Adik Pertama: Salah Jalan?
Kami memiliki 6 keluarga, aku, ibu, ayah, dan ketiga adikku. Meski kami dari keluarga sederhana ini, tetep akan sama. Adik pertamaku, dia anak laki-laki. Sudah kelas 9 SMP. Menurut kalian, pantaskah anak di seumur itu bisa bersikap dewasa? meski hanya sedikit?
Kuharap begitu. Perkenalkan, dia Adik laki-lakiku yang memiliki tingkat kesulitan yang hampir sama dengan ayahnya. Di suruh susah, minta tolong susah, hanya memikirkan main dengan teman-temannya.
Didikan salah atau gagal? Mungkin. Tapi bagaimana bisa anak seumur dia berubah melewati batas? Aku pun ingin rasanya memukulnya dengan panci gosong. Serius.
Anak itu... dia nyebelin. Suka melawan mau pada ayah atau pun ibu. Yah, meski sudah di tegur halus pun anaknya tidak berubah. Begitu sok-sokan deketin cewek. Aku sebagai kakaknya merasa kasian. Jika cewek yang di dekatinya tahu sifat asli anak itu mungkin si cewek juga akan mundur.
Tapi ya sudahlah, mungkin belum saatnya terbuka. Tapi aku merasa malang, sikapnya yang begitu apa dia bisa memiliki masa depan yang cerah? Kalau di identifikasi dengan dunia fiksi, terkadang sesuatu yang buruk memang awalnya tapi akan berakhirnya dengan perubahan.
Ya, kalau orang itu mau berubah. Jika tidak? Kita bisa membayangkannya. Adik pertamaku ini juga bisa tergantung mood-nya. Bila mau langsung dikerjakan bila tidak, manyun dulu. Kaya cewek.
Aku yang cewek pun ga pernah sebegitunya. Aku di suruh tetap laksanakan meski ya... dalam hati ga mau banget. Tapi perintah mau bantuan, atau pun minta tolong adalah tugas sebagai anak.
Dalam prinsipku, aku tidak akan bisa bilang "ah" dalam kalimat menolak. Mungkin bisa tidak konsisten, tapi dengan kesadaran penuh aku memang selalu mengingatkan diri untuk tidak bilang "ah" mengapa? Kurasa itu bentuk perlawanan.
Dalam ajaran dunia pun pasti ada kan ajaran seperti itu? Itulah yang aku tanamkan dalam diri ini. Tapi sepertinya berbeda dengan Adik pertamaku ini. Semua hal dia berani. Di beri tahu pun selalu ngeles. Huh, entah dia mau di pukul pake apa.
Padahal dia sendiri tahu ibu marah seperti apa, kayu atau sapu bisa jadi senjata utamanya. Tapi ibuku yang sekarang tak pernah lagi bersikap kasar begitu sekarang hanya adu mulut.
Tapi hati siapa yang tidak retak melihat anaknya seperti itu? Seperti hari ini.
Sebelumnya, ibuku sempat diare. Sudah 2 hari beliau begitu, aku sebagai anak... bingung lebih tepatnya apa yang bisa kulakukan? Beliau sempat minum daun jambu, tapi tidak mempan lalu malam harinya di hari berikutnya, ibuku meminta tolong pada Adik pertamaku untuk mengambilkan kelapa di depan jalan.
"...bang, ibu minta tolong nah, ambilkan kelapa di depan, bebas mau yang muda atau sudah mau tua."
Kami tinggal di dalam gang, dan di depan gang kami ada pohon kelapa kuning, tingginya ga seberapa, kalau di ukur perdasarkan perkiraan mungkin tingginya sedang.
Aku kurang tahu kronologinya seperti apa, tapi yang pasti ibuku minta tolong pada adikku ini. Awalnya di terima tapi balik-balik tanpa membawa satu pun.
"Bu, abang ga bisa. Pohonnya susah, ga bisa naik juga."
Dan... ibuku hanya menerimanya dengan seadanya? Tapi mau tahu sesuatu? Ibuku ada bilang, saat mendengar adikku tak bisa mengambil kelapanya, ibuku sempet nangis. Mungkin sedih, ibunya sakit, tapi anaknya ga mau usaha.
Keesokan harinya, ibuku sempat meminta ayahku untuk mengambilkan kelapanya. Tapi, hasilnya? Ayahku pulang-pulang sudah membawa kelapa muda. Sebentar aja, adikku? Hm, minta di geplak.
Berkat air kelapa itu, diare ibuku mereda dan tadi sempat tidur nyenyak di kamar. Aku bersyukur melihatnya.
Belum sampai di situ masalahnya. Di hari yang sama, sorenya.
Di rumah kami, kalau uang ga cukup, ya beli mie. Mie sakura atau mie gelas. Kami semua kedapatan, ibu, aku, adikku kedua, dan adik pertama ini.
Saat makan pun, kami tak hanya memakan mie, bisa di tambah sayur yang ada di sekitar rumah ini. Nah, sore itu, adik pertama pulang, ia melihatku makan mie sakura dengan tambahan sayur yang di tanam.
Siang tadi pun, ibuku memakan mie dengan sayur yang sama. Jadi wajar bukan bila habis? Sayur yang di tanam ga seberapa, tapi ya begitulah.
Ia yang tadinya ingin mengambil sayur yang sama, akhirnya kembali begitu tahu sayurnya sudah habis.
"...ga mau pake daun yang lain kah, bang? Kan ada yang lain tuh."
"Pake daun apa?"
"Pake daun hati."
Ibuku sempat bercanda. Tapi mulut adik pertamaku ini... benar-benar bikin sakit hati. Apa balasannya?
"Tai."
What? Apa itu adikku? Setiap melihatnya darahku selalu mendidih. Aku kesal, tak ada yang mengajarinya begitu, tak ada yang membuat perasaannya segala itu. Apa anak kedua memang begitu? Suka melawan dan memiliki mulut yang buruk? Entahlah.
Aku kasian padanya, tapi aku tahu sifat aslinya. Membingungkan. Kalimat itu, ibuku berkomentar.
"Kalau omong sama abang rasanya bikin sakit hati terus. Sama kaya ayahnya."
Gila. Otaknya dimana? Bagaimana bisa? Anak itu juga, terlalu menyepelekan segala hal. Tugas seadanya, lambat untuk melaksanakan tugasnya.
Entah, ada kurang dimana... komunikasi? Curhat? Kasih sayang? Perhatian? Apa?
Begitulah kisah keluarga kami. Cemara. Haha, menarik. Sekian dari ceritaku. Kalian mungkin menganggap curhat ya? Maaf ya. Ingin rasanya hati bebas. Hehe.
Dari cerita ini, entah apa yang bisa kalian ambil pelajarannya, kuharap bisa berubah. Indonesia mau mundur. Generasi baru belum tentu maju. Bisa mundur mengikuti pemimpin lama.
Bukan mengajari, hanya mengetik apa yang ada di otak. Maaf bila berlebihan, maaf bila di buat tak nyaman. Terimakasih sudah membaca cerita ini.
Jangan lupa mampir ke salah satu novelku yang berjudul:
My Idol is My Desktop Shortcut
Selalu dukung, mimin. Thx guys!