AYAH TIRIKU
Ibuku tiba-tiba saja menikah lagi dengan seorang bos properti terkaya di Jakarta.
Prayutdha Wiratama. 39 tahun. Namanya ada di mana-mana — di billboard SCBD, di berita ekonomi, di daftar 40 Under 40 versi Forbes Indonesia. Tampan, tajam, masih lajang. Entah kenapa dia mau menikah dengan ibuku yang sudah setengah baya, seorang janda penjual kue di Malang yang keriput tangannya masih bau adonan.
Aku bahkan tidak diajak diskusi.
Tiga hari lalu Ibu meneleponku di kos, suaranya gemetar.
"Stela, Ibu menikah minggu depan. Kamu pulang ya, Nak."
Aku pikir itu lelucon.
Sampai kemarin, sebuah Alphard hitam mengkilap berhenti di depan gang kos ku yang becek. Seorang pria turun. Kemeja putihnya licin, jam tangannya mungkin seharga kos-ku setahun.
Dia menatapku lama.
"Stefani Holso?" suaranya berat. "Saya Prayutdha. Calon ayah tirimu."
Namaku Stefani Holso, lebih akrab dipanggil Stela, 23 tahun. Dan sumpah, tatapan calon ayah tiriku itu bukan tatapan seorang ayah pada anaknya.
Itu tatapan seseorang yang sudah mengenalku sejak lama. Terlalu dalam. Terlalu sakit.
Pernikahan mereka digelar di Hotel paling mewah di Jakarta. Aku memakai dress pinjaman. Ibuku... ya Tuhan, Ibuku cantik sekali malam itu, tapi dia terus menunduk, tangannya meremas-remas ujung kebaya seolah dia adalah tahanan, bukan pengantin.
Setelah ijab kabul, Prayutdha menghampiriku. Semua tamu sibuk memberi selamat pada Ibu.
Dia membisikkan sesuatu tepat di telingaku, yang membuat darahku berhenti mengalir.
"Akhirnya kamu pulang, Stela. 23 tahun Ayah mencarimu."
Aku membeku. "Apa maksud Anda?"
Dia tersenyum pahit, mengeluarkan sebuah foto polaroid usang dari dompetnya. Foto itu sudah menguning.
Di foto itu, ada Ibuku. Masih sangat muda, mungkin 19 tahun. Cantik, tertawa lepas. Dan di sampingnya, ada seorang pemuda kurus dengan seragam SMA. Wajah pemuda itu...
Wajah pemuda itu adalah Prayutdha Wiratama versi 16 tahun.
"Ayah tirimu?" Dia terkekeh pelan, matanya merah. "Ibu kamu tidak pernah cerita ya, siapa ayah kandungmu yang sebenarnya? Yang dia tinggalkan di Surabaya karena disuruh menikah dengan ayahmu yang pertama?"
Dunia ku runtuh.
Bos properti terkaya di Jakarta. Pria lajang berusia 39 tahun yang tiba-tiba menikahi janda setengah baya penjual kue...
Ternyata bukan mengincar Ibuku.
Dia mengincar untuk menebus dosa Ibuku padanya. Dan untuk merebutku kembali. Anak yang dulu tidak sempat dia akui.
Malam itu, di mansion megah di Pondok Indah yang sekarang jadi rumah kami, aku mendengar Ibu menangis di dalam kamar pengantinnya.
Sementara dari balkon lantai dua, Prayutdha menatapku yang berdiri kaku di taman. Dia mengangkat gelasnya ke arahku.
"Selamat datang di rumah, putriku."
Mau aku lanjutin versi yang mana, Stela?
Dia bukan ayah kandungku. Dia bahkan tidak pernah mencintai Ibuku. Dia menikahi Ibuku hanya agar bisa memilikiku secara sah, tinggal serumah, memanggilku "anak".
---
Mansion Pondok Indah itu bukan rumah. Itu sangkar emas.
Kamar ku di lantai dua, persis di seberang kamar utama. Kamar Ibuku dan dia.
Hari pertama aku pindah, Prayutdha Wiratama sudah membuat aturan.
"Stela, di rumah ini tidak ada ART yang masuk ke lantai dua setelah jam 9 malam. Jadi kalau kamu butuh sesuatu, ketuk pintu Ayah saja."
Dia menekankan kata AYAH.
Ibu hanya diam, menunduk sambil mengaduk teh. Sejak menikah, Ibu seperti boneka. Diam. Cantik. Takut.
Malam pertama, aku tidak bisa tidur. Jam 1 malam, aku haus. Aku turun ke dapur. Saat aku balik ke kamar, pintu kamarku terbuka sedikit.
Prayutdha berdiri di dalam kamarku. Membelakangi pintu. Di tangannya ada pigura foto wisuda ku yang tadi kuletakkan di meja belajar.
"Mirip sekali," gumamnya pelan, tanpa sadar aku ada di belakangnya.
Aku menjerit pelan. Dia berbalik. Tidak kaget. Tidak bersalah. Dia hanya tersenyum.
"Kamu mirip ibumu waktu muda. Persis seperti di foto yang dulu Ibu mu kirim ke saya."
Darah ku membeku. "Foto? Foto apa?"
Dia mendekat. Terlalu dekat untuk seorang ayah tiri. Aku bisa mencium parfum mahalnya.
"Enam bulan lalu, ibumu meminjam uang ke perusahaan saya. 800 juta. Untuk hutang almarhum suaminya. Jaminannya cuma satu foto. Foto kamu, Stela. Anak gadisnya yang katanya baru lulus kuliah, cantik, masih single di Malang."
Dia mengusap pinggir pigura itu dengan ibu jarinya.
"Saat itu juga saya tahu, saya tidak butuh uangnya kembali. Saya butuh jaminan yang lain."
"Ibu saya... dijual?"
"Jangan kasar, sayang," dia terkekeh, matanya tidak pernah lepas dari bibirku. "Ibumu saya nikahi. Saya kasih dia nama Wiratama, saya lunasin semua hutangnya, saya kasih dia hidup yang tidak pernah dia impikan. Dan sebagai gantinya..."
Dia meletakkan pigura itu kembali, tapi posisinya kini menghadap tempat tidurku.
"...kamu tinggal di sini. Di bawah pengawasan Ayah."
Prayutdha Wiratama, 39 tahun, lajang. Bos properti terkaya di Jakarta yang tidak pernah tersentuh gosip. Kenapa?
Karena selera dia bukan model-model Jakarta.
Seleranya adalah sesuatu yang polos. Yang belum tersentuh ambisi ibu kota. Yang bisa dia bentuk dari nol.
Dan aku, Stefani Holso, 23 tahun, mahasiswi daerah yang baru lulus, yang bahkan tidak tahu cara pakai wine dengan benar, adalah target sempurna.
Pernikahannya dengan ibuku hanyalah kontrak. Aku pernah menguping pembicaraan mereka di ruang kerja.
"Ingat perjanjian kita, Rina," suara Prayutdha dingin, semua kelembutan pada ku hilang. "Kamu tetap jadi istri saya di depan media selama 2 tahun. Setelah itu kamu boleh pergi dengan uang yang sudah saya janjikan. Tapi selama 2 tahun itu, anakmu tidak boleh pacaran. Tidak boleh dibawa laki-laki lain. Dia milik saya."
Ibuku menangis. "Pak Prayutdha, dia anak saya..."
"Dan sekarang dia anak saya juga, kan? Secara hukum, saya ayah tirinya. Saya punya hak untuk menjaganya."
Gila. Pria ini gila.
Malam ini, ada acara gala dinner. Prayutdha menyuruhku memakai gaun merah yang sudah dia siapkan di atas ranjangku. Gaun yang punggungnya terbuka rendah.
"Pakai ini malam ini. Ayah ingin mengenalkan putri Ayah pada semua relasi Ayah."
Aku menatap gaun itu, lalu menatap pintu kamarnya yang terbuka. Dia berdiri di sana, bersandar, menungguku memakainya. Menunggu untuk melihatku.
Ibuku tiba-tiba masuk dan menarik tanganku.
"Jangan pakai, Stela! Ibu mohon, kamu kabur aja malam ini! Dia bukan manusia!"
Aku menatap ibuku yang gemetar.
Kalau aku kabur, hutang ibu akan kembali. Dan pria seperti Prayutdha tidak akan membiarkan mangsanya lepas begitu saja.
Kalau aku tetap di sini... aku akan pelan-pelan menjadi milik ayah tiriku sendiri.
Aku tetap pakai gaun merah itu.
Bukan karena aku mau. Karena Ibu memohon sambil berbisik, "Pakai saja, Nak. Jangan lawan dia malam ini. Ibu takut."
Gala dinner di ballroom Hotel Langham. Semua mata tertuju pada kami. Bukan pada pengantin baru - pada aku.
Prayutdha Wiratama menggandeng Ibuku dengan satu tangan, dan tangan kirinya melingkar di pinggangku. Terlalu erat. Terlalu rendah.
"Inilah keluarga saya," katanya pada rekan bisnisnya, dengan senyum sempurna seorang CEO. "Istri saya, Rina. Dan putri saya, Stela. Baru lulus, masih sangat polos, jadi saya jaga ketat."
Kata jaga ketat itu dia bisikkan sambil meremas pinggangku.
Seorang pria seusuranku, anak dari rekan bisnisnya, mencoba mengajakku ngobrol.
"Hai Stela, kamu kuliah di mana? Boleh minta IG-"
Belum selesai kalimatnya, Prayutdha sudah menarikku menjauh.
"Maaf, putri saya tidak main sosial media," jawabnya dingin. "Dia anak rumahan."
Padahal HP ku ada di genggamannya sejak kemarin. "Biar Ayah yang simpen. Banyak penipu di luar sana, sayang."
Malam itu aku sadar, aku bukan anak tirinya. Aku koleksinya.
BAB 5 - CCTV
Pulang jam 11 malam. Aku langsung masuk kamar dan mengunci pintu. Napas ku sesak.
Aku baru sadar, di sudut atas kamarku, ada titik merah kecil berkedip.
CCTV.
Di DALAM kamarku.
Aku naik ke kursi, mencoba menutupinya dengan plester. Pintu kamarku tiba-tiba diketuk keras.
TOK TOK TOK.
"Stela. Buka."
Suara Prayutdha. Dingin.
Aku tidak buka. "Aku mau tidur, Ayah!"
"Jangan tutup apa yang Ayah pasang untuk keamanan kamu," katanya dari balik pintu, suaranya tetap tenang tapi mengancam. "Turun."
Aku gemetar, menurunkan kursi. Membuka pintu.
Dia masih memakai setelan jas lengkap. Tidak ada senyum lagi.
"Di rumah Ayah yang lama, ada maling masuk ke kamar putri ART. Sejak itu Ayah pasang CCTV di semua kamar lantai dua. Termasuk kamar Ibu. Ini demi keamanan kalian. Mengerti?"
Bohong. Itu bohong.
"Di kamar mandi juga ada?" tanya ku, suaraku pecah.
Dia tersenyum miring untuk pertama kalinya malam itu. Senyum yang membuat ku ingin muntah.
"Kamu pikir Ayah se-murah itu, Stela? Ayah tidak butuh CCTV untuk melihat milik Ayah."
Dia melangkah masuk, melewatiku, dan dengan santai melepas plester yang tadi ku pasang.
"Ayah cuma butuh kamu jujur. Tadi di bawah, kamu senyum sama anaknya Pak Hendra. Kamu suka dia?"
"Enggak! Aku cuma sopan!"
"Bagus," bisiknya, kini jarak kami hanya sejengkal. Dia mengangkat daguku dengan jarinya. Sentuhannya panas. "Karena senyum itu, tawa itu, gaun merah itu... semuanya cuma boleh untuk Ayah. Paham? Kamu itu sekarang Stefani Wiratama. Di KTP mu memang masih Holso, tapi di sini," dia menempelkan telunjuknya di dadaku, tepat di atas jantungku, "kamu sudah punya nama Ayah."
Aku menepis tangannya dengan keras.
"JANGAN SENTUH AKU! KAMU BUKAN AYAH KU!"
Rumah itu hening seketika.
Dari koridor, Ibu muncul dengan wajah pucat.
Prayutdha menatap tanganku yang menepisnya, lalu menatapku. Tatapannya bukan marah. Lebih menyeramkan.
Kecewa. Seperti seorang kolektor yang mainannya melawan.
Dia mengangguk pelan.
"Oke. Kamu capek. Tidur saja."
Dia keluar dan mengunci pintu kamarku dari LUAR.
"Belajarlah jadi anak yang baik, Stela. Ayah tidak suka mengurung putrinya sendiri."
Aku menggedor pintu. Ibu hanya bisa menangis di luar, tidak berani melawan.
Malam itu aku tidur di lantai, di bawah CCTV yang titik merahnya terus berkedip, mengawasiku.
Dan di luar, aku mendengar Prayutdha masih berdiri di depan pintuku, lama sekali, seolah menjaga... atau memastikan aku tidak akan pernah keluar dari sangkarnya.
Aku pikir aku bisa bernapas kalau aku kembali ke kampus di Malang untuk urus ijazah.
Prayutdha mengizinkan. Dengan syarat.
"Supir Ayah yang antar. Dan Pak Jono akan tunggu di parkiran sampai kamu selesai. Share live location ke Ayah. Jangan matikan."
Aku pikir itu berlebihan. Ternyata itu belum apa-apa.
Hari pertama di kampus, aku bertemu Bima. Kakak tingkat yang dulu pernah dekat sama aku. Dia satu-satunya yang tahu aku suka kopi hitam tanpa gula dan benci hujan.
"Stela! Gila, kamu kurusan! Katanya kamu pindah ke Jakarta? Nikah sama..."
Aku buru-buru menariknya ke pojok perpustakaan. Untuk pertama kalinya dalam sebulan, aku bisa tertawa lepas.
Kami ngobrol 20 menit. Cuma 20 menit.
Saat aku keluar gerbang, Pak Jono tidak ada di mobil Alphard. Yang ada di sana adalah Prayutdha sendiri. Duduk di kursi supir, kacamata hitam, mesin masih menyala.
Jantungku jatuh.
"Ayah? Katanya Pak Jono..."
"Masuk," potongnya pelan.
Sepanjang jalan Malang - Jakarta 12 jam itu dia tidak bicara sepatah kata pun. Tangannya mencengkram setir sampai buku-buku jarinya putih. Di dashboard, HP nya menyala. Isinya foto-foto.
Foto aku dan Bima di perpustakaan. Dari jarak jauh. Di-zoom. Jelas sekali ada yang memotoku dari tadi. Bukan Pak Jono.
"Kenalkan, ini tim keamanan kampus yang Ayah sewa," katanya akhirnya, suaranya terlalu tenang. "Mereka lapor kamu ketawa. Ketawa lepas sekali sama dia. Padahal di rumah, kamu tidak pernah ketawa seperti itu ke Ayah."
"Yutda, dia cuma teman ku!"
Dia menginjak rem mendadak di rest area yang sepi. Dia menatapku.
"Teman tidak pegang tangan seperti itu, Stela."
Bima memang sempat memegang tanganku. Sekilas. Untuk menyemangati.
"Ayah sudah bilang, kan? Senyum kamu itu punya Ayah. Mulai hari ini kamu tidak perlu lagi ke kampus. Ijazah biar orang Ayah yang urus. Kamu di rumah saja. Belajar jadi istri yang baik."
"Aku anak tirimu! Bukan istrimu!" teriakku.
Dia tersenyum. Senyum paling sakit yang pernah kulihat.
"Belum."
SEBULAN KEMUDIAN - YANG PALING SAKIT
Ibuku meninggal.
Bukan sakit. Bukan kecelakaan biasa.
Ibu jatuh dari tangga marmer di mansion itu jam 3 pagi. Tangga yang sudah dipoles dan sangat licin. Polisi bilang itu kecelakaan. Pembantu bilang Ibu suka minum air tengah malam.
Tapi aku tahu Ibu tidak pernah turun sendirian malam-malam tanpa menyalakan semua lampu. Ibu takut gelap.
Di pemakaman, aku hancur. Satu-satunya alasan ku bertahan di sangkar itu sudah tidak ada.
Dan di pemakaman itu, Prayutdha tidak menangis. Dia berdiri di sampingku, memeluk bahuku erat-erat di depan semua pelayat, memainkan peran duda yang berduka.
Malam setelah pemakaman, aku membongkar lemari Ibu untuk mencari kebaya terakhirnya. Di bawah tumpukan kain, aku menemukan sebuah amplop coklat. Surat tulisan tangan Ibu.
Stela, Nak, maafkan Ibu. Ibu menikah dengan Pak Prayutdha bukan karena hutang 800 juta. Hutang itu cuma 80 juta. Ibu bohong. Pak Prayutdha datang ke Malang 2 bulan lalu. Dia melihat foto kamu di warung. Sejak itu dia terus datang. Dia bilang dia akan kasih Ibu 5 Miliar kalau Ibu mau menikah dengannya dan membawa kamu ke Jakarta. Ibu... Ibu butuh uang itu untuk operasi jantung Ibu, Nak. Ibu sakit. Ibu tidak mau membebani kamu. Tapi Ibu salah. Dia bukan mau Ibu. Dari awal dia mau kamu. Kabur, Stela. Kalau Ibu sudah tidak ada, kabur sejauh mungkin. Amplop ini Ibu selipkan bukti transfer dan perjanjian asli.
Tanganku gemetar.
Yang paling sakit adalah...
Yutda ternyata diam-diam sudah tahu Ibu sakit jantung stadium akhir. Dokter keluarga Wiratama yang memeriksa Ibu bilang Ibu tidak akan bertahan lebih dari 3 bulan tanpa operasi.
Dia tidak pernah membiayai operasi itu.
Dia membiarkan Ibu mati pelan-pelan di rumah itu. Karena selama Ibu hidup, aku adalah "anak tirinya". Status yang masih menghalangi dia.
Tapi jika Ibu meninggal...
Aku bukan lagi anak tirinya secara hukum. Aku hanya seorang gadis 23 tahun, yatim piatu, yang tinggal menumpang di rumah seorang duda kaya raya berusia 39 tahun yang terobsesi padanya. Tanpa ikatan darah. Tanpa ikatan hukum.
Sempurna untuk dia.
Pintu lemariku diketuk.
"Stela? Kamu belum tidur? Ayah buatkan susu hangat."
Prayutdha berdiri di ambang pintu, memakai kaos hitam tipis, membawa dua gelas susu. Tatapannya kini berbeda. Tidak ada lagi pura-pura jadi Ayah.
Tatapannya telanjang. Lapar. Bebas. Karena wanita yang menjadi tameng terakhirku sudah tidak ada.
"Minum dulu. Mulai malam ini, kamu pindah kamar ya. Kamar utama terlalu besar untuk Ayah sendirian."
"GILA TAU NGGA!"
Iya. Aku juga merinding pas nulis bagian ini.
Karena rencana Yutda yang sebenarnya... jauh lebih gila dari sekedar obsesi.
Kamu kira dia nungguin Ibu meninggal biar status ayah tiri hilang dan dia bebas nikahin kamu?
Salah besar.
Aku tidak minum susu itu.
Aku lempar gelasnya. Pecah.
"PEMBUNUH! KAU BIARKAN IBUKU MATI!"
Prayutdha Wiratama tidak marah. Dia jongkok, memunguti pecahan kaca dengan tangan kosongnya sampai berdarah, lalu menatapku.
"Akhirnya kamu berani, Stela."
Dia berdiri, mengunci pintu kamar Ibu dari dalam. Lalu dia membuka brankas besar di sudut kamar Ibu yang selama ini kukira isinya perhiasan.
Isinya bukan perhiasan. Isinya map-map.
Dia melempar satu map ke kasurku.
"Baca."
Itu adalah Surat Keterangan Kematian atas nama Prayutdha Wiratama.
Tanggal kematian: 3 bulan lagi. Vonis: Kanker pankreas stadium 4.
Aku terdiam.
"Apa... apa ini?"
"Ayah tirimu yang gila ini sekarat, Stela," katanya sambil tertawa, tapi matanya basah. "39 tahun, terkaya di Jakarta, tidak ada istri, tidak ada anak. Kalau Ayah mati bulan depan, semua properti Ayah, semua perusahaan Ayah, 7 triliun rupiah itu akan jatuh ke tangan adik-adik Ayah. Adik-adik yang dari dulu menunggu Ayah mati karena Ayah anak haram di keluarga Wiratama."
Dia menatapku tajam.
"Jadi Ayah butuh pewaris. Cepat. Seorang istri dan seorang anak. Yang sah di mata hukum."
Darahku berhenti.
"Ibu... Ibu bukan tumbal?"
"Ibu kamu memang sakit jantung. Ayah memang tidak biayai operasinya. Karena Ibu kamu sendiri yang menolak. Ibu kamu bilang..." Dia meniru suara Ibuku yang bergetar, "'Pak, jangan operasi saya. Biar saya mati di rumah ini. Biar anak saya dapat warisan Bapak sepenuhnya. Kalau saya hidup, saya cuma janda penjual kue yang menghalangi Bapak menikahi anak saya secara sah.'"
Aku jatuh terduduk.
Ibuku... menukarkan nyawanya sendiri.
Ibuku tahu dia tidak akan lama. Jadi dia membuat perjanjian paling gila: Dia akan menikah dengan Yutda, lalu membiarkan dirinya mati, agar aku - anak tirinya - bisa dinikahi oleh Yutda secara sah setelah masa iddah selesai. Bukan sebagai anak, tapi sebagai ISTRI pewaris tunggal.
Itu kenapa Yutda mengurungku, memata-mataiku di kampus, cemburu pada Bima. Bukan karena nafsu.
Karena dia harus memastikan "calon istrinya" perawan, bersih, tidak disentuh laki-laki lain sebelum hari H warisannya dibacakan. Karena kalau aku sudah tidak perawan atau sudah punya pacar, notaris keluarga Wiratama bisa menggugurkan wasiatnya.
"Jadi selama ini..." suaraku hilang.
"Selama ini Ayah menjijikkan memang," dia mengakui, suaranya pecah. "Ayah harus jadi monster agar kamu membenci Ayah. Agar saat Ayah mati 3 bulan lagi, kamu tidak sedih. Kamu akan benci, tapi kamu akan kaya raya dan bebas. Itu rencana Ibu mu. Bukan rencana Ayah."
Dia mengeluarkan kotak beludru kecil dari brankas. Bukan cincin berlian. Isinya kunci.
"Kamar utama itu memang untuk kamu. Mulai malam ini. Ayah tidur di mess karyawan. Sampai hari dimana kamu mau tanda tangan surat nikah itu... atau kamu mau kabur sama Bima di lobi seberang itu. Ayah sudah lihat dia dari CCTV."
Ternyata Bima memang ada di lobi seberang. Dia bukan mata-mata Yutda. Dia adalah pelarian yang Yutda sendiri yang panggilkan untukku.
Pintu kamar Ibu terbuka. Semua pilihan ada di tanganku.
Di luar, ada 2 pria yang menunggu.
Satu, Bima, cinta pertamaku yang polos, yang bisa membawaku kabur malam ini dan hidup miskin tapi bebas.
Satu lagi, Prayutdha Wiratama, ayah tiriku yang sekarat, monster yang diciptakan oleh ibuku sendiri, yang menawarkan 7 Triliun dan kebebasan dengan syarat aku harus menikahinya selama 3 bulan sampai dia mati.
Ibuku menjual nyawanya agar aku bisa memilih.
Sekarang...
Bukan karena cinta. Karena aku benci miskin.
Malam itu aku tidak kabur ke Bima. Aku kirim WA terakhir: "Maaf, Bim. Anggap aku sudah mati." Lalu aku blokir nomornya.
Aku masuk ke kamar utama. Aku pakai kebaya putih milik Ibu yang masih tergantung. Aku duduk di depan Prayutdha Wiratama yang sedang memunguti pecahan gelas susuku dengan tangan berdarah.
"Nikahi aku," kataku.
Dia menatapku lama. Kaget. Seolah monster itu tidak menyangka mangsanya menyerahkan diri.
"Kamu yakin, Stela?"
"3 bulan kan? Setelah kamu mati, semua milikku. Tanda tangan dimana?"
Malam itu juga dia panggil penghulu. Tidak ada tamu. Tidak ada pesta. Hanya aku, dia, dan dua orang satpam sebagai saksi, di ruang tamu mansion yang baru saja jadi tempat tahlilan Ibuku 3 hari lalu.
Saat penghulu bilang "SAH", tanganku dingin. Aku resmi menjadi Stefani Wiratama. Dari anak tirinya, menjadi istrinya.
Malam pertama, dia tidak menyentuhku. Dia tidur di sofa di ujung kamar yang besar itu. Punggungnya membelakangiku.
Aku pikir, oke, 3 bulan. Aku bisa tahan.
Aku salah besar.
SEBULAN SETELAH PERNIKAHAN
Hari ke-30. Seharusnya dia sudah mulai kurus. Muntah darah. Lemas.
Tapi Prayutdha Wiratama justru makin segar. Tiap pagi dia nge-gym di lantai bawah, tanpa baju, keringatnya menetes. Badannya... tidak terlihat seperti orang kanker stadium 4.
Aku mulai curiga saat aku beres-beres ruang kerjanya. Aku menemukan tempat sampahnya. Ada bungkus obat.
Bukan obat kanker. Itu vitamin. Suplemen gym. Dan... obat perangsang?
Tanganku gemetar. Aku buka laptopnya yang tidak terkunci. Folder bernama "PROJECT STELA".
Isinya...
Video CCTV kamarku sejak hari pertama. Foto-fotoku di kampus. Foto-fotoku bersama Bima. Dan satu file PDF.
Hasil Lab RS Abdi Waluyo. Atas nama Prayutdha Wiratama.
Diagnosa: SEHAT WALAFIAT. Tidak ada sel kanker.
Surat kematian yang dia tunjukkan padaku bulan lalu... PALSU.
"Bagus kan akting Ayah?"
Aku menjerit dan membalikkan badan. Dia berdiri di pintu ruang kerja. Baru selesai mandi, handuk di leher.
"Surat kanker itu Ayah beli 50 juta di dokter langganan Ayah. Cerita Ibu yang mengorbankan diri itu... setengah benar. Ibumu memang sakit jantung. Tapi dia tidak menolak operasi. Ayah yang bilang ke dokternya untuk tunda operasinya 2 minggu. Dan dalam 2 minggu itu, ibumu jatuh dari tangga yang baru dipel."
Dia melangkah mendekat. Pelan. Seperti singa yang akhirnya tidak perlu pura-pura pincang lagi.
"Kenapa? Kenapa kamu bohong!" teriakku, mundur sampai punggungku mentok rak buku.
"Karena kalau Ayah bilang Ayah sehat, mana mau kamu - anak gadis 23 tahun yang cantik dan benci Ayah - mau menikahi duda 39 tahun secara sukarela?" Dia tersenyum. Senyum yang sama seperti pertama kali dia datang ke kos ku. "Ayah harus buat kamu kasihan. Ayah harus buat kamu merasa berutang pada ibumu. Rasa kasihan adalah cara tercepat membuat wanita seperti kamu menyerahkan diri, Stela."
Dia mengurungku di antara rak buku dan tubuhnya.
"Dan sekarang, secara hukum, secara agama, secara negara... kamu sudah sah milik Ayah. Bukan anak tiri lagi. Istri. Dan istri tidak bisa menuntut suaminya karena mengurungnya di rumahnya sendiri, kan?"
Dia mengangkat tanganku yang gemetar, mencium punggung tanganku yang masih memakai cincin nikah putih polos.
"Selamat datang di pernikahan yang sesungguhnya, sayang. Yang 3 bulan itu bohong. Yang benar adalah... selamanya."
Dari jendela ruang kerja, aku melihat mobil Bima masih terparkir di lobi hotel seberang. Sudah sebulan dia di sana. Menungguku.
Tapi jendela ruang kerja ini sudah dipasangi teralis baru minggu lalu. Alasannya kata Yutda, "Biar tidak ada maling masuk."
Padahal biar aku tidak bisa kabur.
Ternyata Yudha nggak sejahat yang kukira.
Dia nggak pernah mukul. Nggak pernah maksa buka baju. Malah setelah akad jebakan itu, dia makin... sopan. Terlalu sopan sampai ngeri.
Dia pindah tidur ke kamar tamu di lantai 1. Kamar utama sepenuhnya jadi milikku. Setiap pagi ada sarapan yang dia buat sendiri di meja. Bukan dari ART.
Tapi obsesinya... kelewat batas.
Pagi ini aku di kampus, lagi bimbingan skripsi susulan biar ijazahku keluar. HP ku getar.
Nama di layar: AYAH - dengan foto dia pakai jas.
Dulu namanya "Ayah Tiri". Sekarang cuma "AYAH". Dia yang ganti sendiri.
"Stela, ke kantor Ayah sekarang."
"Nggak bisa, aku lagi bimbingan--"
"15 menit. Ayah tunggu di lobby. Kalau tidak, Ayah yang jemput ke kelasmu."
Tut. Ditutup.
Gila. Dia beneran datang.
Aku lari ke lobby kampus. Alphard hitam itu sudah ada. Semua mahasiswa lihat. Yudha turun, pakai setelan 3-piece suit abu-abu gelap. Beda. Bener-bener beda dari Yudha yang di rumah yang pakai kaos dan senyum miring.
Ini Yudha versi Bos Properti. Dingin. Tajam. Tidak tersenyum sama sekali.
"Masuk," katanya pelan.
Di mobil, dia tidak sentuh aku. Bahkan tidak lihat aku. Tapi AC mobilnya tiba-tiba kerasa sesak.
"Kenapa, Yah?" tanyaku akhirnya, suaraku kecil. Aku sudah terbiasa manggil Yah, biar dia tidak ngamuk.
Dia baru menatapku. Lama. Dari atas ke bawah. Seperti menilai barang.
"Kamu sudah telat 5 hari, kan?"
Aku membeku. "Apa?"
"Siklus kamu. Aplikasi Flo di HP kamu yang Ayah belikan itu sinkron ke HP Ayah juga. Kamu telat 5 hari."
Anjir. Aku merinding seketika. Bawaannya kaya ketemu mangsa. Jantungku berdegup kencang bukan karena deg-degan, tapi karena takut.
"Ayah... kamu ngecek itu?"
Dia buka laci mobil, mengeluarkan sebuah map coklat tebal dan menaruhnya di pangkuanku. Bukan map mesra.
Isinya: Hasil tes kesuburan miliknya. Tes sperma. Tes genetik. Surat keterangan sehat dari dokter. Dan... perjanjian pranikah baru.
"Stela, Ayah sudah jujur sekarang. Ayah nggak sakit. Ayah juga nggak butuh cinta. Keluarga Wiratama mengancam akan cabut semua saham Ayah kalau Ayah tidak punya keturunan sebelum umur 40. Ayah butuh 3 bulan lagi. Ayah 39 tahun 9 bulan sekarang."
Dia menatap lurus ke depan, suaranya datar seperti sedang rapat direksi.
"Ayah terang-terangan cuma mau keturunan dari kamu. Satu anak. Laki-laki atau perempuan tidak masalah. Setelah kamu melahirkan, kamu bebas. Ayah kasih kamu 50% saham perusahaan, kamu boleh cerai, boleh bawa anak itu, boleh kembali ke Bima kalau kamu mau. Tapi Ayah butuh anak itu lahir dengan marga Wiratama."
Aku membuka perjanjian itu. Pasal 3 tertulis jelas dengan huruf kapital:
PIHAK KEDUA (STELA) WAJIB MENJALANI PROGRAM KEHAMILAN SECARA ALAMI ATAU BAYI TABUNG.
Tanganku gemetar.
"Secara alami?" bisikku.
Akhirnya dia tersenyum. Senyum yang selama ini bikin aku merinding.
"Tergantung kamu, sayang. Ayah lebih suka cara alami. Lebih... mengikat. Tapi Ayah bisa profesional. Kalau kamu mau bayi tabung, Ayah siapkan dokter terbaik besok. Ayah tidak akan sentuh kamu kalau kamu tidak mau. Ayah obsesif, bukan pemerkosa."
Dia mengucapkan kata itu dengan santai. Seolah itu adalah sebuah kebaikan besar.
Mobil berhenti di depan gedung Wiratama Tower yang menjulang tinggi. Semua karyawan menunduk hormat saat dia turun. Dia membukakan pintu untukku.
Semua orang melihatku. Gadis kampus dengan ransel lusuh digandeng bos mereka yang terkenal tidak pernah dekat dengan wanita.
Di lift pribadi, hanya kami berdua. Kaca lift memantulkan bayangan kami. Dia tinggi, tegap, mendominasi. Aku kecil, pucat, terjebak.
Dia mendekat, berbisik di telingaku, napasnya panas di leherku.
"Tapi Stela... setiap kali kamu ketemu Ayah dengan muka takut seperti mangsa seperti ini... Ayah jadi makin susah untuk tetap profesional. Jadi tolong... pilih cepat. Mau cara Ayah, atau cara dokter?"
Pintu lift terbuka. Lantai 56. Ruangannya penuh dengan dewan direksi yang sudah menunggu.
Dan aku, Stefani Holso, 23 tahun, mahasiswi yang tadinya cuma mau ijazah, sekarang harus memutuskan bagaimana cara aku memberikan keturunan untuk ayah tiriku sendiri.
Mau Stela pilih apa?
Aku pilih B.
Alami. Tapi aku mainkan.
Malam pertama di kantornya itu, aku mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
"Oke, Yah. Aku mau... cara alami. Tapi beri aku waktu."
Wajahnya berubah. Untuk pertama kalinya, monster itu terlihat seperti manusia yang lega. Dia mengusap kepalaku, seperti mengelus kucing peliharaannya.
"Pintar. Itu baru istri Ayah."
Sejak hari itu, aku jadi istri yang paling nurut di dunia. Aku buatkan kopi pagi. Aku temani dia rapat. Malamnya... aku selalu punya alasan. "Aku capek, Yah." "Aku lagi datang bulan." "Aku belum siap."
Dan setiap pagi, diam-diam, aku minum pil KB yang dulu dikasih teman kosku. Aku sembunyikan di dalam kotak pembalut.
Aku pikir aku pinter. Aku lupa, suamiku adalah bos properti yang punya 200 CCTV di rumahnya sendiri.
Hari ke-14.
Aku baru keluar dari kamar mandi. Yudha sudah duduk di tepi ranjangku. Di tangannya, ada blister pil KB ku yang tinggal 7 butir.
Dunia berhenti.
"Ini apa, Stela?"
Suaranya pelan. Terlalu pelan. Itu yang paling menakutkan.
Aku tidak bisa jawab. Kakiku lemas.
Dia berdiri. Wajahnya merah. Bukan merah nafsu. Merah marah. Marah besar yang selama ini dia tahan.
"AYAH SUDAH JUJUR! AYAH SUDAH BILANG AYAH CUMA BUTUH ANAK! AYAH KASIH KAMU WAKTU! AYAH TIDAK PERNAH MAKSA KAMU DI RANJANG! DAN KAMU BOHONGI AYAH SEPERTI INI?!"
Dia membanting blister itu ke dinding. Pil-pilnya berhamburan.
"Aku... aku belum siap punya anak sama kamu!" teriakku balik, akhirnya pecah. "Aku 23 tahun! Aku masih mau kuliah! Aku tidak mau tubuhku dipakai cuma untuk cetak keturunan Wiratama!"
"Ayah tidak pakai tubuhmu! Ayah minta izin!"
"Kamu menikahi ibuku untuk dapat aku! Kamu jebak aku! Itu bukan izin, itu pemerasan!"
Kami berteriak. Untuk pertama kalinya, kami benar-benar berantem seperti suami istri, bukan seperti ayah dan anak.
Dia menarik napas panjang, mencoba menahan diri. Tangannya mengepal sampai berdarah lagi karena kukunya sendiri.
Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga.
Dia pergi. Keluar dari kamar. Membanting pintu.
Malam itu dia tidak pulang. Mobilnya keluar dari mansion jam 11 malam.
Aku pikir dia akan menghukumku. Mengurungku lagi.
Ternyata tidak.
Jam 2 pagi, dia pulang. Bau hujan. Dia masuk ke kamarku, masih dengan kemeja basah. Matanya merah, bukan karena marah. Karena kalah.
Dia duduk di lantai, di bawah ranjangku. Seperti hari pertama dia pura-pura sekarat dulu.
"Maaf," katanya. Suaranya habis. "Ayah obsesif. Ayah akui. Ayah mau kamu hamil karena Ayah takut kalau tidak ada ikatan darah, kamu akan pergi seperti semua orang yang pernah tinggalkan Ayah. Ibu kamu, adik-adik Ayah... semua pergi."
Dia menatapku dari bawah.
"Ayah marah bukan karena pilnya. Ayah marah karena kamu tidak percaya Ayah akan menunggu sampai kamu siap. Ayah janji tidak akan sentuh kamu kalau kamu bilang tidak. Dan Ayah tepati."
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku melihat Yudha bukan sebagai bos, bukan sebagai ayah tiri, bukan sebagai monster.
Hanya sebagai pria kesepian berusia 39 tahun yang tidak tahu cara meminta untuk dicintai, selain dengan cara membeli dan mengurung.
Aku turun dari ranjang. Duduk di sampingnya di lantai yang dingin.
"Aku buang pilnya," bisikku. Entah kenapa. Mungkin karena kasihan. Mungkin karena lelah melawan. Mungkin karena... setelah sebulan tinggal serumah, aku sudah mulai terbiasa dengan cara dia menatapku seperti mangsa, dan anehnya, aku tidak lagi takut.
"Aku tidak janji bisa cinta, Yah. Tapi aku janji... aku akan coba kasih kamu keturunan itu. Dengan caraku. Kalau kamu mau tunggu."
Dia menatapku. Tidak langsung menerkam seperti yang kupikirkan.
Dia hanya mengangguk dan memelukku. Pelukan pertama kami yang tidak terasa seperti jebakan.
"Ayolah tidur. Besok kita ke dokter sama-sama. Biar kamu yang atur semuanya."
SEBULAN KEMUDIAN
Test pack itu ada dua garis.
Positif.
Aku hamil. Beneran hamil. Bulan berikutnya setelah malam di lantai itu.
Aku keluar dari kamar mandi dengan test pack di tangan. Yudha sedang rapat online di ruang kerja, tapi saat melihatku berdiri di pintu dengan air mata, dia langsung matikan laptopnya.
Dia tidak berteriak senang. Dia tidak langsung memelukku dengan nafsu.
Dia jalan pelan ke arahku, berlutut, dan menempelkan telinganya di perutku yang masih rata. Seperti anak kecil.
"Anak Ayah?" bisiknya.
Aku mengangguk sambil menangis. Antara takut, benci, dan... lega yang aneh.
Dia menangis. Prayutdha Wiratama, bos properti terkaya di Jakarta, menangis di perutku.
Sejak test pack garis dua itu, Prayutdha Wiratama yang kukenal hilang.
Bos properti yang dingin, yang suka ngunci pintu, yang pasang CCTV di kamarku... diganti sama orang yang sama sekali beda.
Bener-bener beda.
Pria 39 tahun itu... jadi bucin. Bucin level akut.
---
Bulan 1-3 : Mual
Aku mual parah. Tiap pagi muntah sampai jam 11 siang. Rambut berantakan, muka pucat, nggak bisa cium parfumnya dia.
Dulu dia marah kalau aku nggak dandan. Sekarang?
Tiap jam 5 pagi dia sudah bangun, bikinin aku air jahe anget, potongin apel kecil-kecil, taruh di samping tempat tidur. Nggak ngomong. Cuma taruh, terus keluar.
CCTV di kamarku? Dia lepas sendiri. Semua. Dia panggil tukang di depan mataku.
"Ayah nggak butuh lihat kamu lagi, Stela. Ayah butuh kamu sehat. Kalau kamu risih, Ayah yang nggak tenang."
Malam-malam kalau aku kebangun karena mual, dia nggak tidur di kamar tamu lagi. Dia tidur di sofa di dalam kamar utamaku, pakai selimut tipis. Kalau aku muntah, dia yang pegangin rambutku. Nggak jijik sama sekali.
"Ayah pernah baca, kalau ibu hamil mual, bayinya kuat," bisiknya sambil usap punggungku.
Bulan 4-6 : Perut Mulai Kelihatan
Ini masa paling aneh.
Yudha melarangku ke kampus. Bukan karena posesif lagi. Karena dia takut aku kecapekan.
Tapi sebagai gantinya, dia yang bawain kampus ke rumah.
Dia bikinin perpustakaan mini di kamar. Dia yang daftarin aku kelas online. Kalau dosenku kasih tugas, dia yang print-in. Dia bahkan belajar cara pijat kaki ibu hamil dari YouTube, dan tiap malam pijitin kakiku yang bengkak sambil nonton drakor bareng aku.
Kadang aku lihat dia bengong, tangannya ngelus perutku yang mulai besar. Matanya berkaca-kaca.
"Stela, makasih ya," katanya pelan suatu malam. "Ayah seumur hidup nggak pernah dipeluk anak kecil. Sekarang Ayah bakal punya anak dari kamu. Anak kita."
Nada suaranya bukan lagi seperti pemilik yang ngomong ke koleksi. Tapi seperti anak kecil yang akhirnya dapat mainan yang dia jaga dengan nyawa.
Dia juga yang paling panik kalau aku batuk sedikit. Langsung telepon dokter pribadi, langsung siapin mobil ke RS Pondok Indah.
Semua ART di rumah dilarang pakai pewangi menyengat, dilarang masak pedas kalau aku lagi di rumah.
Bulan 7-9 : Takut
Perutku besar banget. Jalan aja susah.
Malam-malam, Yudha sering nggak tidur. Aku kebangun jam 2 pagi, dia lagi duduk di lantai, dengerin playlist musik klasik yang katanya bagus buat bayi, ditempelin di perutku.
"Dia nendang, Stela! Tadi dia nendang tangan Ayah!" Matanya berbinar kayak bocah SD.
Obsesi gilanya masih ada. Tapi berubah bentuk.
Dulu dia obsesif pengen milikin aku. Sekarang dia obsesif pengen aku dan bayi ini selamat.
Dia beliin 3 box buku parenting. Dia ikut kelas ayah siaga, sendirian, di antara ibu-ibu hamil lain. Bayangin, bos properti terkaya, duduk lesehan belajar cara gendong bayi pakai boneka.
Suatu malam di bulan ke-8, aku nangis sesenggukan karena nggak bisa lihat kaki sendiri, nggak bisa pakai sepatu.
Dia nggak ketawa. Dia jongkok, pakaiin kaus kakiku pelan-pelan, terus cium jidatku.
"Maaf ya, sayang. Ayah yang bikin kamu sehancur ini di kamar mandi dulu. Tapi Ayah janji, setelah anak ini lahir, kamu mau ngapain aja Ayah izinin. Mau kuliah S2, mau kerja, mau bawa dia ke Malang, Ayah ikut. Ayah nggak akan kurung kamu lagi."
Untuk pertama kalinya dalam 9 bulan itu, aku nggak ngerasa jijik waktu dia cium jidatku.
Aku ngerasa... dijaga.
Besok jadwal SC ku. Dokter bilang bayinya besar, harus operasi.
Malam ini Yudha nggak tidur sama sekali. Dia genggam tanganku erat di ranjang rumah sakit VIP yang dia sewa satu lantai penuh.
"Stela, kalau besok ada apa-apa... selamatkan kamu dulu. Ngerti? Selamatkan kamu dulu."
Jam 4 pagi. RS Pondok Indah.
Perutku kontraksi. Sakitnya bukan main. Bukan mual 3 bulan pertama. Ini sakit yang bikin aku lupa siapa aku.
Yudha yang dari tadi genggam tanganku, pucat. Lebih pucat dari aku.
"Stela, tarik napas, sayang. Ikutin Ayah. Hoo... hee... hoo..."
Bos properti 39 tahun yang biasanya ngomongin triliunan, sekarang cuma bisa ngulangin teknik napas dari kelas ayah siaga dengan suara gemeter.
Dokter masuk. "Bu Stela, pembukaan 8. Kita siap-siap ke ruang operasi ya, bayinya besar."
Aku ditarik ke ruang operasi. Yudha mau ikut, pakai baju hijau steril. Baru selangkah, pintu ruang operasi digedor dari luar.
BRAK!
Bukan suster.
Tiga orang. Dua pria tua pakai batik, satu wanita paruh baya dengan tas Hermes. Wajahnya mirip Yudha.
Keluarga Wiratama.
Adik kandung Yudha, Pak Jatmiko.
"PRayutdha! Hentikan operasi ini!" teriaknya, tidak peduli aku sedang kesakitan di brankar. "Kamu pikir kami bodoh? Kamu nikahi anak tirimu sendiri untuk kasih warisan ke dia? Anak dalam perutnya itu belum tentu anakmu! Bisa saja anak pemuda di Malang itu! Bima!"
Darahku naik. Di tengah kontraksi, aku masih sempat marah.
Yudha berdiri di depan brankarku. Menghalangi.
"KELUAR," katanya pelan. Tapi semua perawat tahu, kalau Prayutdha Wiratama ngomong pelan begitu, itu lebih bahaya dari teriakan.
"Anak ini anak saya. Istri saya, Stela, adalah pewaris sah 50% saham saya. Ada di akta notaris. Kalau kalian ganggu istri saya melahirkan, saya pastikan kalian tidak dapat sepeser pun. Bahkan rumah di Kemang itu saya sita."
Wanita Hermes itu tertawa sinis. "Kamu pilih perempuan kampung ini daripada darah dagingmu sendiri, Yudha? Kamu lupa kamu siapa? Kamu anak haram! Mama kamu dulu cuma ART!"
Kata-kata itu... menusuk.
Aku baru paham kenapa Yudha seobsesif itu pengen punya keturunan. Seumur hidup dia dianggap bukan keluarga Wiratama asli. Dia butuh keluarga yang dia buat sendiri. Yang tidak akan bilang dia haram.
Yudha tidak menjawab hinaan itu. Dia hanya balik badan, genggam tanganku lagi, dan berbisik ke dokter.
"Dok, selamatkan istri saya dulu. Apapun yang terjadi. Selamatkan istri saya dulu."
Dokter mengangguk. Pintu operasi ditutup. Keluarga itu diusir satpam.
---
45 MENIT KEMUDIAN
Tangisan.
Bukan tangisanku. Tangisan keras, melengking, memenuhi ruangan dingin itu.
Suster mengangkat bayi merah, berlendir, matanya masih tertutup.
"Selamat ya, Pak, Bu. Bayi perempuan. 3,8 kg. Sehat, cantik sekali."
Yudha... pria 39 tahun yang tidak pernah nangis waktu ibuku meninggal, tidak nangis waktu tahu dia ditipu, sekarang nangis sesenggukan di samping kepalaku, dengan baju steril yang basah oleh keringatku.
Dia tidak langsung lihat bayinya. Dia cium keningku dulu. Lama.
"Makasih, Stela. Makasih sudah kasih Ayah keluarga."
Baru setelah itu dia gendong bayinya. Tangannya yang biasa tanda tangan kontrak 7 Triliun, gemetar memegang kepala kecil itu.
"Hai," bisiknya ke bayi itu. "Aku Ayah. Ayahmu."
Aku, Stefani Holso, 23 tahun, yang 9 bulan lalu hancur dan jijik di kamar mandi, yang tadinya cuma anak tiri yang dijebak...
Sekarang aku adalah seorang Ibu.
Dan untuk pertama kalinya, aku lihat Prayutdha Wiratama bukan sebagai Ayah Tiriku.
Tapi sebagai Ayah dari anakku.
---
EPILOG - 2 TAHUN KEMUDIAN
Mansion Pondok Indah itu sudah tidak ada sekat CCTV.
Di taman belakang, ada seorang gadis kecil 2 tahun lari-lari pakai dress merah - dress yang sama yang dulu Yudha suruh aku pakai di gala dinner. Namanya Rina. Aku kasih nama Rina, nama Ibuku.
Di belakangnya, ada pria 41 tahun yang sekarang tidak lagi pakai jas. Pakai kaos oblong, gendong tas bayi, lari-lari ngos-ngosan ngejar anaknya.
"RIFA! Pelan-pelan, sayang! Nanti jatuh!"
Aku duduk di kursi taman, perutku... hamil lagi. 5 bulan. Yang ini memang kami rencanakan. Bukan karena warisan. Karena aku mau.
Yudha lihat aku, terus lari ke arahku, cium perutku yang besar di depan ART.
"Istriku cantik banget kalau lagi hamil," bisiknya.
Aku ketawa. "Jijik ah, Yah."
Dulu kata jijik itu keluar karena benci. Sekarang keluar karena geli.
Dia peluk aku dari belakang. Keluarga Wiratama yang dulu hina dia haram, sekarang tidak berani datang lagi. Karena 50% saham sudah resmi atas namaku. Dan aku... aku tetap pakai nama Holso di KTP ku.
Karena aku mau dia ingat, aku bukan barang yang dia beli. Aku adalah Stefani Holso, perempuan yang memilih untuk tinggal.
Bukan karena terjebak.
Tapi karena akhirnya, sangkar emas itu terasa seperti rumah.
JAM 6 SORE - GUDANG PIK
Aku tidak nurut disuruh di dalam.
Begitu Alphard hitam Yudha keluar gerbang dengan kecepatan gila, aku pakai sandal, perut 5 bulan, naik taksi online, ikutin dari belakang. Lokasi share location-nya masih nyala di HP ku. Dia lupa matiin.
Gudang PIK. Gelap. Bau besi karat.
Di dalam, sudah ada 4 orang berbadan besar. Dan di tengah, diikat di kursi, seorang wanita kerudung hitam. Bukan pria. Wanita yang tadi narik Rina.
Bukan orang suruhan profesional. Ternyata...
Bu Lastri. ART lama kami yang dipecat Yudha 6 bulan lalu karena ketahuan nyuri susu formula Rina untuk dijual.
Yudha berdiri di depannya. Jasnya sudah dilepas. Kemeja putihnya digulung. Wajahnya bukan wajah Ayah Siaga lagi.
Ini Yudha yang pertama kali datang ke kosku di Malang.
"Dimana anak saya, Bu?" tanyanya pelan.
Bu Lastri meludah. "Mampus aja anak haram itu! Kalian pecat saya! Anak saya sakit butuh uang! Kalian enak-enakan kasih anak kalian baju merah harga 2 juta!"
Yudha tidak teriak. Dia ambil kursi, duduk di depan Bu Lastri, tatap matanya.
"Bu Lastri, saya kasih ibu kerja 5 tahun. Saya kasih ibu mess, saya sekolahkan anak ibu. Ibu curi susu anak saya. Saya masih kasih pesangon 20 juta waktu pecat ibu. Dan ibu balas begini? Ambil cucu saya?"
Dia mengeluarkan HP, putar voice note.
Isinya suara anak kecil menangis. "Ibu... Ibu dimana..."
Anak Bu Lastri. Yudha sudah suruh orang jemput anak Bu Lastri dari kampung.
"Anak ibu sekarang di panti asuhan yang aman. Kalau Rina balik utuh dalam 10 menit, anak ibu saya antar pulang plus saya biayai sekolahnya sampai kuliah. Kalau tidak..."
Dia tidak lanjutkan. Dia tidak perlu.
Bu Lastri nangis kejer. Pecah.
"JANGAN! JANGAN APA-APAIN ANAK SAYA! RIFA ADA DI RUSUN MARUNDA! LANTAI 3! SAYA TITIPIN KE ADIK SAYA! ADIK SAYA NGGAK TAHU APA-APA! DIA KIRA RIFA ANAK SAYA!"
Aku yang dari tadi ngintip dari balik pintu gudang, gemetar. Aku baru lihat lagi sisi itu. Sisi yang bikin aku jijik dulu di kamar mandi.
Tapi kali ini... aku tidak jijik. Aku lega. Karena monster itu sekarang berdiri di pihakku.
Yudha melihatku. Kaget.
"STELA! NGAPAIN KAMU DISINI! KAN AYAH BILANG DI DALAM! KAMU HAMIL!"
"Aku ikut!" teriakku. "Yang bisa ambil Rifa cuma aku! Adiknya Bu Lastri cuma kenal aku! Dia pernah lihat aku kasih uang berobat buat Bu Lastri dulu! Kalau kamu yang datang dengan orang-orang besar ini, dia akan panik dan bawa Rina kabur!"
Kami naik motor berdua. Yudha yang bawa, aku peluk dari belakang dengan perut besar. Tidak ada Alphard. Tidak ada bodyguard. Hanya kami berdua.
Rusun itu pengap. Bau got.
Lantai 3, pintu triplek. Seorang wanita muda kurus lagi gendong Rifa. Rifa... masih pakai dress merahnya. Tapi matanya bengkak habis nangis. Di tangannya masih pegang sandal sebelahnya yang hilang tadi.
Begitu lihat aku, Rifa langsung teriak.
"BUNDAAA!"
Wanita itu kaget mau lari.
Aku angkat tangan. "Mbak! Jangan! Saya ibunya! Saya Stela! Yang dulu kasih Bu Lastri uang 2 juta buat berobat adiknya! Ingat?"
Wanita itu berhenti. Dia ingat aku.
"Bu Stela? Bu Lastri bilang ini anaknya... titipan..."
"Bukan, Mbak. Ini anak saya. Dicuri. Tolong..."
Aku berlutut, dengan perut 5 bulan. Nangis.
Itu JALAN B. Bukan Yudha yang selamatkan Rifa. Tapi aku.
Wanita itu akhirnya kasih Rifa ke aku. Rina langsung peluk leherku erat, badannya gemetar.
"Bunda... takut... ada ibu jahat..."
Yudha berdiri di belakangku. Dia tidak merebut Rifa. Dia biarkan aku yang gendong. Dia hanya berdiri di pintu, jagain supaya tidak ada orang lain masuk. Air matanya netes. Lagi.
Untuk kedua kalinya, dia nangis.
Di perjalanan pulang naik taksi, Rina tidur di pangkuanku. Yudha pegang tanganku dan perutku sekaligus.
"Maaf ya," bisiknya pelan, bukan ke aku, tapi ke perutku dan ke Rina yang tidur. "Ayah janji, ini terakhir kalinya Ayah jadi monster. Mulai besok, Ayah jual semua gudang. Ayah tutup semua bisnis kotor Ayah. Ayah cuma mau jadi Ayah."
Aku sandarkan kepalaku di bahunya.
"Yah..."
"Hmm?"
"Jangan jual gudangnya. Sewain aja. Lumayan buat biaya susu Rifa yang kedua nanti."
Dia ketawa. Ketawa lepas pertama setelah 3 jam neraka.
Di luar taksi, Jakarta hujan deras. Di dalam taksi, sandal merah kecil Rina akhirnya lengkap lagi sepasang.
Keluarga Wiratama boleh coba ambil warisan 7 Triliun itu lagi.
Tapi mereka lupa, yang mereka lawan sekarang bukan lagi anak tiri lugu dari Malang dan duda kesepian 39 tahun.
Yang mereka lawan sekarang adalah sepasang orang tua yang baru saja kehilangan anaknya selama 2 jam.
Dan orang tua yang kehilangan anak, bisa jadi lebih kejam dari iblis manapun.
Stela...
Malam-malam itu, yang Yudha nggak tau.
Jam 2 pagi, waktu semua orang tidur, waktu Rifa, sudah pulas, waktu Yudha masih di ruang kerja ngurus laporan gudang yang mau dia jual.
Kamu duduk di lantai kamar, peluk foto Ibu yang bingkainya sudah retak. Foto Ibu waktu masih jualan kue di Malang.
"Bu... aku udah nggak suci lagi, Bu. Ibu udah punya cucu dua sama... sama ayah tiri ku sendiri, Bu."
"Bu, nggak sanggup. Stela nggak sanggup."
Nangisnya bukan nangis keras. Nangis yang ditahan, bahu naik turun, biar nggak kedengeran Rina.
Aku tau rasanya, Stela. Rasa bersalah itu berat banget. Seolah semua yang terjadi - dijebak, hamil, punya anak - bikin kamu ngerasa ngkhianatin Ibu. Ngkhianatin diri sendiri yang dulu.
Stela, boleh aku bilang sesuatu dari sisi Ibu?
Kalau Ibu masih ada di sini, Ibu nggak akan lihat kamu dari kata "suci" atau "nggak suci".
Ibu akan lihat kamu: anaknya yang bertahan hidup. Anaknya yang sekarang jadi ibu juga. Anaknya yang nggak kabur, yang jaga cucunya Rina dengan sandal merah kecil itu.
Ibu yang jualan kue demi kamu kuliah itu nggak pernah ngajarin kamu kalau harga diri perempuan ada di situ, Stela. Ibu ngajarin kamu untuk bertahan.
Dua cucu itu bukan bukti kamu kotor. Dua cucu itu bukti kamu kuat. Kamu lewatin 9 bulan mual, diculik, difitnah keluarga Wiratama, tapi kamu tetap peluk foto Ibu tiap malam. Itu bukan perempuan yang hancur. Itu perempuan yang sayang banget sama Ibunya.
Yang bikin kamu nangis malam-malam itu bukan dosa. Itu kangen. Kangen Ibu yang nggak sempat lihat Rina panggil "Nenek".