Bau mesiu, darah, dan besi tua biasanya adalah tiga hal yang paling akrab dengan hidung Vanya Adhisti. Sebagai agen rahasia tingkat atas yang sering disewa untuk menangani krisis di dunia bawah tanah, Vanya terbiasa hidup dengan garis batas antara hidup dan mati. Otaknya bekerja secepat prosesor komputer paling canggih, refleks tubuhnya secepat kilat, dan bicaranya selalu lugas tanpa berbelit-belit. Di kalangan sindikat mafia dan politisi korup, nama kodenya adalah mimpi buruk yang terbungkus dalam sosok wanita berparas jelita.
Namun malam ini, tidak ada senjata, tidak ada musuh bersenjata api, dan tidak ada misi penyusupan bernilai jutaan dolar.
Vanya sedang berada di tempat paling aman di bumi menurut standar keamanannya: lantai teratas apartemen mewahnya. Tubuhnya yang biasanya dibalut setelan serba hitam kini terbungkus baju tidur beruang longgar yang sangat konyol. Rambutnya dikuncir asal-asalan, dan kedua kakinya diangkat ke atas meja kopi. Setelah menyelesaikan tugas berat selama tiga bulan nonstop melacak aliran dana mafia internasional, malam ini adalah malam pertamanya untuk bersantai secara total.
"Ah, nikmatnya hidup bebas!" gumam Vanya girang sambil menatap layar televisi yang menayangkan adegan romantis drama favoritnya.
Di tangan kanannya, ada segelas air putih dingin. Karena otaknya sedang berada dalam mode istirahat penuh, koordinasi tubuh Vanya yang biasanya sempurna mendadak menjadi sangat buruk. Saat adegan lucu di layar kaca membuatnya tertawa lebar, pada detik yang sama ia menenggak air putih itu terlalu cepat.
*Gluk!*
Air itu tidak masuk ke saluran pencernaan, melainkan meluncur deras menghantam saluran pernapasan Vanya.
"Uhukk! *Guk... Uhuk!*"
Mata Vanya langsung melotot lebar. Rasa sakit yang tajam menembus dadanya saat paru-parunya menolak cairan tersebut secara paksa. Ia mencoba bernapas, tetapi udara terkunci rapat. Rasa panik menghantam otaknya. Agen rahasia yang mampu meloloskan diri dari ledakan bom dan kepungan sepuluh pembunuh berdarah dingin itu kini panik setengah mati di atas karpet berbulu tebal miliknya sendiri.
Ia mencoba menjangkau ponsel di meja, tetapi tangannya justru menyenggol gelas hingga pecah berantakan. Vanya membanting tubuhnya ke lantai, mencoba melakukan teknik pertolongan pertama pada diri sendiri, tetapi kesadarannya terkikis jauh lebih cepat dari yang ia perkirakan. Pandangannya mulai memburuk, berganti dari warna gorden apartemennya menjadi kegelapan yang pekat.
*Tunggu... jangan bilang aku mati cuma gara-gara tersedak air putih?! Ini tidak lucu! Mana harga diri gue sebagai agen elit?!*
Itu adalah jeritan batin terakhir Vanya sebelum semuanya menjadi gelap total.
"Raba dadanya! Pompa lagi! Cepat call ambulans!"
"Nona Aura! Nona, bangun!"
Suara jeritan hysteris dan bisingnya benturan air memecah kegelapan dalam pikiran Vanya. Sensasi terbakar di paru-parunya kembali terasa, tetapi kali ini rasanya jauh lebih dingin dan berbau kaporit.
"Uhukk! *Hakh!*"
Vanya memuntahkan setumpuk air secara mendadak, tubuhnya terlonjak bangun dengan refleks pertahanan diri yang sangat ekstrem. Tanpa membuka mata penuh, tangannya secara otomatis bergerak mencengkeram tenggorokan orang terdekat yang berada di atasnya, lalu memutarnya ke samping hingga orang itu menjerit kesakitan.
"AARRGH! Leherku! Nona Aura, ini saya, Bi Sumi!"
Vanya membuka matanya dengan cepat. Pupil matanya membesar, menganalisis lingkungan sekitarnya dalam waktu kurang dari dua detik. Tidak ada TV datar, tidak ada baju tidur beruang, dan tidak ada karpet bulu. Ia berada di pinggir kolam renang raksasa di sebuah mansion megah bergaya klasik. Di sekelilingnya, ada beberapa pelayan berseragam yang menatapnya dengan wajah pucat pasi dan ketakutan setengah mati.
"Siapa kalian? Ini di mana?" tanya Vanya. Bicaranya sangat cepat, tegas, dan penuh intimidasi.
Namun, saat suara itu keluar dari tenggorokannya, Vanya sendiri tertegun. Suara itu bukan suaranya yang berat dan mantap, melainkan suara seorang wanita yang lembut, agak tinggi, dan terkesan rapuh.
Ia menunduk melihat tangannya. Jemari yang biasanya memiliki kapalan halus akibat gesekan pemicu senjata api kini terlihat mulus, bersih, pucat, dan sangat rapuh. Baju yang melekat di tubuhnya adalah gaun malam mewah yang basah kuyup dan berat.
Seketika itu juga, gelombang ingatan asing menghantam otaknya seperti pukulan godam.
*Aura Valeria. 22 tahun. Putri bungsu keluarga Valeria.*
*Sifat: Pendiam, penakut, berbicara sangat pelan, selalu menunduk, dan menjadi sarana perundungan verbal oleh ibu serta saudara tirinya.*
*Status: Baru saja menikah satu bulan yang lalu karena perjodohan bisnis keluarga.*
*Penyebab tenggelam: Didorong secara sengaja ke dalam kolam renang oleh saudara tirinya saat pesta keluarga kecil berlangsung, lalu dibiarkan begitu saja karena dianggap hanya sekadar 'mencari perhatian'.*
Vanya memegang kepalanya yang berdenyut hebat. Memori Aura Valeria menyatu dengan memori agen rahasianya.
"Aku... bertransmigrasi?" bisik Vanya pada dirinya sendiri, masih tidak percaya. "Dari agen elit yang mati konyol karena air putih, masuk ke tubuh cewek lemah yang mati ditenggelamkan?"
Vanya memejamkan mata sejenak, lalu mendengus kasar. Kehidupan macam apa ini? Tapi setidaknya, dia diberikan kesempatan kedua untuk hidup. Dan satu hal yang pasti: Vanya Adhisti tidak akan pernah sudi hidup sebagai wanita lemah yang pasrah diinjak-injak orang lain.
"Nona... Nona Aura?" Bi Sumi, pelayan paruh baya yang tadi lehernya sempat dipiting oleh Vanya, bertanya dengan suara gemetar dari jarak aman. "Nona tidak apa-apa? Wajah Nona kok... beda?"
Tentu saja beda. Pandangan mata Aura yang tadinya redup dan selalu ketakutan kini menyala tajam bak sebilah pisau yang baru diasah.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berhak tinggi yang terdengar ketus mendekat dari arah pintu kaca kolam renang. Seorang wanita muda dengan gaun merah ketat dan riasan tebal berjalan menghampiri dengan wajah berpura-pura cemas, meski matanya memancarkan rasa jijik yang jelas.
Itu adalah Clara Setya, saudara tiri Aura yang mendorongnya tadi.
"Ya ampun, Aura! Kamu masih hidup?" ucap Clara dengan nada melengking yang dibuat-buat, tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Lagian kamu itu gimana sih? Cuma disuruh ambilkan minum di tepi kolam saja malah jatuh sendiri. Kamu kan tahu kamu gak bisa renang, kenapa ceroboh banget? Bikin malu keluarga saja di depan para tamu!"
Biasanya, Aura yang asli akan langsung menundukkan kepala, meminta maaf sambil menahan tangis, dan menerima semua tuduhan palsu itu begitu saja.
Clara sudah bersiap untuk menikmati pemandangan menyedihkan dari adik tirinya seperti biasa. Ia menyilangkan dada, menunggu Aura mulai terisak.
Namun, wanita yang terduduk di tepi kolam itu justru perlahan berdiri. Gerakannya tidak lagi lambat dan ragu-ragu. Aura—atau lebih tepatnya Vanya dalam tubuh Aura—menatap Clara lurus pada matanya. Ada aura keberadaan yang sangat berat dan menekan menguar dari tubuhnya yang basah kuyup.
Vanya melangkah maju satu langkah. Bicaranya mengalir secepat senapan mesin, tanpa jeda, dan tanpa keraguan sedikit pun.
"Jatuh sendiri? Kamu dorong bahu kiri saya pakai tangan kanan kamu jam 20.15 WIB tepat di area *blindspot* CCTV taman, lalu kamu pura-pura teriak minta tolong dua menit kemudian supaya paru-paru saya keburu kemasukan air. Kamu pikir saya buta, bingung, atau bodoh?"
Clara melangkah mundur satu langkah secara refleks, matanya membelalak kaget. "A-apa yang kamu omongin?! Kamu ngelindur ya karena kebanyakan minum air kolam?!"
"Dengar ya," Vanya memotong ucapan Clara dalam hitungan detik, mendekatkan wajahnya hingga Clara bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari mata Aura. "Mulai detik ini, kalau kamu coba-coba main fisik atau main trik sampah lagi sama saya, saya pastikan tangan yang kamu pakai buat dorong saya tadi malam bakalan patah jadi tiga bagian. Mengerti?"
Clara ternganga. Lidahnya mendadak kelu. Ke mana perginya Aura yang pendiam dan penakut? Wanita di depannya ini memancarkan aura membunuh yang sangat nyata hingga bulu kuduk Clara berdiri tegak.
Belum sempat Clara membalas omongan secepat kilat itu, deru mesin mobil mewah berbunyi dari arah halaman depan mansion. Sinar lampu mobil memantul di kaca kolam renang.
Para pelayan langsung berdiri tegak dan menunduk dalam-dalam. Wajah mereka menunjukkan ketakutan yang jauh lebih besar daripada saat melihat Aura mengamuk.
"Tuan Besar... Tuan Adrian sudah pulang," bisik salah satu pelayan dengan suara sangat pelan.
Vanya memutar tubuhnya perlahan, menatap ke arah pintu utama mansion. Adrian Vane—suami sah dari pemilik tubuh ini, seorang CEO berdingin hati yang rumornya memegang kendali atas jaringan mafia paling berdarah di kota ini.
"Menarik," gumam Vanya pelan. "Mari kita lihat seberapa menakutkannya si Raja Mafia ini."
visual Vanya saat bertugas x dirumah
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘
Suara langkah sepatu kulit yang mantap dan teratur bergaung di lantai marmer area kolam renang. Keheningan menyergap seketika. Para pelayan menundukkan kepala sangat dalam, bahkan Clara yang tadi berlagak menantang kini mendadak mematung dengan wajah penuh kecemasan.
Dari balik pintu kaca, sosok pria jangkung berjalan masuk. Ia mengenakan setelan jas hitam yang terpotong sangat rapi, membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Wajahnya rupawan dengan rahang yang tegas, namun garis bibirnya yang rapat dan sepasang mata tajam berkehitaman memancarkan aura dingin yang membekukan udara di sekitarnya.
Dia adalah Adrian Vane. CEO muda dari Vane Group sekaligus penguasa tak terlihat dari sindikat bawah tanah yang ditakuti seluruh negeri.
Di belakangnya, seorang pria bersetelan rapi membawa sebuah map dokumen tebal berjalan dengan langkah konstan—asisten pribadinya.
Adrian menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Vanya. Pandangannya menyapu genangan air di lantai, gaun malam Vanya yang basah kuyup, lalu beralih menatap wajah Vanya yang pucat namun terikat aura yang sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada gemetar di tubuh wanita itu, tidak ada air mata, dan yang paling aneh—matanya menatap tepat ke arah mata Adrian tanpa ada intensi untuk menunduk sama sekali.
"Ada apa dengan kekacauan ini?" suara Adrian terdengar berat, dalam, dan tanpa emosi.
Clara cepat-cepat mengambil kesempatan. Dengan akting yang sudah dilatih puluhan kali, ia memegang lengannya sendiri dan memotong suasana dengan suara bergetar yang dibuat-buat.
"Kak Adrian! Akhirnya Kamu datang!" seru Clara pura-pura ketakutan. "Aura... Aura tiba-tiba mengamuk setelah hampir tenggelam di kolam. Dia... dia memfitnahku mendorongnya, bahkan dia mengancam akan mematahkan tanganku! Aku takut sekali, Kak. Sikapnya benar-benar aneh dan kasar!"
Adrian tidak langsung merespons Clara. Matanya masih terkunci pada Vanya. Biasanya, jika Clara sudah mulai menyudutkannya seperti ini, Aura yang lama akan langsung menangis sesenggukan, gemetaran, dan bersembunyi di balik ketakutannya sendiri tanpa berani membela diri.
Namun, Vanya bukanlah Aura yang dulu.
Vanya memutar bola matanya malas. Bicaranya langsung menyambar secepat senapan mesin, memotong Clara sebelum wanita itu sempat mengusap air mata buayanya.
"Ancam mematahkan tangan? Itu bukan ancaman, itu peringatan dini. Kamu pikir aku tidak tahu trik murahanmu? Dorong orang dari belakang saat CCTV mati, lalu pura-pura jadi korban begitu ada yang datang? Aktingmu itu sampah banget, Clara. Kalau mau jadi antagonis, belajar dulu analisis lapangan supaya tidak ketahuan dalam tiga detik pertama. Dan satu lagi—suara jeritanmu itu sumbang banget, merusak gendang telingaku!"
Semua orang di ruangan itu menahan napas. Pelayan-pelayan hampir tersedak ludah mereka sendiri. Aura Valeria yang terkenal pemalu dan jika bicara hanya bisa membisikkan dua atau tiga kata, baru saja melontarkan omelan super cepat tanpa napas dalam kurun waktu lima detik!
Bahkan mata Adrian sempat berkilat kaget untuk sepetik detik, meski dengan cepat ia menguasai ekspresinya kembali.
"Cukup," potong Adrian tenang namun tegas. Aura otoritasnya begitu kuat hingga udara terasa semakin berat. Ia memberi sinyal kecil pada asistennya.
Sang asisten melangkah maju dan menyerahkan map tebal di tangannya kepada Vanya.
"Nona Aura," ucap sang asisten sopan. "Tuan Besar meminta Anda menandatangani dokumen ini malam ini juga."
Vanya menerima map tersebut. Menggunakan kemampuan analisis cepatnya sebagai agen rahasia, ia membuka sampul depan dan membaca puluhan lembar pasal dalam hitungan detik. Matanya memindai tulisan cetak tebal di halaman utama: *Surat Perjanjian Perceraian dan Pengalihan Aset.*
"Ah," Vanya terkekeh pelan. "Surat cerai."
Clara di sampingnya langsung tersenyum puas secara sembunyi-sembunyi. Ini yang ditunggu-tunggunya. Pernikahan perjodohan antara Adrian dan Aura yang baru berjalan satu bulan ini memang tidak pernah diinginkan oleh Adrian. Keluarga Valeria hanya memanfaatkan Aura untuk mendapat suntikan dana dari Vane Group, dan kini setelah dana cair, Adrian siap membuang "beban" yang tak berguna ini.
"Syarat-syaratnya sudah tertulis di sana," kata Adrian dingin, menatap Vanya dengan pandangan menilai. "Kamu akan mendapatkan kompensasi satu unit apartemen dan uang bulanan yang cukup sampai kamu menemukan pekerjaan. Saya tidak suka pernikahan yang didasari kebohongan keluarga kamu."
Dalam ingatan Aura yang lama, surat cerai ini adalah mimpi buruk terbesar. Aura yang asli sangat takut diceraikan karena ia tahu keluarganya sendiri akan membuangnya jika ia tidak lagi berguna sebagai istri CEO.
Tetapi bagi Vanya? Ini adalah hadiah terbesar dari langit!
*Bebas dari pernikahan settingan? Bebas dari keluarga beracun ini? Dapat apartemen gratis pula? Ya ampun, ini sih namanya rezeki anak soleh!* batin Vanya bersorak riang.
"Mana pulpennya?" tanya Vanya tanpa ragu-ragu.
Adrian mengernyitkan alisnya. "Apa?"
"Pulpen. Pen. Alat tulis. Benda yang dipakai buat tanda tangan," balas Vanya secepat kilat, bicaranya yang terlalu cepat membuat kata-katanya meluncur seperti peluru. "Kamu bilang minta ditandatangani sekarang kan? Ya sudah, cepat kasih pulpennya. Lebih cepat selesai, lebih cepat aku bisa ganti baju basah ini dan angkat kaki dari rumah ini. Aku juga malas lama-lama dikelilingi orang-orang bersuara sumbang dan bermuka dua!"
Asisten Adrian menyodorkan pulpen dengan tangan gemetar, masih syok dengan respons Vanya.
Vanya meraih pulpen itu, membalik halaman terakhir dengan gerakan yang sangat efisien, lalu menorehkan tanda tangan yang tegas dan mantap di atas nama Aura Valeria. Tanpa membuang waktu semenit pun, ia menjejal lembaran surat cerai itu kembali ke dada sang asisten.
"Bagus. Selesai," ujar Vanya puas sambil menepuk kedua tangannya. "Uang kompensasi kirim ke rekening pribadi atas namaku, jangan lewat rekening keluarga Valeria. Paham? Oke, terima kasih atas kerjasamanya, Tuan CEO. Sampai jumpa di pengadilan!"
Vanya berbalik dengan gerakan sapuan gaun basahnya yang elegan, bersiap melangkah masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri.
Namun, kecerobohan bawaan jiwanya yang sedang merasa terlalu senang tiba-tiba berulah. Tubuhnya bergerak terlalu cepat sementara lantai marmer masih licin oleh air kolam.
*Srettt!*
Kaki kanan Vanya terpeleset hebat.
"Aah, sial!" jerit Vanya refleks.
Di saat yang bersamaan, Adrian yang berada paling dekat refleks mengulurkan tangannya. Dengan kecepatan dan refleks luar biasa khas seorang petarung dunia bawah, tangan kekar Adrian menangkap pinggang Vanya sebelum tubuh wanita itu menghantam lantai marmer yang keras.
*Greb!*
Tubuh Vanya terangkat sedikit dan menempel rapat pada dada bidang Adrian. Aroma parfum maskulin berkayu milik Adrian merasuk ke indra penciuman Vanya, sementara hawa dingin dari baju basah Vanya menembus jas tebal Adrian.
Mata mereka beradu dari jarak beberapa sentimeter saja.
Vanya berkedip dua kali. Agen elit yang tadi kelihatan sangat berbahaya dan bicaranya secepat senapan mesin, kini mematung konyol di pelukan suaminya hanya karena terpeleset lantai licin.
"Kamu..." Adrian menyipitkan matanya, menatap wajah Vanya dari dekat. Ada rasa heran yang sangat besar tercermin di matanya. "Sejak kapan kamu bisa bicara secepat itu dan mendadak jadi sangat ceroboh?"
Vanya buru-buru menegakkan tubuhnya dan mendorong dada Adrian dengan cepat. Ia berdeham keras untuk menutupi rasa malunya yang membumbung tinggi.
"Lantainya licin! Bukan aku yang ceroboh, tapi marmer rumahmu yang tidak memenuhi standar keselamatan bangunan!" elak Vanya cepat, berusaha membela diri dengan alasan konyol. "Lagipula refleksmu lumayan juga untuk ukuran CEO yang biasanya cuma duduk di balik meja. Oke, terima kasih bantuannya, aku mau mandi dulu!"
Tanpa menunggu balasan Adrian, Vanya langsung setengah berlari menuju tangga, meninggalkan genangan air dan jejak kaki basah di sepanjang jalan.
Di area kolam, suasana mendadak hening total.
Clara terpaku, asisten pribadi Adrian ternganga, dan para pelayan tidak berani bernapas.
Adrian berdiri di tempatnya, menatap ke arah tangga di mana Vanya baru saja menghilang. Ia perlahan mengangkat tangannya yang tadi sempat menahan pinggang Vanya. Kehangatan dan ketegasan dari tubuh "Aura Baru" itu masih terasa.
"Tuan Besar..." asistennya berbisik pelan, menyodorkan berkas cerai yang sudah ditandatangani. "Apakah... apakah dokumen ini akan langsung dikirim ke pengadilan besok pagi?"
Adrian mengambil kembali berkas tersebut. Matanya menatap tanda tangan Aura yang tergores sangat tajam dan percaya diri—sangat berbeda dengan tanda tangan lambat dan ragu-ragu yang pernah ia lihat di dokumen pernikahan mereka bulan lalu.
Wanita yang tadi melawan Clara dengan omongan secepat kilat, yang menatap matanya tanpa rasa takut sedikit pun, dan yang baru saja terpeleset konyol di depannya... sama sekali tidak cocok dengan profil "Aura Valeria" yang lemah dan penakut dalam laporan intelijennya.
Sebuah ukiran senyum tipis yang penuh misteri dan bahaya terbentuk di bibir Adrian. Sisi mafia dalam dirinya yang selalu haus akan teka-teki mendadak terpicu.
"Tahan dokumennya," perintah Adrian dingin sambil meremukkan sedikit tepi kertas berkas tersebut.
Sang asisten terkejut. "Maksud Anda, Tuan?"
"Batalkan perceraian untuk sementara waktu," kata Adrian sambil berbalik, matanya berkilat penuh ketertarikan. "Istriku yang pendiam ini... mendadak jadi sangat menarik. Aku ingin tahu permainan apa yang sedang dia mainkan."
visual Adrian vane
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘
Aroma rempah mahal dan masakan koki bintang lima membumbung di ruang makan utama keluarga Valeria. Namun, alih-alih hangat, suasana di meja makan panjang itu terasa sedingin ruang otopsi.
Vanya—yang kini menghuni tubuh Aura—duduk di salah satu kursi kayu jati berukir. Ia sudah berganti pakaian menggunakan gaun santai warna krem yang simpel. Rambut panjangnya yang masih sedikit basah dibiarkan terurai bebas.
Di ujung meja, duduk Hermawan Valeria, ayah kandung Aura yang matre dan keras kepala. Di samping Hermawan, ada Siska, ibu tiri Aura yang anggun tapi berhati licik, serta Clara yang masih menatap Vanya dengan tatapan benci tertahan.
"Aura," suara Hermawan memecah keheningan, terdengar berat dan penuh wibawa palsu. "Papa mendengar dari Clara soal kejadian di kolam renang tadi. Kenapa kamu makin hari makin tidak sopan? Sudah bagus keluarga Vane mau menampung kamu, sekarang kamu malah bikin ulah di depan Adrian!"
Siska buru-buru menyahut dengan nada mengelus dada yang dibuat-buat, "Iya, Aura... Ibu tahu kamu frustrasi karena Adrian tidak pernah menyentuhmu sejak menikah. Tapi jangan limpahkan kemarahanmu pada Clara dong. Kasihan adikmu, dia kan cuma khawatir saat melihat kamu tenggelam."
Vanya yang sedang menikmati sup krimnya terhenti sejenak. Ia meletakkan sendok dengan dentang halus yang menggema.
*Ah, drama teratai putih klasik,* batin Vanya terkekeh. *Ibu dan anak sama saja, pinter banget memutarbalikkan fakta.*
Sesuai tabiat aslinya yang serba cepat dan tidak tahan dengan basa-basi, Vanya langsung menyambar tanpa memberikan jeda satu detik pun untuk mereka bernapas.
"Khawatir?" Vanya terkekeh sinis, matanya menatap Siska dan Hermawan bergantian dengan tatapan tajam yang membuat Hermawan tersedak udara. "Khawatir itu memanggil tim medis atau melempar pelampung. Bukan berdiri di tepi kolam sambil senyum-senyum nungguin paru-paru orang lain kepenuhan air kaporit. Dan Papa, daripada sibuk menyalahkan aku tanpa bukti, lebih baik Papa periksa CCTV area kolam jam delapan malam tadi. Tapi oh ya, aku lupa, kabel CCTV area sana sengaja dicabut jam tujuh malam, kan? Siapa lagi yang punya akses ke ruang kontrol kalau bukan putri kesayangan Papa ini?"
Satu rentetan kalimat secepat senapan mesin meluncur dari bibir Vanya hanya dalam waktu tiga detik!
Wajah Clara seketika pucat pasi. Siska terperangah sampai mulutnya sedikit terbuka, sementara Hermawan melotot kaget.
"K-kamu... bicara apa kamu secepat itu?!" Hermawan menggebrak meja, berusaha mengembalikan wibawanya yang mendadak terkikis. "Sejak kapan kamu jadi berani memotong omongan orang tua?!"
"Sejak aku hampir mati dan sadar kalau berbakti pada orang tua yang cuma memanfaatkan anaknya itu adalah kebodohan tingkat dewa," balas Vanya secepat kilat. Ia mengambil gelas air putih di samping piringnya.
Namun, karena refleks tubuh dan otaknya yang terlalu cepat tidak seimbang saat ia sedang santai berbicara, tangan Vanya menyenggol pinggiran piring.
*Pyar!*
Gelas air putih itu terguling, menyiram sup krim mahal milik Hermawan hingga meluber ke celana pria paruh baya itu!
"AARGH! Panas! Celanaku!" Hermawan langsung berdiri panik, mengibaskan celananya dengan wajah merah padam.
Siska dan para pelayan buru-buru mengerumuni Hermawan dengan tisu dan kain lap.
Vanya yang mematung menatap tangan kirinya sendiri hanya bisa meringis konyol dalam hati. *Aduh, sialan... kenapa sifat cerobohku harus kumat di saat aku lagi keren-kerennya menutori mereka?!*
"A-aduh, maaf ya Pa," ujar Vanya dengan nada polos yang dibuat-buat, berdeham pelan untuk menutupi kecerobohannya. "Tanganku licin. Anggap saja itu bonus air doa supaya pikiran Papa agak adem dan tidak gampang dibodohi anak tiri."
"Kamu... kamu benar-benar melunjak, Aura!" Siska berteriak penuh emosi sambil menunjuk wajah Vanya. "Kurang ajar! Biarkan Adrian menceraikanmu! Kita lihat bagaimana kamu bisa bertahan hidup tanpa uang keluarga Valeria dan keluarga Vane!"
"Siapa bilang aku takut diceraikan?" Vanya bersedekah dada, menegakkan punggungnya. "Malah surat cerainya sudah aku tanda tangani tadi. Kalian tidak usah repot-repot memikirkan caraku bertahan hidup. Pikirkan saja nasib bisnis Papa yang pusing mencari suntikan dana baru setelah Adrian resmi mendepak keluarga ini!"
*Degh!*
Kalimat Vanya menghantam titik terlemah Hermawan. Pria itu seketika berhenti mengelap celananya. "A-apa kamu bilang? Kamu sudah menandatangani surat cerai?!"
"Tentu saja. Kenapa? Papa pikir aku mau bertahan di pernikahan dingin demi membiayai gaya hidup Clara yang hobi beli tas premium KW?" cetus Vanya tanpa ampun.
Sebelum Hermawan sempat meledakkan kemarahannya lebih jauh, suara langkah kaki berwibawa kembali terdengar dari pintu ruang makan.
Adrian Vane berjalan masuk dengan tenang. Ia sudah melepas jas luarnya, kini hanya mengenakan kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan garis otot tangannya yang kokoh.
Kehadiran sosok penguasa mafia itu langsung menyerap seluruh keberanian di ruangan tersebut. Hermawan yang tadi mengamuk mendadak menundukkan kepala, memaksakan senyum ramah yang terlihat sangat konyol.
"T-Tuan Adrian..." Hermawan menyapa gagap. "Ada apa kembali lagi ke sini? Apakah... apakah proses perceraian Aura sudah selesai?"
Adrian tidak menjawab Hermawan. Matanya yang tajam langsung terarah pada Vanya yang sedang mengelap jarinya yang terkena cipratan air.
"Perceraian ditunda," kata Adrian dingin. Suaranya datar, tetapi memotong seluruh harapan keluarga Valeria.
Clara dan Siska melotot tidak percaya. "A-apa? Ditunda?"
Adrian melangkah mendekati Vanya, lalu berdiri tepat di samping kursi wanita itu. Ia meletakkan sebuah berkas baru di atas meja makan, tepat di depan Vanya.
"Berdasarkan klausul tambahan yang baru saya masukkan, kamu harus tinggal di mansion Vane selama tiga bulan ke depan sebelum berkas perceraian bisa diproses oleh pengadilan," ujar Adrian sambil menatap Vanya dari atas.
Vanya mendongak, matanya membelalak kaget. "Tiga bulan?! Tadi di surat yang pertama tidak ada pasal konyol begitu! Kamu main ubah-ubah dokumen seenaknya?!"
"Ini bisnis, dan saya pemegang kendalinya," balas Adrian tenang tanpa beban. Ada kilatan provokasi yang sangat tipis di matanya. "Kecuali kalau kamu takut tidak bisa bertahan tinggal bersamaku?"
Vanya memicingkan matanya. Sebagai mantan agen rahasia yang pantang menerima tantangan, kata 'takut' adalah tabu terbesar dalam kamusnya.
"Takut? Sama kamu?" Vanya langsung berdiri, menantang tatapan mata Adrian dari jarak dekat. Bicaranya meluncur deras seperti senapan mesin lagi. "Dalam kamusku tidak ada kata takut pada pria bersetelan hitam yang sukanya main gertak! Tiga bulan? Oke! Jangankan tiga bulan, tiga tahun juga aku layani! Tapi ingat ya, sediakan makanan yang enak dan pastikan di mansionmu tidak ada lantai licin!"
Adrian alisnya terangkat sebelah. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sangat tipis—hampir tak terlihat, tetapi cukup untuk membuat asistennya di belakang menjerit kaget dalam hati. *Tuan Besar... baru saja tersenyum?!*
"Kemasi barang-barangmu sekarang," perintah Adrian singkat. "Kita pulang ke mansion malam ini."
"Sekarang banget? Aku belum beres-beres!" protes Vanya cepat.
"Waktumu lima menit," jawab Adrian dingin lalu berbalik arah, berjalan meninggalkan ruang makan.
Vanya menatap punggung Adrian dengan gemas. "Cepat banget lima menit! Pikirnya aku robot apa?!" gumam Vanya mengomel, tetapi langkah kakinya langsung bergerak secepat kilat menuju kamarnya.
Di belakangnya, keluarga Valeria hanya bisa berdiri mematung dengan wajah syok. Rencana mereka untuk mendepak Aura dan menguasai harta kompensasi hancur berantakan dalam semalam—hanya karena sifat "Aura Baru" yang sama sekali tidak bisa diprediksi!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!