Suatu hari, Liana tiba-tiba terbangun di sebuah apartemen mewah milik Kaizer. Tidak lama kemudian, Kaizer menghampiriku.
"Kamu sudah bangun?" kata Kaizer menatap kearah Liana dengan nada lembut.
Kaizer dengan lembut menyerahkan handuk kecil kepada Liana. Liana bingung. Mengapa Kaizer memberikan handuk kecilnya kepada Liana?
"Sini, usap wajahmu" kata Kaizer dengan nada menawar.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang tadi malam..." kata Liana dengan raut wajah kebingungan.
Lalu Liana mengambil handuk kecil yang diberikan Kaizer sambil tersenyum. Liana melihat sekeliling ruangan dengan ekspresi bingung.
"Tunggu! Ini bukan handukku. Ini bukan kamar tidurku" ucap Liana dalam hatinya.
"Ini bukan apartemenku!" kata Liana menatap kearah Kaizer dengan raut wajah kebingungan.
"Tidak, sebenarnya tidak. Saat kami turun ke bawah tadi malam, kamu sudah tertidur pulas. Dan patut dipuji, kamu menjaga "Keamanan pribadi" dengan baik saat masuk dan tidak bernapas"
Kaizer menceritakan semua kejadian semalam sambil menuangkan air kedalam gelasnya.
"Jadi aku membawamu kembali kesini. Aku tidak mungkin membiarkanmu tidur didepan pintu" kata Kaizer menaruh segelas air putih diatas meja dekat kasurnya." kata Kaizer dengan wajah dinginnya.
"Itu memang... Terdengar seperti apa yang terjadi..." ucap Liana dalam hatinya.
"Aku sangat menyesal atas ketidaknyamanan ini..." kata Liana dengan raut wajah menyesal.
Saat itu, Liana merasa bersalah. Lalu Liana meminta maaf kepada Kaizer sambil menundukkan kepala dan memegang handuk erat-erat.
"Terlibat lagi dalam masalahmu? Sejujurnya, aku cukup menikmatinya" kata Kaizer mulai menghampiri Liana sedang duduk diatas kasurnya.
Tiba-tiba, Kaizer mengambil handuk kecil dari tangan Liana. Liana terkejut dan menatap Kaizer yang berjalan menuju pintu kamar tidur sambil membawa handuk kecil yang tadi Liana pegang.
"Perlengkapan mandi dan pakaian ganti ada dikamar mandi. Santai saja. Aku akan mengurus beberapa hal dulu" kata Kaizer berjalan kearah pintu kamarnya.
Tak lama berselang Kaizer meninggalkan Liana sendirian didalam kamarnya. Liana sempat terdiam sebentar, apa yang diucapkan Kaizer memang benar tentang kejadian malam kemarin. Liana berusaha untuk tetap melupakan kejadian kemarin malam; Liana turun dari atas kasurnya bergegas menuju kekamar mandi.
Setelah masuk kekamar mandi, Liana mematikan keran air dan memasukkan pasta gigi serta sikat gigi kedalam gelas.
"Selesai!" ucap Liana dalam hatinya.
Lalu Liana mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celana dan memeriksa ponselnya sejenak.
"Benar-benar mati..." ucap Liana dengan perasaan sedih.
Beberapa menit kemudian, Liana membuka pintu kamar mandi dan bergegas keluar dari kamar mandi sambil memegang ponselnya yang benar-benar kehabisan baterai. Liana terkejut melihat Kaizer duduk disofa, dengan santai membaca koran. Lalu aku menyapanya, yang sedang membaca koran dengan senyum diwajahnya.
"Oh iya, dimana charger ponselmu?" tanya Liana menatap kearah Kaizer sedang membaca korannya.
"Ruang belajar itu. Kamu tahu dimana letaknya" ucap Kaizer memberi tau letak lokasi ruang belajar kepada Liana.
Liana mengangguk menanggapi kata-kata Kaizer dan bergegas keruang baca. Liana membuka pintu ruang baca; Liana melirik sekilas rak-rak buku yang tertata rapi.
"Begitu banyak penelitian tentang wilayah kutub" ucap Liana dalam hatinya sambil menatap kearah rak buku tertata rapi.
Liana melirik buku yang terbuka dimeja belajarnya.
"Dia masih mengikuti semua ini, seperti biasanya..." ucap Liana dalam hatinya.
Tanpa berpikir panjang, Liana mulai membuka laci kecil itu sambil mencari pengisi daya yang Liana butuhkan, karena ini keadaan darurat.
"Bahkan cara dia melakukan sesuatu pun tidak berubah sama sekali" ucap Liana dalam hatinya.
Lalu Liana mengambil pengisi daya dari laci kecil. Sebelum menutup laci kecil itu, perhatian Liana teralihkan oleh lukisan motif bunga salju-es pada bingkai, jadi Liana mengambil bingkai itu dari laci kecil. Liana memegang lukisan berbingkai itu.
"Ini..." kata Liana dari raut wajah penasarannya.
Liana menatap lukisan berbingkai itu dengan saksama. Kemudian Liana teringat sebuah kejadian yang pernah Liana alami dimasa lalu ketika Liana melukis motif bunga salju-es bersama Kaizer diapartemen Kaizer.
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Cerita dimulai diapartemen milik Kaizer.
"Aku melakukan beberapa penyesuaian lagi berdasarkan apa yang kamu sebutkan kemarin. Bagaimana menurutmu?" tanya Kaizer menatap kearah Liana.
Kaizer menatap kearah Liana sambil memegang pensil. Lalu Liana mengambil pensil itu dari tangan Kaizer.
"Kurasa... Bukankah seharusnya ada pasangannya?" kata Liana tersenyum kearah Kaizer.
Liana mengambil kertas itu dan melanjutkan melukis motif kepingan salju diatas kertas menggunakan pensil. Setelah selesai melukis, Liana menunjukkan karyanya kepada Kaizer.
"Seperti ini. Mereka berdua sampai ditujuan bersama-sama" kata Liana menjelaskan hasil karya yang dibuatnya.
Liana tidak tahu seperti apa ekspresi Kaizer saat melihat lukisannya. Liana masih ingat masa lalu, ketika Liana melukis motif bunga salju-es bersama Kaizer diapartemen. Karena momen itu adalah momen terindah dengan wajah tampan Kaizer.
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Drrrrrttt!
Suara pintu yang terbuka dari ruang belajar membuat Liana tersadar. Liana terkejut melihat Kaizer tiba-tiba memasuki ruang baca dan mendekatiku saat Liana sedang memegang sebuah lukisan berbingkai. Dengan panik, aku memasukkan kembali lukisan berbingkai itu kedalam laci kecilnya.
"Sudah ketemu?" tanya Kaizer menatap kearah Liana.
"Ya" kata Liana tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Liana menunjukkan charger yang Liana pegang kearah Kaizer sambil tersenyum.
Taaaaaarrrr!!!
Liana tanpa sengaja menjatuhkan menara miniatur dari mejanya. Disitu Liana langsung panik ketika melihat menara miniatur itu hancur berkeping-keping, dan salah satu patung penguin mini jatuh tepat didepan kaki Kaizer.
"Meskipun sesuatu terjadi ditengah perjalanan..." kata Liana dengan nada panik.
Liana menatap Kaizer yang sedang melipat kedua tangannya. Liana pikir Kaizer akan marah kearah Liana; karena Liana tanpa sengaja menjatuhkan menara miniaturnya.
"Apa? Sebuah gletser telah runtuh dan penguin sekarang kehilangan tempat tinggal" kata Kaizer menatap kearah Liana.
Kemudian Kaizer mengambil patung penguin mini dari lantai.
"Bagaimana kamu akan mengganti kerugian itu dengan mereka?" kata Kaizer senyum dinginnya.
"Kalau begitu, bantulah mereka membangun kembali" kata Liana dengan panik.
Liana mulai menghela nafasnya sebentar, kemudian Liana mengambil jam pasir dari mejanya. Lalu Liana mengambil potongan menara miniatur dari lantai.
"Mari kita berpacu dengan waktu dan menyatukannya kembali. Seperti yang biasa kita lakukan. Bagian itu..." kata Liana menatap kearah Kaizer dengan wajah tersenyum.
Kemudian Liana memberikan potongan menara miniatur itu kepada Kaizer.
"Seharusnya diletakkan disini" kata Kaizer memberi tahukan letak lokasi pemasangan miniaturnya.
Kaizer menerima potongan-potongan miniatur dari Liana dan menyusun kembali potongan-potongan miniatur yang rusak. Kemudian, Kaizer dan Liana menyusun kembali menara miniatur itu bersama-sama.
"Benarkah sudah selama itu?" tanya Liana kearah Kaizer.
"Memperbaiki sesuatu yang rusak membutuhkan waktu yang cukup lama. Tapi... Kita akan sampai disana" kata Kaizer sambil memasang miniatur towernya.
Liana meletakkan potongan miniatur terakhir diatas menara.
"Kita berhasil! Bahkan memecahkan rekor!" kata Liana dengan nada senang.
Lalu Liana meletakkan kembali jam pasir itu dimeja belajarnya. Kemudian Kaizer memindahkan jam pasir tersebut.
"Jadi, sebagai hadiahmu, kamu boleh bertanya apa saja padaku. Tentang masa lalu, tentangku, tentang apa pun... Apa pun yang ingin kamu ketahui, tanyakan saja. Aku tidak akan menyembunyikan apa pun" kata Kaizer.
"Kain dari masa lalu. Kaizer yang berdiri disini sekarang. Aku masih belum tahu semua yang terjadi di antaranya, tapi hal-hal tertentu... Itu tidak pernah berubah" ucap Liana dalam hatinya dengan raut wajah tersenyum.
"Jadi... Tidak ada lagi yang perlu ku verifikasi" kata Liana.
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pukul 10:10 pagi, Liana dan Kaizer masih berada diruang belajarnya.
"Baiklah kalau begitu..." kata Liana dengan senang sambil mengelap keringatnya menggunakan tangan kirinya.
"Pertanyaanku adalah" kata Kaizer.
Tanpa sengaja Liana memotong pembicaraan dari Kaizer.
"Aku lapar sekali! Kapan sarapan?" kata Liana menatap kearah Kaizer dengan nada manja.
Kaizer tersenyum kearah Liana.
"Segera hadir" kata Kaizer dengan wajah tersenyum.
Tidak lama kemudian, Kaizer menggenggam tangan kanannya Liana dan membawa Liana keruang makan untuk menikmati sarapan bersama dengan Kaizer.
"Cuci tanganmu dan bantu aku" kata Kaizer sambil menggandeng tangannya Liana.
Liana mengangguk dan tersenyum pada Kaizer mendengar kata-katanya. Senyum hangatnya bagaikan sinar matahari yang menerangi dunia, itulah sebabnya Liana menyukai sifatnya yang dingin dan penuh perhatian seperti CEO tampan Kaizer.
Tamat!