Chapter 25

Entah mengapa dirinya terus ingin membantu pria itu. Sebuah tanda tanya yang bahkan tidak bisa ia jawab hanya dengan alasan kasihan. Kalau memang hanya karena kasihan, seharusnya dirinya hanya akan membantu sesekali.

Bukan... Peduli setiap hari seperti ini.

"Kalau pria lain yang berada di posisiku, apa kamu juga akan melakukan hal yang sama?" Tanya Marchel dengan wajah serius. Tatapan matanya seolah berkata, kalau jawabanmu iya, habislah kamu hari ini.

"Lalu bagaimana kalau ada gadis lain yang melakukan semua ini padamu? Apa kamu juga akan bersikap seperti sekarang?" Balik Tirta. Bukannya gentar, Marchel justru menyeringai tipis.

"Kamu belum mengenalku lebih jauh." Suaranya terdengar tenang, tetapi justru semakin menyeramkan.

"Kamu belum tahu kalau siapa pun yang menyentuhku, sengaja ataupun tidak... bayarannya adalah nyawa." Tatapan pria itu begitu yakin pada setiap kata yang keluar dari bibirnya. Tirta memang sempat merasa takut.

Namun entah kenapa... Ketakutan itu perlahan menghilang. Jauh di dalam hatinya, ia justru percaya bahwa pria ini tidak akan pernah benar-benar menyakitinya.

"Lalu kenapa kamu bersikap lembut padaku?" Tanya Tirta pelan.

"Kenapa kamu baik padaku?" Marchel tidak langsung menjawab.

"Kamu juga belum menjawab pertanyaanku."

"Jawab dulu pertanyaanku. Kenapa semuanya seolah selalu bergerak mengelilingimu?" Tirta kembali menghindari jawaban. Marchel menghela napas pelan.

"Aku hanya akan menjawab satu pertanyaanmu."

"Karena kamu juga baru menjawab satu pertanyaanku." Tirta membantu Marchel duduk lebih tegak sebelum akhirnya menarik napas panjang.

"Kalau itu orang lain..." Ia menatap lurus ke mata biru langit milik pria itu.

"Aku rasa aku tidak akan seperhatian ini." Jawaban itu membuat keduanya terdiam. Mata mereka saling bertemu. Seolah sedang berusaha menemukan kejujuran yang bersembunyi di balik tatapan masing-masing.

"Apa kamu tidak merasa jijik... atau takut padaku?" Suara Marchel terdengar jauh lebih pelan.

"Di luar sana banyak orang datang karena uang."

"Lalu pergi tanpa meninggalkan peluang sedikit pun." Tirta tersenyum kecil.

"Jijik?"

"Tentu saja tidak."

"Pria setampan dirimu memang pantas digandrungi banyak wanita."

Ia tertawa kecil.

"Walaupun harus kuakui..."

"Kamu memang menyeramkan."

"Rambutmu panjang, janggut dan kumismu lebat."

"Kalau orang baru melihatmu, mungkin mereka akan mengira kamu monster." Tanpa sadar, telunjuk Tirta mulai merapikan rambut yang menutupi dahi Marchel. Lalu jemarinya turun perl…

Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya

Download aplikasi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!