pada suatu hari, hiduplah seorang pemuda yang bernama jaka, ia seorang pemuda yang berusia 17 tahun, memiliki postur tubuh yang tinggi dan sangat rajin serta giat berlatih demi mewujudkan mimpinya. ia tinggal bersama ibunya. ibu Jaka ialah seorang pekerja keras yang sedang bekerja di pasar demi memenuhi kebutuhan sehari hari.
pada suatu saat, Jaka sedang termenung memikirkan sesuatu, yang dimana ia berimajinasi suatu saat ia ingin menjadi seorang tentara. memakai pakaian loreng dan baret gagah diatas kepalanya. sampai suatu ketika temannya menghampiri nya dan mengejutkannya. Jaka berkata “bah…, kamu ini aku sedang seru menghayal. teman Jaka yang bernama Doni berkata “maap maap, lagian kamu diam sendiri seperti orang yang terlilit hutang. “
“aku bermimpi ingin menjadi seorang tentara yang gagah” ia mengatakan nya sambil berpose dengan gagahnya.
“wah keren juga mimpimu, tapi itu butuh latihan yang keras dan biaya yang besar, memang kamu sanggup??” Doni berkata sambil meragukan.
Jaka kembali terdiam dan berpikir bagaimana kondisi rumahnya yang tidak mendukung mimpinya menjadi seorang tentara.
pada saat bel pulang, Jaka langsung berlari pulang dan pergi menemui ibunya yang sedang bekerja di pasar. dan saat tiba dipasar, Jaka melihat ibunya yang sedang membereskan dagangannya. ia pun berlari dan menemui ibunya sambil membantu ibunya yang sedang beres beres. ibu Jaka selalu tersenyum saat Jaka sudah pulang sekolah karena ia juga merupakan anak yang berbakti kepada orang tua.
“gimana sekolah kamu tadi” ibu Jaka bertanya sambil tersenyum
“sangat seru bu, Jaka bisa menjawab beberapa pertanyaan dari pak guru tadi”
ibu Jaka yang melihat itu pun tidak
berhenti tersenyum dan menjadi penyemangat baginya dari rasa lelah yang sudah menghantamnya.
saat mereka sudah selesai membereskan hasil dagangannya, mereka pun langsung menuju jalan pulang dan Jaka sambil bercerita, “ibu, memangnya jika kita ingin menggapai mimpi apakah semua itu harus membutuhkan biaya??” Jaka bertanya dengan ekspresi yang ragu ragu. ibu Jaka yang mendengar pun tersenyum dan menjelaskan kepada Jaka
“semua itu memang butuh biaya, tapi jika lah kita berusaha niscaya selalu ada jalannya”
Jaka pun tersenyum dan berjalan pulang dengan rasa senang dan gembiranya.
tetapi kesenangan itu hanya sebagai penghibur sementara. seketika mereka sampai dirumah mereka melihat ada 2 orang asing yang berhasil masuk ke dalam rumah Jaka. ibu Jaka yang melihat pun terkejut dan berlari ke arah rumahnya yang membuat dagangan sisa yang dipegang ibu Jaka pun terjatuh ke tanah. dan saat ibu Jaka hendak masuk, keluar 2 orang asing tersebut dari rumah Jaka sambil membawa televisi dan barang barang lain yang berada di dalam rumah Jaka. ibu Jaka berkata
“apa yang kamu lakukan, kembalikan barang barang kami” ibu Jaka berkata sambil mencoba menarik kembali barang barang mereka.
“pinggir kamu, hutang kamu sudah melampaui tempo hari yang ditentukan jadi kami akan mengambil semua isi yang ada dirumah kamu jika kamu tidak mampu melunasi hutang hutang itu” orang asing tersebut bicara dengan rasa sombongnya.
ibu Jaka yang mendengar pun menjadi sedih dan memohon kepada pria asing tersebut dan berkata “aku mohon berikan kami waktu seminggu lagi untuk melunasi hutang hutang itu”
“kami selalu memberi kalian waktu, tapi kamu menyia nyiapkan semuanya. jika 2 Minggu lagi kamu tidak melunasi hutang hutang itu maka kami tidak akan segan segan mengambil sertifikat rumah mu dan menjualnya ke bank” pria itu lalu pergi meninggalkan ibu Jaka dengan membawa barang barang yang mereka ambil dari rumah Jaka
Jaka yang melihat itu pun langsung tersentak dan langsung berlari menuju ibu Jaka. Jaka mencoba bertanya
“ibu, siapakah 2 orang asing tadi Bu. kenapa mereka mengambil barang barang milik kita bu??”
“mereka adalah 2 orang asing yang pernah dipinjam uangnya oleh ayah kamu semasa ia masih hidup, karena dulu ayahmu sangat naik namanya karena sering bermain judi dan meminjam sana sini, sampai suatu ketika saat ayah mu tidak memiliki uang lagi ia meminjam ke pinjol untuk bermain judi”
Jaka yang mendengar pun tersentak dan terkejut karena, ia baru mendengarkan cerita ini karena dulu ia masih tinggal bersama nenek saat masih berusia sangat dini. Jaka pun langsung membawa ibunya ke dalam rumah dan menyuruh ibunya untuk beristirahat. setelahnya saat Jaka ingin tidur, ia masih terbayang bayang dengan cerita ibu tadi dan bermimpi jika suatu saat mimpinya terwujud ia akan membalas mereka mereka yang selalu mencoba menjatuhkan harga diri ibu Jaka.
keesekonnya, Jaka yang ingin pergi kesekolah bersiap dan membantu ibunya membawa barang dagangan untuk dibawa ke pasar. saat mereka jalan menuju ke arah pasar, Jaka melihat barisan para anggota tentara yang berbaris rapih dan gagahnya melewati Jaka. Jaka yang melihat pun kagum karena betapa kerennya mereka saat melangkah dan baret diatas kepala. ibu Jaka pun memanggil Jaka
“Jaka ayo nak, nanti kamu telat”
“ah iya iya Bu” Jaka menjawab sambil berlari
setelah mereka sampai dipasar, Jaka pun berpamitan dengan ibunya dan langsung lari menuju kesekolah karena takut ia terlambat masuk sekolah.
suatu saat, Jaka sedang istirahat setelah mengerjakan tugas tugas yang amat begitu banyak. teman Jaka pun datang menghampirinya dan menceritakan sesuatu tentang lomba pentas yang akan diadakan disekolah
“Jaka, kamu tau nggak Minggu depan kita akan mengadakan lomba pentas disekolah, dan lombannya ada salah satu keahlian kamu yaitu membaca puisi. ayok ikut!!”
“ah aku tidak terlalu pandai membaca puisi apalagi membuatnya” ujar Jaka dengan bosannya
“tapi jika kita belum mencoba nya kita tidak akan tau, lagian hadiah jika kita menang lomba ini cukup besar Jaka hampir setara untuk beli hp android merek terbaru”
Jaka pun berpikir kembali jika ia bisa memenangkan lomba pentas itu, mungkin ia bisa membantu ibunya dirumah dan melunasi hutang hutang ayahnya.
“okelah kalo begitu aku ikut”
“nah gitu dong” Doni menjawab dengan hati yang riang.
bel pulang sekolah pun berbunyi, Jaka yang seperti biasa langsung berlari pulang menuju ke pasar untuk menjemput ibunya. sesampainya Jaka dipasar ia tidak melihat ibunya di tempat dagangan nya seperti biasa. Jaka pun berpikir mungkin ibunya sudah pulang duluan karena biasanya jika ibu Jaka pulang cepat tandanya jualannya habis diborong orang. Jaka pun langsung berlari menuju kerumah. tapi saat sampai dirumah Jaka pun terkejut karena ia juga tidak menemukan ibunya dirumah. Jaka pun menunggu ibunya kembali sampai larut malam yang membuat ia sudah mulai mengantuk dan tak kuasa untuk menahannya lagi
seketika ia pun tertidur. tak berselang lama ibu Jaka kembali dengan raut wajah yang lelah dan kusam. ibu yang melihat Jaka tertidur diruang tamu pun, langsung membangunkan Jaka untuk pindah tidur di dalam. Jaka dalam kondisi tidak sadar karena ia sangat ngantuk berat dan tidak mengetahui jika ibunya sudah sampai dirumah.
keesokannya, saat Jaka ingin pergi kesekolah. ia melihat dirumah sudah tidak ada siap siapa lagi. ia mencoba mencari ibunya tetap tidak ada satupun tanda tanda keberadaannya. sampai Jaka melihat ada satu buah kertas yang terletak di atas meja. ia mencoba membukanya dan ternyata itu pesan dari ibunya
“nak, ibu pergi kerja dulu ya… maap kalo ibu tidak sempat menemani kamu pergi sekolah. uang jajan kamu ada diatas lemari nanti kamu sarapan disekolah ya nak”
Jaka yang melihat pesan dari sang ibu pun, menangis karena ia seharian tidak berjumpa dengan ibunya. saat ia melihat jam sudah hampir masuk sekolah, ia langsung bergegas dan pergi menuju kesekolah
pada saat pulang, seperti biasa ia tidak melihat ibunya yang berada dirumah sampai larut malam pun ia tidak tau ibunya kemana, begitu juga keesekonnya ia tidak melihat ibunya yang selalu menyiapkan dagangan nya untuk di pasar. kejadian itu selalu berulang sampai suatu ketika, Jaka yang sedang beres beres dirumah sehabis pulang sekola mendengar banyak nya suara suara segerombolan orang orang di depan rumahnya. Jaka pun membuka pintunya dan melihat ibunya yang sedang digendong oleh warga sekitar. Jaka pun langsung menghampiri ibunya dan membawanya ke kamar ibunya Jaka. Jaka pun bertanya kepada bapak bapak yang membantu membawa ibunya kerumah.
“pak, kenapa ibu saya kenapa ia bisa jadi seperti ini” Jaka bertanya dengan rasa cemas
“ibu kamu terjatuh, saat ingin membantu orang membawakan barang barang yang berat” ujar bapak tersebut.
Jaka yang mendengar pun terkejut. karena ia tidak mengetahui jika ibunya punya kerja tambahan diluar sana. saat warga sudah pergi, Jaka pun merawat ibunya dan bertanya
“kenapa ibu bisa begini”. ibu Jaka terdiam dan akhirnya bercerita. rupanya ibu Jaka berkerja dari pagi hari sampai larut malam untuk mencari uang tambahan demi melunasi hutang hutang ayahnya dan keperluan mereka sehari hari. Jaka yang mendengar kan cerita ibunya langsung menangis dan ia berjanji
“bu… sekarang ibu istirahat saja ya, biar Jaka yang akan bantu ibu sekarang. Jaka berjanji Jaka akan bantu ibu semampunya Jaka” Jaka berkata dengan air mata yang selalu menetes ke bajunya.
“nak, fokus untuk belajar supaya kamu bisa menggapai mimpi mu sampai suatu saat nanti” ibu Jaka menjawab dengan lemasnya
“ibu lah impian Jaka, ibu orang hebat yang pernah Jaka temui tapi sekarang Jaka akan bantu ibu. jika Jaka mampu menggapai mimpi tapi ibuk tidak disana untuk melihatnya untuk apa Jaka mati matian menggapai mimpi itu Bu. Jaka janji Jaka akan bantu ibu tanpa mengganggu belajar Jaka”
ibu Jaka pun terharu, dan memeluk Jaka untuk meluapkan rasa lelahnya selama ini. keesokannya Jaka pergi dengan membawa dagangan ibunya ke sekolah yaitu kue kue manis yang selalu dijual ibunya ke pasar. tanpa rasa malu ia menjual nya ke teman teman dan kakak kelas nya saat sedang waktu rehat. saat ada sisa ia langsung memberikan nya kepada mereka yang kurang mampu. betapa baiknya hari Jaka disaat kondisi terpuruk pun ia juga masih ingin berbagi dengan satu sama lain. ia lakukan sampai seterusnya dengan rasa semangat demi membantu ibunya.
pada suatu ketika, saat ia hendak pulang kerumah debgan membawa tas yang berisi kue habis laku terjual, ia melihat ada 2 pria asing yang masuk kembali kerumahnya. ternyata mereka adalah 2 rentenir yang sebelumnya pernah datang kerumah Jaka dan membawa barang barangnya. kini mereka kembali dan mengambil sertifikat tanah dari rumah Jaka. ibunya yang tak sanggup untuk bergerak hanya pasrah, yang membuat Jaka berlari dan mencoba menghalangi mereka
“mau apa kamu, jangan menghalangi saya atau kamu akan terima akibatnya” rentenir itu berkata dengan kasarnya
“balikkan sertifikat itu, itu hak kami itu milik kami” Jaka menjawab sambil merebut sertifikat itu ditangan rentenir tersebut.
rentenir itu pun langsung mendorong Jaka, dan kembali masuk kerumah Jaka untuk menarik ibunya keluar rumah. rentenir itu berteriak sekencang kencangnya sehingga membuat warga langsung terpacu kepada mereka.
“bapak ibu, lihat lah lihat mereka yang tidak mampu melunasi hutang hutangnya dan mereka tidak tau berterima kasih karena mereka sudah dibantu selama ini”
rentenir itu menjawab dengan songongnya
para warga pun menjadi ibah melihat perlakuan ibu Jaka dan Jaka. setelah mempermalukan mereka Jaka pun bangkit dan memberikan hasil jualannya selama ini untuk menutupi hutang hutangnya. walau tidak seberapa setidaknya hanya ini yang mereka bisa. rentenir itu pun menerima nya dan berkata
“boleh juga, tapi uang ini tidak cukup untuk mengembalikan sertifikat tanah ini jadi kami akan tahan sementara sampai kamu dan ibu kamu melunasi semua hutang hutang itu” rentenir itu berkata sambil pergi meninggalkan Jaka
setelahnya Jaka langsung membawa ibunya masuk ke dalam rumah dan beristirahat di kamar. Jaka pun kecewa karena tidak berhasil mempertahankan sertifikat rumah mereka. ibu Jaka pun yang melihat langsung menasehati Jaka dan berkata
“ tidak apa apa sayang, kamu sudah buat yang terbaik yang penting kita serahkan aja sama Allah. biar Allah yang akan membalas nya jadi teruslah berdoa walau sesulit apapun rintangannya”
Jaka yang mendengar pun tersentuh dan kembali tersenyum setelah mendengar ibunya. saat Jaka sedang tidur, ia terbangun dan ingin mengambil air di dapur. saat ia ingin kembali ke kamar ia melihat ibunya yang sedang berdoa.
“ya Allah, berikan lah kami kesehatan dan rejeki yang melimpah ya Allah. kuatkan lah anak hamba dan kabulkan lah segala mimpinya dan jadikan lah ia anak yang berhasil suatu saat nanti ya Allah”
jaka yang mendengar doa sang ibu pun terharu dan langsung kembali ke kamar. sampai dikamar ia termenung bagaimana cara ia bisa membantu ibunya kembali. hingga ia berpikir tawaran tentang lomba pentas puisi yang pernah diceritakan oleh temannya Doni. pada saat itu juga ia langsung menulis puisi nya. sampai waktu hari lomba sudah tiba
segalanya sudah ia persiapkan dan tiba lah saatnya ia menaiki diatas pentas. ia membacakan puisi dengan lantang dan tegas. ternyata puisi ini menceritakan tentang perjuangan sang ibu yang rela berkorban demi segalanya untuk ia. banyak orang yang tersentuh mendengar cerita Jaka. sampai penentuan pemenang Jaka merasa deg degan karena ia pasti merasa tidak mungkin ia bisa menang. tapi ia mengingat satu hal. jika kita belum mencoba kita tidak akan tau. dan ternyata…..
Jaka berhasil menang dalam lomba pentas itu dan meraih menjadi pemenang utama. ia pun girang dan senang lalu berlari pulang ke rumahnya. tapi saat diperjalanan ia melihat sebuah poster dimana ada pendaftaran untuk calon calon Akmil baru yang akan dibuka Minggu depan. Jaka yang melihat pun langsung berpikir dengan uang hadiah ini mungkin Jaka bisa masuk ke dalam seleksi tersebut tapi sayangnya uang itu akan ia pakai untuk membantu ibunya.
sampai ada seseorang yang melihatnya dari belakang.
“apa yang kamu lakukan nak”
“eh tidak pak saya hanya melihat poster ini”
“kami tertarik untuk masuk kesana??” ujar pria itu dengan serius
“iya pak tapi memang belum waktunya saya masuk karena biaya saya tidak mencukupi”
“bagaimana kalo kamu masuk tanpa biaya apapun”
Jaka yang mendengar pun terkejut dan berkata
“ha apaini serius pak”
“iya saya serius, asal kamu mau berlatih dan berusaha untuk meraihnya” pria itu berkata dengan menyemangati nya
“wah saya mau pak, saya akan berusah demi bisa mendapatkan nya”
selesai mendengarkan tawaran tersebut Jaka langsung pulang kerumah dan menceritakan semua hal yang ia dapatkan tentang hari ini. ia pun berlatih dan berusaha untuk bisa menjadi seorang tentara. ibu Jaka yang melihat Jaka yang selalu berusaha pun selalu merasa bangga dan selalu berdoa agar impian Jaka bisa selalu terwujud.
saat itu juga, Jaka pergi menemui rentenir yang biasanya datang kerumah untuk mengganggu Jaka dan ibunya. ia datang dengan membawa uang hasil lomba pentas puisinya dan mengambil kembali sertifikat tanahnya. ia pulang tidak dengan tangan kosong dan membuat ibu nya kembali tersenyum atas usaha Jaka tersebut.
sampai pada hari itu tiba. Jaka sudah lulus sekolah dan akhirnya ia diterima di Akmil dan menjadi seorang tentara yang gagah dan berani. persis dengan hal hal yang ia lihat saat masih dalam kondisi terpuruk nya. ia pun kembali pulang kerumah dengan memakai seragam loreng dan menemui ibunya yang sedang siapan dirumah. Jaka masuk dan mengejutkan ibunya yang membuat ibunya terharu dan langsung memeluk Jaka
tak disangka Jaka yang selama ini ibunya lihat kini telah dewasa dan telah menjadi seorang tentara seperti yang diinginkan nya.