Seminggu berlalu. Waktu berjalan tanpa terasa namun perubahan di dalam rumah itu terasa begitu nyata. Bukan perubahan besar yang langsung terlihat.
Pagi hari.
Seperti biasa, Harsa sudah bersiap untuk berangkat kerja. Jasnya rapi, wajahnya kembali seperti biasa, tenang, datar, dan sulit ditebak. Ia melangkah turun ke ruang makan.
Meja sudah terisi sarapan namun bukan buatan Arsyi.
“Pagi, Pak,” sapa Mbak Sari sopan.
Harsa mengangguk singkat.
“Pagi.” Ia duduk, mengambil sendok, lalu bertanya tanpa menatap,
“Arsyi di mana?”
“Di kamar Non Melodi, Pak,” jawab Mbak Sari.
Harsa terdiam sejenak.
“Belum keluar?”
“Sejak subuh sudah di sana, Pak. Tadi bayi sempat rewel.”
Harsa mengangguk pelan.
“Iya.”
Hanya itu namun ada sesuatu yang terasa begitu janggal.
Harsa selesai makan lebih cepat dari biasanya. Ia berdiri, merapikan jasnya, lalu berkata,
“Saya berangkat.”
“Baik, Pak.”
Namun, langkahnya terhenti sejenak di depan tangga. Ia menoleh ke arah atas namun beberapa detik kemudian ia menggeleng pelan.
“Tidak perlu,” gumamnya dan ia pergi.
Di dalam kamar.
Arsyi duduk di samping Melodi yang sedang terlelap. Wajahnya terlihat lebih tenang. Namun bukan karena bahagia. Melainkan karena ia sudah berhenti berharap.
Tangannya mengusap lembut pipi bayi itu.
“Yang penting kamu…” bisiknya pelan, “cukup.”
Malam hari, pukul sebelas. Mobil Harsa kembali memasuki halaman rumah. Seperti hari-hari sebelumnya namun kali ini ia langsung turun tanpa menoleh ke jendela. Tidak lagi berharap melihat seseorang menunggunya. Ia sudah tahu jawabannya.
Lampu ruang tamu menyala, tapi kosong. Harsa berjalan perlahan, lalu berhenti di ruang makan. Makanan sudah tidak ada dan meja makan terlihat bersih. Tidak ada tanda seseorang menunggunya. Ia berdiri cukup lama di sana dan entah kenapa hatinya terasa lebih berat.
“Sudah makan…” gumamnya.
Padahal sebelumnya ia selalu pulang dan menemukan makanan di meja.
Di lantai atas, Harsa melangkah masuk pelan.
“Arsyi…” panggilnya lirih dan tidak ada jawaban.
Ia mendekat…
Terpaksa Turun Ranjang
Bab 23
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments
Noorjamilah Sulaiman
biasa ceo ada assistant lelaki'y yg serba serbi bisa,ni ceonya tiada ya
2026-08-27
0
Ririn Nursisminingsih
ni ceo kom goblok nurut aja sama sekretarisnya gak tegess belass
2026-05-16
0
Naufal Affiq
manusia bodoh ya seperti mu harsa,murah percaya dengan omongan orang
2026-04-24
0