TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

Insiden kecil

Pagi itu, seorang TNI-AD berpangkat Kapten, menyetir mobilnya menuju markas. Seragam PDH rapi, nama Ravela Natakusuma tercetak jelas di dada kanannya.

Usianya 28 tahun, belum menikah, dan disiplin adalah prinsip utama. Sebagai Komandan Kompi Yonif, ia akan memimpin apel pagi ini, jadi terlambat sama sekali bukan pilihan.

Saat melaju di jalan yang masih sepi, seekor kucing tiba-tiba menyeberang.

“Eh, kucing!” seru Ravela spontan sambil menekan rem mendadak.

Mobilnya berhenti mendadak, namun dari belakang, sebuah mobil tak sempat menghindar dan menabrak bagian belakang mobil Ravela.

“Ya ampun! Astaga—aduh, mobilnya!” Ravela terkejut kedua kalinya, jantungnya berdetak kencang. Ia segera menarik napas, menepikan mobil, dan keluar untuk mengecek keadaan.

Di sisi lain, pria di mobil belakang, Kaivan Wiratama, lebih sering dipanggil Kai, tengah sibuk menatap tablet, mengecek laporan proyek perusahaan properti dan konstruksinya, Wiratama Group.

Pendapatan tahunannya bisa mencapai triliunan rupiah, dan usianya yang sudah tiga puluh dua tahun belum membuatnya ingin menikah.

Baginya, pekerjaan jauh lebih penting daripada hal-hal yang merepotkan, termasuk urusan wanita.

Tiba-tiba mobilnya terdorong sedikit oleh sopirnya, Opi, yang mengerem mendadak. Kaivan menoleh. “Ada apa, pak Opi?” tanyanya.

“Ada mobil yang mengerem mendadak, Den. Jadi saya nabrak sedikit,” jawab Opi.

Kaivan mengangguk, “Oke, turun sebentar. Ajak pengendara itu bicara,” katanya.

Opi menuruti. Tak lama, Opi mengetuk jendela mobil Kaivan.

"Kenapa, Pak? Apa yang dia katakan?" tanya Kaivan.

"Pengendara mobil itu ingin berbicara langsung dengan Aden langsung,” kata Opi.

Kaivan menatap wanita berseragam TNI-AD tengah menunduk mengecek keadaan mobilnya sehingga ia tak bisa melihat wajah dari wanita itu.

Ia turun, melangkah mendekat, sambil berdehem halus. Wanita itu menoleh, dan pandangan mereka bertemu.

Kaivan terpaku sesaat. Cantik, tapi bukan cantik biasa, wajahnya tegas, mata tajam, dan aura keberanian yang memikat.

Untuk pertama kalinya, Kaivan melihat seorang tentara perempuan yang memancarkan pesona luar biasa.

“Mas! Mas tidak apa-apa kan?” suara wanita itu menembus kebingungan Kaivan.

Kaivan tersadar. “I–iya, saya tidak apa-apa,” jawabnya, menepis kekakuan sejenak.

Ravela melangkah mendekat, sedikit cemas. “Maaf, tadi saya harus mengerem mendadak karena ada kucing yang tiba-tiba menyeberang. Bagian depan mobil Anda jadi sedikit penyok. Saya akan bertanggung jawab.”

Kaivan tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, tidak perlu diganti.”

Namun Ravela tetap bersikeras. “Tapi saya harus bertanggung jawab. Bisa minta nomor ponselnya, Mas?” Ia menatap Kaivan dengan serius tapi terburu-buru.

Kaivan menatap Ravela beberapa saat, kemudian mengeluarkan kartu nama dari dompetnya.

Ravela mengambilnya tanpa melihat. “Terima kasih, Mas. Nanti saya hubungi,” katanya cepat.

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Ravela masuk ke dalam mobil lalu menyalakan dan memacu kendaraannya meninggalkan Kaivan.

Kaivan menatap mobil itu menjauh sambil tersenyum tipis. Tanpa menunggu lama, ia kembali masuk ke dalam mobil.

“Ayo, kita berangkat. Sebentar lagi ada rapat,” perintah Kaivan. Opi mengangguk dan menyalakan mesin, mobil melaju meninggalkan jalan itu.

Ravela sampai di gerbang markas Yonif 714, mobilnya berhenti rapi di sisi lapangan apel. Ia menatap barisan prajurit yang sudah tertata rapi, wajah-wajah mereka fokus, beberapa masih terlihat mengantuk.

Tanpa menunggu lama, Ravela keluar dari mobil, sepatu hitam mengkilap menapak di aspal lapangan.

Di tengah lapangan, Letnan Satu Dimas Wicaksana, Wakil Komandan Kompi, sudah menunggu dengan tablet di tangan, siap membantu mengatur teknis lapangan dan disiplin prajurit.

Sersan Mayor Bima Santosa, Bintara Tinggi Kompi, berdiri di depan barisan, memantau kesiapan dan disiplin prajurit.

Ravela menarik napas sebentar, menegakkan punggung, lalu bersuara lantang. “Selamat pagi, Kompi!”

“Selamat pagi, Komandan!” jawab seluruh barisan serentak, suara mereka tak kalah lantang.

Ravela menatap barisan, matanya menelusuri setiap wajah prajurit. “Cek kehadiran! Peleton I, lapor!”

“Siap, Komandan! Semua hadir dan lengkap, Komandan!” jawab Letnan Dua Kirana Lestari dengan tegas, ia merupakan sahabat Ravela.

“Peleton II, lapor!”

“Siap, Komandan! Peleton II lengkap dan siap, Komandan!” ucap Letnan Dua Rendy Prakoso.

“Peleton III, lapor!”

“Siap, Komandan! Peleton III lengkap!” jawab Letnan Dua Fajar Nugraha, Perwira Peleton III.

Ravela mengangguk, puas. “Bagus. Bintara peleton, pastikan prajurit kalian menepati posisi dan menjaga postur. Jangan ada yang melamun atau tidak fokus. Ingat, disiplin itu dimulai dari detail terkecil.”

Sersan Mayor Bima Santosa mengangguk, menatap prajurit dan mengawasi barisan dengan ketat. “Setiap pelanggaran akan dicatat. Pastikan semuanya rapi,” katanya pada prajurit bintara dan perwira peleton.

Ravela menepuk tangan sekali. “Kita mulai dengan pemanasan ringan. Angkat tangan, gerakkan bahu, kaki tegap, dan atur pernapasan. Jangan sampai ada yang santai. Latihan hari ini panjang, jadi siapkan tubuh kalian!”

Prajurit mulai bergerak mengikuti instruksi. Ravela berjalan perlahan di antara barisan, menegur yang salah posisi, memuji yang melakukan tepat.

“Rendy, posisi senjatamu masih miring. Betulkan sekarang!”

“Siap, Komandan!”

“Fajar, pastikan jarak antar prajurit Peleton III tepat satu langkah. Jangan lebih dan jangan kurang,” perintah Ravela.

“Siap, Komandan!”

Ravela menoleh ke Dimas. “Lettu, catat setiap gerakan dan evaluasi. Ingat, teknis lapangan dan disiplin adalah tanggung jawab kita, bukan hanya prajurit.”

“Siap, Komandan,” jawab Dimas sambil menatap tablet.

Ravela menepuk tangannya lagi. “Hari ini kita fokus pada koordinasi tim, kecepatan gerakan, dan komunikasi. Latihan taktis akan dimulai setelah ini. Jangan lupa, keselamatan dan koordinasi adalah nomor satu.”

Seorang prajurit muda mengangkat tangan. “Komandan, bagaimana jika ada kondisi darurat di tengah latihan?”

Ravela menatapnya dengan tegas, tapi suaranya tenang. “Itu bagian dari latihan. Tetap tenang, ikuti prosedur, dan laporkan segera ke saya atau bawahan terdekat. Jangan bertindak sendiri.”

Seluruh barisan mengangguk, fokus penuh pada perintah Kapten mereka.

“Bagus. Sekarang, lanjutkan ke latihan senjata. Pastikan setiap gerakan presisi. Peleton I, mulai formasi. Peleton II dan III, siap menyesuaikan,” ucap Ravela tegas.

Barisan bergerak seperti satu kesatuan. Letnan Dua Kirana, Rendy, dan Fajar mengatur peleton masing-masing.

Latihan pun telah selesai.

“Bagus, Kompi! Hari ini kalian menunjukkan koordinasi yang baik. Tapi ingat, disiplin tidak berhenti di sini. Bawa itu ke setiap tugas dan misi kalian,” ujar Ravela.

“Siap, Komandan!” serentak seluruh prajurit menjawab, suara mereka tegas dan penuh hormat.

Ravela tersenyum tipis, menatap barisan. “Istirahat sebentar. Setelah itu, kita lanjut briefing singkat. Ingat, kalian adalah wajah Yonif 714, tampil rapi, disiplin, dan profesional di setiap kesempatan.”

“Siap, Komandan!”

Ravela duduk di mejanya di ruang kerja Komandan Kompi Yonif 714. Pagi yang sibuk di lapangan apel baru saja usai, dan kini ia menatap laporan-laporan latihan prajurit yang menumpuk di mejanya.

Pena digenggamnya, sesekali menandai catatan penting, tapi pikirannya tetap melayang pada sesuatu yang belum sempat ia urus.

“Ah ya... aku belum menghubungi pria itu,” gumam Ravela sambil membuka tas dan memeriksa semua saku seragamnya.

Ia mengangkat tas ke meja, mengacak-acak nya dengan hati-hati, tapi kartu nama yang diberikan pria pagi tadi tak kunjung terlihat.

“Lho kartu nama itu mana? Harusnya ada di sini,” ujarnya sambil menelusuri setiap lipatan tas, sedikit panik. “Kalau hilang bagaimana aku bisa ganti rugi?”

Terpopuler

Comments

Sinchan Gabut

Sinchan Gabut

Pertemuan awalnya buat kicep pak CIO nih. Cantik bgt ya pak, Bu Ravela? 😍 Terimakasih empus udah lewat 🤭

2026-01-14

2

tami

tami

menunggu cerita manis antara kai dan ravela nih 🤩 apa jadinya yaa kai yg seorang pebisnis nikah dengan kowad yg tegas 🤗 mana sama2 disiplin lagi

2026-01-13

1

Pengabdi Uji

Pengabdi Uji

Tentaranya cantik, awal ketemu garagara kucing🤣🤣 Gimana klo mrka kawin ya? Dan dominan tentara nya ato ceo nya ni🤭

2026-01-14

1

lihat semua
Episodes
1 Insiden kecil
2 Hilang dan putus
3 Permintaan terakhir
4 Perintah mendadak
5 Kepergian Ravela
6 Tanpa mempelai wanita
7 Fakta Ravela untuk Kaivan
8 Kepergian Aditya selama-lamanya
9 Misi penyelamatan
10 Ravela kritis
11 Feeling seorang suami
12 Kepulangan ke Tanah Air
13 Bertemu ibu mertua
14 Apakah itu dia?
15 Dia...
16 Tidak mengenali suami sendiri
17 Bibir bersentuhan
18 Canggung
19 Kenyataan
20 Dibawa ke tenda Kaivan
21 Morning kiss
22 Beri waktu
23 Bertemu Jovan
24 Ravela diinterogasi
25 Lagu dari Jovan
26 Lagu atau suara hati Ravela?
27 Kamar mandi
28 Kirana tahu rahasia Ravela
29 Ungkapan hati Tari
30 Keberangkatan ke Jakarta
31 Resmi
32 Ke Hotel
33 Kamar hotel
34 Gagal
35 Bertemu Zidan
36 Kekecewaan Raynand
37 Just a kiss
38 Gosip pernikahan
39 Izin ke istri
40 Tidak bisa jauh
41 Bertemu sahabat
42 Fitting Gaun
43 Upacara pedang pora
44 Resepsi
45 Night Party
46 Jovan yang menjengkelkan
47 Malam pertama yang tertunda (21+)
48 Morning activity (21+)
49 Tawaran honeymoon
50 Bali
51 Gazebo in love
52 Keinginan Kaivan
53 Kejutan
54 PDKT Kirana dan Raynand
55 Promise
56 Membuat sarapan untuk istri
57 Cita-cita dari kecil
58 Kekesalan Ravela
59 Komitmen
60 Perdebatan kecil
61 Mengajak Ravela
62 Ada Jovan
63 Memberikan peringatan
64 Sedikit tentang Zidan
65 Obrolan Kaivan dan Dharma
66 Penculikan Keisha
67 Perintah ke Ravela
68 Misi penyelamatan (2)
69 Ravela tertembak
70 Mimpi buruk
71 Double date?
72 Perintah lagi
73 Sampai di Magelang
74 Rencana Jovan
75 Pelukan rindu (18+)
76 Mencuri kesempatan
77 Harapan
78 Acara Akmil
79 Aksi nekat Jovan
80 Kemarahan Kaivan
81 Ravela hamil
82 Kondisi Ravela memprihatinkan
83 Dendam Selena
84 Ravela pulang
85 Seperti nyata
86 Undangan dari Zidan
87 Launching kafe Zidan
88 Rasa yang tertinggal
89 Aku dan dia
90 Dilema
91 Berencana untuk cerita
92 Pengakuan
93 Penyesalan
94 Hadiah misterius
95 Menghubungi Zidan (18+)
96 Mendatangi Zidan
97 Berdebat
98 Menghindar
99 Kiriman Bunga
100 Rindu
101 Saling menggenggam
102 Balas dendam Selena
103 Kedatangan Raynand dan Kirana
104 Zidan tertembak
105 Cinta membawa duka
106 Khawatir
107 Kondisi Zidan
108 Luka, Cinta, dan Pengorbanan
109 Diamnya Ravela
110 Cemburu dan balas dendam
111 Bolehkah kalau aku egois?
112 Kalian prioritas utamaku
113 Kematian Selena
114 Liburan
115 Hadiah dan kepergian Zidan
116 Isi surat Zidan
117 Tahun baru
118 Keputusan yang berat
119 Lamaran Raynand dan Kirana
120 Perintah mendadak Kirana
121 Hampir khilaf
122 Mengetahui jenis kelamin
123 Alyssa dijebak
124 Mengambil alih Alyssa
125 Pada akhirnya (21+)
126 Tekat Alvaro
127 Ancaman Alvaro
128 Keputusan
129 Pertunangan Alyssa & Jeffrey
130 Pertemuan
131 Rasa penasaran Zora
132 Persalinan Ravela
133 Kenyataan pahit
134 Dilema Alyssa
135 Harapan
136 Mukjizat
137 Alvaro mendatangi rumah Alyssa
138 Kemarahan Darren
139 Bukti
140 Takdir yang digariskan Tuhan
141 Kepulangan Ravela
142 Kevandra Natha Wiratama
143 Konsekuensi
144 Rencana Wisnu dan Yudistira
145 Cinta dan Amarah
146 Perhatian kecil
147 Mencari perhatian
148 Teman curhat
149 Kedatangan Alvaro dan orang tuanya
150 Kecurigaan
151 Ijab kabul
152 Flashback Jeffrey
153 Coba mengikhlaskan
154 Ravela masih marah
155 Takdir yang rumit
156 Kerinduan yang cukup menyiksa
157 Mengetahuinya
158 Menyembunyikan dari Alyssa
159 Acara syukuran
160 Salah paham
161 Penangkapan Yudistira
162 Vania tahu diri
163 Tetangga tak terduga
164 Pelukan seorang Ibu
165 Menghabiskan waktu
166 Perpisahan
167 Jaga dan bahagiakan Alyssa
168 Hampir saja
169 Janji suci Raynand dan Kirana
170 Ke Bali
171 Kedatangan Zidan
172 Resepsi Raynand dan Kirana
173 Malamnya Raynand dan Kirana (21+)
174 Kebanjiran (21+)
175 Alyssa melahirkan
176 Menjenguk Alyssa dan bayinya
177 Switzerland
178 Mimpi
179 Berita kehamilan
180 Kabar bahagia
181 Akhir bahagia
Episodes

Updated 181 Episodes

1
Insiden kecil
2
Hilang dan putus
3
Permintaan terakhir
4
Perintah mendadak
5
Kepergian Ravela
6
Tanpa mempelai wanita
7
Fakta Ravela untuk Kaivan
8
Kepergian Aditya selama-lamanya
9
Misi penyelamatan
10
Ravela kritis
11
Feeling seorang suami
12
Kepulangan ke Tanah Air
13
Bertemu ibu mertua
14
Apakah itu dia?
15
Dia...
16
Tidak mengenali suami sendiri
17
Bibir bersentuhan
18
Canggung
19
Kenyataan
20
Dibawa ke tenda Kaivan
21
Morning kiss
22
Beri waktu
23
Bertemu Jovan
24
Ravela diinterogasi
25
Lagu dari Jovan
26
Lagu atau suara hati Ravela?
27
Kamar mandi
28
Kirana tahu rahasia Ravela
29
Ungkapan hati Tari
30
Keberangkatan ke Jakarta
31
Resmi
32
Ke Hotel
33
Kamar hotel
34
Gagal
35
Bertemu Zidan
36
Kekecewaan Raynand
37
Just a kiss
38
Gosip pernikahan
39
Izin ke istri
40
Tidak bisa jauh
41
Bertemu sahabat
42
Fitting Gaun
43
Upacara pedang pora
44
Resepsi
45
Night Party
46
Jovan yang menjengkelkan
47
Malam pertama yang tertunda (21+)
48
Morning activity (21+)
49
Tawaran honeymoon
50
Bali
51
Gazebo in love
52
Keinginan Kaivan
53
Kejutan
54
PDKT Kirana dan Raynand
55
Promise
56
Membuat sarapan untuk istri
57
Cita-cita dari kecil
58
Kekesalan Ravela
59
Komitmen
60
Perdebatan kecil
61
Mengajak Ravela
62
Ada Jovan
63
Memberikan peringatan
64
Sedikit tentang Zidan
65
Obrolan Kaivan dan Dharma
66
Penculikan Keisha
67
Perintah ke Ravela
68
Misi penyelamatan (2)
69
Ravela tertembak
70
Mimpi buruk
71
Double date?
72
Perintah lagi
73
Sampai di Magelang
74
Rencana Jovan
75
Pelukan rindu (18+)
76
Mencuri kesempatan
77
Harapan
78
Acara Akmil
79
Aksi nekat Jovan
80
Kemarahan Kaivan
81
Ravela hamil
82
Kondisi Ravela memprihatinkan
83
Dendam Selena
84
Ravela pulang
85
Seperti nyata
86
Undangan dari Zidan
87
Launching kafe Zidan
88
Rasa yang tertinggal
89
Aku dan dia
90
Dilema
91
Berencana untuk cerita
92
Pengakuan
93
Penyesalan
94
Hadiah misterius
95
Menghubungi Zidan (18+)
96
Mendatangi Zidan
97
Berdebat
98
Menghindar
99
Kiriman Bunga
100
Rindu
101
Saling menggenggam
102
Balas dendam Selena
103
Kedatangan Raynand dan Kirana
104
Zidan tertembak
105
Cinta membawa duka
106
Khawatir
107
Kondisi Zidan
108
Luka, Cinta, dan Pengorbanan
109
Diamnya Ravela
110
Cemburu dan balas dendam
111
Bolehkah kalau aku egois?
112
Kalian prioritas utamaku
113
Kematian Selena
114
Liburan
115
Hadiah dan kepergian Zidan
116
Isi surat Zidan
117
Tahun baru
118
Keputusan yang berat
119
Lamaran Raynand dan Kirana
120
Perintah mendadak Kirana
121
Hampir khilaf
122
Mengetahui jenis kelamin
123
Alyssa dijebak
124
Mengambil alih Alyssa
125
Pada akhirnya (21+)
126
Tekat Alvaro
127
Ancaman Alvaro
128
Keputusan
129
Pertunangan Alyssa & Jeffrey
130
Pertemuan
131
Rasa penasaran Zora
132
Persalinan Ravela
133
Kenyataan pahit
134
Dilema Alyssa
135
Harapan
136
Mukjizat
137
Alvaro mendatangi rumah Alyssa
138
Kemarahan Darren
139
Bukti
140
Takdir yang digariskan Tuhan
141
Kepulangan Ravela
142
Kevandra Natha Wiratama
143
Konsekuensi
144
Rencana Wisnu dan Yudistira
145
Cinta dan Amarah
146
Perhatian kecil
147
Mencari perhatian
148
Teman curhat
149
Kedatangan Alvaro dan orang tuanya
150
Kecurigaan
151
Ijab kabul
152
Flashback Jeffrey
153
Coba mengikhlaskan
154
Ravela masih marah
155
Takdir yang rumit
156
Kerinduan yang cukup menyiksa
157
Mengetahuinya
158
Menyembunyikan dari Alyssa
159
Acara syukuran
160
Salah paham
161
Penangkapan Yudistira
162
Vania tahu diri
163
Tetangga tak terduga
164
Pelukan seorang Ibu
165
Menghabiskan waktu
166
Perpisahan
167
Jaga dan bahagiakan Alyssa
168
Hampir saja
169
Janji suci Raynand dan Kirana
170
Ke Bali
171
Kedatangan Zidan
172
Resepsi Raynand dan Kirana
173
Malamnya Raynand dan Kirana (21+)
174
Kebanjiran (21+)
175
Alyssa melahirkan
176
Menjenguk Alyssa dan bayinya
177
Switzerland
178
Mimpi
179
Berita kehamilan
180
Kabar bahagia
181
Akhir bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!