Terlahir Kembali Sebagai Istri CEO Yang Terlupakan

Terlahir Kembali Sebagai Istri CEO Yang Terlupakan

BAB 1: Kematian Paling Konyol dan Tubuh Baru

Bau mesiu, darah, dan besi tua biasanya adalah tiga hal yang paling akrab dengan hidung Vanya Adhisti. Sebagai agen rahasia tingkat atas yang sering disewa untuk menangani krisis di dunia bawah tanah, Vanya terbiasa hidup dengan garis batas antara hidup dan mati. Otaknya bekerja secepat prosesor komputer paling canggih, refleks tubuhnya secepat kilat, dan bicaranya selalu lugas tanpa berbelit-belit. Di kalangan sindikat mafia dan politisi korup, nama kodenya adalah mimpi buruk yang terbungkus dalam sosok wanita berparas jelita.

Namun malam ini, tidak ada senjata, tidak ada musuh bersenjata api, dan tidak ada misi penyusupan bernilai jutaan dolar.

Vanya sedang berada di tempat paling aman di bumi menurut standar keamanannya: lantai teratas apartemen mewahnya. Tubuhnya yang biasanya dibalut setelan serba hitam kini terbungkus baju tidur beruang longgar yang sangat konyol. Rambutnya dikuncir asal-asalan, dan kedua kakinya diangkat ke atas meja kopi. Setelah menyelesaikan tugas berat selama tiga bulan nonstop melacak aliran dana mafia internasional, malam ini adalah malam pertamanya untuk bersantai secara total.

"Ah, nikmatnya hidup bebas!" gumam Vanya girang sambil menatap layar televisi yang menayangkan adegan romantis drama favoritnya.

Di tangan kanannya, ada segelas air putih dingin. Karena otaknya sedang berada dalam mode istirahat penuh, koordinasi tubuh Vanya yang biasanya sempurna mendadak menjadi sangat buruk. Saat adegan lucu di layar kaca membuatnya tertawa lebar, pada detik yang sama ia menenggak air putih itu terlalu cepat.

*Gluk!*

Air itu tidak masuk ke saluran pencernaan, melainkan meluncur deras menghantam saluran pernapasan Vanya.

"Uhukk! *Guk... Uhuk!*"

Mata Vanya langsung melotot lebar. Rasa sakit yang tajam menembus dadanya saat paru-parunya menolak cairan tersebut secara paksa. Ia mencoba bernapas, tetapi udara terkunci rapat. Rasa panik menghantam otaknya. Agen rahasia yang mampu meloloskan diri dari ledakan bom dan kepungan sepuluh pembunuh berdarah dingin itu kini panik setengah mati di atas karpet berbulu tebal miliknya sendiri.

Ia mencoba menjangkau ponsel di meja, tetapi tangannya justru menyenggol gelas hingga pecah berantakan. Vanya membanting tubuhnya ke lantai, mencoba melakukan teknik pertolongan pertama pada diri sendiri, tetapi kesadarannya terkikis jauh lebih cepat dari yang ia perkirakan. Pandangannya mulai memburuk, berganti dari warna gorden apartemennya menjadi kegelapan yang pekat.

*Tunggu... jangan bilang aku mati cuma gara-gara tersedak air putih?! Ini tidak lucu! Mana harga diri gue sebagai agen elit?!*

Itu adalah jeritan batin terakhir Vanya sebelum semuanya menjadi gelap total.

"Raba dadanya! Pompa lagi! Cepat call ambulans!"

"Nona Aura! Nona, bangun!"

Suara jeritan hysteris dan bisingnya benturan air memecah kegelapan dalam pikiran Vanya. Sensasi terbakar di paru-parunya kembali terasa, tetapi kali ini rasanya jauh lebih dingin dan berbau kaporit.

"Uhukk! *Hakh!*"

Vanya memuntahkan setumpuk air secara mendadak, tubuhnya terlonjak bangun dengan refleks pertahanan diri yang sangat ekstrem. Tanpa membuka mata penuh, tangannya secara otomatis bergerak mencengkeram tenggorokan orang terdekat yang berada di atasnya, lalu memutarnya ke samping hingga orang itu menjerit kesakitan.

"AARRGH! Leherku! Nona Aura, ini saya, Bi Sumi!"

Vanya membuka matanya dengan cepat. Pupil matanya membesar, menganalisis lingkungan sekitarnya dalam waktu kurang dari dua detik. Tidak ada TV datar, tidak ada baju tidur beruang, dan tidak ada karpet bulu. Ia berada di pinggir kolam renang raksasa di sebuah mansion megah bergaya klasik. Di sekelilingnya, ada beberapa pelayan berseragam yang menatapnya dengan wajah pucat pasi dan ketakutan setengah mati.

"Siapa kalian? Ini di mana?" tanya Vanya. Bicaranya sangat cepat, tegas, dan penuh intimidasi.

Namun, saat suara itu keluar dari tenggorokannya, Vanya sendiri tertegun. Suara itu bukan suaranya yang berat dan mantap, melainkan suara seorang wanita yang lembut, agak tinggi, dan terkesan rapuh.

Ia menunduk melihat tangannya. Jemari yang biasanya memiliki kapalan halus akibat gesekan pemicu senjata api kini terlihat mulus, bersih, pucat, dan sangat rapuh. Baju yang melekat di tubuhnya adalah gaun malam mewah yang basah kuyup dan berat.

Seketika itu juga, gelombang ingatan asing menghantam otaknya seperti pukulan godam.

*Aura Valeria. 22 tahun. Putri bungsu keluarga Valeria.*

*Sifat: Pendiam, penakut, berbicara sangat pelan, selalu menunduk, dan menjadi sarana perundungan verbal oleh ibu serta saudara tirinya.*

*Status: Baru saja menikah satu bulan yang lalu karena perjodohan bisnis keluarga.*

*Penyebab tenggelam: Didorong secara sengaja ke dalam kolam renang oleh saudara tirinya saat pesta keluarga kecil berlangsung, lalu dibiarkan begitu saja karena dianggap hanya sekadar 'mencari perhatian'.*

Vanya memegang kepalanya yang berdenyut hebat. Memori Aura Valeria menyatu dengan memori agen rahasianya.

"Aku... bertransmigrasi?" bisik Vanya pada dirinya sendiri, masih tidak percaya. "Dari agen elit yang mati konyol karena air putih, masuk ke tubuh cewek lemah yang mati ditenggelamkan?"

Vanya memejamkan mata sejenak, lalu mendengus kasar. Kehidupan macam apa ini? Tapi setidaknya, dia diberikan kesempatan kedua untuk hidup. Dan satu hal yang pasti: Vanya Adhisti tidak akan pernah sudi hidup sebagai wanita lemah yang pasrah diinjak-injak orang lain.

"Nona... Nona Aura?" Bi Sumi, pelayan paruh baya yang tadi lehernya sempat dipiting oleh Vanya, bertanya dengan suara gemetar dari jarak aman. "Nona tidak apa-apa? Wajah Nona kok... beda?"

Tentu saja beda. Pandangan mata Aura yang tadinya redup dan selalu ketakutan kini menyala tajam bak sebilah pisau yang baru diasah.

Tiba-tiba, suara langkah kaki berhak tinggi yang terdengar ketus mendekat dari arah pintu kaca kolam renang. Seorang wanita muda dengan gaun merah ketat dan riasan tebal berjalan menghampiri dengan wajah berpura-pura cemas, meski matanya memancarkan rasa jijik yang jelas.

Itu adalah Clara Setya, saudara tiri Aura yang mendorongnya tadi.

"Ya ampun, Aura! Kamu masih hidup?" ucap Clara dengan nada melengking yang dibuat-buat, tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Lagian kamu itu gimana sih? Cuma disuruh ambilkan minum di tepi kolam saja malah jatuh sendiri. Kamu kan tahu kamu gak bisa renang, kenapa ceroboh banget? Bikin malu keluarga saja di depan para tamu!"

Biasanya, Aura yang asli akan langsung menundukkan kepala, meminta maaf sambil menahan tangis, dan menerima semua tuduhan palsu itu begitu saja.

Clara sudah bersiap untuk menikmati pemandangan menyedihkan dari adik tirinya seperti biasa. Ia menyilangkan dada, menunggu Aura mulai terisak.

Namun, wanita yang terduduk di tepi kolam itu justru perlahan berdiri. Gerakannya tidak lagi lambat dan ragu-ragu. Aura—atau lebih tepatnya Vanya dalam tubuh Aura—menatap Clara lurus pada matanya. Ada aura keberadaan yang sangat berat dan menekan menguar dari tubuhnya yang basah kuyup.

Vanya melangkah maju satu langkah. Bicaranya mengalir secepat senapan mesin, tanpa jeda, dan tanpa keraguan sedikit pun.

"Jatuh sendiri? Kamu dorong bahu kiri saya pakai tangan kanan kamu jam 20.15 WIB tepat di area *blindspot* CCTV taman, lalu kamu pura-pura teriak minta tolong dua menit kemudian supaya paru-paru saya keburu kemasukan air. Kamu pikir saya buta, bingung, atau bodoh?"

Clara melangkah mundur satu langkah secara refleks, matanya membelalak kaget. "A-apa yang kamu omongin?! Kamu ngelindur ya karena kebanyakan minum air kolam?!"

"Dengar ya," Vanya memotong ucapan Clara dalam hitungan detik, mendekatkan wajahnya hingga Clara bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari mata Aura. "Mulai detik ini, kalau kamu coba-coba main fisik atau main trik sampah lagi sama saya, saya pastikan tangan yang kamu pakai buat dorong saya tadi malam bakalan patah jadi tiga bagian. Mengerti?"

Clara ternganga. Lidahnya mendadak kelu. Ke mana perginya Aura yang pendiam dan penakut? Wanita di depannya ini memancarkan aura membunuh yang sangat nyata hingga bulu kuduk Clara berdiri tegak.

Belum sempat Clara membalas omongan secepat kilat itu, deru mesin mobil mewah berbunyi dari arah halaman depan mansion. Sinar lampu mobil memantul di kaca kolam renang.

Para pelayan langsung berdiri tegak dan menunduk dalam-dalam. Wajah mereka menunjukkan ketakutan yang jauh lebih besar daripada saat melihat Aura mengamuk.

"Tuan Besar... Tuan Adrian sudah pulang," bisik salah satu pelayan dengan suara sangat pelan.

Vanya memutar tubuhnya perlahan, menatap ke arah pintu utama mansion. Adrian Vane—suami sah dari pemilik tubuh ini, seorang CEO berdingin hati yang rumornya memegang kendali atas jaringan mafia paling berdarah di kota ini.

"Menarik," gumam Vanya pelan. "Mari kita lihat seberapa menakutkannya si Raja Mafia ini."

visual Vanya saat bertugas x dirumah

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

TBC ❤️🥰😘

Terpopuler

Comments

Uthie

Uthie

Cerita Transmigrasi selalu bikin tertarik untuk mampir 👍👍
apalagi ada kisah romansa, namun gak lembek dan tokoh wanita yg tangguh dan bisa membalikkan keadaan sebelumnya 👍👍

mampir

2026-08-15

0

Osie

Osie

aku mampir..aku suka cerita transmigrasi dgn sosok MC nya wanita tangguh n gak menye menye..dan moga ini cerita sp end🙏🙏🙏

2026-08-06

0

Miu Miu 🍄🐰

Miu Miu 🍄🐰

aku suka up Sampai ending y thor 😍

2026-08-05

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Kematian Paling Konyol dan Tubuh Baru
2 BAB 2: Pertemuan Pertama
3 BAB 3
4 BAB 4: Peraturan Baru dan Kontak Pertama Mafia
5 BAB 5: Unjuk Gigi di Jamuan Bisnis
6 BAB 6
7 BAB 7: Pengawasan Ketat dan Bisnis Rahasia
8 BAB 8
9 BAB 9: Malam di Mansion Vane dan Gejolak di Dada
10 BAB 10: Serangan di Tengah Malam
11 BAB 11: Interogasi
12 BAB 12: Sekretaris Khusus
13 BAB 13
14 BAB 14
15 BAB 15
16 BAB 16
17 BAB 17
18 BAB 18
19 BAB 19
20 BAB 20: Pengakuan Publik dan Bayang-Bayang Baru
21 BAB 21: Kedatangan Dewan Tetua dan Sambutan Hangat di Bandara
22 BAB 22: Jamuan Keluarga
23 BAB 23
24 BAB 24
25 BAB 25
26 BAB 26
27 BAB 27
28 BAB 28: Strategi Dua Sisi dan Permainan Catur Kakak-Adik
29 BAB 29:
30 BAB 30
31 BAB 31: Manja Tanpa Batas
32 BAB 32: Sisi Lemah sang CEO dan Panik Berjamaah
33 BAB 33: Kamar Bayi, Harapan, dan Rasa Takut yang Menghangatkan
34 BAB 34: Detik-Detik Menegangkan dan Suara Pertama Kehidupan
35 BAB 35: Kehadiran Alexander dan Aturan Baru di Mansion Vane
36 BAB 36: Jejak Masa Lalu dan Pesta Penyambutan Sang Pewaris
37 BAB 37: Babak Baru dan Jejak Langkah Pertama
38 BAB 38: Cahaya di Pulau Selatan dan Masa Depan yang Menanti
39 BAB 39
40 BAB 40: Bayang-Bayang yang Hilang dan Keretakan di Balik Kemegahan
41 BAB 41: Garis Takdir di Antara Dua Dunia
42 BAB 42: Mata yang Mengawasi
43 BAB 43: Bunga Tanpa Nama dan Pengintai di Balik Layar
44 BAB 44: Benang Merah di Antara Tiga Arah
45 BAB 45: Simpul yang Mulai Terikat
46 BAB 46: Pertemuan dan Ketegangan
47 BAB 47
48 BAB 48
49 BAB 49
50 BAB 50
51 BAB 51: Garis-Garis yang Bersimpangan dan Bayangan Masa Lalu
52 BAB 52: Jejak yang Saling Memburu
53 BAB 53: Percikan yang Mulai Menyala
54 BAB 54: Tatapan di Lobi Sekolah dan Kontak yang Terikat
55 BAB 55: Kepastian Sang Kakak dan Kontak Pertama
56 BAB 56: Pertemuan Dua Dunia di Balik Layar
57 BAB 57
58 BAB 58: Jaringan yang Mulai Merapat
59 BAB 59: Tarikan Senar di Bawah Permukaan
60 BAB 60: Papan Catur yang Makin Menegang
61 BAB 61: Bayangan di Luar Aula
62 BAB 62: Jejak Gelap dan Garis Depan
63 BAB 63
64 BAB 64: Undangan di Meja Makan dan Pelukan yang Kembali
65 BAB 65
66 BAB 66
67 BAB 67
68 BAB 68
69 BAB 69
70 BAB 70: Interogasi
71 BAB 71
72 BAB 72: Lembaran Baru
73 BAB 73
74 BAB 74
75 BAB 75
76 BAB 76
77 BAB 77
78 BAB 78
79 BAB 79
80 BAB 80
81 BAB 81
82 BAB 82
83 BAB 83
84 BAB 84
85 BAB 85
86 BAB 86 (TAMAT)
87 BAB 87 (EKSTRA)
Episodes

Updated 87 Episodes

1
BAB 1: Kematian Paling Konyol dan Tubuh Baru
2
BAB 2: Pertemuan Pertama
3
BAB 3
4
BAB 4: Peraturan Baru dan Kontak Pertama Mafia
5
BAB 5: Unjuk Gigi di Jamuan Bisnis
6
BAB 6
7
BAB 7: Pengawasan Ketat dan Bisnis Rahasia
8
BAB 8
9
BAB 9: Malam di Mansion Vane dan Gejolak di Dada
10
BAB 10: Serangan di Tengah Malam
11
BAB 11: Interogasi
12
BAB 12: Sekretaris Khusus
13
BAB 13
14
BAB 14
15
BAB 15
16
BAB 16
17
BAB 17
18
BAB 18
19
BAB 19
20
BAB 20: Pengakuan Publik dan Bayang-Bayang Baru
21
BAB 21: Kedatangan Dewan Tetua dan Sambutan Hangat di Bandara
22
BAB 22: Jamuan Keluarga
23
BAB 23
24
BAB 24
25
BAB 25
26
BAB 26
27
BAB 27
28
BAB 28: Strategi Dua Sisi dan Permainan Catur Kakak-Adik
29
BAB 29:
30
BAB 30
31
BAB 31: Manja Tanpa Batas
32
BAB 32: Sisi Lemah sang CEO dan Panik Berjamaah
33
BAB 33: Kamar Bayi, Harapan, dan Rasa Takut yang Menghangatkan
34
BAB 34: Detik-Detik Menegangkan dan Suara Pertama Kehidupan
35
BAB 35: Kehadiran Alexander dan Aturan Baru di Mansion Vane
36
BAB 36: Jejak Masa Lalu dan Pesta Penyambutan Sang Pewaris
37
BAB 37: Babak Baru dan Jejak Langkah Pertama
38
BAB 38: Cahaya di Pulau Selatan dan Masa Depan yang Menanti
39
BAB 39
40
BAB 40: Bayang-Bayang yang Hilang dan Keretakan di Balik Kemegahan
41
BAB 41: Garis Takdir di Antara Dua Dunia
42
BAB 42: Mata yang Mengawasi
43
BAB 43: Bunga Tanpa Nama dan Pengintai di Balik Layar
44
BAB 44: Benang Merah di Antara Tiga Arah
45
BAB 45: Simpul yang Mulai Terikat
46
BAB 46: Pertemuan dan Ketegangan
47
BAB 47
48
BAB 48
49
BAB 49
50
BAB 50
51
BAB 51: Garis-Garis yang Bersimpangan dan Bayangan Masa Lalu
52
BAB 52: Jejak yang Saling Memburu
53
BAB 53: Percikan yang Mulai Menyala
54
BAB 54: Tatapan di Lobi Sekolah dan Kontak yang Terikat
55
BAB 55: Kepastian Sang Kakak dan Kontak Pertama
56
BAB 56: Pertemuan Dua Dunia di Balik Layar
57
BAB 57
58
BAB 58: Jaringan yang Mulai Merapat
59
BAB 59: Tarikan Senar di Bawah Permukaan
60
BAB 60: Papan Catur yang Makin Menegang
61
BAB 61: Bayangan di Luar Aula
62
BAB 62: Jejak Gelap dan Garis Depan
63
BAB 63
64
BAB 64: Undangan di Meja Makan dan Pelukan yang Kembali
65
BAB 65
66
BAB 66
67
BAB 67
68
BAB 68
69
BAB 69
70
BAB 70: Interogasi
71
BAB 71
72
BAB 72: Lembaran Baru
73
BAB 73
74
BAB 74
75
BAB 75
76
BAB 76
77
BAB 77
78
BAB 78
79
BAB 79
80
BAB 80
81
BAB 81
82
BAB 82
83
BAB 83
84
BAB 84
85
BAB 85
86
BAB 86 (TAMAT)
87
BAB 87 (EKSTRA)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!