Yaudah, pulang dari lomba, kita makan bakso. Lagi.
Buat ngerayain. Oma yang traktir.
Kita bertiga duduk di tukang bakso yang sama kayak kemarin. Yang tempat Anton ketumpahan kuah, yang tempat kipas anginnya jatuhin baut ke jidat Anton.
Aku duduk. Anton duduk. Oma duduk.
Aku udah jaga jarak. Duduknya 1 kursi dari Anton. Oma di tengah-tengah kita, jadi tameng.
Oma: "Pesan yang banyak! Cucuku menang! Hari ini Oma yang bayar!"
Abang baksonya dateng, "Mau pesan apa, Bu?"
Oma: "Bakso 3! Es teh 3! Yang manis!"
Aku langsung seneng. Akhirnya, makan bakso tanpa apes. Aku udah menang lomba. Aku udah juara. Pasti hari ini aman.
Baksonya dateng. Mangkok panas-panas. Uapnya ngebul.
Aku ambil sendok, mau nyendok bakso pertama...
WUSSS!
Bakso ku... TERBANG.
Iya. TERBANG.
Nggak tau kenapa, sendok ku kepeleset, baksonya mental, terbang ke atas, muter-muter di udara, terus...
PLAK!
Nemplok di jidat Anton. Pas di bekas benjol kena baut kipas angin kemarin.
Anton diem. Bakso nempel di jidatnya. Kuahnya netes-netes ke hidungnya.
Aku: "..."
Oma: "HAHAHAHAHAHAHAHA!"
Satu tukang bakso ngeliatin lagi.
Anton ngambil bakso dari jidatnya, pelan-pelan, "Alfi..."
Aku: "Bukan aku! Sendoknya! Sendoknya yang licin!"
Anton mau ngomong, tapi dia malah ketawa. Ketawa ngakak. "Tuh kan, bener kata Oma. Kita kalau makan bakso pasti ada aja."
Belum selesai.
Aku minum es teh ku. Buat nenangin diri.
Sruput.
Aku langsung meringis. "Peh!"
Anton: "Kenapa?"
Aku: "Es tehnya... TAWAR!"
Oma nyobain es tehnya, "Loh, iya! Tawar! Nggak ada gulanya!"
Abang baksonya panik, "Aduh, maaf Mbak! Lupa ngasih gula! Tadi saya kira udah dikasih!"
Oma langsung ketawa lagi, "HAHAHA! Baksonya terbang, es tehnya tawar! Kalian ini emang jodohnya apes!"
Anton nyodorin es tehnya ke aku, "Nih, punya gue. Punya gue manis. Tukeran."
Aku: "Nggak usah, nanti punya kamu ketularan tawar."
Anton: "Udah, minum aja. Gue minum yang tawar gapapa. Gue udah biasa apes."
Aku minum es tehnya Anton. Manis. Enak.
Anton minum es teh ku yang tawar. Dia meringis, "Ih, beneran tawar. Kayak minum air got."
Aku: "TON! Jangan ngomong got lagi! Nanti diijabah!"
Anton langsung tutup mulutnya. "Shhh! Iya, iya, gue diem!"
Oma dari seberang, sambil makan baksonya yang aman-aman aja, ngomong, "Alfi, Anton, Oma mau bilang sesuatu."
Kita berdua: "Apa, Oma?"
Oma: "Kalian ini, baksonya terbang, es tehnya tawar, motornya masuk got, matinya lampu, tapi kok kalian masih aja bareng-bareng terus? Kalau bukan jodoh, apa namanya?"
Aku langsung tersedak bakso. Uhuk uhuk uhuk!
Anton langsung nepuk-nepuk punggungku. "Alfi! Pelan-pelan!"
Aku batuk-batuk, muka merah, "Oma!"
Oma: "HAHAHA! Oma cuma bilangin yang bener!"
Aku ngomong itu sambil ngeliatin es teh tawar di depanku.
"Ton, kayaknya kita mesti jangan ketemu dulu deh."
Anton yang lagi ngelap jidatnya yang kena bakso tadi, langsung berhenti.
"Hah?"
Aku: "Serius. Kita tes dulu. Kalau kita nggak ketemu 3 hari, terus kita nggak kenapa-kenapa, berarti emang gara-gara kita ketemu terus kita jadi apes. Tapi kalau kita nggak ketemu tapi tetep apes..."
Anton nyambung, "Berarti semesta emang ngasih kutukan."
Aku ngangguk. "3 hari ya?"
Oma yang dari tadi makan bakso, langsung berhenti makan. "Hah?! 3 hari nggak ketemu?!"
Anton ngeliat aku. Lama banget. Terus dia ngomong, pelan tapi jelas,
"Oke."
Aku: "Oke?"
Anton: "Oke. 3 hari. Nggak chat, nggak telepon, nggak ketemu. Kita tes."
Oma: "Yah, Oma jadi nggak bisa liat kalian apes bareng dong!"
Aku ketawa kaku, "Oma!"
Dan bener aja.
3 hari itu aman.
LANCAR JAYA.
Hari pertama nggak ketemu Anton, aku bangun pagi, airnya nyala, kompornya nyala, sandal ku nggak putus. Aku ke kampus, nggak jatoh, nggak kesandung, bukuku nggak jatoh.
Hari kedua, aku latihan silat, nggak ada yang cidera, nggak ada yang salah tendang. Pulang ke rumah, Oma masak enak, nggak ada panci jatoh.
Hari ketiga, aku ke toko buku sendirian, nggak ada buku yang jatoh nimpa kepala ku, nggak ada spanduk yang lepas, nggak ada hujan deres.
Aku sampe mikir, Oh, ternyata bener. Kalau nggak ketemu Anton, hidupku tenang.
Anton juga sama. Di rumah sakit, operasinya lancar semua. Kopinya nggak tumpah. Mobilnya nyala. Sarung tangannya nggak sobek.
Kita berdua nggak chat. Nggak telepon. Tapi kita berdua sama-sama mikir, Berarti emang bener, kita nggak boleh ketemu.
Tapi di hari ke 4...
Jam 8 pagi. Aku udah janji mau ketemu Anton di tempat biasa. Di warung kopi yang kemarin mati lampu itu.
Aku dateng duluan. Duduk. Jaga jarak. Sendirian. Aman. Kopi susu hangat ku dateng, manis, enak.
Terus Anton dateng. Baru buka pintu warung...
BRAK!
Pintu warungnya lepas dari engselnya.
BYUR!
Air dari galon di belakang warung tumpah semua, ngalir ke arah kita.
CTEK!
Lampu warung kedip-kedip, terus mati lagi.
Ibu warungnya teriak, "ADUH! LAGI! LAGI!"
Aku ngeliat Anton. Anton ngeliat aku.
Kita berdua ngomong barengan, "TUH KAN!"
Aku: "3 hari aman! 3 hari lancar jaya! Begitu ketemu lagi di hari ke 4, langsung apes lagi!"
Anton: "Ini mah bukan kutukan lagi, Alfi. Ini mah semesta nggak ngijinin kita ketemu!"
Aku langsung berdiri, "Yaudah! Pulang! Kita pulang! Jangan ketemu lagi!"
Anton juga berdiri, "Iya! Pulang!"
Kita berdua lari keluar warung. Beda arah lagi. Aku ke kiri, dia ke kanan.
Baru jalan 5 langkah...
Aku kesandung batu. BUG! Jatoh lagi. Lututku lecet lagi.
Anton di seberang jalan, dia juga kesandung. BUG! Jatoh juga. HP-nya mental ke got.
Kita berdua jatoh bareng, di jalan yang beda, tapi di waktu yang sama.
Aku teriak dari seberang jalan, "TON! KAMU JATOH JUGA?!"
Anton teriak balik, sambil megangin dengkulnya, "IYA! GUE JUGA JATOH! PADAHAL UDAH NGGAK KETEMU!"
Aku: "BERARTI KUTUKANNYA NGGAK ILANG?!"
Anton: "BERARTI KUTUKANNYA IKUTIN KITA! BUKAN KARENA KITA KETEMU!"
Kita berdua duduk di pinggir jalan, sama-sama megangin dengkul yang lecet, sama-sama ngos-ngosan.
Ibu warungnya keluar, bawa 2 plester, "Nih, Dek. Pake plesternya. Kalian ini kalau jatoh kok selalu barengan sih? Padahal jaraknya jauh."
Aku sama Anton saling liat. Jarak kita 5 meter. Tapi jatohnya barengan. Apesnya barengan.
Aku ngomong pelan, "Ton..."
Anton: "Hm?"
"Kayaknya... 3 hari aman itu cuma semesta lagi istirahat. Hari ke 4, semesta kerja lagi."
Anton ketawa, ketawa yang udah pasrah banget, "Yaudah. Kalau gitu, kita apes bareng aja lagi. Daripada apes sendirian tapi jatohnya barengan juga."
Akhirnya kita duduk lagi di warung itu. Dengkul masih diperban plester.
Anton ngomong, sambil ngeliatin plester di dengkulku yang sama kayak plester di dengkulnya,
"Gini aja, Fi, kita coba lebih lama lagi? Kalau kemarin 3 hari, sekarang seminggu."
Aku langsung, "OOH boleh boleh!"
Anton: "Seminggu. Beneran. Nggak ketemu, nggak chat, nggak telepon, nggak video call. Nol."
Aku: "Oke! Seminggu!"
Oma yang baru dateng ke warung, langsung protes, "Seminggu?! Oma mau liat kalian apes bareng gimana?!"
Kita berdua: "OMA!"
Hari pertama latihan, LANCAR JAYA.
Aku latihan silat, semua gerakan bener, nggak ada yang salah, pelatihku sampe bilang, "Alfina, kamu hari ini bagus banget!"
Hari kedua, HOKI.
Aku dapet beasiswa lomba. Aku dapet buku gratis dari toko buku. Aku jalan, nemu uang 20 ribu di jalan. Aku nggak jatoh.
Hari ketiga, makin lancar.
Anton juga. Operasinya lancar semua. Pasiennya sembuh cepet. Dia dipuji dokter senior.
Hari ke 4-6, bener-bener LANCAR.
Lancar pol. Nggak ada bakso terbang. Nggak ada es teh tawar. Nggak ada motor masuk got. Nggak ada mati lampu.
Aku sampe mikir, Oh, ternyata bener. Kita emang nggak boleh ketemu. Seminggu aja udah selancar ini.
Hari ketujuh, lancar pol.
Full nggak ketemu, lancar.
Aku udah di kamar, lagi rebahan, lagi seneng-senengnya. Besok udah seminggu selesai. Tesnya berhasil.
Terus...
TING TONG! TING TONG!
Video call. Dari Anton.
Aku kaget. Loh, katanya seminggu nggak video call? Ini baru hari ketujuh, belum selesai!
Aku angkat, "Ton! Katanya seminggu—"
Baru aku ngomong gitu...
SIALNYA DATENG.
Sinyalnya langsung jelek. Ngomong putus-putus.
Anton di layar: "Fi—... Fi—... gu—... gu—... kang—..."
Mukanya nge-freeze. Suaranya kayak robot rusak. Kresek kresek kresek.
Aku: "Ton?! Ton, sinyal kamu jelek! Ngomong kamu putus-putus!"
Anton: "Al—... gu—... nggak ta—..."
Terus layar ku langsung...
CTEK!
Mati lampu. Di kamar ku. Gelap.
HP ku langsung lowbat. 1%. Terus mati.
Aku teriak di kamar yang gelap, "TON! BARU JUGA VIDEO CALL, LANGSUNG APES LAGI!"
Di sisi lain, Anton di rumahnya juga teriak, "ALFI! SINYAL GUE JELEK! WIFI GUE MATI!"
Dia coba nelpon lagi, nggak bisa. Dia coba chat, nggak terkirim. Centang satu.
Dia banting HP ke kasur, "Padahal udah seminggu lancar! Baru video call 10 detik, langsung apes!"
Aku di kamar, duduk di lantai yang gelap, ketawa sendiri.
"HAHAHA! Tuh kan! Beneran! Kita video call aja apes! Apalagi ketemu!"
HP ku nyala lagi setelah aku charge dikit. Ada chat masuk dari Anton, putus-putus juga.
Ton: Fi, ma—... gu—... kang—...
Ton: ...en ...
Ton: Sinyal ... jelek ...
Aku bales:
Alfi: Iya, gue tau. Lo mau bilang kangen kan?
Alfi: Sinyalnya aja yang nggak ngijinin lo ngomong.
Anton bales, centang satu, lama banget baru terkirim.
Ton: Iya.
Aku senyum-senyum sendiri di kamar yang masih mati lampu.
Akhirnya kita mutusin...
Nggak usah ketemu. Chat-an aja.
Tapi chat-annya beda. Kita bikin story. Story yang cuma Anton yang liat. Dan cuma Alfiana yang liat.
Close friend. Isinya cuma kita berdua.
Aku bikin story: foto kopi susu hangat ku. Caption: "Tanpa Anton, kopinya manis. Tapi kok sepi ya?"
Anton liat. Langsung bales, "Tanpa Alfi, kopinya juga manis. Tapi kok hambar ya?"
Anton bikin story: foto dia di rumah sakit. Caption: "Operasi lancar. Tapi nggak ada yang ngeledekin."
Aku bales, "Siapa yang mau ngeledekin dokter yang jidatnya pernah ketempelan bakso?"
Kita chat-an tiap malem. Story-an tiap hari. Cuma kita berdua yang liat. Nggak ada yang lain. Aman. Nggak apes. Nggak ada bakso terbang. Nggak ada mati lampu.
Sampai suatu hari...
Aku lagi di cafe. Sendirian. Lagi ngerjain tugas bimbingan. Pake kacamata lagi, kemeja kotak-kotak lagi, rambut diikat lagi.
Aku lagi asik ngetik di laptop.
Terus aku ngerasa ada yang ngeliatin.
Aku noleh.
ANTON.
Di seberang jalan. Di depan cafe. Lagi jalan ke arah cafe. Dia liat aku. Aku liat dia.
Dia senyum. Senyum lebar banget. Kayak udah seminggu nggak ketemu, kangen banget.
Dia mau nyamperin aku. Dia angkat tangan, "ALFI!"
Aku juga angkat tangan, "TON!"
Dia jalan cepet ke arahku. Mau nyebrang.
Aku berdiri dari kursi, mau nyamperin dia juga ke depan cafe.
Dan pas Anton mau nyamperin...
Dia nyebrang.
BYUR!
Ada mobil lewat, kenceng banget. Nginjek genangan air di jalan.
Airnya muncrat semua. Kenceng banget.
BYURRR!
Anton kecipratan. Dari kepala sampe kaki. Bajunya basah. Celananya basah. Sepatunya basah. Mukanya basah.
Dia berdiri di tengah jalan, bengong. Basah kuyup.
Aku yang di depan cafe, langsung nutup mulut, "TON!"
Anton ngeliat aku, dengan muka yang basah kuyup, air netes-netes dari rambutnya,
"Alfi... gue baru mau nyamperin lo..."
Aku langsung lari ke arah dia, "Kamu basah! Kamu basah kuyup!"
Anton: "Iya. Ini gara-gara gue mau nyamperin lo, kan?"
Aku: "Iya! Tuh kan! Baru juga mau nyamperin, langsung kecipratan!"
Kita berdua berdiri di pinggir jalan. Dia basah. Aku kering. Orang-orang pada ngeliatin.
Anton ngeluarin HP-nya, yang juga basah dikit, dia ngetik story, terus dia nunjukin ke aku.
Story-nya foto dia yang basah kuyup. Caption: "Baru mau nyamperin Alfiana, udah kecipratan. Kutukan masih aktif."
Aku langsung bikin story juga. Foto Anton yang basah kuyup. Caption: "Yang ini, cuma aku yang boleh ketawain."
Terus aku narik tangan Anton, "Udah, masuk cafe dulu! Nanti kamu masuk angin!"
Anton: "Alfi, kita kan katanya nggak boleh ketemu..."
Aku: "Udah basah kayak gini, mau nggak ketemu gimana? Masuk!"
Kita masuk cafe berdua. Basah-basah. Satu basah, satu kering.
Yaudah, kita masuk cafe.
Aku narik tangan Anton masuk. Satu cafe langsung ngeliatin kita. Soalnya Anton basah kuyup. Airnya netes-netes sampe ke lantai cafe. Tetes... tetes... tetes...
Mbak-mbak cafe-nya langsung, "Mas, Mas, basah banget! Mau pesen apa?"
Anton: "Kopi hangat. Yang panas."
Aku: "Sama jaket! Ada jaket nggak, Mbak?"
Mbaknya: "Ada, Mbak. Ada hoodie cafe. Buat karyawan. Mau pinjem?"
Aku: "Mau! Mau!"
Mbaknya ngasih hoodie cafe. Hoodie-nya warna pink. PINK. Ada tulisan gede di depannya: "CAFE BAHAGIA - KOPI BIKIN BAHAGIA"
Anton ngeliat hoodie itu, "Alfi, gue nggak mau pake yang pink—"
Aku: "Pake! Daripada kamu kedinginan!"
Anton pake hoodie pink itu. Kegedean dikit. Lengannya kepanjangan. Mukanya masih basah. Rambutnya lepek.
Aku langsung ketawa. Ketawa ngakak sampe perutku sakit.
"HAHAHAHAHA! Ton! Kamu keliatan kayak... kayak maskot cafe!"
Anton ngeliat kaca di cafe, ngeliat dirinya sendiri pake hoodie pink, "Alfi... gue dokter. Gue nggak bisa keliatan kayak gini."
Aku: "Udah, duduk! Duduk!"
Kita duduk di pojokan cafe. Meja kecil. Jarak... ya 1 kursi. Udah nggak bisa jaga jarak lagi, mejanya kecil.
Kopi hangat dateng. 2 gelas. Aku yang pesenin. Kopi susu hangat, gula dikit. Sama kayak di warung kemarin.
Anton megangin gelas kopinya pake 2 tangan. Tangannya dingin banget. Basah.
Aku: "Ton, kamu kedinginan?"
Anton: "Dikit."
Aku ngeluarin tisu dari tas ku, ngasih ke dia, "Nih, lap rambutnya. Basah banget."
Anton ngelap rambutnya. Aku ngelap meja yang basah kena air dari baju dia.
Hening. Cuma suara musik cafe yang pelan. Nggak ada suara hujan. Nggak ada mati lampu.
Anton ngomong pelan, "Alfi."
"Hm?"
"Kita udah seminggu nggak ketemu. Terus tadi gue mau nyamperin lo, gue langsung kecipratan. Berarti..."
Aku nyambung, "Berarti kita emang nggak boleh ketemu. Kutukannya masih aktif."
Anton ngangguk. Terus dia ngomong lagi, "Tapi tadi, pas gue basah, lo yang narik gue masuk cafe. Lo nggak kabur."
Aku diem. Ngeliatin kopi ku.
"Kalau gue kabur, kamu basah sendirian di jalan. Kasian."
Anton senyum. Senyum yang dari kemarin selalu bikin aku kesel, tapi sekarang bikin aku... ya gitu deh.
"Alfi, kalau gitu, kita gimana? Kita chat-an terus? Story-an terus? Nggak pernah ketemu?"
Aku ngeliat dia. Pake hoodie pink. Basah. Kedinginan. Tapi tetep duduk di depan aku.
Aku ngomong pelan, "Ton, jujur ya. Seminggu nggak ketemu, hidupku lancar. Tapi sepi. Kopi ku manis, tapi sepi. Latihan ku lancar, tapi sepi. Story-an sama kamu, seru, tapi... sepi."
Anton: "Gue juga. Operasi ku lancar, tapi sepi. Nggak ada yang ngeledekin jidat gue."
Aku ketawa kecil.
Terus aku ngomong, "Gimana kalau kita tetep ketemu, tapi... kita terima aja apesnya? Kalau kecipratan, ya kecipratan bareng. Kalau baksonya terbang, ya terbang bareng. Kalau mati lampu, ya gelap-gelapan bareng."
Anton langsung, "Oke. Deal. Apes bareng."
Aku: "Tapi jangan deket-deket banget. Jarak 1 kursi."
Anton: "Oke. Jarak 1 kursi. Tapi kalau gue kedinginan, gue boleh pinjem jaket lo nggak?"
Aku: "Jaket ku di rumah. Yang ada hoodie pink."
Anton ngeliat hoodie pink-nya, "Yaudah, gue pake ini aja. Biar apesnya jadi lucu."
Pas kita lagi ngomongin soal apes bareng itu, tiba-tiba...
Ada bapak-bapak di meja sebelah yang dari tadi nguping.
Bapaknya pake peci, pake sarung, pake kacamata, lagi ngopi sendirian. Dari tadi dia ngeliatin kita. Dari pas Anton masuk basah-basah, sampe kita ngomongin soal kutukan.
Bapaknya tiba-tiba berdiri. Jalan ke meja kita. Duduk. Nggak permisi.
Aku sama Anton langsung kaget, "Eh, Pak?"
Bapaknya ngomong pelan, kayak peramal di film-film,
"Nak, Bapak dari tadi denger. Kalian bilang, kalau ketemu, sial terus. Kalau nggak ketemu, lancar. Betul?"
Aku sama Anton ngangguk bareng, "Iya, Pak."
Bapaknya nyeruput kopinya dulu. Pelan. Terus dia ngomong,
"Anak muda jaman sekarang, dikit-dikit bilang kutukan. Dikit-dikit bilang semesta nggak ngijinin."
Aku: "Tapi Pak, beneran! Bakso kita terbang, es teh kita tawar, motor kita masuk got, mati lampu—"
Bapaknya motong, "Bapak tau. Bapak denger semua tadi. Tapi kalian salah ngertiin."
Anton: "Salah gimana, Pak?"
Bapaknya nunjuk Anton yang masih pake hoodie pink, "Kamu, Nak. Tadi kamu mau nyamperin dia, kamu kecipratan air. Kamu pikir itu sial?"
Anton: "Iya, Pak. Basah semua."
Bapaknya geleng-geleng, "Bukan sial, Nak. Itu tandanya, kamu itu orangnya buru-buru. Kamu mau nyamperin dia, kamu nggak liat ada genangan air, ada mobil lewat. Kamu nggak hati-hati. Bukan semesta yang bikin kamu basah, kamu sendiri yang nggak liat jalan."
Aku langsung diem. Anton juga diem.
Bapaknya nunjuk aku, "Kamu, Nduk. Kamu bilang baksonya terbang. Es tehnya tawar. Itu bukan kutukan. Itu sendokmu yang licin, kamu nyendoknya buru-buru. Es tehnya tawar, itu abangnya yang lupa ngasih gula. Bukan gara-gara kamu duduk deket dia."
Aku: "Tapi Pak, kalau kita nggak ketemu seminggu, kita lancar semua—"
Bapaknya ketawa, "HAHAHA! Ya jelas lancar! Kalau kamu sendirian, kamu fokus! Kamu nggak grogi! Kamu nggak deg-degan! Kamu nggak buru-buru mau keliatan bagus di depan dia!"
Bapaknya ngeliat kita berdua, senyum,
"Kalian ini bukan kena kutukan, Nak. Kalian ini kena... grogi. Kalian kalau ketemu, kalian grogi. Kalau grogi, kalian jadi ceroboh. Kalau ceroboh, ya apes. Bakso terbang, kecipratan, jatoh, mati lampu... eh, mati lampu sih emang PLN-nya."
Kita berdua bengong.
Anton: "Jadi... bukan kutukan?"
Bapaknya: "Bukan. Itu namanya jatuh cinta. Orang kalau jatuh cinta, otaknya ke mana-mana. Tangannya tremor. Kakinya kesandung. Mulutnya ngomongnya ngaco."
Aku langsung merah. Merah banget. Sampai ke leher.
Anton juga merah. Merah banget. Sampai ke kuping.
Bapaknya berdiri, tepuk bahu Anton,
"Udah, Nak. Nggak usah takut ketemu. Kalau mau nggak apes, caranya gampang. Kalau ketemu dia, jangan grogi. Tarik napas. Jalan pelan-pelan. Liat jalan. Pegang gelasnya yang bener. Jangan keburu-buru."
Terus bapaknya jalan ke kasir, bayar kopinya, sambil ngomong,
"Bapak dulu juga gitu. Mau nyamperin ibu, jatoh di got. 3 kali. Sekarang udah nikah 30 tahun. Got-nya masih ada, tapi jatohnya udah nggak."
Bapaknya pergi.
Tinggal aku sama Anton di meja. Hening. Hoodie pink. Kopi susu hangat. Kacamata ku berembun.
Anton ngomong pelan, "Alfi..."
Aku: "Hm?"
"Jadi... kita bukan kena kutukan? Kita cuma... grogi?"
Aku ngangguk pelan, "Kayaknya iya."
Anton: "Berarti kalau kita nggak grogi lagi, kita nggak apes lagi?"
Aku: "Kayaknya... gitu."
Anton tarik napas panjang. "Oke. Tarik napas. Jalan pelan-pelan. Pegang gelasnya yang bener."
Dia megang gelas kopinya, pelan-pelan, nggak buru-buru. Diminum. Nggak tumpah.
Aku juga tarik napas. Megang gelas ku, pelan-pelan. Diminum. Nggak tumpah.
Kita berdua ngeliat satu sama lain. Ketawa kecil.
"Berhasil!" kataku.
Anton: "Iya. Nggak apes. Kita berhasil minum kopi tanpa apes."
Kita baru aja seneng-senengnya. Baru aja berhasil minum kopi tanpa tumpah.
Aku: "Tuh kan, Ton! Bener kata bapaknya! Kita cuma grogi!"
Anton: "Iya! Kita nggak kena kutukan! Kita cuma—"
Belum selesai ngomong...
BRAK!
Bapaknya balik lagi. Lari-lari. Masuk cafe lagi. Napasnya ngos-ngosan. Pecinya sampe miring.
"Dek! Dek! Tunggu! Bapak balik lagi!"
Aku sama Anton langsung kaget, "Eh, Pak? Kok balik lagi?"
Bapaknya duduk lagi di meja kita. Ngos-ngosan.
"Bapak bohong! Bapak cuma bercanda tadi!"
Aku: "Hah?!"
Anton: "Bercanda gimana, Pak?"
Bapaknya: "Tadi Bapak ngomong soal grogi, soal jatuh cinta, soal tarik napas... itu Bapak ngarang! Bapak cuma mau keliatan bijak di depan anak muda!"
Aku bengong. Anton bengong.
Bapaknya lanjut, "Sebenernya, Bapak dari tadi dengerin kalian, Bapak juga bingung. Kok bisa baksonya terbang, es tehnya tawar, motornya masuk got, mati lampu, kecipratan... itu nggak normal, Dek!"
Anton: "Jadi... emang kutukan?"
Bapaknya ngangguk, serius banget, "Iya! Bapak juga ngalamin! Dulu Bapak mau nyamperin ibu, Bapak jatoh di got 3 kali. Bapak kira itu grogi. Ternyata..."
Bapaknya ngeliat kanan-kiri, bisik-bisik, kayak mau ngasih tau rahasia negara,
"Ternyata ibu itu... emang pembawa apes buat Bapak! Sampai sekarang! Udah nikah 30 tahun, masih apes! Kemarin aja Bapak mau masak air, kompornya meledak! Gara-gara ibu lewat di depan Bapak!"
Aku: "HAH?!"
Anton: "Jadi... emang kutukan beneran, Pak?"
Bapaknya: "Iya! Dan Bapak mau kasih tau kalian. Kutukan kayak gini nggak bisa ilang. Caranya cuma satu."
Aku sama Anton langsung maju, "Apa, Pak?! Apa?!"
Bapaknya: "Nikah."
Kita berdua: "HAH?!"
Bapaknya: "Iya, nikah! Kalau udah nikah, apesnya jadi apes bareng. Jadi nggak kerasa apes lagi. Kayak Bapak sama ibu. Tiap hari apes, tapi apesnya bareng-bareng, jadi malah lucu. Jadi bahan ketawa."
Aku langsung merah lagi. Lebih merah dari tadi. Sampai ke kuping.
Anton langsung batuk-batuk, Uhuk uhuk uhuk! Kopinya nyembur dikit ke hoodie pink-nya.
"Pak! Bapak ngomong apa sih!"
Bapaknya ketawa, "HAHAHA! Bapak bercanda lagi! Bercanda! Bapak cuma mau liat muka kalian merah!"
Dia berdiri lagi, mau pergi lagi, sambil ngomong,
"Udah, Dek. Bapak pulang dulu. Bapak cuma mau bilang, kalau kalian apes terus, ya apes bareng aja. Jangan dipisah-pisah. Nanti kayak Bapak, udah 30 tahun, masih apes, tapi nggak mau pisah."
Bapaknya pergi. Beneran pergi. Kali ini nggak balik lagi.
Tinggal aku sama Anton lagi. Di meja. Hoodie pink. Kopi yang udah nyembur dikit.
Anton ngelap hoodie pink-nya, "Alfi..."
Aku: "Jangan ngomong apa-apa. Aku tau kamu mau ngomong apa."
Anton: "Bapaknya... ngomong nikah."
Aku: "Iya. Jangan diulang."
Anton: "Tapi... kalau apes bareng terus, jadi nggak kerasa apes... kayaknya bener juga ya?"
Aku ngeliat dia. Dia ngeliat aku.
Aku ngomong pelan, "Ton, kita baru juga berhasil minum kopi tanpa tumpah. Jangan bikin tumpah lagi."
Anton ngangguk, "Iya. Tarik napas. Jalan pelan-pelan.
Yaudah, kita pulang dari cafe.
Udah sore. Matahari udah mau tenggelam. Jalanan udah agak sepi.
Aku jalan di depan. Anton jalan di belakang. Jarak... ya masih 1 kursi. Tapi sekarang jalannya pelan-pelan. Beneran pelan-pelan. Sesuai kata bapaknya.
Anton: "Alfi, tarik napas."
Aku: "Iya, udah. Tarik napas."
Anton: "Jalan pelan-pelan."
Aku: "Iya, udah. Pelan-pelan."
Anton: "Liat jalan."
Aku: "Iya, udah. Liat jalan."
Kita jalan pelan-pelan banget. Kayak orang lagi jalan di atas es. Pelan. Hati-hati.
5 langkah. Aman.
10 langkah. Aman.
15 langkah. Aman.
Aku sampe seneng, "Ton! Liat! Nggak apes! Kita berhasil! 15 langkah nggak apes!"
Anton: "Iya! Bener kata bapaknya! Kita cuma grogi!"
Aku ketawa, "HAHAHA! Ternyata gampang!"
Dan pas aku ketawa itu...
Aku lupa liat jalan.
KESANDUNG!
BUG!
Aku kesandung batu lagi. Batu yang sama kayak kemarin? Nggak, batu yang beda. Tapi tetep kesandung.
Tapi kali ini...
Nggak separah kemarin.
Kemarin aku jatoh, lututku lecet, tanganku berdarah, HP ku mental ke got.
Kali ini, aku cuma kesandung dikit. Lututku nggak jatoh ke tanah. Aku cuma... oleng. Ke depan dikit. Terus...
Plak!
Anton langsung nangkep tangan ku dari belakang. Cepet banget.
Tanganku dipegang Anton. Badanku ketahan. Nggak jadi jatoh.
Aku berdiri lagi. Napas ku ngos-ngosan. Jantung ku deg-degan.
Anton masih megangin tangan ku. "Alfi, hati-hati!"
Aku ngeliat tangan ku yang dipegang Anton. Terus ngeliat Anton.
Aku: "Ton..."
Anton: "Hm?"
"Kamu... nangkep aku."
Anton: "Iya. Biar kamu nggak jatoh separah kemarin."
Kita diem. Di pinggir jalan. Tangan ku masih dipegang Anton. Jarak kita... udah nggak 1 kursi lagi. Udah 0 kursi. Deket banget.
Aku ngomong pelan, "Ton, lepasin. Nanti apes."
Anton: "Kalau gue lepasin, lo jatoh."
Aku: "Kalau nggak dilepasin, kita apes."
Anton: "Yaudah, apes aja. Yang penting lo nggak jatoh."
Aku langsung... diem. Nggak bisa ngomong apa-apa. Mukaku merah lagi.
Anton pelan-pelan ngelepasin tangan ku, tapi masih megangin dikit, "Udah, berdiri yang bener. Jalan pelan-pelan lagi."
Aku ngangguk, "Iya."
Kita jalan lagi. Pelan-pelan. Kali ini, Anton jalan di samping ku. Bukan di belakang. Samping. Jaraknya... setengah kursi.
Aku liat jalan. Anton liat jalan. Kita berdua liat jalan.
Anton tiba-tiba berhenti di depan rumah Oma. Nggak jadi pulang.
Dia ngomong, sambil ngeliatin tangan ku yang tadi dia pegangin,
"Mungkin karena kita belum kenalan sah kali ya?"
Aku: "Hah? Kenalan sah gimana?"
Anton: "Iya. Dari kemarin kita ketemu, kita apes terus. Kita masuk got bareng, makan bakso bareng, mati lampu bareng, kecipratan bareng. Tapi kita belum pernah kenalan yang bener. Yang sah. Yang salim."
Aku bengong. "Oh... iya ya? Kita belum pernah kenalan beneran."
Anton langsung berdiri tegak. Kayak lagi upacara. Bajunya masih hoodie pink cafe. Basah dikit.
"Yaudah, kenalin."
Aku juga berdiri tegak. Kayak lagi lomba silat.
"Kenalin, Alfiana, 23, masih kuliah semester akhir, masih jomblo, pinter silat, mendaki."
Aku nyodorin tangan ku. Salim.
Anton nyambut tangan ku. Salim. Jabat tangannya lama. Nggak lepas-lepas.
Terus dia ngomong, "Antonius Adibtrata, 37 tahun, masih lajang, dokter."
Kita salim. Lama. Oma dari teras ngeliatin, sampe berdiri, "Eh, salimnya kok lama?!"
Kita berdua langsung lepasin tangan. Kaget.
Aku: "Oma!"
Anton: "Eh, Oma!"
Baru aja kita lepasin tangan...
DUARRRR!
GRRRRR!
Suara gemuruh. Kenceng banget. Kayak petir. Padahal langitnya cerah. Nggak ada mendung. Nggak ada hujan.
Satu kampung langsung keluar rumah, "Eh, petir? Kok terang?"
Aku langsung ngeliat ke atas. Langitnya biru. Nggak ada awan hitam.
Aku ngeliat Anton. Anton ngeliat aku.
Aku: "Tuh kan, Ton, semesta aja denger."
Anton: "Iya. Semesta denger kita kenalan."
Oma dari teras, ketawa, "HAHAHA! Semesta aja kaget! Baru kenalan aja udah bikin petir! Gimana kalau jadian?!"
Aku: "OMA!"
Anton: "Oma, jangan gitu!"
DUARRR! Lagi.
Gemuruh lagi. Lebih kenceng. Kali ini, lampu di teras Oma kedip-kedip. Lampu jalan kedip-kedip.
Aku: "Ton, semesta nggak setuju kita kenalan!"
Anton: "Bukan nggak setuju, Fi. Semesta kaget. Soalnya dari kemarin kita apes bareng, tapi kita baru kenalan sekarang."
Aku: "Terus gimana?"
Anton ngomong pelan, sambil ngeliatin aku, "Berarti mulai sekarang, kita kenalan yang sah. Jadi kalau apes lagi, bukan karena belum kenalan. Tapi karena... ya, kita emang apes bareng."
Aku ketawa kecil, "Oke. Kenalan sah."
Oma teriak lagi dari teras, "Udah, masuk! Nanti kesamber petir beneran!"
Aku lari masuk rumah. Anton lari ke motornya.
Sebelum pergi, Anton teriak, "Fi!"
Aku noleh dari pintu, "Apa?"
"Besok, kenalan lagi ya? Biar semesta makin denger."
Aku: "Iya! Besok kenalan lagi! Tiap hari kenalan!"
DUARRR! Lagi. Petir lagi. Padahal langit masih biru.