Andy Brahwijaya adalah guru wali kelas 1A yang baru setelah ibu Winarti yang sedang cuti melahirkan. Andy mulai mengajar di kelas pagi ini.
Aku terlambat! Oh sial, aku lupa kalau hari ini ada ulangan matematika dan aku belum membuka buku matematika sama sekali. Matilah ...
pakai jurus apa pun menyontek itu tidak baik. Sebagai anak yang bodoh dalam pelajaran berhitung, aku tidak menyukai contekan. Ini adalah kebanggaan.
Saat pak Andy membagikan kertas tes ulangan matematika, tiba-tiba Titsya menyeletuk," Pak, Anthony tidak boleh ikut ulangan ini karena belum mengumpulkan tugas yang diberikan kemarin oleh ibu Winarti."
"Oh ya? Siapa yang bernama Anthony?" tanya pak guru itu. Aku mengangkat tangan.
"Saya Pak."
Pak Andy menggeleng kepala.
"Keluar. Kamu tidak saya izinkan ikut karena belum membuat tugas yang diberikan ibu Winarti."
Aku lemas, sekaligus senang. Kenapa aku bisa senang, karena otak ini pasti makin bodoh kalau ikut ulangan dan menyerahkan kertas kosong.
"Jangan kembali sebelum mengerjakan tugasmu!"
Pak Andy mengusirku. Dengan santai, aku pergi ke gudang sekolah.
Apa yang menarik di sini? Yap! Aku menemukan sebuah lubang besar di dinding itu. Hanya aku yang tahu. Lubang itu kutemukan empat hari yang lalu saat sedang membolos.
Lubang yang dalam dan gelap...
Tanpa berpikir lagi, aku masuk ke dalam lubang itu.
Di dalam lubang ini cukup pengap, bau tanah dan agak gelap. Lubang ini mungkin sudah lama karena retaknya dinding sekolah di bagian atas. Semakin hari, aku semakin masuk ke dalam dan semakin jauh dari sekolah itu. Timbul rasa penasaran.
Mungkin, lubang ini menuju ke suatu tempat. Dimensi dari dunia lain, atau tempat-tempat angker yang membuat aku sangat bersemangat.
Kakiku berhenti.
Jalan di lubang itu semakin menyorong dan kecil, sehingga aku harus merangkak dengan susah payah karena semakin sempit. Sesekali kepalaku terantuk dengan curam-curam kerucut.
"Semoga aku tidak bertemu dengan buaya."
Sementara di kelas, ketua kelas, Rina mencariku. karena tidak bisa menemukanku dia melapor kepada pak Andy.
"Sudah siang, sebentar lagi sekolah akan ditutup, tapi kenapa anak itu belum juga balik!?"
"Mungkin dia tersesat di sana dan tidak dapat balik arah."
"Mustahil. Dia itu sangat cerdas. Tidak mungkin kan, dia bisa tersesat. Pasti anak itu sudah pulang ke rumah."
Hari sudah mulai malam. Ibu Anthony datang ke sekolah dan menanyakan anaknya pada pak Kenan— keamanan sekolah.
"Cari siapa, Bu?"
"Anak saya Anthony belum juga kembali. Apa dia masih ada kegiatan ekstrakurikuler, mungkin?"
Kenan pergi mencari Anthony di kelas-kelas dan di aula, di perpustakaan, tetapi tidak ada tanda-tanda Anthony di sana.
"Anak itu mungkin sudah pulang dengan teman-temannya."
Ibu Anthony menggeleng lemah.
"Aku sudah menunggunya, tapi dia tidak ada di rumah. Pak Kenan harus mencari."
Sekuriti itu sekali lagi mencari sampai ke gudang. Dia memandangi lubang di tengah dinding itu. Perlahan mengusap lubang itu.
"Astaghfirullah. Apa ini?"
Ibu Anthony dan pak Kenan berseru dengan kompak.
Kenan menyelidiki lubang itu, sedangkan ibu Anthony mencarinya di tumpukan buku kuno.
Di mana sebenarnya Anthony, masihkah dia hidup dengan selamat?
Jika Anthony benar, lubang itu adalah lubang yang lorongnya tembus sampai ke sungai yang banyak buayanya. Apakah dia akan selamat? Mungkin Anthony sudah mati dimakan oleh buaya.
menemukan atau ditemukan. tamat.