aku tidak pernah mencarimu?"
Raka mengangkat wajah.
"Kamu mencariku?"
Laras tertawa kecil.
Tawa yang terdengar lebih seperti kepahitan.
"Enam tahun, Raka."
Raka tidak menjawab.
Laras membuka kembali kotak kayu di hadapannya.
Ia mengambil satu surat.
"Ini."
Raka memandang surat itu.
"Apa itu?"
"Surat."
"Untuk siapa?"
Laras menatap matanya.
"Untuk kamu."
Raka tampak terkejut.
"Kenapa tidak pernah dikirim?"
"Karena aku terlalu takut."
"Takut apa?"
"Takut ternyata kamu sudah tidak peduli."
Raka mengambil surat itu dengan hati-hati.
Ia tidak langsung membukanya.
"Kalau aku membacanya sekarang?"
Laras menelan ludah.
"Silakan."
Raka membuka lipatan surat tersebut.
Matanya bergerak perlahan membaca setiap kalimat.
Laras memandang keluar jendela.
Ia tidak sanggup melihat ekspresi Raka.
Surat itu berisi hal-hal yang selama ini tidak pernah mampu ia ucapkan.
Tentang malam ketika Raka pergi.
Tentang hari-hari ketika Laras menunggu pesan yang tidak pernah datang.
Tentang ulang tahun yang dilewati sendirian.
Tentang rasa rindu yang ia sembunyikan.
Dan tentang satu kalimat yang selalu ia tulis di akhir setiap surat.
"Kalau suatu hari kita bertemu lagi, aku ingin bertanya satu hal: apakah kamu pernah merindukanku?"
Raka selesai membaca.
Ia melipat surat itu kembali.
"Laras."
"Ya?"
"Aku merindukanmu."
Laras memejamkan mata.
Kalimat yang selama enam tahun ingin ia dengar akhirnya hadir malam itu.
Namun anehnya, justru membuat dadanya terasa sesak.
"Kenapa baru bilang sekarang?"
"Karena dulu aku bodoh."
Laras tertawa kecil.
"Kita berdua bodoh."
"Mungkin."
Mereka kembali diam.
Raka memandang hujan.
"Kamu bahagia sekarang?"
Laras mengangguk.
"Menurutmu?"
"Aku tidak tahu."
"Aku belajar bahagia."
"Sendiri?"
"Awalnya."
Raka menatapnya.
"Lalu?"
"Lalu aku sadar bahagia tidak selalu berarti punya seseorang."
Raka menunduk.
"Berarti aku tidak punya kesempatan?"
Laras terdiam.
Pertanyaan itu membuatnya bingung.
Enam tahun lalu, ia mungkin akan langsung menjawab iya.
Tetapi enam tahun telah mengubah banyak hal.
"Aku tidak tahu."
"Kalau aku ingin mencoba lagi?"
Laras menatapnya.
"Raka..."
"Aku tahu kita tidak bisa mengulang masa lalu."
Ia berhenti sebentar.
"Tapi mungkin kita bisa memulai sesuatu yang baru."
Laras menatap laki-laki di hadapannya.
Raka tidak lagi sama seperti enam tahun lalu.
Wajahnya lebih dewasa. Tatapannya lebih tenang. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Laras sadar bahwa waktu bukan hanya mengubah dirinya.
Waktu juga telah mengubah Raka.
"Aku takut," kata Laras.
"Aku juga."
"Takut kamu pergi lagi."
"Aku tidak bisa menjanjikan bahwa hidup akan selalu mudah."
Raka tersenyum.
"Tapi aku bisa menjanjikan satu hal."
"Apa?"
"Kali ini, aku tidak akan pergi tanpa menjelaskan apa-apa."
Laras menunduk.
Senyumnya perlahan muncul.
"Janji?"
"Janji."
Hujan masih turun.
Tetapi malam itu terasa berbeda.
Untuk pertama kalinya setelah enam tahun, Laras tidak merasa hujan membawa kesedihan.
Malam itu hujan membawa seseorang kembali.
---
Pertemuan mereka tidak langsung berubah menjadi hubungan.
Raka tahu Laras membutuhkan waktu.
Maka ia tidak memaksa.
Ia hanya hadir.
Setiap pagi, ada pesan sederhana.
"Sudah sarapan?"
Siang hari.
"Jangan lupa istirahat."
Dan malam.
"Hari ini melelahkan?"
Pesan-pesan kecil itu mungkin tidak berarti banyak bagi orang lain.
Tetapi bagi Laras, pesan tersebut perlahan menjadi sesuatu yang ia tunggu.
Mereka kembali mengenal satu sama lain.
Bukan sebagai dua orang yang pernah jatuh cinta.
Melainkan sebagai dua orang dewasa yang mencoba memahami siapa diri mereka sekarang.
Raka tahu Laras sudah tidak suka bunga mawar merah seperti dulu.
Sekarang Laras menyukai bunga kecil berwarna putih.
Laras tahu Raka tidak lagi suka kopi pahit.
Sekarang ia selalu menambahkan sedikit gula.
Mereka tertawa ketika menyadari bahwa banyak hal telah berubah.
Suatu sore, Raka mengajak Laras ke sebuah taman.
"Kenapa ke sini?"
"Aku ingin menunjukkan sesuatu."
Mereka berjalan melewati pepohonan.
Sampai akhirnya Raka berhenti di sebuah bangku.
Laras mengenal tempat itu.
"Ini..."
"Masih ingat?"
Laras tersenyum.
"Tentu."
Enam tahun lalu, mereka sering duduk di sana.
Saat itu Laras masih mahasiswa.
Raka sering datang membawa dua gelas minuman.
Mereka berbicara tentang masa depan seolah-olah dunia berada di tangan mereka.
"Aku dulu berpikir kita akan menikah di usia dua puluh lima," kata Laras.
Raka tertawa.
"Aku bahkan sudah punya nama untuk anak kita."
Laras langsung menatapnya.
"Kamu serius?"
"Tidak."
"Raka!"
Raka tertawa.
"Tapi aku memang pernah membayangkannya."
Laras ikut tertawa.
Setelah tawa mereka reda, suasana menjadi hening.
"Aku menyesal," kata Raka.
Laras memandangnya.
"Menyesal?"
"Karena dulu aku pergi ketika seharusnya aku bertahan."
"Kenapa kamu pergi?"
Raka menarik napas panjang.
"Waktu itu ayahku meninggal. Keluargaku punya banyak masalah. Aku harus pindah ke luar kota untuk bekerja."
"Lalu kenapa tidak bilang?"
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Aku takut kamu ikut menunggu."
Laras menunduk.
"Aku memang menunggu."
"Aku tahu sekarang."
"Kalau kamu jujur waktu itu, mungkin semuanya akan berbeda."
Raka mengangguk.
"Aku tahu."
Ia menatap Laras.
"Karena itu aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama."
Laras diam.
Kemudian perlahan tangannya bergerak.
Jari-jarinya menyentuh tangan Raka.
Raka terkejut.
Namun ia tidak menarik tangannya.
"Aku juga tidak mau terus hidup dalam masa lalu," kata Laras.
Raka menggenggam tangannya.
"Jadi?"
Laras tersenyum.
"Kita coba."
"Coba apa?"
"Kita."
Senyum Raka langsung merekah.
"Serius?"
"Jangan membuatku berubah pikiran."
Raka tertawa.
"Baik."
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tangan mereka kembali saling menggenggam.
Bukan seperti dulu.
Kali ini lebih dewasa.
Lebih hati-hati.
Lebih sadar bahwa cinta bukan hanya tentang perasaan, tetapi juga keberanian untuk bertahan.
---
Beberapa bulan berlalu.
Hubungan mereka semakin dekat.
Namun Laras masih menyimpan satu surat.
Surat terakhir.
Surat yang ditulis enam tahun lalu tetapi tidak pernah selesai.
Suatu malam, ia membawanya ke kedai kopi tempat mereka pertama kali bertemu kembali.
Raka sudah menunggu.
"Kamu datang."
Laras duduk.
"Aku punya sesuatu."
Raka mengangkat alis.
"Apa?"
Laras mengeluarkan surat dari tasnya.
"Surat terakhir."
Raka menerimanya.
"Kenapa tidak kamu kirim waktu itu?"
"Karena aku tidak tahu bagaimana mengatakannya."
Raka membuka surat tersebut.
Tulisan Laras hanya memenuhi setengah halaman.
"Raka, kalau suatu hari kamu kembali, aku tidak tahu apakah aku masih mencintaimu. Tapi kalau saat itu hatiku masih menyebut namamu, mungkin aku akan memberimu satu kesempatan. Bukan untuk mengulang cerita lama, tetapi untuk menulis cerita baru."
Raka membaca kalimat terakhir berulang kali.
Kemudian ia memandang Laras.
"Jadi sekarang?"
Laras tersenyum.
"Sekarang aku tidak perlu menulis surat lagi."
"Kenapa?"
"Karena orangnya sudah ada di depanku."
Raka terdiam.
Matanya terlihat berkaca-kaca.
Ia menggenggam tangan Laras.
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena masih memberiku kesempatan."
Laras tersenyum.
"Aku juga berterima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena kembali."
Di luar, hujan kembali turun.
Laras memandang jendela.
Dulu, hujan selalu mengingatkannya pada kehilangan.
Sekarang hujan mengingatkannya bahwa sesuatu yang hilang tidak selalu berarti benar-benar berakhir.
Kadang, seseorang pergi bukan karena tidak mencintai.
Kadang, seseorang pergi karena belum tahu bagaimana cara bertahan.
Dan terkadang, setelah waktu memisahkan dua hati, kehidupan memberikan kesempatan kedua.
Bukan untuk mengulang masa lalu.
Tetapi untuk memperbaiki cara mencintai.
Raka berdiri dan mengambil payung.
"Mau pulang?"
Laras mengangguk.
Mereka berjalan keluar kedai.
Raka membuka payung.
Laras berdiri di sampingnya.
"Raka."
"Hmm?"
"Kalau nanti hujan lagi, jangan pergi."
Raka menatapnya.
"Aku tidak akan pergi."
"Janji?"
"Janji."
Laras tersenyum.
Kemudian mereka berjalan bersama di bawah satu payung.
Tidak ada lagi jarak enam tahun di antara mereka.
Tidak ada lagi surat yang harus disimpan dalam kotak.
Tidak ada lagi pertanyaan yang harus menunggu jawaban.
Karena kali ini, mereka memilih untuk berbicara.
Memilih untuk tinggal.
Dan memilih untuk mencintai dengan cara yang lebih sederhana:
hadir ketika dibutuhkan, jujur ketika takut, menggenggam ketika ragu, dan tidak pergi hanya karena keadaan menjadi sulit.
Malam semakin larut.
Hujan semakin deras.
Namun untuk pertama kalinya, Laras merasa bahwa hujan bukan lagi suara dari masa lalu.
Hujan adalah awal.
Awal dari cerita baru yang tidak membutuhkan surat.
Karena cinta mereka akhirnya menemukan tempat untuk pulang.
Bukan pada sebuah rumah.
Melainkan pada hati yang sejak dulu tidak pernah benar-benar berhenti menunggu.
Dan malam itu, Laras tahu satu hal.
Ada cinta yang datang sekali lalu pergi.
Ada pula cinta yang pergi untuk waktu yang lama, kemudian kembali ketika dua hati sudah cukup dewasa untuk menjaganya.
Raka adalah cinta yang kedua.
Cinta yang pernah hilang.
Cinta yang pernah terlambat.
Namun akhirnya pulang.
Dan kali ini, Laras tidak akan membiarkannya pergi lagi.