NovelToon NovelToon

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Episode 1

Bab 01 - Lelaki Sederhana Pilihan Kakek

Sebelum azan subuh selesai berkumandang, Safira sudah berdiri di dapur belakang rumah keluarga Santoso.

Air di panci mulai mendidih. Aroma daun salam, serai, dan santan dari nasi uduk memenuhi ruangan yang masih remang. Di meja, ia sudah menyiapkan telur balado, tempe orek, irisan timun, dan sambal kacang untuk sarapan.

Rumah besar itu belum benar-benar bangun.

Hanya Safira yang bergerak seperti jarum jam.

Setiap pagi memang begitu. ART keluarga Santoso baru datang pukul delapan, sedangkan Papa, Mama, Kak Rania, dan Kevin harus sarapan sebelum itu. Kalau makanan belum siap, Mama akan berdiri di depan dapur dengan wajah dingin, lalu berkata seolah-olah Safira baru saja merusak nama baik keluarga.

"Kamu tinggal di rumah ini bukan buat tidur enak saja, Safa."

Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar sampai tidak lagi terasa seperti luka baru.

Safira mengangkat tutup panci, mengecek nasi, lalu menutupnya lagi. Setelah itu ia membuat teh tawar hangat untuk Kakek Hadi. Gula harus dipisah. Obat darah tinggi harus diletakkan di piring kecil putih, bukan di tisu, karena Kakek sering lupa kalau benda kecil di depannya adalah obat.

"Kek," panggil Safira pelan saat masuk ke kamar depan.

Kakek Hadi duduk di kursi rotan dekat jendela. Rambutnya putih, bahunya kurus, tetapi matanya masih menyimpan sisa ketegasan lelaki yang dulu pernah membangun usaha kain keluarga dari kios kecil di Pasar Baru.

"Sudah pagi, Nak?"

"Sudah. Kakek mau cuci muka dulu?"

Kakek memandangnya lama. "Kamu siapa?"

Dada Safira mencelos sedikit.

Tetap saja ia tersenyum.

"Safa, Kek. Cucu Kakek yang paling cerewet."

Kakek menatapnya, lalu senyumnya muncul perlahan. "Oh, Safa. Iya. Cucu Kakek yang paling bisa bikin sambal."

"Nah, itu ingat."

Safira menuntunnya ke kamar mandi, membantu seperlunya, lalu membawanya ke meja makan kecil di kamar. Ia menyuapi Kakek sedikit demi sedikit. Kalau makan bersama keluarga di ruang makan besar, Kakek sering dianggap merepotkan. Mama akan menghela napas. Papa pura-pura membaca berita. Kak Rania sibuk dengan ponsel. Kevin kadang terang-terangan berkata Kakek membuatnya tidak selera.

Jadi Safira memilih menyuapi Kakek lebih dulu.

Lebih tenang.

Setelah Kakek selesai, ia kembali ke dapur. Piring-piring sudah ia susun. Bu Ratna, mamanya, keluar dari kamar dengan rambut tertata rapi dan gamis rumah mahal yang tidak pernah menyentuh pekerjaan dapur.

"Safa."

"Iya, Ma."

"Hari ini keluarga Kusuma datang. Jangan lupa buahnya dipotong bagus. Teh pakai cangkir porselen, bukan gelas biasa."

"Iya."

"Setelah semua siap, kamu masuk kamar saja. Jangan mondar-mandir di ruang tamu."

Tangan Safira yang sedang memindahkan sambal ke mangkuk berhenti sesaat.

"Kenapa, Ma?"

Ratna menoleh, alisnya naik. "Kamu masih tanya kenapa? Mereka datang untuk membicarakan Rania. Yang perlu tampil ya Rania, bukan kamu."

Safira menunduk lagi. "Aku cuma tanya."

"Jangan bikin suasana aneh. Keluarga Kusuma itu teman lama Kakek. Katanya cucu laki-laki mereka datang dari Jakarta. Kita belum tahu dia seperti apa. Kalau memang cocok, Rania bisa dapat keluarga baik."

Kak Rania turun dari tangga sambil mengikat rambut. Wajahnya cantik, kulitnya bersih, gerakannya halus seperti orang yang sejak kecil tidak pernah disuruh mengangkat galon atau mengepel teras.

"Ma, Mama yakin dia layak buat aku?"

Ratna langsung melunakkan suara. "Kita lihat dulu, Nak."

"Aku dengar Kusuma Group memang besar. Tapi yang datang ini katanya cuma cucu dari cabang keluarga, bukan pewaris utama. Kalau ternyata dia biasa-biasa saja gimana?"

"Makanya kita lihat."

Safira meletakkan mangkuk sambal di meja. Ia ingin tertawa, tetapi menahannya. Kakaknya belum bertemu orangnya, tetapi sudah menghitung apakah lelaki itu pantas atau tidak.

Rania melihat Safira. "Kamu potong buah yang rapi ya. Jangan seperti kemarin. Kiwi-nya tebal sebelah."

"Iya, Kak."

"Dan jangan pakai piring kecil. Kelihatan pelit."

"Iya."

Kevin datang paling akhir, memakai kaus mahal dan wajah setengah mengantuk. Anak laki-laki satu-satunya di keluarga itu duduk tanpa mencuci tangan, langsung mengambil telur.

"Safa, nanti siang transfer uang bensin, ya. Aku mau ke kampus."

Safira menatap adiknya. "Uang bulanan kamu dari Papa sudah habis?"

"Belum. Tapi itu buat nongkrong."

Ratna langsung menyela, "Sudah, nanti kasih saja. Adikmu banyak kegiatan."

Safira ingin bertanya, sejak kapan nongkrong disebut kegiatan. Tapi ia sudah belajar bahwa di rumah ini, bertanya hanya membuat pekerjaannya bertambah.

Ia diam.

Pukul sepuluh, rumah mulai sibuk. Ratna memeriksa ruang tamu tiga kali. Bantal sofa diganti. Karpet disedot debunya. Rania berganti kebaya modern warna dusty pink, lengkap dengan bros mutiara kecil. Papa, Bambang Santoso, baru keluar dari ruang kerja ketika suara mobil terdengar dari luar pagar.

"Mereka datang," kata Ratna cepat. "Rania, senyum. Bambang, jangan bahas utang vendor dulu. Safa, buahnya mana?"

"Sudah di meja, Ma."

"Bagus. Setelah menuang teh, kamu langsung ke belakang."

Safira mengangguk.

Dari jendela samping, ia melihat mobil yang masuk ke halaman.

Bukan Alphard.

Bukan Mercedes.

Hanya Avanza hitam keluaran lama, dengan cat yang mulai kusam di bagian kap mesin. Dari kursi pengemudi turun seorang lelaki muda bertubuh tegap, memakai kemeja biru tua sederhana dan celana bahan hitam. Sepatunya bersih, tetapi jelas bukan barang baru.

Di sampingnya turun lelaki lain yang lebih santai, membawa kotak hantaran sederhana.

Wajah Ratna berubah.

Rania yang semula tersenyum ikut membeku.

"Itu?" bisik Rania.

Bambang mengernyit. "Mungkin stafnya duluan."

Tapi lelaki berkemeja biru itu masuk bersama Pak Satpam yang membukakan pintu, lalu berdiri di hadapan mereka dengan tenang.

"Assalamualaikum. Saya Arga Kusuma."

Suaranya rendah, jernih, dan tidak terburu-buru.

Safira yang sedang membawa nampan teh ikut mendengar dari ambang pintu. Ia tidak sengaja mengangkat wajah.

Dan untuk sesaat, ia lupa harus menaruh cangkir di mana.

Lelaki itu sederhana, tetapi tidak ada yang sederhana dari caranya berdiri. Bahunya tegak. Matanya gelap dan tenang. Wajahnya terlalu tampan untuk seseorang yang datang dengan mobil tua dan kotak hantaran tanpa pita mewah.

Rania juga melihat itu.

Namun kekaguman di mata kakaknya hanya bertahan sebentar.

Begitu melihat ujung lengan kemeja Arga yang mulai pudar, Rania kembali menata wajah.

"Waalaikumsalam," jawab Bambang. "Silakan duduk."

Arga duduk. Temannya, Bima, menaruh hantaran di meja.

"Ini sedikit buah tangan dari keluarga kami," kata Bima ramah.

Ratna melirik isi kotak. Kurma, teh premium, dan kain batik tulis yang dilipat rapi. Tidak buruk, tetapi jauh dari bayangan hampers mahal keluarga konglomerat.

Safira maju, menuang teh satu per satu. Saat ia sampai di depan Arga, aroma teh melati naik di antara mereka.

Arga mengangkat pandangan.

Mata mereka bertemu.

Safira segera menunduk. "Silakan, Pak."

"Terima kasih."

Hanya dua kata.

Tapi Safira merasakan sesuatu yang aneh. Bukan karena suaranya lembut. Justru karena ia mengucapkannya seperti benar-benar melihat orang yang menyajikan teh, bukan hanya tangan yang lewat di ruang tamu.

"Safa," suara Ratna terdengar tajam.

Safira sadar ia berdiri terlalu lama.

Ia mundur cepat, tetapi sebelum benar-benar pergi, ia mendengar Ratna membuka percakapan.

"Mas Arga sekarang bekerja di bagian mana?"

"Saya membantu beberapa proyek operasional keluarga di Jakarta dan Bandung," jawab Arga.

Jawaban itu benar, tetapi terdengar biasa.

Ratna mengejar, "Jabatan resminya?"

Bima hampir tersedak teh.

Arga tetap tenang. "Belum ada yang istimewa, Bu."

Rania menunduk, menyembunyikan kekecewaan. Ratna tersenyum tipis, jenis senyum yang biasa ia pakai kepada pedagang yang menawar terlalu tinggi.

Safira berhenti di balik dinding.

Ia tahu senyum itu.

Senyum yang berarti seseorang sudah tidak dianggap penting.

Di ruang tamu, Ratna berkata lagi, "Oh begitu. Kami kira..."

Kalimatnya dibiarkan menggantung.

Bima melirik Arga, tetapi Arga hanya mengangkat cangkir teh. Di wajahnya tidak ada malu, tidak ada marah. Seolah ia memang datang untuk melihat seberapa cepat keluarga ini menimbang manusia dengan harga mobilnya.

Safira menggenggam nampan kosong.

Entah kenapa, ia merasa lelaki itu sedang sengaja membiarkan dirinya diremehkan.

Dan lebih aneh lagi, ia merasa Arga Kusuma bukan orang yang bisa diremehkan begitu saja.

Episode 2

Bab 02 - Aku Saja Yang Menikah

Arga sudah menduga keluarga Santoso akan berubah sikap begitu melihat mobil yang ia pakai.

Tetap saja, melihatnya langsung terasa menarik.

Bu Ratna yang tadi menyambut dengan senyum lebar kini duduk dengan punggung terlalu tegak. Pak Bambang lebih banyak diam. Rania, perempuan yang seharusnya menjadi calon istrinya, menatap ponsel setiap beberapa menit, seperti sedang menunggu alasan untuk pergi dari ruang tamu.

Bima menahan diri agar tidak tertawa.

Arga tahu sahabatnya itu ingin sekali berbisik, "Kan, benar kata gue."

Tapi Bima cukup tahu diri. Di depan keluarga orang, ia masih bisa menjaga mulut.

"Jadi, Mas Arga tinggal di Jakarta?" tanya Ratna.

"Iya, Bu. Tapi beberapa bulan ini saya bolak-balik Bandung."

"Tinggal di mana kalau di Bandung?"

"Kadang di mess proyek. Kadang di penginapan."

Rania mengangkat wajah. "Belum punya rumah di Bandung?"

"Belum."

Jawaban itu pendek.

Rania tersenyum sopan, tetapi matanya kehilangan minat.

Arga menaruh cangkirnya. Ia tidak tersinggung. Justru rasa lega pelan-pelan muncul di dadanya. Kalau keluarga ini mundur, ia tidak perlu melawan wasiat Kakek Surya secara terang-terangan.

Kakeknya, sebelum meninggal, memegang tangan Arga dan berkata dengan napas tersengal, "Hadi Santoso pernah menyelamatkan hidup Kakek. Kalau keluarganya membutuhkan kita, jangan palingkan muka. Kalau cucu perempuannya baik, nikahi dia. Jangan biarkan janji Kakek mati begitu saja."

Arga mencintai kakeknya.

Tapi ia tidak suka dipaksa menikah dengan perempuan yang bahkan tidak ia kenal.

Karena itu ia datang dengan mobil tua milik salah satu staf lapangan, memakai kemeja paling sederhana, dan meminta Bima tidak memanggilnya `Pak Arga` di depan orang-orang ini.

Rencananya mudah.

Biarkan keluarga Santoso menolak.

Ia tetap bisa berkata kepada almarhum kakeknya bahwa ia sudah datang.

Hanya saja, rencana itu mulai terganggu saat perempuan pembawa teh tadi masuk.

Safira.

Ia bukan Rania. Dari cara Bu Ratna memanggilnya, Arga tahu posisinya di rumah itu berbeda. Bukan tamu utama. Bukan anak yang sedang dipamerkan. Lebih seperti seseorang yang hanya muncul ketika dibutuhkan, lalu disuruh menghilang.

Namun perempuan itu punya mata yang jernih.

Tidak ada rasa ingin menilai pakaiannya.

Tidak ada rasa ingin tahu tentang mobilnya.

Saat menuang teh, tangannya cekatan dan tenang. Di balik wajah manisnya, ada kelelahan yang terlalu rapi disembunyikan.

Arga tahu bentuk kelelahan seperti itu.

Kelelahan orang yang sudah terlalu lama diminta mengerti.

"Mas Arga," suara Rania membuyarkan pikirannya. "Saya boleh bicara terus terang?"

"Silakan."

Rania menarik napas, menoleh kepada Ratna sebentar, lalu kembali menatap Arga.

"Saya menghormati hubungan Kakek Hadi dan keluarga Kusuma. Tapi pernikahan itu bukan cuma soal janji orang tua, kan? Kita yang menjalani."

"Benar."

"Saya... tidak merasa kita cocok."

Bambang menggeser duduknya. Ratna menatap Rania, memberi isyarat agar ia tidak terlalu kasar.

Rania melanjutkan, "Saya punya rencana sendiri. Karier, kehidupan, semuanya. Saya tidak bisa menikah hanya karena pesan almarhum. Apalagi kalau Mas Arga sendiri juga belum mapan."

Bima menunduk, pura-pura melihat ponsel.

Arga hampir tersenyum.

Belum mapan.

Kalau para direktur Kusuma Group mendengar kalimat itu, mungkin ruang rapat besok akan penuh orang tersedak kopi.

"Saya mengerti," kata Arga.

Ratna cepat menyela, "Rania tidak bermaksud merendahkan. Anak perempuan zaman sekarang memang punya pertimbangan. Kami sebagai orang tua juga harus memastikan masa depannya."

"Tentu, Bu."

"Lagi pula, janji Kakek dulu kan tidak tertulis. Kita bisa tetap menjaga silaturahmi tanpa harus memaksakan pernikahan."

Kalimat itu keluar begitu halus, tetapi intinya jelas.

Mereka menolak.

Arga seharusnya lega.

Namun dari arah lorong, ia melihat Safira berdiri dengan piring buah di tangan. Perempuan itu jelas mendengar semuanya. Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa, tetapi matanya bergerak sedikit ke arah Rania, lalu ke arah Ratna.

Di sana, ada sesuatu yang tajam.

Bukan marah.

Lebih seperti seseorang yang melihat pintu terbuka.

"Kalau begitu," Arga mulai bicara, "saya tidak akan memaksa."

Rania menghela napas lega terlalu cepat.

Safira maju menaruh piring buah di meja. "Maaf, buahnya."

"Safa, sudah. Kamu ke belakang," kata Ratna.

Tapi Safira tidak langsung pergi.

Ia menatap ibunya.

"Ma, kalau Kak Rania tidak mau, aku saja."

Ruang tamu mendadak sunyi.

Bima mengangkat kepala.

Arga menatap Safira tanpa berkedip.

Ratna seperti tidak yakin dengan pendengarannya. "Apa?"

Safira berdiri tegak. Nampan kosong masih ia pegang di depan tubuhnya.

"Aku saja yang menikah dengan Mas Arga."

"Kamu gila?" Rania spontan berdiri. "Ini pembicaraan orang tua, Safa."

"Aku juga anak di rumah ini."

Ratna tertawa pendek, tajam. "Anak? Kamu tahu apa soal pernikahan? Jangan bicara sembarangan hanya karena ingin cari perhatian."

Safira menoleh kepada Arga. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia menatap lelaki itu tanpa menunduk.

"Mas Arga datang karena pesan kakeknya. Kakek Hadi juga pasti ingin janji itu dihormati. Kalau Kak Rania tidak mau, dan keluarga Kusuma tidak keberatan, aku bersedia."

Bambang memukul lengan kursi. "Safa!"

"Pa," suara Safira tetap pelan, tetapi tidak gemetar. "Selama ini Mama bilang aku harus tahu diri. Aku tahu. Aku bukan anak yang dibanggakan. Aku bukan yang Mama pilih untuk tampil di depan tamu. Tapi kalau keluarga ini butuh seseorang untuk menjaga nama baik, biasanya aku yang disuruh maju, kan?"

Ratna wajahnya memerah. "Jaga mulut kamu."

"Aku sedang menjaganya, Ma. Aku tidak menyebut apa pun yang lebih buruk."

Rania menatapnya penuh amarah. "Kamu mau merebut calonku?"

Safira hampir tertawa. "Kakak baru saja menolak."

"Tetap saja ini memalukan!"

"Yang memalukan itu menilai orang dari mobilnya, Kak."

Bima batuk sekali. Kali ini ia benar-benar hampir gagal menahan tawa.

Ratna berdiri. "Kamu masuk kamar sekarang."

"Tidak sebelum Mas Arga menjawab."

Semua mata beralih kepada Arga.

Arga menatap perempuan di depannya. Safira tidak terlihat seperti perempuan yang sedang mengejar kesempatan menjadi menantu keluarga kaya. Ia bahkan belum tahu siapa dirinya. Yang ia lihat mungkin hanya lelaki biasa yang sedang ditolak karena dianggap tidak cukup.

Tapi justru itu yang membuat Arga tidak bisa langsung mengatakan tidak.

"Kamu yakin?" tanya Arga.

Ratna langsung menyela, "Mas Arga, jangan dengarkan dia. Safira ini kadang terlalu emosional."

"Saya bertanya kepada Safira, Bu."

Ratna terdiam, tersinggung.

Safira mengangguk. "Aku yakin."

"Kenapa?"

Safira menggenggam nampan lebih erat.

Karena aku ingin keluar dari rumah ini.

Karena aku lelah diminta mengalah untuk orang yang tidak pernah menganggapku.

Karena kalau aku tetap di sini, hidupku akan habis untuk membayar kesalahan dan ambisi orang lain.

Tapi semua itu tidak ia ucapkan.

Ia hanya berkata, "Karena aku menghormati Kakek Hadi. Dan karena Mas Arga tidak terlihat seperti orang jahat."

Bima menoleh cepat ke arah Arga, matanya melebar, seolah ingin berkata, "Gila, ada yang menilaimu sebaik itu cuma dari lima menit."

Arga tidak memedulikannya.

"Kalau saya tidak punya rumah di Bandung?"

"Aku bisa tinggal di kontrakan."

"Kalau penghasilan saya tidak sebesar harapan keluargamu?"

"Aku bekerja."

"Kalau hidup setelah menikah tidak nyaman?"

Safira menatapnya lebih tenang. "Hidupku sekarang juga tidak terlalu nyaman."

Kalimat itu membuat Arga diam.

Ada luka di sana, tetapi bukan luka yang meminta dikasihani. Safira hanya menyampaikan fakta.

Rania mencibir. "Bagus. Kalau begitu nikah saja. Jangan menyesal kalau hidup susah."

Ratna menatap Rania, lalu Safira, lalu Arga. Otaknya jelas bergerak cepat. Menolak Arga berarti mungkin menyinggung keluarga Kusuma. Membiarkan Rania menikah dengan lelaki yang tampaknya biasa saja membuatnya tidak rela. Tapi kalau Safira yang menikah, setidaknya janji keluarga tetap terselesaikan tanpa mengorbankan putri kesayangannya.

Perhitungan itu terlihat jelas di wajahnya.

Safira melihatnya.

Dan anehnya, ia tidak sakit lagi.

Mungkin karena ia sudah menduga.

Bambang berdeham. "Kalau... kalau keluarga Kusuma tidak keberatan, kita bisa bicarakan lagi."

Arga menatap Safira.

Perempuan itu masih berdiri dengan punggung tegak. Tidak ada kegembiraan di wajahnya. Tidak ada mimpi romantis. Hanya keputusan.

Entah kenapa, Arga ingin tahu sejauh apa keputusan itu bisa membawanya.

"Saya tidak keberatan," kata Arga.

Ratna terkejut. Rania juga.

Safira menarik napas pelan.

Arga berdiri, lalu mengulurkan tangan, bukan untuk bersalaman, tetapi seolah memberi ruang bagi Safira untuk memilih sekali lagi.

"Tapi pernikahan bukan tempat pelarian yang mudah. Kalau kamu memilih saya, kamu harus tahu, jalan setelah ini mungkin tidak seperti yang kamu bayangkan."

Safira menatap tangan itu, lalu menatap wajah Arga.

"Aku tidak sedang mencari yang mudah."

"Lalu apa yang kamu cari?"

Safira menjawab tanpa ragu.

"Jalan keluar."

Arga menurunkan tangannya perlahan.

Di ruang tamu keluarga Santoso yang mendadak sesak oleh kepentingan, ia membuat keputusan yang bahkan tidak ada di rencananya pagi tadi.

"Baik," katanya. "Kalau begitu, kita menikah."

Episode 3

Bab 03 - Mahar Untuk Anak Yang Dilupakan

Ratna tidak langsung menerima keputusan itu dengan wajah bahagia.

Ia menerima karena tidak punya pilihan yang lebih cantik untuk ditunjukkan.

Setelah Arga dan Bima pulang, ruang tamu keluarga Santoso berubah menjadi pengadilan kecil. Ratna berdiri di tengah ruangan, Rania duduk dengan lengan terlipat, Bambang mondar-mandir sambil mengusap dagu, sedangkan Safira tetap berdiri di dekat meja, seperti terdakwa yang belum boleh duduk.

"Kamu sadar apa yang baru saja kamu lakukan?" tanya Ratna.

"Sadar, Ma."

"Kamu mempermalukan Mama di depan tamu."

"Aku menyelamatkan pembicaraan yang Kak Rania tolak."

"Jangan putar balik." Ratna menunjuknya. "Kamu sengaja mencari kesempatan. Dari dulu kamu memang diam-diam punya ambisi."

Safira menatap ibunya.

Ambisi?

Kalau benar ia punya ambisi, mungkin ia tidak akan bangun sebelum subuh setiap hari untuk menanak nasi bagi orang-orang yang bahkan tidak pernah bertanya apakah ia sudah makan.

"Aku cuma bilang bersedia menikah."

"Dengan lelaki yang baru kamu lihat lima menit!"

"Kak Rania juga diminta mempertimbangkan lelaki yang baru dilihat lima menit."

Rania langsung berdiri. "Jangan samakan aku dengan kamu."

Safira menoleh. "Kenapa tidak boleh? Kita sama-sama perempuan di rumah ini."

"Karena aku punya masa depan."

Kalimat itu jatuh di ruangan seperti gelas pecah.

Bambang berhenti berjalan. Ratna menatap Rania sebentar, bukan karena tidak setuju, tetapi karena kalimat itu terlalu telanjang.

Safira tersenyum kecil.

"Berarti aku tidak punya?"

Rania menggigit bibir. "Maksudku bukan begitu."

"Tidak apa-apa. Aku sudah sering mendengar versi lain dari kalimat itu."

Ratna memijit pelipis. "Sudah. Kita bicara praktis saja. Kalau kamu memang mau menikah, jangan berharap resepsi besar. Keluarga Kusuma juga kelihatannya tidak membawa apa-apa yang luar biasa."

"Aku tidak minta resepsi."

"Bagus."

"Tapi aku minta hakku."

Ratna mengangkat wajah perlahan. "Hak apa?"

Safira menaruh nampan di meja. Suaranya tetap pelan, tetapi setiap kata jelas.

"Mahar dan seserahan dari pihak Mas Arga bukan urusan Mama. Itu hakku sebagai calon istri. Lalu dari keluarga ini, aku minta uang yang dulu Nenek tinggalkan untuk pendidikanku."

Wajah Bambang berubah.

Ratna langsung berkata, "Uang itu sudah dipakai untuk kebutuhan rumah."

"Kebutuhan rumah atau DP mobil Kevin?"

"Safira!"

"Aku tahu, Ma. Aku yang disuruh mengambil berkas di laci Papa waktu itu. Aku lihat catatannya."

Kevin yang baru turun tangga berhenti. "Kenapa namaku dibawa-bawa?"

Safira menatap adiknya. "Karena bensin, uang nongkrong, cicilan motor, semua sering dibawa ke namaku."

"Ih, lebay banget."

Ratna menunjuk ke arah kamar. "Kevin, masuk."

"Aku belum sarapan kedua."

"Masuk!"

Kevin mendengus lalu pergi.

Safira kembali menatap orang tuanya.

"Aku tidak minta semua. Aku minta bagian yang seharusnya dipakai untuk kursus desainku dulu. Mama bilang uangnya disimpan. Aku percaya. Sekarang aku butuh untuk memulai hidup setelah menikah."

Bambang menghindari tatapannya.

Ratna tertawa sinis. "Kamu baru mau menikah dengan orang biasa saja sudah mulai hitung-hitungan. Bagaimana nanti kalau dia benar-benar miskin?"

"Justru karena dia orang biasa, aku tidak mau masuk pernikahan tanpa pegangan."

Rania menyahut, "Jadi kamu menikah demi uang?"

"Kalau aku menikah demi uang, aku akan rebut Dimas dari Kakak."

Rania membeku.

Bambang dan Ratna sama-sama menoleh.

"Apa maksudmu?" tanya Bambang.

Safira mengambil ponsel dari saku apron. Ia membuka galeri, lalu menaruh layar menghadap meja.

Foto pertama memperlihatkan Rania dan Dimas duduk terlalu dekat di sebuah kafe. Foto kedua lebih jelas. Tangan Dimas menggenggam tangan Rania. Foto ketiga memperlihatkan Dimas mencium pipi Rania di parkiran.

Rania langsung pucat.

"Kamu mata-mata?"

"Aku hanya tidak buta."

Dimas adalah laki-laki yang selama setahun terakhir masih mengirim pesan kepada Safira, masih memanggilnya sayang saat butuh dibuatkan desain gratis untuk usaha temannya, tetapi diam-diam jalan dengan Rania.

Safira sudah tahu lama.

Ia tidak pernah meledak karena, anehnya, rasa cintanya kepada Dimas sudah habis lebih dulu sebelum rasa marahnya sempat tumbuh.

Ratna mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar. "Safa, jangan buat fitnah."

"Itu foto. Kalau kurang, aku punya rekaman suara Dimas saat bilang Kak Rania lebih pantas jadi istrinya karena punya akses ke perusahaan Papa."

Rania menangis. "Ma, aku bisa jelaskan."

Ratna menatap putri kesayangannya dengan wajah panik. Bukan panik karena Rania menyakiti Safira. Panik karena skandal ini bisa menyebar.

Safira mengambil ponselnya kembali.

"Aku tidak akan menyebarkan apa-apa kalau kalian tidak memaksaku diam soal hakku."

Bambang duduk pelan. "Safa, ini keluarga."

"Aku tahu. Karena ini keluarga, aku masih bicara baik-baik di rumah."

Ratna menatapnya seperti baru pertama kali melihat Safira bukan sebagai anak yang bisa diperintah.

"Berapa yang kamu minta?"

Safira menyebut angka. Tidak besar dibanding uang belanja Rania untuk tas baru. Tidak besar dibanding biaya Kevin liburan ke Bali bersama teman-temannya. Tapi cukup untuk sewa tempat tinggal kecil dan modal awal kerja.

Ratna hampir menolak, tetapi Bambang mengangkat tangan.

"Berikan."

"Bambang!"

"Berikan," ulang Bambang, lebih lelah daripada tegas. "Kita sudah cukup kacau hari ini."

Safira mengangguk. "Terima kasih, Pa."

Ratna menatapnya dingin. "Setelah menikah, jangan berharap bisa bolak-balik meminta apa pun dari rumah ini."

Safira hampir menjawab, tetapi suara pelan dari arah lorong membuat semuanya berhenti.

"Safa mau menikah?"

Kakek Hadi berdiri dengan tangan memegang kusen. Entah sejak kapan ia berada di sana.

Safira segera menghampirinya. "Kakek, kok keluar sendiri?"

"Safa mau menikah dengan cucu Surya?"

Safira menahan napas. "Iya, Kek."

Kakek memegang tangannya. Matanya basah, tetapi senyumnya lembut.

"Bagus. Surya orang baik. Cucunya harusnya baik."

Ratna berdeham. "Pak, ini masih dibicarakan."

"Jangan sakiti Safa," kata Kakek, tiba-tiba menatap Ratna dengan mata jernih. "Anak ini sudah terlalu sering mengalah."

Ruangan kembali sunyi.

Safira menunduk, takut kalau ia menatap Kakek lebih lama, air matanya jatuh di depan orang-orang yang tidak boleh melihatnya lemah.

Malam itu, pesan dari nomor tak dikenal masuk ke ponselnya.

`Ini Arga. Bima memberi nomormu. Besok keluarga saya akan mengirim orang untuk membicarakan akad. Kamu masih bisa mundur.`

Safira membaca pesan itu berkali-kali.

Lalu ia mengetik.

`Saya tidak mundur. Tapi saya ingin akad dilakukan dengan benar. Ada wali, saksi, mahar, dan semua dokumen resmi. Saya tidak mau jadi rahasia yang mudah dibuang.`

Balasan Arga datang tidak sampai satu menit.

`Kamu tidak akan jadi rahasia yang mudah dibuang.`

Safira menatap layar lama.

Ia tidak tahu apakah harus percaya.

Tapi untuk pertama kalinya hari itu, dadanya terasa sedikit longgar.

Seperti ada pintu kecil yang terbuka.

Dan dari balik pintu itu, udara luar masuk.

Di sisi lain kota, Arga masih duduk di dalam mobil ketika pesan Safira masuk. Bima di kursi kemudi menoleh beberapa kali, menunggu komentar, tetapi Arga hanya membaca layar dengan wajah yang sulit ditebak.

"Dia minta akad yang benar?" tanya Bima akhirnya.

"Iya."

"Bagus. Berarti dia bukan tipe yang mudah diseret."

Arga tidak menjawab.

Bima bersandar. "Ga, kamu sadar kan? Kalau kamu lanjut, ini bukan lagi sekadar membuat keluarga Santoso menolak. Gadis itu benar-benar akan jadi istrimu."

"Saya sadar."

"Dan dia tidak tahu kamu siapa."

Arga menatap jalan di depan. Lampu merah memantul di kaca mobil tua yang mereka pinjam khusus untuk sandiwara hari itu.

"Justru karena itu saya ingin lihat bagaimana dia memilih."

"Dia memilih jalan keluar, bukan kamu."

Kalimat Bima tepat sasaran.

Arga menyimpan ponsel. "Saya tahu."

"Terus?"

"Kalau dia butuh jalan keluar, setidaknya saya pastikan jalan itu tidak membawanya ke tempat yang lebih buruk."

Bima menghela napas. "Kalimatmu mulai terdengar berbahaya."

"Kenapa?"

"Karena kamu biasanya tidak peduli sejauh ini."

Arga tidak membantah.

Bayangan Safira yang berdiri di ruang tamu dengan nampan kosong masih tertinggal di kepalanya. Perempuan itu tidak memohon. Tidak menjual kesedihan. Tidak juga berpura-pura tertarik pada apa yang bisa ia berikan.

Ia hanya berkata ingin jalan keluar.

Entah kenapa, Arga ingin menjadi jalan yang cukup aman untuk dilewati.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!