"Hello gais! welcome back my channel! dengan dua gadis pemberani disini! okey gais sesuai dengan rekom kalian, jadi kita disini mau menulusuri rumah hantu yang kalian maksud" ucap gadis berkuncir kuda sembari membaca satu persatu komentar yang berjalan dilayar handphonenya, dia agak kecewa setelah melihat banyak hujatan diberikan olehnya.
Sungguh iya hanya ingin menjadi yutuber yang terkenal namun caranya selalu salah dengan cara mengeprank penontonnya.
Seperti kemarin, dia tak bisa makan kaca akhirnya ia membuat coklat yang terlihat sama dengan kaca dan berkata jika itu kaca asli namun kebohongannya terbongkar saat sahabatnya malah menaruh kaca asli bukan kaca yang telah dibentuk coklat alhasil dirinya mendapat hujatan sekaligus masuk rumah sakit selama satu bulan lamanya.
"Ngeprank apa lagi sih ini?"
"Gak mempan tau nggak pranknya!"
"Mending ganti nama channel aja gih jadi dua gadis cupu wkwkwk"
"Neng cantik sini temenin abang aja hahaha"
"Sok-sokan berani! padahal mental hello kitty"
Begitulah komentar-komentar berjalan yang membuat Nina tersenyum masam.
"Kita buktiin aja!" bisik sahabat Nina, dia Alexsa. Membuat Nina tambah semangat.
"Kalau nggak percaya tuh liat! didepan ada rumah berhantu!" Nina menghadapkan kameranya tepat pada rumah yang sudah berdiri berpuluh-puluh tahun lamanya.
"Wih beneran!"
"Tumben channelnya asli?"
"Kalau berani maju dong!"
"Iya maju!"
"Kenapa disana aja!"
"Takut ya?"
Nina memberi kode ke Alexsa untuk maju,mereka berdua pun berjalan maju namun setelah dua langkah mereka terhenti karena kakek tua yang menghalangi jalannya.
"Jangan kesana" ucap kakek tua itu sembari menunduk, membuat kolom komentar yang tadinya ramai akan hujatan mendadak berhenti.
"Kek?"
"Cucu ku lagi tidur, kalau dia bangun dia akan marah"
Gleg.
Dua gadis itu saling pandang namun demi channel mereka berdua ramai mereka berdua harus melakukannya, kedua gadis itu berjalan pergi tanpa menghiraukkan kakek yang tiba-tiba datang tadi.
"Jangan mengganggu cucu saya" samar-samar kedua gadis itu mendengar teriakan kakek tadi namun tetap saja tak dihiraukan.
Krek.
Bunyi pintu usang yang dibuka oleh Nina,membuat hawa-hawa negatif langsung menyambut keduanya.
"Kita udah sampai gais! btw ini tengah malam loh!" sombong Nina kala tak ada lagi hujatan yang diberikan tapi malah komentar kagum.
Keempat kaki itu menyusuri rumah berhantu tersebut sembari mengarahkan kameranya kekanan dan kekiri.
Bruk.
Tiba-tiba suara benda jatuh dari lantai atas terdengar keras membuat keduanya saling pandang sekaligus membuat komentar-komentar tadi ramai, berisikan untuk menyuruh kedua gadis itu menghampiri asal suara.
Karena demi channel ramai, alhasil keduanya berjalan menuju lantai atas dengan Nina didepan dan Alexsa dibelakang sembari membawa kayu untuk berjaga-jaga.
"Putri" gumam Nina dengan kamera yang ia sorotkan ke pintu ruangan yang bertuliskan "putri" dan ada beberapa emot nangis.
Krek.
Pintu terbuka,Nina langsung berjalan maju dengan membawa senter.
"Jangan menggangguku!" gumam Nina lagi saat pandangan matanya tak sengaja melihat tulisan dicermin panjang dengan lumuran darah.
"Alexsa lihat ini! Alexsa? Alexsa! Jangan main-main plis!" mana sahabatnya itu? tiba-tiba saja menghilang.
Blam.
Blamm.
Tiba-tiba saja pintu kamar itu tertutup begitu juga dengan pintu ruangan bawah, Nina lantas belari menuju pintu kamar itu dan mengedor-ngedor, berharap bahwa sahabatnya itu mendengarkannya.
"BUKA!" teriak Nina dengan keringat yang bercucuran, sungguh ini amat menyeramkan.
"Gais! gais! tolong!" ucap panik Nina mengarahkan kameranya kewajahnya namun tiba-tiba sebuah kapak yang entah berasal dari mana mengenai lehernya hingga membuat leher itu tak lagi dibadannya.
Handphone terpelantir jauh tapi masih tetap menyalah, begitu juga dengan darah Nina yang memenuhi layar handphone itu.
"What!"
"Gila beneran!"
"Gue tadi liat ada kapak melayang!"
"Mati?!"
"Astaga! tolongin dong yang daerah sana!"
"Gue kebetulan daerah sana! biar gue aja!"
Tiba-tiba saja seseorang gadis yang menyerupai Nina tersenyum ke layar handphone.
"Tapi bohong!"
"Anj*ng!"
"Sia*an! gue mau kesana padahal!"
"Channel gila! gue report nih!"
"Dasar go*lok!"
"Nyesel gue like!"
"Tuhkan gue bilang apa! ini kan akal-akalan dia aja!"
Sosok itu tersenyum, lantas melempar handphone tadi hingga tak terbentuk.
"Tapi beneran...."