NovelToon NovelToon

TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

Insiden kecil

Pagi itu, seorang TNI-AD berpangkat Kapten, menyetir mobilnya menuju markas. Seragam PDH rapi, nama Ravela Natakusuma tercetak jelas di dada kanannya.

Usianya 28 tahun, belum menikah, dan disiplin adalah prinsip utama. Sebagai Komandan Kompi Yonif, ia akan memimpin apel pagi ini, jadi terlambat sama sekali bukan pilihan.

Saat melaju di jalan yang masih sepi, seekor kucing tiba-tiba menyeberang.

“Eh, kucing!” seru Ravela spontan sambil menekan rem mendadak.

Mobilnya berhenti mendadak, namun dari belakang, sebuah mobil tak sempat menghindar dan menabrak bagian belakang mobil Ravela.

“Ya ampun! Astaga—aduh, mobilnya!” Ravela terkejut kedua kalinya, jantungnya berdetak kencang. Ia segera menarik napas, menepikan mobil, dan keluar untuk mengecek keadaan.

Di sisi lain, pria di mobil belakang, Kaivan Wiratama, lebih sering dipanggil Kai, tengah sibuk menatap tablet, mengecek laporan proyek perusahaan properti dan konstruksinya, Wiratama Group.

Pendapatan tahunannya bisa mencapai triliunan rupiah, dan usianya yang sudah tiga puluh dua tahun belum membuatnya ingin menikah.

Baginya, pekerjaan jauh lebih penting daripada hal-hal yang merepotkan, termasuk urusan wanita.

Tiba-tiba mobilnya terdorong sedikit oleh sopirnya, Opi, yang mengerem mendadak. Kaivan menoleh. “Ada apa, pak Opi?” tanyanya.

“Ada mobil yang mengerem mendadak, Den. Jadi saya nabrak sedikit,” jawab Opi.

Kaivan mengangguk, “Oke, turun sebentar. Ajak pengendara itu bicara,” katanya.

Opi menuruti. Tak lama, Opi mengetuk jendela mobil Kaivan.

"Kenapa, Pak? Apa yang dia katakan?" tanya Kaivan.

"Pengendara mobil itu ingin berbicara langsung dengan Aden langsung,” kata Opi.

Kaivan menatap wanita berseragam TNI-AD tengah menunduk mengecek keadaan mobilnya sehingga ia tak bisa melihat wajah dari wanita itu.

Ia turun, melangkah mendekat, sambil berdehem halus. Wanita itu menoleh, dan pandangan mereka bertemu.

Kaivan terpaku sesaat. Cantik, tapi bukan cantik biasa, wajahnya tegas, mata tajam, dan aura keberanian yang memikat.

Untuk pertama kalinya, Kaivan melihat seorang tentara perempuan yang memancarkan pesona luar biasa.

“Mas! Mas tidak apa-apa kan?” suara wanita itu menembus kebingungan Kaivan.

Kaivan tersadar. “I–iya, saya tidak apa-apa,” jawabnya, menepis kekakuan sejenak.

Ravela melangkah mendekat, sedikit cemas. “Maaf, tadi saya harus mengerem mendadak karena ada kucing yang tiba-tiba menyeberang. Bagian depan mobil Anda jadi sedikit penyok. Saya akan bertanggung jawab.”

Kaivan tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, tidak perlu diganti.”

Namun Ravela tetap bersikeras. “Tapi saya harus bertanggung jawab. Bisa minta nomor ponselnya, Mas?” Ia menatap Kaivan dengan serius tapi terburu-buru.

Kaivan menatap Ravela beberapa saat, kemudian mengeluarkan kartu nama dari dompetnya.

Ravela mengambilnya tanpa melihat. “Terima kasih, Mas. Nanti saya hubungi,” katanya cepat.

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Ravela masuk ke dalam mobil lalu menyalakan dan memacu kendaraannya meninggalkan Kaivan.

Kaivan menatap mobil itu menjauh sambil tersenyum tipis. Tanpa menunggu lama, ia kembali masuk ke dalam mobil.

“Ayo, kita berangkat. Sebentar lagi ada rapat,” perintah Kaivan. Opi mengangguk dan menyalakan mesin, mobil melaju meninggalkan jalan itu.

Ravela sampai di gerbang markas Yonif 714, mobilnya berhenti rapi di sisi lapangan apel. Ia menatap barisan prajurit yang sudah tertata rapi, wajah-wajah mereka fokus, beberapa masih terlihat mengantuk.

Tanpa menunggu lama, Ravela keluar dari mobil, sepatu hitam mengkilap menapak di aspal lapangan.

Di tengah lapangan, Letnan Satu Dimas Wicaksana, Wakil Komandan Kompi, sudah menunggu dengan tablet di tangan, siap membantu mengatur teknis lapangan dan disiplin prajurit.

Sersan Mayor Bima Santosa, Bintara Tinggi Kompi, berdiri di depan barisan, memantau kesiapan dan disiplin prajurit.

Ravela menarik napas sebentar, menegakkan punggung, lalu bersuara lantang. “Selamat pagi, Kompi!”

“Selamat pagi, Komandan!” jawab seluruh barisan serentak, suara mereka tak kalah lantang.

Ravela menatap barisan, matanya menelusuri setiap wajah prajurit. “Cek kehadiran! Peleton I, lapor!”

“Siap, Komandan! Semua hadir dan lengkap, Komandan!” jawab Letnan Dua Kirana Lestari dengan tegas, ia merupakan sahabat Ravela.

“Peleton II, lapor!”

“Siap, Komandan! Peleton II lengkap dan siap, Komandan!” ucap Letnan Dua Rendy Prakoso.

“Peleton III, lapor!”

“Siap, Komandan! Peleton III lengkap!” jawab Letnan Dua Fajar Nugraha, Perwira Peleton III.

Ravela mengangguk, puas. “Bagus. Bintara peleton, pastikan prajurit kalian menepati posisi dan menjaga postur. Jangan ada yang melamun atau tidak fokus. Ingat, disiplin itu dimulai dari detail terkecil.”

Sersan Mayor Bima Santosa mengangguk, menatap prajurit dan mengawasi barisan dengan ketat. “Setiap pelanggaran akan dicatat. Pastikan semuanya rapi,” katanya pada prajurit bintara dan perwira peleton.

Ravela menepuk tangan sekali. “Kita mulai dengan pemanasan ringan. Angkat tangan, gerakkan bahu, kaki tegap, dan atur pernapasan. Jangan sampai ada yang santai. Latihan hari ini panjang, jadi siapkan tubuh kalian!”

Prajurit mulai bergerak mengikuti instruksi. Ravela berjalan perlahan di antara barisan, menegur yang salah posisi, memuji yang melakukan tepat.

“Rendy, posisi senjatamu masih miring. Betulkan sekarang!”

“Siap, Komandan!”

“Fajar, pastikan jarak antar prajurit Peleton III tepat satu langkah. Jangan lebih dan jangan kurang,” perintah Ravela.

“Siap, Komandan!”

Ravela menoleh ke Dimas. “Lettu, catat setiap gerakan dan evaluasi. Ingat, teknis lapangan dan disiplin adalah tanggung jawab kita, bukan hanya prajurit.”

“Siap, Komandan,” jawab Dimas sambil menatap tablet.

Ravela menepuk tangannya lagi. “Hari ini kita fokus pada koordinasi tim, kecepatan gerakan, dan komunikasi. Latihan taktis akan dimulai setelah ini. Jangan lupa, keselamatan dan koordinasi adalah nomor satu.”

Seorang prajurit muda mengangkat tangan. “Komandan, bagaimana jika ada kondisi darurat di tengah latihan?”

Ravela menatapnya dengan tegas, tapi suaranya tenang. “Itu bagian dari latihan. Tetap tenang, ikuti prosedur, dan laporkan segera ke saya atau bawahan terdekat. Jangan bertindak sendiri.”

Seluruh barisan mengangguk, fokus penuh pada perintah Kapten mereka.

“Bagus. Sekarang, lanjutkan ke latihan senjata. Pastikan setiap gerakan presisi. Peleton I, mulai formasi. Peleton II dan III, siap menyesuaikan,” ucap Ravela tegas.

Barisan bergerak seperti satu kesatuan. Letnan Dua Kirana, Rendy, dan Fajar mengatur peleton masing-masing.

Latihan pun telah selesai.

“Bagus, Kompi! Hari ini kalian menunjukkan koordinasi yang baik. Tapi ingat, disiplin tidak berhenti di sini. Bawa itu ke setiap tugas dan misi kalian,” ujar Ravela.

“Siap, Komandan!” serentak seluruh prajurit menjawab, suara mereka tegas dan penuh hormat.

Ravela tersenyum tipis, menatap barisan. “Istirahat sebentar. Setelah itu, kita lanjut briefing singkat. Ingat, kalian adalah wajah Yonif 714, tampil rapi, disiplin, dan profesional di setiap kesempatan.”

“Siap, Komandan!”

Ravela duduk di mejanya di ruang kerja Komandan Kompi Yonif 714. Pagi yang sibuk di lapangan apel baru saja usai, dan kini ia menatap laporan-laporan latihan prajurit yang menumpuk di mejanya.

Pena digenggamnya, sesekali menandai catatan penting, tapi pikirannya tetap melayang pada sesuatu yang belum sempat ia urus.

“Ah ya... aku belum menghubungi pria itu,” gumam Ravela sambil membuka tas dan memeriksa semua saku seragamnya.

Ia mengangkat tas ke meja, mengacak-acak nya dengan hati-hati, tapi kartu nama yang diberikan pria pagi tadi tak kunjung terlihat.

“Lho kartu nama itu mana? Harusnya ada di sini,” ujarnya sambil menelusuri setiap lipatan tas, sedikit panik. “Kalau hilang bagaimana aku bisa ganti rugi?”

Hilang dan putus

Ketukan pintu terdengar diikuti suara lembut.

“Masuk,” panggil Ravela.

Pintu terbuka, dan Letnan Dua Kirana masuk membawa map tebal. Meski sahabat dekat, di markas ia tetap memanggil Ravela dengan panggilan resmi, dan Ravela memanggil Kirana sesuai jabatannya.

“Izin, Komandan. Ini laporan latihan hari ini,” ucap Kirana sambil menyerahkan map ke Ravela.

“Letakkan saja di meja, Letda,” kata Ravela sambil menepuk beberapa dokumen lain agar Kirana menaruh dokumen yang dibawanya disana.

Tangannya masih sibuk mengacak tasnya, matanya tidak lepas dari setiap lipatan yang mungkin menyimpan kartu nama.

Kirana menaruh map di meja, lalu menatap sahabatnya dengan mata penuh perhatian. “Komandan, anda terlihat cemas. Ada apa?”

Ravela menegakkan punggungnya sejenak, menatap sahabatnya, lalu memutuskan membuka cerita. “Tadi pagi aku sempat mengalami kecelakaan kecil di jalan, itu yang membuatku datang sedikit terlambat ke markas.”

Mata Kirana membulat. “Kecelakaan kecil? Apa yang terjadi? Kamu nggak apa-apa, kan?”

Ravela menggeleng. “Aku nggak apa-apa. Tadi aku hampir menabrak kucing yang tiba-tiba menyeberang, jadi aku mengerem mendadak. Mobil di belakangku nggak sempat menghindar dan menabrak bagian belakang mobilku, membuat bagian depan mobil orang itu sedikit penyok. Aku ingin bertanggung jawab, tapi kartu namanya malah hilang.”

“Tapi serius, kamu nggak terluka, kan?” tanya Kirana, wajahnya terlihat khawatir.

“Enggak, Kirana. Aku baik-baik saja,” jawab Ravela pelan. “Sekarang aku bingung gimana cara menghubungi orang itu untuk mengganti kerusakan mobilnya.”

Kirana mengernyit, mencoba memahami. “Sebelumnya kamu simpan di mana kartu itu?”

“Di tas ini,” jawab Ravela sambil menunjuk tasnya. “Tapi sekarang entah kenapa nggak ada di semua saku atau lipatan. Aku sudah cek berulang kali.”

“Mungkin saja kartu nama itu jatuh di mobilmu, atau terselip di kursi. Jangan terlalu panik dulu. Nanti pasti ketemu.”

Ravela menarik napas panjang, mengangguk pelan. “Iya, mungkin kamu benar.”

Kirana menatap Ravela sebentar, lalu berkata, “Baiklah, Komandan. Aku pamit dulu, ada beberapa peleton yang menunggu instruksi latihan berikutnya.”

“Baik, Letda. Terima kasih,” jawab Ravela sambil menatap sahabatnya pergi, lalu kembali fokus pada laporan di mejanya.

Tak lama kemudian, ponsel Ravela berdering.

Nama yang muncul di layar ponsel membuatnya sedikit tersenyum, Jovan, kekasihnya. Tujuh tahun mereka menjalin hubungan, namun belakangan Ravela merasa semuanya berjalan di tempat, datar, tanpa kepastian dari Jovan.

Ravela mengangkat telepon. “Ya, sayang?”

“Ravela... nanti aku ingin mengajakmu makan malam,” suara Jovan terdengar datar. “Ada sesuatu yang ingin aku katakan.”

“Apa yang ingin kamu katakan?”

“Nanti saja saat kita ketemu biar lebih jelas,” jawab Jovan.

“Oke, aku tunggu. Sampai nanti, ya.” Ravela menutup telepon dan menaruh ponsel di atas meja.

Ia kembali menatap laporan latihan, Ravela tetap sibuk menandai catatan penting. Tapi pikirannya sesekali melayang pada pria yang menabrak mobilnya pagi tadi.

Ravela hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, bagaimana ia harus menepati tanggung jawabnya jika kartu nama itu benar-benar hilang.

Malam itu, restoran tidak terlalu ramai. Ravela duduk di seberang Jovan, piring kosong di depannya menandakan makan malam sudah selesai. Ia menatap lurus, menunggu apa yang akan dikatakan Jovan.

“Ravela, aku ingin kita putus,” kata Jovan tiba-tiba, dengan wajah datarnya.

Ravela menatap Jovan terkejut tak percaya. “Apa?! Kenapa tiba-tiba kamu putusin aku? Apa aku ngelakuin hal yang salah?”

Jovan menggeleng. “Enggak, kamu nggak salah. Tapi orang tuaku nggak merestui hubungan kita. Mereka nggak mau aku menikah dengan seorang tentara. Mereka ingin aku bersama perempuan yang menurut mereka setara dengan keluarga kami. Sekarang, aku sudah menemukannya, dan orang tuaku merestui hubungan kami.”

Ravela menatap Jovan, matanya tajam, lalu tertawa pelan, bukan tawa bahagia, tapi sinis. “Jadi selama tujuh tahun ini aku menunggu, berharap, dan menanti ternyata semua sia-sia karena orang tuamu nggak setuju?”

Ravela menunduk sebentar lalu menatap Jovan lagi, “Dan karena itu kamu nggak melamar ku sampai sekarang? Kamu bahkan bilang, kamu sekarang sedang dekat dengan wanita lain? Kamu waras? Seharusnya kamu bilang dari awal, supaya aku nggak menunggu kepastian dari kamu!” ucapnya dengan nada tegas.

“Ravela, aku nggak ingin menyakiti dan membuatmu menunggu. Aku ingin orang–”

Ravela mengangkat tangan, menghentikan Jovan berbicara. “Sudah cukup,” katanya. “Aku paham semuanya.”

Ravela kini berdiri di hadapan Jovan mengulurkan tangannya, wajah tetap tenang tapi tatapan matanya menusuk.

Jovan bingung, menatap tangan Ravela sejenak, lalu membalas uluran itu.

"Selamat atas hubunganmu dengan wanita itu. Semoga kamu bahagia bersamanya.” Ravela menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskan genggaman itu. Tanpa aba-aba, tangannya mengepal dan meninju wajah Jovan dengan keras.

BUGH!

Jovan seketika tersungkur ke lantai, bibirnya robek dan mengeluarkan darah. Beberapa pengunjung menoleh, beberapa menahan napas.

“Apa maksudmu memukul ku, Ravela?!” kata Jovan marah sambil memegang wajahnya.

Ravela menatap Jovan datar. “Anggap saja ini hadiah perpisahan dariku. Kamu masih beruntung karena aku nggak membunuhmu.”

Ravela mengambil tasnya, melirik sebentar Jovan yang masih terkapar di lantai, lalu berbalik pergi tanpa ragu keluar dari restoran.

Tidak ada emosi, tidak air mata yang keluar dari mata Ravela. Hanya ada perasaan kecewa yang dalam tertanam di hatinya.

Mobil Ravela berhenti di halaman rumah. Ia turun, merapikan tas di bahunya, lalu melangkah masuk.

Begitu pintu terbuka, langkahnya melambat. Di ruang tamu, orang tuanya tampak sedang mengobrol dengan sepasang suami-istri paruh baya.

Saat Ravela masuk, semua percakapan terhenti. Empat pasang mata menoleh ke arahnya, lalu senyum-senyum ramah pun muncul.

“Akhirnya kamu pulang juga,” ucap Nadira sambil tersenyum. “Duduk sini dulu nak,” lanjutnya.

Ravela berjalan mendekat. Ia lebih dulu menyalami ayah dan ibunya dengan hormat, lalu beralih ke tamu di hadapannya. Tangannya terulur dengan sopan.

“Selamat malam, Om, Tante,” ucapnya sambil menyalami Aditya dan Keisha bergantian.

“Selamat malam,” balas Aditya ramah.

Keisha menggenggam tangan Ravela sejenak, senyumnya hangat. “Selamat malam, Nak. Ini Ravela, ya?” tanyanya memastikan.

“Iya, Tante,” jawab Ravela singkat sambil tersenyum.

Nadira ikut menimpali, “Iya, Kei. Ini Ravela, anak sulungku. Ravela, kenalkan, ini Tante Keisha dan Om Aditya. Sahabat Ayah sama Bunda.”

“Salam kenal, Om, Tante,” kata Ravela dengan sopan dan duduk di samping Ibunya.

“Salam kenal juga, Ravela. Akhirnya kami bisa bertemu langsung denganmu,” ucap Aditya.

Aditya lalu menoleh ke arah Dharma. “Anakmu ini mengikuti jejakmu sebagai tentara, kan, Dhar?”

Dharma tersenyum kecil. Beliau merupakan pensiunan TNI Angkatan Darat dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. “Benar, Dit. Sekarang dia sudah menjadi Kapten,” ucapnya bangga.

“Wah, hebat sekali. Di usia semuda ini sudah berpangkat Kapten,” ujar Keisha dengan nada kagum.

Ravela hanya tersenyum tipis. “Terima kasih, Tante.”

“Itu bukan pencapaian yang mudah. Apalagi untuk perempuan,” timpal Aditya.

“Iya, Om. Semua butuh proses dan kerja keras,” balas Ravela berusaha untuk tetap sopan.

Obrolan pun berlanjut. Ravela hanya sesekali menimpali, lebih sering mengangguk dan tersenyum. Ia berusaha terlihat tenang, menyembunyikan kekecewaan yang baru saja ia terima dari Jovan.

“Kai sekarang benar-benar pegang semua urusan perusahaan,” ucapnya pelan. “Sejak aku sakit, dia hampir tidak pernah melepas tanggung jawab itu.”

Dharma mengangguk. “Saya dengar, sejak Kaivan yang memegang langsung, perkembangan Wiratama Group cukup pesat.”

“Iya. Kerjanya nyaris tidak kenal waktu. Pulang sering larut, bahkan kadang lupa makan. Aku sebagai ibunya tentu khawatir,” timpal Keisha.

Nadira tersenyum tipis. “Anak laki-laki memang sering begitu kalau sudah tenggelam dengan pekerjaannya.”

Keisha menghela napas pelan. “Yang membuat kami makin khawatir, umurnya sudah tiga puluh dua, tapi soal menikah selalu dihindari. Setiap kami singgung, jawabannya cuma ingin fokus kerja.”

Aditya tersenyum kecil, ada lelah di matanya. “Padahal kalau soal tanggung jawab, Kai tidak pernah lari. Cuma untuk urusan hati, dia terlalu tertutup.”

“Mungkin belum menemukan orang yang tepat,” ujar Dharma hati-hati.

Ravela tetap diam. Ia mendengarkan semua pembicaraan tentang Kaivan tanpa menyela, seolah hanya menjadi pendengar biasa.

Tak lama, Ravela melirik jam di pergelangan tangannya.

“Bunda, Ayah. Aku izin ke kamar. Ada beberapa berkas yang ingin aku periksa,” ucap Ravela.

Nadira mengangguk. “Iya nak, jangan sampai begadang.”

“Iya, Nak. Silakan,” kata Keisha.

Ravela berdiri. “Permisi dulu, Om, Tante,” pamitnya, lalu melangkah menuju kamarnya, meninggalkan ruang tamu yang kembali dipenuhi obrolan orang-orang dewasa.

Permintaan terakhir

Beberapa bulan kemudian...

Sejak satu minggu terakhir, kondisi Aditya Wiratama terus menurun. Kanker paru-paru yang selama ini ia lawan akhirnya membuat tubuhnya menyerah.

Pagi itu, ia masih terbaring kritis di ruang VVIP sebuah rumah sakit besar di Jakarta, tubuhnya kurus, kulitnya tampak lebih pucat dari biasanya.

Dulu ia dikenal sebagai sosok yang gagah dan berwibawa, sekarang napasnya saja terdengar berat, dan kini harus terhubung dengan berbagai alat medis.

Keisha duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan suaminya yang dingin. Matanya sembab, wajahnya lelah karena hampir tidak tidur sejak seminggu lalu. Bibirnya bergerak pelan, tak henti berdoa.

“Tuhan... sembuhkan lah suamiku,” bisik Keisha lirih. “Kalau masih ada waktu untuk kami, beri dia kekuatan. Jangan ambil dia sekarang. Aku masih ingin dia ada di sini.”

Air mata jatuh satu per satu ke punggung tangan Aditya.

“Pah...kamu dengar, kan? Kamu harus bangun. Aku masih butuh kamu. Kaivan juga butuh kamu.”

Di sisi lain ranjang, Kaivan berdiri memandangi ayahnya. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat kusut. Ia meraih tangan Aditya yang lain dan menggenggamnya erat.

“Papah,” ucap Kaivan pelan, menahan getar di suaranya. “Papah harus bangun. Masih banyak hal yang mau Kai ceritakan. Proyek yang lagi Kai kerjakan, rencana-rencana yang belum sempat Kai bilang ke Papah.”

Kaivan menunduk sedikit dan lebih mendekat. “Papah kalau bangun, Kai janji bakal nurut. Apa pun yang Papah mau, Kai lakukan. Asal Papah jangan tinggalin kami dulu.”

Tak ada jawaban. Hanya bunyi alat medis yang memecah kesunyian.

Kaivan menghela napas panjang, lalu menatap ibunya. “Mah, Kai ke kantor sebentar, ada rapat. Nanti pas jam istirahat Kai balik lagi ke sini.”

Keisha mengangguk pelan. “Hati-hati di jalan, Nak. Jangan ngebut bawa mobilnya.”

“Iya, Mah.”

Kaivan duduk di ruang rapat Wiratama Group. Meja panjang berlapis kaca dipenuhi tablet, laptop, dan berkas-berkas proyek.

Di layar besar di ujung ruangan terpampang peta kawasan yang akan dibangun menjadi kompleks perumahan baru.

“Target kita menyelesaikan tahap pertama dalam delapan belas bulan. Lokasinya strategis, dekat pintu tol dan pusat kota. Potensi kenaikan nilai propertinya tinggi,”ujar Hendra, manajer proyek sambil menunjuk layar.

Kaivan mengangguk tipis. “Delapan belas bulan itu cukup cepat. Semua risikonya sudah dihitung?”

“Sudah, Pak,” jawab Hendra cepat. “Kami hitung berdasarkan kondisi lahan yang relatif datar dan akses logistik yang mudah.”

“Kalau begitu,” Kaivan menoleh ke sisi lain meja, “Bagaimana dengan anggaran tahap pertama?”

“Untuk anggaran tahap pertama, kami perkirakan sekitar lima ratus miliar. Laba bersih perusahaan masih tergolong tinggi,” ujar Rudi dari bagian keuangan angkat bicara.

Kaivan menatap Rudi serius. “Angka itu sudah termasuk cadangan untuk biaya tak terduga?”

“Sudah, Pak. Kami sisipkan sekitar sepuluh persen untuk antisipasi.”

Kaivan mengangguk lagi. “Baik. Jangan sampai kita mengorbankan kualitas hanya demi mengejar target.”

Hendra kembali menampilkan slide berikutnya. “Untuk desain, kami mengusung konsep hunian modern dengan ruang hijau cukup luas. Ini akan jadi nilai jual utama.”

“Pastikan konsep itu benar-benar diterapkan, bukan cuma di brosur. Konsumen sekarang lebih kritis,” potong Kaivan.

“Dipahami, Pak,” kata Hendra.

Suasana rapat terus berjalan, suara para eksekutif saling bergantian memaparkan detail demi detail.

Kaivan mendengarkan, sesekali mengajukan pertanyaan tajam, meski pikirannya melayang ke kondisi ayahnya.

Tiba-tiba Sandy, asistennya, melangkah mendekat dan membungkuk sedikit di sampingnya. Dengan suara sangat pelan, ia berbisik, “Maaf Pak, Pak Aditya sudah sadar.”

Kaivan tersentak. Tatapannya langsung berubah. “Apa katamu? Papa saya sudah sadar?”

Sandy mengangguk. “Pihak rumah sakit baru saja menelepon.”

Kaivan berdiri begitu saja, membuat semua orang di ruangan itu menatap ke arahnya. “Maaf. Rapat kita hentikan di sini. Kita lanjutkan besok,” ucapnya tegas.

“Pak, tapi kita belum—” Ucapan Hendra langsung di potong Kaivan.

“Saya katakan besok!”

Kaivan melangkah keluar dari ruang rapat dengan langkah cepat, meninggalkan para eksekutif yang saling berpandangan.

Ia berjalan ke basement parkir. Beberapa menit kemudian mobilnya sudah melaju kencang menuju rumah sakit.

Setibanya di rumah sakit, Kaivan hampir berlari menuju ruang VVIP tempat Ayahnya di rawat.

Pintu terbuka, dan benar saja, Aditya kini sudah membuka mata, meski tubuhnya masih lemah dan tak banyak bergerak. Keisha berdiri di samping ranjang, tapi wajahnya justru terlihat murung.

“Pah...” Kaivan mendekat, menggenggam tangan ayahnya. “Akhirnya Papah sadar.”

Aditya menoleh sedikit. Suaranya terdengar sangat lemah. “Kai...”

“Iya, Pah. Kai di sini.”

“Papah punya satu permintaan sama kamu.”

Kaivan menelan ludah. Bertanya-tanya apakah permintaan dari ayahnya itu. “Papah mau apa? Selama Kai sanggup, akan Kai lakukan.”

“Papah ingin kamu menikahi anak sahabat Papah.”

Mata Kaivan membulat dan langsung terpaku beberapa detik. “M–menikah?”

Aditya mengangguk lemah. “Papah mau lihat kamu menikah sebelum Papah pergi.”

“Pah, jangan ngomong seperti itu,” sela Keisha dengan mata berkaca-kaca.

Kaivan menarik napas. “Pah... kalau permintaan Papah yang lain Kai akan turuti, tapi jangan ini. Kai belum ada kepikiran untuk menikah.”

Aditya menatap putranya, matanya sayu tapi penuh harap. “Anggap saja ini permintaan terakhir Papah.”

Kaivan terdiam cukup lama, entah apa yang dipikirkannya sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Baik. Kai mau kalau itu bikin Papah senang. Tapi Papah harus sehat.”

Aditya tersenyum tipis, lalu matanya kembali terpejam.

Beberapa saat kemudian, Keisha mengajak Kaivan keluar sebentar ke kafetaria rumah sakit.

“Calon istrimu bernama Ravela Natakusuma. Umurnya dua puluh delapan tahun. Dia seorang tentara–”

Kaivan langsung menoleh memotong ucapan Keisha. “Apa? Seorang tentara?” tanyanya kaget.

“Iya. Ravela memang seorang tentara.”

“Mah, yang benar saja. Dari dulu kan Mamah tahu aku paling nggak suka dengan profesi itu. Dan sekarang aku malah disuruh menikahi tentara?” ucap Kaivan kesal.

“Terus kenapa? Ada masalah?”

Kaivan menghela napas panjang. “Kai cuma takut, Mah.”

“Apa yang kamu takutkan?” tanya Keisha.

“Kai takut menikah dengan tentara karena pasti dia akan lebih memilih tugas daripada suaminya sendiri. Dan lebih dari itu, Kai takut merasa nggak dibutuhkan,” jawab Kaivan jujur.

Keisha menghela napas dalam, seolah menimbang kata-katanya. “Kai... Mamah mengerti ketakutanmu. Mamah nggak akan memaksamu langsung menerimanya,” ucapnya pelan.

Keisha menatap Kaivan lebih dalam. “Tapi kamu ingat apa yang kamu ucapkan di samping ranjang Papah mu tadi?” tanyanya.

Kaivan menegang.

“Kamu bilang akan melakukan apa pun yang Papah minta, asal Papah sehat dan permintaan itu sangat berarti bagi Papah,” lanjut Keisha dengan suara yang bergetar. “

Kaivan menunduk, rahangnya terlihat mengeras.

“Mamah tidak sedang menakut-nakuti kamu. Tapi kondisi Papah mu saat ini sedang kritis. Setiap harapan kecil menjadi pegangan untuknya bertahan,” kata Keisha cepat, suaranya melembut lagi.

Keisha menggenggam tangan Kaivan perlahan. “Kalau kamu menarik kata-katamu sekarang Mamah takut itu justru membuat Papah kehilangan semangatnya.”

...****************...

Malam harinya, di kamar luas bernuansa hitam dan abu, Kaivan tengah duduk bersandar di headboard ranjang.

Ponselnya masih ada di tangannya, layar menampilkan sebuah foto yang baru saja dikirimkan oleh Ibunya beberapa menit lalu.

Itu foto Ravela, yang akan menjadi calon istrinya.

Usai perdebatan panjang dengan Keisha, Kaivan akhirnya menerima perjodohan tersebut demi sang ayah.

Dalam pesan itu Keisha berkata.

“Ini foto calon istri mu. Foto ini diambil waktu dia baru lulus di sekolah perwira dulu. Mamah tidak punya foto dia yang sekarang.”

Di foto itu, Ravela mengenakan seragam taruna. Rambutnya dipotong pendek, wajahnya terlihat tegas, kulitnya tampak lebih gelap karena sering berada di lapangan. Tatapannya lurus ke kamera, tanpa senyum.

Kaivan menggeser ponselnya sedikit, menatap foto itu lebih lama. “Ini yang akan jadi calon istriku?” gumamnya pelan.

Ia menghela napasnya berat terdengar frustasi. “Mamah bilang dia cantik, tapi lihat ini, bahkan dia terlihat sangat kaku..."

Kaivan menatap langit-langit kamarnya, “Aku nggak pernah membayangkan akan menikahi seorang Tentara,” ucapnya pelan, nada suaranya penuh campuran tak percaya dan kesal.

Kaivan menutup ponsel, meletakkannya di meja nakas. “Sebenarnya aku ingin menolak. Tapi ini permintaan Papah dan aku nggak bisa nolak permintaannya.”

Ia memejamkan mata sejenak. Ingatannya tiba-tiba melompat pada sebuah insiden kecil dengan sosok tentara perempuan waktu itu.

Kaivan langsung menggelengkan kepala. “Kenapa tiba-tiba aku malah kepikiran tentara itu,” gumamnya pelan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!