Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Episode 1

Bab 01 - Lelaki Sederhana Pilihan Kakek

Sebelum azan subuh selesai berkumandang, Safira sudah berdiri di dapur belakang rumah keluarga Santoso.

Air di panci mulai mendidih. Aroma daun salam, serai, dan santan dari nasi uduk memenuhi ruangan yang masih remang. Di meja, ia sudah menyiapkan telur balado, tempe orek, irisan timun, dan sambal kacang untuk sarapan.

Rumah besar itu belum benar-benar bangun.

Hanya Safira yang bergerak seperti jarum jam.

Setiap pagi memang begitu. ART keluarga Santoso baru datang pukul delapan, sedangkan Papa, Mama, Kak Rania, dan Kevin harus sarapan sebelum itu. Kalau makanan belum siap, Mama akan berdiri di depan dapur dengan wajah dingin, lalu berkata seolah-olah Safira baru saja merusak nama baik keluarga.

"Kamu tinggal di rumah ini bukan buat tidur enak saja, Safa."

Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar sampai tidak lagi terasa seperti luka baru.

Safira mengangkat tutup panci, mengecek nasi, lalu menutupnya lagi. Setelah itu ia membuat teh tawar hangat untuk Kakek Hadi. Gula harus dipisah. Obat darah tinggi harus diletakkan di piring kecil putih, bukan di tisu, karena Kakek sering lupa kalau benda kecil di depannya adalah obat.

"Kek," panggil Safira pelan saat masuk ke kamar depan.

Kakek Hadi duduk di kursi rotan dekat jendela. Rambutnya putih, bahunya kurus, tetapi matanya masih menyimpan sisa ketegasan lelaki yang dulu pernah membangun usaha kain keluarga dari kios kecil di Pasar Baru.

"Sudah pagi, Nak?"

"Sudah. Kakek mau cuci muka dulu?"

Kakek memandangnya lama. "Kamu siapa?"

Dada Safira mencelos sedikit.

Tetap saja ia tersenyum.

"Safa, Kek. Cucu Kakek yang paling cerewet."

Kakek menatapnya, lalu senyumnya muncul perlahan. "Oh, Safa. Iya. Cucu Kakek yang paling bisa bikin sambal."

"Nah, itu ingat."

Safira menuntunnya ke kamar mandi, membantu seperlunya, lalu membawanya ke meja makan kecil di kamar. Ia menyuapi Kakek sedikit demi sedikit. Kalau makan bersama keluarga di ruang makan besar, Kakek sering dianggap merepotkan. Mama akan menghela napas. Papa pura-pura membaca berita. Kak Rania sibuk dengan ponsel. Kevin kadang terang-terangan berkata Kakek membuatnya tidak selera.

Jadi Safira memilih menyuapi Kakek lebih dulu.

Lebih tenang.

Setelah Kakek selesai, ia kembali ke dapur. Piring-piring sudah ia susun. Bu Ratna, mamanya, keluar dari kamar dengan rambut tertata rapi dan gamis rumah mahal yang tidak pernah menyentuh pekerjaan dapur.

"Safa."

"Iya, Ma."

"Hari ini keluarga Kusuma datang. Jangan lupa buahnya dipotong bagus. Teh pakai cangkir porselen, bukan gelas biasa."

"Iya."

"Setelah semua siap, kamu masuk kamar saja. Jangan mondar-mandir di ruang tamu."

Tangan Safira yang sedang memindahkan sambal ke mangkuk berhenti sesaat.

"Kenapa, Ma?"

Ratna menoleh, alisnya naik. "Kamu masih tanya kenapa? Mereka datang untuk membicarakan Rania. Yang perlu tampil ya Rania, bukan kamu."

Safira menunduk lagi. "Aku cuma tanya."

"Jangan bikin suasana aneh. Keluarga Kusuma itu teman lama Kakek. Katanya cucu laki-laki mereka datang dari Jakarta. Kita belum tahu dia seperti apa. Kalau memang cocok, Rania bisa dapat keluarga baik."

Kak Rania turun dari tangga sambil mengikat rambut. Wajahnya cantik, kulitnya bersih, gerakannya halus seperti orang yang sejak kecil tidak pernah disuruh mengangkat galon atau mengepel teras.

"Ma, Mama yakin dia layak buat aku?"

Ratna langsung melunakkan suara. "Kita lihat dulu, Nak."

"Aku dengar Kusuma Group memang besar. Tapi yang datang ini katanya cuma cucu dari cabang keluarga, bukan pewaris utama. Kalau ternyata dia biasa-biasa saja gimana?"

"Makanya kita lihat."

Safira meletakkan mangkuk sambal di meja. Ia ingin tertawa, tetapi menahannya. Kakaknya belum bertemu orangnya, tetapi sudah menghitung apakah lelaki itu pantas atau tidak.

Rania melihat Safira. "Kamu potong buah yang rapi ya. Jangan seperti kemarin. Kiwi-nya tebal sebelah."

"Iya, Kak."

"Dan jangan pakai piring kecil. Kelihatan pelit."

"Iya."

Kevin datang paling akhir, memakai kaus mahal dan wajah setengah mengantuk. Anak laki-laki satu-satunya di keluarga itu duduk tanpa mencuci tangan, langsung mengambil telur.

"Safa, nanti siang transfer uang bensin, ya. Aku mau ke kampus."

Safira menatap adiknya. "Uang bulanan kamu dari Papa sudah habis?"

"Belum. Tapi itu buat nongkrong."

Ratna langsung menyela, "Sudah, nanti kasih saja. Adikmu banyak kegiatan."

Safira ingin bertanya, sejak kapan nongkrong disebut kegiatan. Tapi ia sudah belajar bahwa di rumah ini, bertanya hanya membuat pekerjaannya bertambah.

Ia diam.

Pukul sepuluh, rumah mulai sibuk. Ratna memeriksa ruang tamu tiga kali. Bantal sofa diganti. Karpet disedot debunya. Rania berganti kebaya modern warna dusty pink, lengkap dengan bros mutiara kecil. Papa, Bambang Santoso, baru keluar dari ruang kerja ketika suara mobil terdengar dari luar pagar.

"Mereka datang," kata Ratna cepat. "Rania, senyum. Bambang, jangan bahas utang vendor dulu. Safa, buahnya mana?"

"Sudah di meja, Ma."

"Bagus. Setelah menuang teh, kamu langsung ke belakang."

Safira mengangguk.

Dari jendela samping, ia melihat mobil yang masuk ke halaman.

Bukan Alphard.

Bukan Mercedes.

Hanya Avanza hitam keluaran lama, dengan cat yang mulai kusam di bagian kap mesin. Dari kursi pengemudi turun seorang lelaki muda bertubuh tegap, memakai kemeja biru tua sederhana dan celana bahan hitam. Sepatunya bersih, tetapi jelas bukan barang baru.

Di sampingnya turun lelaki lain yang lebih santai, membawa kotak hantaran sederhana.

Wajah Ratna berubah.

Rania yang semula tersenyum ikut membeku.

"Itu?" bisik Rania.

Bambang mengernyit. "Mungkin stafnya duluan."

Tapi lelaki berkemeja biru itu masuk bersama Pak Satpam yang membukakan pintu, lalu berdiri di hadapan mereka dengan tenang.

"Assalamualaikum. Saya Arga Kusuma."

Suaranya rendah, jernih, dan tidak terburu-buru.

Safira yang sedang membawa nampan teh ikut mendengar dari ambang pintu. Ia tidak sengaja mengangkat wajah.

Dan untuk sesaat, ia lupa harus menaruh cangkir di mana.

Lelaki itu sederhana, tetapi tidak ada yang sederhana dari caranya berdiri. Bahunya tegak. Matanya gelap dan tenang. Wajahnya terlalu tampan untuk seseorang yang datang dengan mobil tua dan kotak hantaran tanpa pita mewah.

Rania juga melihat itu.

Namun kekaguman di mata kakaknya hanya bertahan sebentar.

Begitu melihat ujung lengan kemeja Arga yang mulai pudar, Rania kembali menata wajah.

"Waalaikumsalam," jawab Bambang. "Silakan duduk."

Arga duduk. Temannya, Bima, menaruh hantaran di meja.

"Ini sedikit buah tangan dari keluarga kami," kata Bima ramah.

Ratna melirik isi kotak. Kurma, teh premium, dan kain batik tulis yang dilipat rapi. Tidak buruk, tetapi jauh dari bayangan hampers mahal keluarga konglomerat.

Safira maju, menuang teh satu per satu. Saat ia sampai di depan Arga, aroma teh melati naik di antara mereka.

Arga mengangkat pandangan.

Mata mereka bertemu.

Safira segera menunduk. "Silakan, Pak."

"Terima kasih."

Hanya dua kata.

Tapi Safira merasakan sesuatu yang aneh. Bukan karena suaranya lembut. Justru karena ia mengucapkannya seperti benar-benar melihat orang yang menyajikan teh, bukan hanya tangan yang lewat di ruang tamu.

"Safa," suara Ratna terdengar tajam.

Safira sadar ia berdiri terlalu lama.

Ia mundur cepat, tetapi sebelum benar-benar pergi, ia mendengar Ratna membuka percakapan.

"Mas Arga sekarang bekerja di bagian mana?"

"Saya membantu beberapa proyek operasional keluarga di Jakarta dan Bandung," jawab Arga.

Jawaban itu benar, tetapi terdengar biasa.

Ratna mengejar, "Jabatan resminya?"

Bima hampir tersedak teh.

Arga tetap tenang. "Belum ada yang istimewa, Bu."

Rania menunduk, menyembunyikan kekecewaan. Ratna tersenyum tipis, jenis senyum yang biasa ia pakai kepada pedagang yang menawar terlalu tinggi.

Safira berhenti di balik dinding.

Ia tahu senyum itu.

Senyum yang berarti seseorang sudah tidak dianggap penting.

Di ruang tamu, Ratna berkata lagi, "Oh begitu. Kami kira..."

Kalimatnya dibiarkan menggantung.

Bima melirik Arga, tetapi Arga hanya mengangkat cangkir teh. Di wajahnya tidak ada malu, tidak ada marah. Seolah ia memang datang untuk melihat seberapa cepat keluarga ini menimbang manusia dengan harga mobilnya.

Safira menggenggam nampan kosong.

Entah kenapa, ia merasa lelaki itu sedang sengaja membiarkan dirinya diremehkan.

Dan lebih aneh lagi, ia merasa Arga Kusuma bukan orang yang bisa diremehkan begitu saja.

Terpopuler

Comments

Tamirah

Tamirah

Arga sedang menyamar jadi orang biasa,ingin tahu wanita yg akan dijodohkan ternyata cewek matre sama dgn ibu nya.

2026-05-20

2

Mimin Rosmini

Mimin Rosmini

yah ..belum apa apa sudah menilai orang hanya tampilan luarnya saja

2026-08-10

0

Salsabilla Kim

Salsabilla Kim

paling Safira nanti yang sama dia

2026-06-28

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!