Vanya mematung di samping ranjang. Jantungnya berdegup kencang melihat Aiden yang biasanya pecicilan kini terkapar dengan napas memburu seolah sedang lari maraton dalam mimpi.
Keringat bercucuran dari pelipis Aiden, membasahi bantal hingga lembap.
"Kak! Kak Iden! Bangun!" Vanya mengguncang bahu Aiden dengan tangan gemetar.
Tiba-tiba, tangan kekar Aiden menyambar pergelangan tangan Vanya.
Matanya terbuka, namun bukan tatapan teduh yang Vanya dapatkan, melainkan tatapan liar yang berkilat-kilat merah.
"Van...kamu..masukin apa ke kopi aku?" suara Aiden berat, serak, dan penuh penekanan.
"G-gula, Kak! Aku pikir itu gula dari Mami!" jawab Vanya panik, mencoba melepaskan cengkeraman Aiden.
Aiden tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan satu sentakan kuat, ia menarik Vanya hingga jatuh ke atas dadanya.
Tubuh Aiden terasa sangat panas, jauh melebihi suhu demam biasanya.
"Itu bukan gula, Sayang..itu racun dari Mami," bisik Aiden tepat di telinga Vanya.
Napas panasnya membuat bulu kuduk Vanya meremang.
Tanpa aba-aba, Aiden langsung menerkam bibir Vanya dengan liar.
Ciu mannya tidak lagi lembut seperti kemarin, tapi menuntut dan penuh rasa lapar yang tak tertahankan.
Vanya sempat memberontak, namun kekuatan Aiden yang sedang di bawah pengaruh bubuk stamina Mami Bella benar-benar tidak masuk akal.
"Kak..hmmmpp..lepasin..Kak Iden!" Vanya meronta, namun Aiden justru semakin gencar menjelajahi leher hingga ke pundak Vanya.
Vanya mulai merasakan sensasi aneh.
Aiden melepaskan daster Vanya dengan kasar, matanya mengunci setiap inci tubuh istrinya.
"Kak...pelan..hmmm..." rintih Vanya saat tangan Aiden mulai membelai pah anya dengan posisi yang sangat intim.
Aiden benar-benar kehilangan kontrol. Ia memposisikan dirinya di atas Vanya yang sudah pasrah.
Tanpa peringatan atau aba-aba, Aiden langsung menghujam ma suk, membuat Vanya membelalakkan mata dan berteriak tertahan.
"KIYAHHH! SAKITTT KAK! HUWAAAA!"
Vanya meringis, air mata mulai menetes di sudut matanya.
Ia merasakan hantaman emosi dan gairah yang meledak-ledak. Aiden memeluknya dari atas, bergerak dengan ritme yang cepat dan konstan.
"Hmpff..Kak...stop..hmmm..." gumam Vanya sambil menutupi wajahnya dengan bantal karena malu dan lemas.
Aiden benar-benar betah berjam-jam. Pengaruh bubuk itu membuat staminanya seolah tak ada habisnya.
Ronde demi ronde terlewati, sprei sudah berantakan entah ke mana.
Ca iran tubuh mereka bercampur, bahkan asupan Vanya sampai tumpah-tumpah karena Aiden yang begitu liar.
"Ntar k…
ASI Anak SMA
bab.122
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 182 Episodes
Comments
@Diz_pena.
alamakk
2026-06-28
0
Linda Muslimah
lanjut kak 🤭🤣🤣🤣🤣
2026-06-04
0
Andita septiani
lanjutt kakss👍👍😍
2026-03-28
0