3 bulan Anton nggak ketemu Alfi. Alfi KKN.
Di desa. Jauh. Nggak ada sinyal. Nggak ada story close friend. Nggak ada chat-an tiap malem. Cuma sekali-sekali, kalau sinyalnya bagus, Alfi kirim chat, "Fi: masih hidup." Anton bales, "Ton: masih apes."
3 bulan itu, Anton di rumah sakit. Lancar. Operasinya lancar. Kopinya nggak tumpah. Motornya nggak masuk got. Nggak ada bakso terbang.
Tapi sepi. Sepi pol. Kayak kopinya hambar. Kayak hidupnya nggak ada yang ngeledekin jidatnya.
Sampai suatu hari...
Alfi pulang KKN.
Aku pulang. Naik bus. Bawa tas gede. Bawa oleh-oleh. Bawa cerita.
Aku dateng ke rumah Oma. Oma langsung teriak, "ALFI! PULANG!"
Aku: "Oma! Kangen!"
Oma peluk aku. Erat banget.
Terus, dari belakang Oma...
Anton. Dateng. Pake kemeja putih. Pake celana hitam. Rapi. Kayak dokter beneran.
Dia ngeliat aku. Dari atas sampe bawah. Dari bawah sampe atas. Matanya melotot.
Aku langsung, "Ton jangan ketawa!"
Anton: "Eh, Fi—"
Aku: "Jangan ketawa! Aku tau! Aku tau aku beda!"
Anton nutup mulutnya. Tapi bahunya geter-geter. Nahan ketawa.
Oma: "Anton, jangan ketawa! Kasian!"
Anton akhirnya nggak tahan. Ketawa. HAHAHAHA!
"Fi! Lo tambah gemuk!"
Aku: "TON!"
Anton: "Eh, Fi, ngapain aja sih disana?"
Aku langsung ngomel, sambil naruh tas ku yang berat banget,
"Tenang tau nggak sial mulu!"
Anton: "Hah?"
Aku: "Di sana, aku tenang! Nggak sial! Nggak ada bakso terbang! Nggak ada mati lampu! Nggak ada kesandung! Nggak ada kecipratan! Makanya aku... makan terus! Di desa, tiap hari dikasih makan! Pagi dikasih makan, siang dikasih makan, sore dikasih makan, malem dikasih makan! Ada hajatan, dikasih makan! Ada panen, dikasih makan! Aku nggak sial, jadi aku makan!"
Anton masih ketawa, "Pantesan! 3 bulan KKN, pulang-pulang..."
Aku: "Jangan dilanjutin!"
Anton: "Pulang-pulang jadi..."
Aku: "TON!"
Anton ngangkat tangan, "Oke, oke, nggak ketawa lagi. Sumpah."
Tapi 2 detik kemudian, dia ketawa lagi. HAHAHA!
Aku langsung ngejar dia pake sendal. "TON! SINI!"
Anton lari keliling rumah Oma. "Ampun! Ampun! Fi! Ampun!"
Oma dari teras ketawa, "HAHAHA! Udah, udah! Baru pulang udah ribut lagi! Oma kangen liat kalian ribut!"
Aku berhenti ngejar. Ngos-ngosan. Perut ku... ya, emang agak gedean dikit. Pipiku juga.
Anton berhenti juga. Ngos-ngosan. Ngeliatin aku.
Dia ngomong pelan, nggak ketawa lagi, "Fi."
Aku: "Apa?"
"Kamu tambah gemuk. Tapi..."
Aku: "Tapi apa?"
"Tapi kamu keliatan... sehat. Keliatan bahagia. Keliatan tenang. 3 bulan nggak ketemu gue, kamu tenang. Kamu nggak sial."
Aku diem. Ngeliatin dia.
Aku ngomong pelan, "Iya. 3 bulan nggak ketemu kamu, aku tenang. Tapi..."
Anton: "Tapi apa?"
"Tapi sepi. Makanannya enak, tapi sepi. Nggak ada yang ngeledekin aku gemuk. Nggak ada yang bikin aku kesandung. Nggak ada yang bikin aku apes."
Anton senyum. Senyum yang dari dulu selalu bikin aku kesel.
"Yaudah. Mulai sekarang, gue ledekin lagi. Biar kamu nggak sepi."
Aku: "Ton!"
DUARRR!
Petir lagi. Padahal langitnya cerah. Lagi-lagi.
Oma teriak dari teras, "TUH KAN! BARU KETEMU LAGI, PETIRNYA DATENG LAGI! JODOH!"
Ini pertama kalinya mereka ngobrol. Beneran ngobrol. Bukan ribut. Bukan ngejar-ngejaran pake sendal. Bukan ketawa-ketawa nahan apes.
Kita duduk di teras Oma. Berdua. Sore. Anginnya pelan. Kopi susu hangat ada 2 gelas. Oma udah masuk ke dalam, sengaja. Biar kita berdua aja.
Anton ngomong duluan, sambil ngeliatin kopi-nya,
"Heran gua, sejak kita kenal ada aja ya?"
Aku ngangguk. "Iya. Ada aja. Bakso terbang. Es teh tawar. Motor masuk got. Mati lampu. Kecipretan. Kesandung. Petir padahal langit cerah."
Anton ketawa kecil. "Iya. Ada aja."
Terus dia diem. Nggak ngomong apa-apa. Cuma natap aku.
Natap aku lama. Lama banget. Kayak... kayak suka.
Aku langsung nggak enak. Aku langsung ngomong, buat nutupin deg-degan ku,
"Jangan bilang lu suka ya sama gua—"
Anton langsung kaget. "Eh!"
Aku: "Jangan bilang lu suka ya sama gua, Ton. Aku baru pulang KKN, aku tambah gemuk, aku masih—"
Anton motong. Pelan. Nggak ketawa. Nggak bercanda.
"Mikir biar nggak sial aja pusing, tapi kangen, Fi."
Aku diem. Jantung ku... deg deg deg deg. Kenceng banget. Lebih kenceng dari pas kesandung.
Aku ngomong, suara ku kecil, "Mikirnya kejauhan, Ton!"
Anton: "Iya, gue tau. Mikirnya kejauhan. Gue mikir, gimana caranya biar kita ketemu tapi nggak sial, pusing. Gue mikir, gimana caranya biar lo nggak kesandung lagi, pusing. Gue mikir, gimana caranya biar semesta nggak bikin petir lagi, pusing. Tapi..."
Dia ngeliat aku lagi. Lama lagi.
"Tapi kangen, Fi. 3 bulan nggak ketemu lo, gue kangen. Kangen di ledekin. Kangen di kejar pake sendal. Kangen liat lo kesandung. Kangen liat lo ngomel."
Aku langsung... nggak bisa ngomong. Mukaku merah. Merah banget.
Aku ngomong, "Ton, aku..."
Anton: "Hm?"
Aku: "Aku juga kangen. Di desa, aku tenang. Nggak sial. Tapi sepi. Nggak ada yang bikin aku kesandung. Nggak ada yang bikin aku ketawa sampe perut sakit. Nggak ada yang... natap aku lama kayak gini."
Kita berdua diem. Hening. Cuma suara jangkrik. Cuma suara kopi yang masih anget.
Anton ngomong lagi, pelan banget, "Fi, kalau gue bilang gue suka, lo mau apes lagi nggak?"
Aku: "Hah?"
Anton: "Soalnya kalau gue suka, kita pasti makin sering ketemu. Kalau makin sering ketemu, kita makin sering apes. Bakso terbang lagi. Mati lampu lagi. Petir lagi."
Aku ketawa kecil. Ketawa yang... ya gitu deh.
"Yaudah. Apes aja. Apes bareng."
Anton: "Beneran?"
Aku: "Beneran. Daripada kangen terus, tapi nggak ketemu. Mending apes, tapi ketemu."
DUARRR!
Petir lagi. Kenceng banget. Padahal langit masih cerah.
Aku sama Anton langsung ketawa bareng. Ketawa ngakak.
Aku: "Tuh kan! Semesta denger lagi!"
Anton: "Iya. Semesta denger kita mau apes bareng."
Oma dari dalam rumah teriak, "UDAH, JADIAN AJA! SEMESTA UDAH KASIH KODE PETIR 3 KALI!"
Aku: "OMA!"
Anton: "Oma, jangan gitu!"
Mau lanjut ke adegan Anton akhirnya ngomong "jadi pacar gue ya" dengan grogi sampe kopinya tumpah lagi, atau mau dibikin