Aviana narik napas panjang, berusaha kelihatan biasa aja. Tapi matanya udah basah, tangannya dingin.
Alga langsung sadar. Dia yang dari tadi ceria, tiba-tiba diam.
"Aviana... kamu nangis ya?" tanyanya pelan, suaranya beda. Nggak kayak biasanya yang suka bercanda.
Aviana buru-buru ngelap pipi. "Nggak. Kena debu aja."
"Debu di hotel?" Alga senyum tipis, tapi matanya nggak bisa bohong, dia khawatir. "Kamar kamu nomor berapa? Aku anterin."
"Nggak usah, aku bisa sendiri—"
"Aviana."
Satu kata itu aja bikin Aviana berhenti. Alga jarang manggil namanya seserius itu.
"Kamu denger sesuatu ya di atas?" tanya Alga lagi, lebih pelan.
Aviana kaget. "Kok kamu tau?"
"Karena dari tadi kamu turun dari lantai 7 dengan muka kayak orang habis lihat hantu. Dan..." Alga jeda, ngelirik ke arah lift. "Tadi aku lihat Ifan sama Indah check-in bareng."
Dunia Aviana rasanya runtuh dua kali.
Jadi bukan halusinasi. Bukan salah dengar. Benar-benar mereka.
Aviana nggak bisa nahan lagi. Air matanya jatuh juga akhirnya, di depan orang yang selama ini cuma dia anggap teman.
Alga nggak banyak omong. Dia cuma narik Aviana ke kursi lobi yang sepi, ngasih tisu, dan duduk di sampingnya tanpa nyentuh, cuma nemenin.
"Mau cerita?" katanya.
Aviana menggeleng, terus mengangguk. "Aku denger sendiri, Ga. Di kamar 712. Suara mereka... jelas banget. Tunanganku, sama sahabatku sendiri."
Alga mengepalkan tangannya di pangkuan. Rahangnya mengeras. "Kamu mau aku naik ke atas sekarang?"
"Jangan," Aviana nahan tangan Alga. "Aku nggak mau bikin ribut. Aku cuma... aku cuma mau pergi dari sini."
"Oke," Alga langsung berdiri. "Kamar kamu di mana? Aku temenin sampai kamu tenang. Setelah itu terserah kamu mau ngapain, aku temenin."
Aviana menatap Alga. Baru kali ini dia sadar, cowok yang selalu dia tolak halus karena dia udah punya Ifan ini, ternyata satu-satunya orang yang ada di saat dia paling hancur.
"Kamarku 405," bisik Aviana.
"Yaudah, ayo."
Di dalam lift, hening. Cuma bunyi AC dan detak jantung Aviana yang masih berantakan.
Pas pintu kamar 405 kebuka, Aviana baru sadar dia nggak bawa apa-apa selain tas kecilnya.
Alga bersandar di kusen pintu, nggak masuk. "Aku di luar aja ya, sampai kamu kunci dari dalam. Kalau kamu butuh apa-apa, ketok aja. Kamar aku 410, persis di seberang."
Aviana mengangguk, tapi sebelum nutup pintu, dia nahan.
"Ga..."
"Hmm?"
"Kenapa kamu baik banget sama aku?"
Alga tersenyum, senyum yang selama ini selalu dia sembunyiin di balik candaan.
"Karena dari dulu, yang aku lihat cuma kamu, Aviana."
---Aviana panik setengah mati.
Baru aja dia check-out mau kabur dari hotel itu, eh di lobi dia lihat Ifan sama Indah turun bareng. Mesra banget. Indah masih gelendotan di lengan Ifan, Ifan masih ngusap rambut Indah.
Perut Aviana mual.
Tanpa mikir, dia langsung belok, asal masuk ke satu ruangan yang pintunya kebuka dikit. Dia nutup pintu pelan-pelan, napasnya ngos-ngosan, punggungnya nempel di pintu.
"Ya Tuhan, ya Tuhan, jangan sampai ketemu, jangan sampai ketemu—"
"Aviana?"
Aviana langsung jantungan. Suara itu...
Dia muter badan pelan-pelan.
Dan di depannya, Alga lagi duduk di belakang meja kerja gede, jasnya masih kebuka, dasinya agak longgar, kaget setengah mati lihat Aviana tiba-tiba nyelonong masuk ke ruangannya.
"Ga?!" Aviana melotot. "Ini ruangan kamu?!"
Alga berdiri. "Iya... ini kantor aku. Kamu... kok bisa di sini? Kamu ngumpet dari siapa?"
Aviana nggak bisa jawab. Dia cuma nunjuk ke arah pintu sambil berbisik, "Ifan... Indah... di lobi..."
Wajah Alga langsung berubah. Dari kaget jadi dingin.
Dia jalan ke arah Aviana, ngunci pintu dari dalam. Klik.
"Udah aman. Mereka nggak bakal masuk ke sini," kata Alga pelan.
Baru kali ini Aviana merhatiin ruangan ini bener-bener. Dinding kaca yang ngeliat langsung ke seluruh lobi hotel, meja kayu mahal, nama di plakat meja: ALGA PRADANA - OWNER
Aviana membeku.
"Alga... kamu... pemilik hotel ini?" suaranya gemetar.
Alga garuk kepala, agak canggung. "Iya. Aku baru mau cerita kemarin, tapi kamu keburu nangis. Hotel ini punya keluarga aku, sekarang aku yang pegang."
Aviana ketawa pahit. "Pantes... pantes kamar kamu di 410, pantes semua staf kenal kamu. Jadi semalam... aku nangis di hotel pacar—eh, di hotel kamu, karena tunanganku selingkuh di hotel kamu juga."
Alga mendekat, tapi tetap jaga jarak. "Aviana, dengerin aku. Tadi malam aku udah cek CCTV lantai 7. Aku udah punya semua buktinya. Kalo kamu mau, aku bisa—"
"Nggak!" Aviana motong cepat. "Aku nggak mau lihat."
Alga mengangguk. "Oke. Nggak aku kasih lihat. Tapi..."
Dia buka laci mejanya, ngeluarin satu kunci kartu baru.
"Ini kunci kamar suite paling atas. Kamar aku yang satunya. Nggak ada yang tau, nggak ada yang bisa masuk kecuali aku. Kamu istirahat di sana aja dulu hari ini. Biar aku yang urus Ifan sama Indah di bawah. Kamu nggak usah ketemu mereka."
Aviana menatap kunci itu, terus menatap Alga.
Cowok yang selama ini dia kira cuma cowok biasa yang suka nongkrong di kafe, ternyata pemilik hotel tempat tunangannya selingkuh.
Dan sekarang, cowok itu juga yang nyembunyiin dia.
"Ga, kenapa kamu nggak pernah bilang kalo kamu kaya?" tanya Aviana lirih.
Alga tersenyum tipis, senyum sedih.
"Karena aku takut kamu deketin aku cuma karena hotel ini. Aku maunya kamu lihat aku sebagai Alga aja. Bukan sebagai pemilik hotel."
Hening.
Di luar, suara Ifan sama Indah masih kedengeran ketawa-ketawa di lobi.
Di dalam, Aviana cuma bisa menatap Alga yang ternyata selama ini...
---Aviana akhirnya mutusin pulang.
Alga sebenernya ngotot mau nganterin, tapi Aviana nolak. "Aku bisa sendiri, Ga. Aku butuh waktu sendiri dulu. Makasih ya, buat semalam... buat hari ini."
Alga cuma bisa ngangguk, tapi sebelum Aviana naik taksi, dia nyelipin sesuatu ke tangan Aviana.
"CCTV-nya udah aku simpen. Kalo kamu butuh bukti, tinggal bilang. Aku nggak bakal maksa kamu lihat."
Aviana ngangguk, senyumnya maksa banget. "Makasih."
Sepanjang jalan pulang, Aviana ngatur napas. Dia latihan di dalam taksi.
Senyum. Biasa aja. Pura-pura nggak tau. Pura-pura nggak denger apa-apa di kamar 712 semalam.
Pas dia buka pintu rumah, langsung kecium bau masakan.
Dan di dapur, ada Ifan. Pake apron, lagi masak. Senyumnya manis banget, senyum yang dulu bikin Aviana jatuh cinta.
"Sayang! Akhirnya pulang!" Ifan langsung nyamperin, mau meluk.
Aviana refleks mundur selangkah. Perutnya langsung mual.
Bukan mual karena hamil atau masuk angin. Mual karena inget suara semalam. Suara Ifan yang manggil nama Indah di hotel itu. Suara yang sama yang sekarang manggil dia "sayang".
"Kamu dari mana aja? Aku teleponin nggak diangkat-angkat," kata Ifan, masih senyum, sok khawatir.
Aviana maksa senyum. "Oh, hp aku lowbat. Aku nginep di tempat temen."
"Temen siapa? Indah?" Ifan nanya santai, sambil balik ke kompor.
Indah.
Nama itu rasanya kayak ditampar.
Aviana ngepalin tangan di balik tasnya. "Bukan. Temen lain."
"Oh," Ifan ngangguk-ngangguk, nggak curiga sama sekali. "Yaudah, kamu mandi dulu gih. Aku masakin sop kesukaan kamu nih. Tadi aku pulang cepet dari... dari kerjaan."
Kerjaan. Aviana ketawa dalam hati. Kerjaan di hotel sama Indah maksudnya.
"Nggak usah, Fan. Aku capek. Aku mau ke kamar aja," kata Aviana, suaranya datar.
Ifan nengok. "Kamu kenapa? Sakit? Muka kamu pucet."
"Nggak. Cuma capek."
Aviana langsung jalan ke kamar, nggak nengok lagi. Dia kunci pintu kamar dari dalam. Klik.
Baru di dalam kamar itu dia bisa bernapas.
Dia senderan di pintu, pelan-pelan merosot duduk di lantai. Tasnya dia lempar sembarangan.
HP-nya getar.
Alga: Udah sampe rumah?
Alga: Kalo dia macem-macem, kabarin aku. Aku jemput.
Aviana natap chat itu lama. Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini bukan karena sedih doang. Tapi karena lega, masih ada satu orang yang peduli beneran.
Di luar kamar, dia denger Ifan ketok pintu.
"Sayang? Kamu beneran nggak papa? Mau aku bikinin teh?"
Aviana ngelap air matanya cepat-cepat, suaranya dibikin seceria mungkin.
"Nggak usah, Fan! Aku mau tidur aja!"
"Yaudah, istirahat ya. Nanti aku bangunin buat makan."
Langkah Ifan menjauh.
Aviana berbisik ke dirinya sendiri, sambil meluk lututnya di lantai kamar yang dingin.
"Aku harus kuat. Aku nggak boleh nangis di depan dia. Dia nggak pantas liat aku nangis."
Sejak hari itu, Aviana berubah.
Di depan Ifan dia tetap jadi Aviana yang manis, yang masakin, yang nanya "udah makan belum?" Tapi di belakang, dia diam-diam ngumpulin bukti.
Screenshot chat Ifan sama Indah yang nggak sengaja ke-sync di tablet.
Struk hotel yang Ifan buang sembarangan di mobil.
Foto Ifan gandengan sama Indah di parkiran hotel, yang dikirimin Alga diam-diam dari CCTV.
Semuanya Aviana simpen di satu folder rahasia di HP-nya. Foldernya dia kasih nama: BUKTI.
Ifan mulai curiga. Karena Aviana udah nggak pernah lagi mau diajak jalan berdua, udah nggak pernah lagi mau dicium keningnya lama-lama. Tiap Ifan pulang malem, Aviana cuma nanya satu kalimat.
"Pulang dari mana?"
"Kerja lembur," jawab Ifan selalu sama.
Aviana cuma senyum. Lembur di kamar 712 ya?
Tapi Ifan tetep nekat. Masih check-in sama Indah. Makin sering malah, karena pernikahan udah deket. Kayak orang yang kalap, mau puas-puasin sebelum dikunci.
Sampai suatu malam, H-7 pernikahan.
Aviana lagi di kamar, lagi lipet baju. Ifan masuk tanpa ketok. Pintu dikunci dari dalam sama dia. Klik.
Aviana langsung tegang. "Fan, ngapain dikunci?"
Ifan senyum, senyum yang beda. Bukan senyum tunangan yang sayang. Senyum yang bikin Aviana merinding.
"Sini," katanya sambil duduk di kasur, narik tangan Aviana. "Kita kan bentar lagi nikah. Pemanasan dulu yuk, biar nanti malam pertama nggak kaku."
Tangan Ifan mulai naik ke pinggang Aviana.
Aviana langsung berdiri, mundur sampai punggungnya nempel tembok. Badannya gemetar, bukan karena malu. Karena jijik. Karena keinget tangan yang sama itu kemarin megang Indah di lobi hotel.
"JANGAN SENTUH AKU!" suara Aviana pecah.
Ifan kaget. "Aviana? Kamu kenapa sih? Kita kan tunangan, wajar—"
"NGGAK WAJAR!" Aviana teriak, air matanya akhirnya jebol juga. "Tangan kamu itu habis megang siapa, Fan? Kamu pikir aku nggak tau?!"
Ifan pucat. "Apa maksud kamu?"
Aviana ngambil HP-nya, gemetar, dia buka folder BUKTI. Dia lempar HP itu ke kasur, ke arah Ifan.
"LIHAT SENDIRI!"
Ifan ngambil HP itu. Tangannya ikut gemetar pas ngeliat foto dirinya sama Indah di parkiran hotel. Screenshot chatnya. Struk hotelnya.
"Aviana, ini... ini bisa aku jelasin—"
"Jelasin apa?!" Aviana ketawa pahit, sambil ngelap air mata. "Jelasin kalo kamu check-in sama sahabatku sendiri di hotel? Jelasin kalo kamu ngomong 'sayang' ke Indah di kamar 712? Aku denger sendiri, Fan! Aku di sana!"
Ifan terdiam. Mulutnya kebuka, nggak ada kata yang keluar.
Pintu kamar diketok keras dari luar.
"Aviana! Buka! Ini Alga!"
Aviana kaget. Alga? Kok Alga bisa di sini?
Ternyata tadi Aviana nggak sadar, pas Ifan narik tangannya, dia kepencet tombol SOS yang udah Alga setting di HP-nya. Lokasinya langsung kekirim ke Alga.
Ifan panik, langsung buka kunci pintu.
Alga masuk dengan napas ngos-ngosan, matanya langsung nyari Aviana. Pas liat Aviana nangis di pojok tembok, rahang Alga mengeras.
"Lo sentuh dia?" tanya Alga dingin, nadanya bahaya banget.
"Gue tunangannya—"
"GUE TANYA, LO SENTUH DIA?!"
Ifan mundur.
Aviana akhirnya ngomong, suaranya pelan tapi tegas banget, pertama kalinya selama ini dia berani.
"Pernikahan batal, Fan. Aku nggak mau nikah sama pengkhianat."
---Suasana kamar itu langsung meledak.
Alga nggak pakai banyak omong lagi. Begitu liat Aviana masih gemetar di pojok tembok, tangannya langsung melayang.
BUGH!
Satu pukulan mendarat di rahang Ifan. Ifan langsung oleng, jatuh ke kasur.
"ALGA!" Aviana teriak, panik.
Tapi Alga udah keburu emosi. "Lo pikir Aviana itu apa, Fan? Barang yang bisa lo sentuh seenaknya habis lo khianatin?!"
Ifan bangkit, bibirnya berdarah. Dia nggak terima. Dia balas mukul Alga.
BUGH! BUGH!
Mereka berdua jadi baku hantam di tengah kamar. Vas bunga jatuh, pecah. Kursi ke dorong. Aviana teriak-teriak nyuruh berhenti, tapi nggak ada yang dengerin.
Sampai akhirnya Alga berhasil ngedorong Ifan sampai ke tembok, nahan kerah bajunya.
"Ngaku lo! Ngaku lo selingkuh sama Indah!" Alga bentak, napasnya ngos-ngosan.
Ifan ketawa. Ketawa miring, ketawa orang yang udah ketahuan tapi nggak mau ngerasa salah.
"Iya! Iya gue ngaku! Gue selingkuh! Puas lo?!"
Aviana membeku.
Ifan nengok ke Aviana, matanya merah, nadanya jahat banget, beda jauh sama Ifan yang tadi pagi masakin sop buat dia.
"Lo mau tau kenapa, Aviana? Karena Indah itu nggak kayak lo! Indah itu nggak sok jual mahal! Lo tuh dingin! Disentuh dikit nolak, diajak pemanasan nolak, sok suci! Indah beda! Indah ngerti gue!"
Satu kalimat itu...
Rasanya kayak ditampar pakai ribuan paku.
Aviana yang selama ini jaga diri karena dia percaya nikah itu suci, karena dia mau ngasih semuanya cuma buat suaminya nanti, sekarang malah dibilang sok jual mahal. Dibilang dingin. Sama cowok yang mau dia nikahin seminggu lagi.
Air mata Aviana berhenti. Tiba-tiba dia nggak nangis lagi. Matanya kosong, tapi dingin.
Alga yang denger itu langsung makin naik darah. Tangannya udah mau mukul lagi.
Tapi Aviana ngomong, pelan, tapi semua orang di ruangan itu diam.
"Udah, Ga. Berhenti."
Alga berhenti, tangannya masih nahan kerah Ifan.
Aviana jalan pelan ke arah Ifan. Dia menatap cowok yang udah 3 tahun dia sayang itu.
"Jadi selama ini aku yang salah ya, Fan? Aku jaga diri buat kamu, kamu bilang aku sok suci. Kamu selingkuh sama sahabatku, kamu bilang itu karena aku dingin?"
Ifan diem. Nggak bisa jawab.
"Bagus," Aviana senyum, senyum yang paling pahit yang pernah Alga lihat. "Berarti keputusan aku bener. Aku nggak jadi nikah sama cowok yang nggak bisa bedain mana cewek murahan sama cewek yang jaga harga dirinya."
Ifan mau ngomong, "Aviana, dengerin—"
"Nggak ada yang perlu didengerin lagi."
Aviana nengok ke Alga. "Ga, bawa aku pergi dari sini. Sekarang."
Alga langsung lepasin Ifan. Ifan jatuh terduduk di lantai.
Alga ngambil tas Aviana, nggandeng tangan Aviana yang dingin, dan nuntun dia keluar. Nggak nengok lagi ke belakang.
Di belakang mereka, Ifan cuma bisa teriak.
"AVIANA! LO BAKAL NYESEL! NGGAK ADA COWOK YANG MAU SAMA CEWEK DINGIN KAYAK LO!"
Pintu rumah ditutup keras sama Alga.
BRAK!
Di dalam mobil, Aviana akhirnya pecah lagi. Tapi kali ini dia nangis di bahu Alga, bukan lagi sendirian di lantai kamar.
Alga nggak ngomong apa-apa. Dia cuma meluk Aviana erat, sambil bisik,
"Dia buta, Aviana. Harga diri kamu itu bukan dingin. Itu mahal. Dan gue... gue bersyukur banget lo nggak kasih itu ke cowok kayak dia."
---Alga nggak maksa.
Malam itu juga, dia bawa Aviana balik ke hotelnya. Bukan ke kamar 405 yang kemarin. Tapi ke suite paling atas. Yang kemarin dia tawarin. Yang nggak ada orang lain yang tau kuncinya selain dia.
"Ini kamar kamu, untuk berapa lama pun kamu mau," kata Alga sambil naruh tas Aviana di sofa. "Aku nggak bakal masuk tanpa izin kamu. Makan, minum, semua udah aku siapin di kulkas. Kalau kamu butuh apa-apa, tinggal telepon resepsionis, bilang aja atas nama aku."
Aviana cuma mengangguk. Matanya sembab, suaranya serak.
Alga melangkah ke pintu, tapi berhenti.
"Aviana..."
"Hmm?"
"Lo aman di sini. Nggak ada Ifan, nggak ada Indah. Cuma lo."
Aviana akhirnya nangis lagi, tapi pelan.
Alga pengen banget meluk, tapi dia tahan. Dia cuma nutup pintu pelan-pelan dari luar.
KLIK.
Dan seharian itu, Aviana bener-bener sendiri.
Pagi dia nggak makan. Siang dia cuma duduk di pinggir kasur, natap jendela hotel yang ngeliat kota dari atas. Sore dia mandi air panas lama banget, sampai kulitnya merah, seolah-olah dia mau ngilangin bekas tangan Ifan yang semalam megang pinggangnya.
HP-nya dia matiin. 47 missed call dari Ifan. 89 chat dari Indah yang isinya pura-pura nanya "Vi, kamu kenapa? Kok Ifan bilang kamu batalin nikah?"
Aviana nggak buka satu pun.
Baru malamnya, pas jam 9, dia nyalain HP lagi. Cuma buat satu orang.
Dia ngetik lama, hapus, ngetik lagi.
Akhirnya kekirim.
Aviana: Maaf ya Ga, aku butuh waktu.
Nggak sampai 10 detik, dibales.
Alga: Ngapain minta maaf?
Alga: Ambil waktu kamu sebanyak yang kamu mau. Aku di sini aja.
Alga: Kamu udah makan?
Aviana natap chat itu. Dadanya sesak, tapi hangat.
Aviana: Belum laper.
Alga: Aku taruh makanan di depan pintu ya. Aku nggak masuk. Aku janji.
Aviana: Ga...
Alga: Iya?
Aviana: Makasih ya udah nggak maksa aku buat cerita atau buat cepet-cepet sembuh. Semua orang dari tadi nyuruh aku kuat, nyuruh aku move on. Cuma kamu yang bilang aku boleh nangis dulu.
Alga: Ya karena emang harus gitu. Kamu baru aja kehilangan tunangan sama sahabat di hari yang sama. Siapa yang bisa langsung kuat?
Alga: Aviana, dengerin aku. Kamu nggak perlu jadi kuat di depan aku. Kamu boleh hancur dulu. Nanti kalo udah selesai hancurnya, aku temenin bangun lagi.
Aviana tutup HP-nya. Dia jalan ke pintu, buka dikit.
Beneran ada nampan makanan di depan pintu. Nasi hangat, sop ayam, sama teh manis. Persis kayak yang Ifan masakin kemarin. Tapi bedanya, ini dikasih tanpa pamrih, tanpa mau imbalan "pemanasan".
Di atas nampan itu ada kertas kecil.
Tulisannya:
"Makan dulu. Nangisnya lanjut besok lagi, gapapa. - Alga"
Aviana duduk di lantai, di depan pintu itu, makan sambil nangis pelan-pelan.
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, dia ngerasa...
Dia nggak sendirian.
---Pagi itu, Aviana bangun dengan mata bengkak.
Tapi untuk pertama kalinya setelah seminggu, dia tidur nyenyak. Nggak kebangun karena mimpi buruk. Nggak kebangun karena suara Ifan manggil nama Indah.
Dia ngaca. Rambutnya berantakan, mukanya pucet. Dia mandi, pake baju oversize yang kemarin Alga siapin di lemari - ternyata Alga udah nyiapin baju ganti buat dia dari semalam, masih ada labelnya.
Aviana tarik napas panjang.
Oke. Hari ini aku keluar kamar.
Tangannya gemetar pas megang gagang pintu. Dia buka pelan-pelan.
Dan di depan pintu, Alga ada di sana.
Bukan berdiri. Duduk bersandar di tembok, di lantai koridor, dengan dua gelas kopi di tangannya. Satu udah dingin, satu lagi masih hangat. Jaketnya dijadiin bantal di belakang kepalanya. Matanya merah, jelas dia nggak tidur semalaman.
Aviana kaget. "Ga? Kamu ngapain di sini? Kamu tidur di depan kamar aku semalaman?"
Alga langsung bangun, kaget juga, ngerapihin rambutnya yang berantakan. "Eh! Eh, kamu udah bangun? Aku... aku cuma... takut kamu kenapa-kenapa. Tadi malem aku denger kamu nangis. Aku nggak berani ketok, takut ganggu. Jadi aku... jaga di sini aja."
Aviana menatap Alga. Cowok ini. Pemilik hotel ini. Bisa tidur di kasur paling empuk di suite mana pun. Tapi dia milih tidur di lantai koridor yang dingin, cuma buat mastiin Aviana aman.
Hati Aviana yang kemarin rasanya udah mati, tiba-tiba berdetak lagi. Pelan, tapi hangat.
"Kopinya buat aku?" tanya Aviana, suaranya masih serak.
Alga nyodorin gelas yang masih hangat. "Iya. Yang ini masih anget, aku baru beli 5 menit lalu. Yang satu lagi udah dingin, itu punya aku dari semalem."
Aviana ngambil gelas itu. Jari mereka nggak sengaja bersentuhan. Alga langsung narik tangannya, salting.
"Makasih, Ga," kata Aviana pelan.
Mereka berdua duduk di lantai koridor itu, bersebelahan, nggak ada yang ngomong. Cuma minum kopi sambil liatin matahari terbit dari jendela ujung koridor.
Sampai akhirnya Aviana ngomong duluan.
"Ga, semalam aku mikir..."
"Hmm?"
"Aku nggak nyesel batalin nikah. Sama sekali. Yang aku seselin itu... kenapa aku baru tau sekarang kalo Ifan kayak gitu. Kenapa aku baru tau kalo selama ini yang tulus sama aku itu kamu, bukan dia."
Alga diem. Dia natap kopi di tangannya, nggak berani natap Aviana. Karena kalau dia natap, dia takut ngomong sesuatu yang belum waktunya dia omongin.
"Aviana," katanya pelan. "Kamu nggak perlu buru-buru mikirin soal aku. Kamu baru aja selesai sama Ifan. Aku nggak mau jadi pelampiasan."
Aviana menggeleng. Dia nengok ke Alga, matanya masih sembab tapi jujur banget.
"Bukan pelampiasan, Ga. Semalam, pas aku di kamar sendirian, yang aku pikirin bukan Ifan. Yang aku pikirin itu... kenapa dari dulu setiap aku nangis, yang ada itu kamu. Setiap aku butuh, yang datang itu kamu. Aku yang bego, Ga. Aku baru sadar sekarang."
Alga akhirnya berani nengok. Dan pas mata mereka ketemu, Alga senyum. Senyum lega yang udah dia tahan bertahun-tahun.
"Jadi... aku boleh temenin kamu sarapan sekarang?" tanya Alga, suaranya pelan, takut banget Aviana nolak.
Aviana ketawa kecil. Ketawa pertama setelah berhari-hari.
"Boleh. Tapi aku masih pake baju tidur nih."
"Gak papa," Alga berdiri, ngulurin tangannya. "Di hotel aku, yang pake baju tidur juga boleh jadi ratu."
Aviana ngambil tangan itu. Dan untuk pertama kalinya, genggaman tangan itu nggak bikin dia mual. Nggak bikin dia takut. Justru bikin dia ngerasa aman.
Mereka jalan berdua ke arah lift. Bukan sebagai orang yang lagi kabur dari masalah.
Tapi sebagai dua orang yang akhirnya berani jujur.
---Alga nggak bawa Aviana ke restoran utama hotel yang ramai.
Dia bawa Aviana naik ke rooftop. Pake kunci khusus. Pas pintu rooftop kebuka, Aviana langsung melongo.
Rooftop itu sepi. Cuma ada satu meja kecil di tengah. Dua kursi. Di atas meja udah ada sarapan lengkap. Nasi goreng, roti bakar, buah potong, jus jeruk, sama teh hangat. Semuanya masih ngebul.
Dan di pinggir rooftop, ada bunga-bunga putih yang baru ditata. Pemandangan kota pagi-pagi dari atas sana... cantik banget.
Aviana berhenti di pintu. "Ga, ini... kamu siapin kapan?"
Alga garuk kepala, salting. "Tadi subuh. Aku nggak bisa tidur kan, jaga di depan kamar kamu. Jadi ya... aku nyuruh chef siapin. Aku pikir, kalau kamu keluar kamar, kamu butuh sarapan yang tenang. Nggak ada orang yang ngeliatin kamu."
Aviana duduk pelan. "Kamu tuh selalu mikir sejauh itu ya?"
"Buat kamu, iya," jawab Alga jujur, terus dia duduk di depan Aviana.
Awalnya canggung banget.
Aviana makan pelan-pelan, nunduk terus. Alga juga sama, sibuk ngaduk tehnya padahal gulanya udah larut dari tadi.
Sampai Aviana nggak sengaja ngeliat ada saus di bibir Alga.
"Ga, di sini," Aviana refleks ngelap pake tisu, tangannya nyentuh bibir Alga sekilas.
Alga langsung diem. Kaku. Mukanya merah sampai ke telinga.
Aviana juga baru sadar apa yang dia lakuin. Tangannya langsung ditarik. "Eh, maaf! Maaf! Refleks!"
"Iya, gapapa," Alga ketawa gugup. "Aku... aku emang selalu belepotan kalo makan."
Mereka ketawa bareng. Canggungnya pecah.
"Ga," Aviana mulai lagi, sambil mainin jus jeruknya. "Boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh. Apa aja."
"Kenapa dari dulu kamu nggak pernah nyerah sama aku? Padahal aku udah punya Ifan. Padahal aku selalu nolak kamu halus."
Alga naruh sendoknya. Dia natap Aviana serius.
"Karena aku tau, Aviana. Aku tau kamu bukan bahagia sama dia. Kamu tuh cuma bertahan. Setiap kamu cerita soal Ifan, mata kamu tuh nggak pernah senyum. Beda sama sekarang."
"Sekarang kenapa?"
"Sekarang... mata kamu capek, tapi jujur. Nggak pura-pura bahagia lagi."
Aviana diem. Kalimat itu ngena banget.
"Aku nggak minta kamu langsung suka sama aku," lanjut Alga. "Aku cuma minta satu. Jangan nutup hati kamu cuma karena Ifan ngancurin. Aku... aku bakal nunggu. Sampai kamu bener-bener siap. Mau sebulan, setahun, aku tunggu."
Aviana ngerasa matanya panas lagi. Tapi kali ini bukan mau nangis sedih.
Dia ngulurin tangannya di atas meja. Pelan. Ragu-ragu.
Alga liat tangan itu. Dia nggak langsung megang. Dia nunggu, sampai Aviana sendiri yang maju.
Dan Aviana maju. Jari-jarinya nyentuh jari Alga.
"Aku nggak janji bisa langsung suka, Ga," bisik Aviana.
"Aku tau," jawab Alga, sambil genggam tangan Aviana pelan, hangat.
"Tapi... boleh nggak, mulai hari ini, aku belajar buat nggak takut lagi kalo digandeng?"
Alga senyum. Senyum paling lebar yang pernah Aviana liat dari dia.
"Boleh banget. Pelan-pelan aja. Aku ajarin."
Di atas rooftop itu, di tengah kota yang baru bangun, Aviana sarapan sambil gandengan tangan sama Alga.
Bukan sebagai pelarian.
Bukan sebagai pelampiasan.
Tapi sebagai awal yang baru. Yang pelan, yang aman, yang nggak maksa.
Dan untuk pertama kalinya, Aviana ngerasa sarapan itu... enak.
---Sarapan itu harusnya jadi pagi paling tenang buat Aviana.
Tapi begitu lift turun ke lobi, ketenangan itu langsung hancur.
Di lobi, Ifan sama Indah udah berdiri. Nungguin.
Ifan mukanya masih lebam bekas baku hantam semalam. Indah berdiri di sampingnya, pake baju ketat, tangannya meluk lengan Ifan dengan bangga, kayak lagi pamer piala.
Aviana langsung berhenti. Tangannya yang tadinya gandengan sama Alga, refleks mau dilepas.
Tapi Alga malah genggam makin erat. "Jangan lepas. Aku di sini."
Ifan liat itu. Matanya langsung panas.
"OH! Jadi bener ya!" Ifan teriak, suaranya keras sampai semua orang di lobi nengok. "Pantesan lo batalin nikah! Ternyata lo udah punya cadangan! Lo selingkuh sama Alga ya, Aviana?!"
Aviana membeku. Jantungnya berdegup kencang.
Indah ikutan nyaut, suaranya manja tapi jahat banget. "Ih, Vi, pantesan aja lo sok jual mahal sama Ifan. Ternyata lo jual mahalnya ke Alga yang kaya ya? Pinter banget sih lo cari cowok kaya."
Lobi yang tadinya ramai langsung hening. Semua mata ngeliat ke mereka berempat.
Aviana ngerasa mukanya panas. Malu. Marah. Sakit. Campur jadi satu.
Tapi sebelum Aviana ngomong, Alga maju selangkah, badannya nutupin Aviana.
"Jaga mulut lo, Fan," kata Alga dingin, nadanya bahaya banget. "Lo yang selingkuh, lo yang nginep di hotel gue sama sahabatnya, sekarang lo balik nuduh Aviana?"
Ifan ketawa sinis. "Lah terus ngapain dia nginep di hotel lo semalam? Ngapain pagi-pagi gandengan tangan sama lo di lift? Lo pikir gue bego, Ga?"
Indah nambahin, sambil ngelirik Aviana dari atas sampai bawah. "Ih, Vi, baju lo aja dikasih Alga kan? Lo tuh ya, sok suci, sok jaga diri. Ternyata ujung-ujungnya sama aja. Murahan."
Kata terakhir itu...
MURAHAN.
Aviana yang dari tadi diem, tiba-tiba maju.
Dia lepas genggaman Alga. Bukan karena takut. Tapi karena dia mau ngadepin sendiri.
Dia berdiri tepat di depan Indah. Deket banget. Sampai Indah mundur selangkah.
"Indah," suara Aviana pelan, tapi semua orang di lobi bisa denger karena hening banget. "Kamu bilang aku murahan?"
Indah masih sok berani. "Iya! Emang—"
PLAK!
Satu tamparan. Keras. Bukan tamparan orang yang kalap. Tapi tamparan orang yang udah nahan sakit berminggu-minggu.
Indah langsung pegang pipinya, kaget. "LO BERANI NAMPAR GUE?!"
"Berani," jawab Aviana, matanya merah tapi tegas. "Karena selama ini aku diem. Aku diem pas tau kamu tidur sama tunanganku di kamar 712. Aku diem pas tau kamu chat mesra sama dia di belakang aku. Aku diem karena aku kira kamu sahabatku. Ternyata kamu... kamu bukan sahabat. Kamu maling."
Ifan mau maju, mau belain Indah. "AVIANA!"
Tapi Alga langsung nahan dada Ifan. "Jangan berani-berani lo sentuh dia lagi."
Aviana nengok ke Ifan. "Dan kamu, Fan. Kamu bilang aku selingkuh? Aku nginep di sini karena aku nggak punya tempat buat pulang setelah kamu khianatin aku! Aku gandengan sama Alga karena dia yang nolongin aku pas kamu mau maksa aku semalam! Kamu lupa? Kamu yang bilang aku sok jual mahal, kamu yang bilang Indah lebih... lebih nurut sama kamu!"
Semua orang di lobi langsung bisik-bisik. Ngeliatin Ifan sama Indah dengan jijik.
Ifan pucat. Dia baru sadar dia udah bikin malu dirinya sendiri di depan umum.
"Aviana, udah, kita ngomong baik-baik di rumah—"
"Nggak ada rumah lagi, Fan," potong Aviana. "Rumah itu udah bukan rumah aku sejak kamu bawa perempuan lain ke hotel. Pernikahan kita batal. Titik."
Aviana balik badan, ngambil tangan Alga lagi.
"Ayo, Ga. Aku nggak mau buang waktu lagi sama orang yang nggak tau malu."
Mereka jalan melewati Ifan dan Indah. Kepala Aviana tegak. Nggak nunduk lagi kayak kemarin.
Di belakang, Indah masih teriak-teriak, "LO BAKAL NYESEL, VI! LO—"
Tapi Aviana nggak nengok lagi.
Di depan pintu hotel, Aviana berhenti sebentar, bisik ke Alga.
1
"Ga, makasih ya udah nggak ngelepas tangan aku tadi."
Alga senyum, genggamannya makin erat.
"Kapanpun. Aku nggak bakal lepas lagi."
---Siang itu juga, Aviana mutusin buat beresin semuanya.
Dia nggak mau lagi ada sisa-sisa Ifan di hidupnya. Nggak mau lagi ada baju, foto, atau kenangan yang ketinggalan di rumah itu.
"Temenin aku ya, Ga?" tanya Aviana di mobil. Suaranya masih gemetar dikit, tapi matanya udah tegas.
Alga langsung nyalain mobil. "Kapanpun. Aku nggak bakal ninggalin kamu sendiri di sana."
Pas sampai depan rumah itu, Aviana sempat berhenti lama di depan pagar. Rumah yang dulu dia impikan bakal jadi rumah tangga mereka. Yang dulu dia pilih gordennya bareng Ifan. Yang dulu dia bayangin bakal ada anak-anak lari-larian di halamannya.
Sekarang rumah itu rasanya asing. Dingin.
Aviana buka pintu pake kunci cadangannya. Rumahnya sepi. Ifan sama Indah belum pulang dari hotel.
" cepetan, Vi. Ambil yang penting-penting aja," kata Alga pelan, sambil berdiri di dekat pintu, jagain.
Aviana masuk ke kamar. Dia buka lemari. Dia ambil baju-bajunya, ijazahnya, dokumen pentingnya, foto almarhum ibunya. Sisanya dia biarin. Biarin Ifan yang buang, atau biarin Indah yang pake. Dia udah nggak peduli.
Terakhir, dia buka laci nakas.
Di sana ada kotak beludru merah. Kotak cincin tunangan.
Aviana ngambil kotak itu. Tangannya gemetar. Cincin itu dulu dikasih Ifan sambil berlutut di depan keluarganya. Dulu dia nangis bahagia. Sekarang dia nangis... karena lega akhirnya bisa ngelepasin.
Dia buka kotak itu, ngeliat cincinnya terakhir kali, terus dia taruh di atas meja, di samping kunci rumah.
Nggak ada surat. Nggak ada pesan panjang. Cuma cincin itu.
Tanda kalau semuanya udah selesai.
Pas Aviana keluar kamar sambil bawa satu koper, dia kaget.
Ifan udah pulang. Sendirian. Tanpa Indah.
Ifan berdiri di ruang tamu, ngeliat koper Aviana, ngeliat kotak cincin di meja.
"Vi... kamu mau pergi beneran?" suaranya pelan. Nggak ada lagi sombongnya kayak di lobi tadi. Yang ada cuma... takut kehilangan.
Aviana berhenti. "Iya, Fan."
Ifan jalan mendekat. "Vi, dengerin aku dulu. Aku... aku khilaf. Indah tuh... Indah yang godain aku duluan. Aku... aku masih sayang sama kamu. Kita batalin batalnya ya? Kita nikah aja sesuai rencana?"
Alga yang dari tadi diem di pintu langsung maju. Tapi Aviana nahan tangan Alga. "Biar aku yang ngomong, Ga."
Aviana natap Ifan. Lama.
"Fan, kamu tau bedanya khilaf sama kebiasaan? Khilaf itu sekali. Kamu? Kamu check-in berkali-kali. Kamu chat tiap hari. Kamu bilang aku sok jual mahal, kamu bilang Indah lebih nurut. Itu bukan khilaf, Fan. Itu pilihan kamu."
Ifan diem. Kepalanya nunduk.
"Dan sekarang, pas aku udah pergi, baru kamu bilang sayang? Pas aku udah ada Alga yang jagain aku, baru kamu takut kehilangan?" Aviana senyum pahit. "Sayang kamu telat, Fan."
Aviana jalan melewati Ifan. Pas di depan pintu, dia berhenti, nggak nengok.
"Cincinnya aku balikin. Kuncinya juga. Tolong, jangan cari aku lagi."
Ifan mau ngejar, tapi Alga langsung nutup jalan. "Udah, Fan. Cukup. Lo udah nyakitin dia cukup."
Di mobil, Aviana akhirnya nangis lagi. Tapi nangisnya beda. Nangis lega. Kayak orang yang habis naruh beban 100 kilo dari pundaknya.
Alga nggak ngomong apa-apa. Dia cuma nyetir pelan, ngasih tisu, dan nyalain lagu yang tenang.
"Ga," kata Aviana sambil ngelap air mata.
"Iya?"
"Mulai hari ini... aku bener-bener sendiri ya? Nggak punya tunangan, nggak punya sahabat."
Alga nengok sebentar, senyum.
"Kamu nggak sendiri, Vi. Kamu punya aku. Dari dulu. Dan kali ini, aku nggak akan pergi kemana-mana."
Aviana bersandar di kursi, natap jalanan lewat jendela.
Untuk pertama kalinya, dia nggak ngerasa takut sama masa depan.
---Dua minggu kemudian.
Aviana udah mulai tenang. Dia udah pindah ke apartemen kecil yang Alga bantu cariin - bukan dibayarin Alga, Aviana kekeuh mau bayar sendiri dari gajinya. Tiap pagi Alga nganterin kopi ke depan apartemennya, tiap sore mereka jalan santai. Pelan-pelan, tapi pasti.
Sampai sore itu, bel apartemen Aviana bunyi.
TING TONG. TING TONG. TING TONG.
Aviana kira Alga. Dia buka pintu sambil senyum.
"Ga, kok cepet banget—"
Senyumnya langsung hilang.
Di depan pintu, bukan Alga. Tapi Indah.
Rambutnya berantakan. Mukanya bengkak habis nangis. Bajunya kusut, nggak ada lagi gaya centilnya yang dulu. Dia berdiri sambil meluk lututnya sendiri, gemetar.
"Vi..." suaranya serak. "Boleh aku masuk?"
Aviana diem. Tangannya masih di gagang pintu. Antara kasihan dan masih sakit hati.
Tapi akhirnya Aviana buka pintunya lebih lebar. "Masuk."
Indah langsung masuk dan... BRUK! Dia jatuh berlutut di depan Aviana. Nangis kejer.
"Vi, maafin aku! Maafin aku, Vi! Aku salah! Aku bener-bener salah!"
Aviana kaget. "Indah, bangun! Ngapain kamu lutut-lutut kayak gini?"
"Nggak! Aku nggak bakal bangun sebelum kamu maafin aku!" Indah nangis makin kenceng, ingusnya meler kemana-mana. "Ifan ninggalin aku, Vi!"
Aviana membeku. "Apa?"
"Ifan... Ifan bilang dia cuma... cuma iseng sama aku. Dia bilang dia nggak pernah niat nikahin aku. Dia bilang yang dia sayang itu tetep kamu. Terus dia ngusir aku dari apartemennya. Aku nggak punya siapa-siapa lagi, Vi. Cuma kamu yang aku punya."
Indah nangis sambil pegangin kaki Aviana.
"Vi, inget nggak? Kita dari SMA bareng. Kamu yang selalu bantuin aku pas aku nggak punya uang. Kamu yang selalu belain aku. Aku... aku khilaf, Vi. Aku iri sama kamu. Kamu mau nikah, kamu bahagia, kamu punya Ifan yang ganteng. Aku... aku pengen ngerasain juga jadi kamu."
Aviana natap Indah yang nangis di lantai itu.
Dulu, Indah adalah orang yang paling dia percaya. Tempat dia cerita semua hal. Sekarang, Indah ada di lantai apartemennya, nangis karena cowok yang sama yang udah ngancurin mereka berdua.
Aviana jongkok, pelan-pelan. Dia ngambil tisu, ngasih ke Indah.
"Indah, dengerin aku," kata Aviana pelan, tapi tegas.
Indah ngangkat mukanya yang basah.
"Aku maafin kamu," kata Aviana.
Indah langsung melotot, nggak percaya. "Beneran? Vi, beneran kamu maafin aku?"
Aviana mengangguk. "Aku maafin. Karena kalau aku terus benci sama kamu, yang sakit itu aku terus. Aku udah capek sakit."
Indah langsung meluk Aviana erat. "Makasih, Vi! Makasih! Kamu emang sahabat terbaik aku! Aku janji aku nggak bakal ngulangin lagi! Kita balikan lagi ya kayak dulu? Kita sahabatan lagi?"
Aviana diem. Dia lepas pelukan Indah, pelan-pelan.
"Tapi, maaf ya, Indah," kata Aviana. "Maafin bukan berarti balikan."
Indah membeku. "Maksud kamu?"
"Aku maafin kamu, biar hati aku tenang. Tapi aku nggak bisa sahabatan lagi sama kamu. Aku nggak bisa percaya lagi sama kamu. Kamu udah ngancurin kepercayaan itu. Dan kepercayaan itu nggak bisa dibeli pake nangis."
Air mata Indah jatuh lagi. Tapi kali ini dia nggak bisa ngomong apa-apa.
"Kamu pulang ya, Indah. Urus hidup kamu. Jangan cari Ifan lagi, jangan cari aku lagi. Kita... kita udah selesai. Sebagai sahabat, sebagai apa pun."
Pas Indah berdiri mau pergi, pintu apartemen kebuka. Alga datang, bawa dua bungkus makanan.
Alga langsung liat Indah yang matanya bengkak. Dia langsung berdiri di samping Aviana, kayak bodyguard.
"Kenapa dia di sini?" tanya Alga pelan.
Aviana genggam tangan Alga, biar Alga tenang. "Udah selesai, Ga. Dia cuma minta maaf."
Indah natap mereka berdua. Natap genggaman tangan mereka. Dan untuk pertama kalinya, Indah sadar...
Yang dia rebut dari Aviana itu, ternyata bukan cuma tunangan. Tapi dia udah kehilangan satu-satunya orang yang tulus sayang sama dia.
Indah jalan keluar, sambil nangis pelan, tanpa nengok lagi.
Aviana nutup pintu. Dia bersandar di pintu itu, napasnya panjang.
Alga langsung meluk Aviana dari samping. "Kamu oke?"
Aviana mengangguk, senyum tipis. "Aku oke, Ga. Tadi... aku ngerasa lega banget. Kayak akhirnya bener-bener selesai."
Alga ngusap rambut Aviana. "Kamu hebat, Vi. Sumpah. Cewek lain mungkin udah balas dendam. Kamu malah milih maafin dan pergi."
Aviana ketawa kecil. "Karena aku punya kamu yang ngajarin aku, kalau harga diri itu bukan buat dibales, tapi buat dijaga."
--Malam itu, setelah Indah pergi, Aviana nggak bisa tidur.
Bukan karena sedih. Tapi karena dia akhirnya ngerasa bener-bener bebas.
Alga masih di apartemennya, duduk di sofa, nemenin Aviana makan malam yang tadi dia bawa. Nggak ada yang ngomong, tapi suasananya hangat. Beda banget sama dulu, pas Aviana masih sama Ifan, tiap makan malam rasanya kayak lagi interogasi.
"Ga," Aviana tiba-tiba ngomong.
"Hmm?"
"Kamu inget nggak, pertama kali kita ketemu?"
Alga ketawa. "Inget lah. Kamu numpahin kopi ke kemeja aku di kafe. Terus kamu panik, kamu lap-lap pake tisu sampai kemeja aku basah semua."
Aviana ketawa, mukanya merah. "Iya, terus kamu malah bilang 'gapapa, kemejanya jadi wangi kopi'. Aku kira kamu orang aneh."
"Dan kamu tetep ngasih nomor kamu ke orang aneh itu," goda Alga.
"Karena kamu... beda," kata Aviana pelan. "Dari awal kamu beda."
Alga diem. Dia naruh sendoknya. Tangannya mulai keringetan. Dia udah ngerencanain ini dari seminggu yang lalu, tapi tiap mau ngomong, lidahnya kelu.
"Vi, aku... aku boleh ngomong sesuatu yang serius nggak?" tanya Alga, suaranya tiba-tiba gemetar.
Aviana mengangguk. "Boleh."
Alga berdiri. Dia jalan ke depan Aviana, terus... dia jongkok. Bukan berlutut kayak mau ngelamar. Tapi jongkok biar matanya sejajar sama Aviana yang lagi duduk.
"Aviana," katanya, napasnya berat. "Aku tau waktunya belum lama. Aku tau kamu baru aja selesai dari luka yang gede banget. Dan aku nggak mau kamu ngerasa aku maksa."
Aviana menatap Alga, jantungnya deg-degan.
"Tapi aku udah nggak bisa bohong lagi, Vi. Dari SMA, aku suka sama kamu."
Aviana melotot. "SMA?!"
"Iya," Alga ketawa gugup. "Kamu inget nggak cowok yang selalu ngembaliin buku perpus kamu yang ketinggalan? Yang selalu naruh coklat di laci meja kamu pas Valentine tapi nggak pernah nulis nama? Itu aku."
Aviana nutup mulutnya. "Ya Tuhan... itu kamu? Aku kira itu Ifan!"
"Nah, makanya aku kalah," kata Alga, senyum pahit tapi tulus. "Ifan ngaku-ngaku itu dia. Aku diem aja. Karena waktu itu kamu bahagia sama dia. Aku pikir, yaudah, asal kamu bahagia, aku rela jadi temen aja."
Air mata Aviana jatuh lagi. Tapi kali ini... air mata terharu.
"Terus pas kamu tunangan sama Ifan, aku juga diem. Aku pikir, yaudah, dia emang jodoh kamu. Sampai aku liat dia selingkuh sama Indah di hotel aku. Sampai aku liat kamu nangis sendirian di kamar 405. Di situ aku sumpah, Vi. Aku nggak bakal diem lagi."
Alga ngambil tangan Aviana, digenggam dengan kedua tangannya. Hangat. Gemetar.
"Aviana, mau nggak kamu... pacaran sama aku?"
Aviana kaget. "Hah?"
"Iya, pacaran," Alga ketawa, mukanya merah banget. "Bukan langsung nikah. Bukan langsung apa-apa. Pacaran aja dulu. Yang normal. Yang jalan sore, yang nonton, yang berantem gara-gara mau makan apa. Yang pelan-pelan. Aku mau ngerasain jadi pacar kamu, bukan cuma jadi tempat kamu nangis."
Aviana diem lama. Lama banget. Sampai Alga mulai panik.
"Kalau kamu belum siap, gapapa, Vi. Aku bisa nunggu lagi. Sumpah, aku—"
Belum selesai ngomong, Aviana langsung meluk Alga. Erat banget.
"Iya," bisik Aviana di telinga Alga, suaranya nangis tapi ketawa. "Iya, Ga. Aku mau."
Alga membeku. "Beneran?"
Aviana lepas pelukannya, matanya bengkak tapi senyumnya lebar banget. "Beneran. Aku mau pacaran sama cowok yang nungguin aku dari SMA, yang tidur di lantai koridor hotel cuma buat jagain aku, yang masakin aku sop pas aku nangis. Aku mau."
Alga langsung meluk Aviana lagi, kali ini lebih erat, sampai Aviana ketawa kegelian.
"Ya Tuhan, akhirnya!" Alga teriak, kayak anak kecil yang baru menang lomba. "Akhirnya setelah 7 tahun, Aviana mau pacaran sama aku!"
"7 tahun?!" Aviana ketawa. "Kamu ngitung?"
"Aku ngitung tiap hari, Vi!"
Malam itu, di apartemen kecil Aviana, nggak ada cincin mahal, nggak ada bunga segede gaban, nggak ada drama.
Cuma ada dua orang yang akhirnya jujur setelah bertahun-tahun.
Dan Aviana, untuk pertama kalinya, nangis bukan karena disakitin.
Tapi karena akhirnya... dia dicintai dengan benar.
---Seminggu setelah nembak yang kedua itu, Alga akhirnya ngomong sesuatu yang bikin Aviana panik.
"Vi, minggu depan ikut aku ya. Ke rumah mama."
Aviana langsung tersedak minumnya. "Hah? Rumah mama kamu?"
"Iya," Alga ketawa liat Aviana panik. "Mama udah dari dulu pengen ketemu kamu. Dari jaman SMA, aku selalu cerita soal kamu. 'Ma, ada cewek di sekolah, namanya Aviana, dia cantik banget, dia baik banget'. Mama udah hapal nama kamu di luar kepala."
Aviana makin panik. "Ga, tapi... aku kan... aku kan bekas tunangan orang. Aku kan pernah gagal nikah. Mama kamu bakal mikir apa tentang aku?"
Alga langsung pegang kedua pipi Aviana, bikin Aviana natap dia.
"Aviana, dengerin aku. Kamu bukan gagal nikah. Kamu selamat dari cowok yang salah. Dan mama aku bukan tipe orang yang nge-judge kayak gitu. Mama aku cuma pengen liat, cewek yang udah 7 tahun bikin anaknya nggak bisa move on itu kayak gimana."
Hari itu pun tiba.
Aviana dateng ke rumah Alga pake dress simple warna krem, rambutnya dikuncir, mukanya polos. Di tangannya ada buah tangan, kue yang dia bikin sendiri semalaman, sampai tangannya kecipratan coklat.
Pas pintu kebuka, yang keluar bukan Alga. Tapi seorang ibu-ibu cantik, rambutnya udah agak beruban, senyumnya hangat banget. Persis kayak senyum Alga.
"Aviana?" tanya ibu itu.
Aviana langsung salim, sopan banget. "Iya, Tante. Saya Aviana."
Ibu itu diem sebentar. Natap Aviana dari atas sampai bawah. Aviana makin deg-degan. Duh, pasti tante nggak suka sama aku.
Tapi tiba-tiba...
Ibu itu langsung meluk Aviana erat banget. Erat banget sampai Aviana kaget.
"Ya Tuhan! Akhirnya! Akhirnya Alga bawa pulang Aviana yang asli! Bukan cuma cerita!"
Aviana melongo. "Hah?"
Mama Alga lepas pelukannya, matanya berkaca-kaca. "Nak, tante tuh udah denger cerita kamu dari Alga bertahun-tahun. Tante tau kamu tuh cewek baik. Tante tau kamu habis disakitin. Dan tante... tante bersyukur banget kamu mau kasih kesempatan ke anak tante."
Aviana langsung nangis. Lagi. Dia nggak nyangka bakal disambut kayak gini.
Mama Alga ngusap air mata Aviana. "Udah, jangan nangis. Di sini kamu nggak perlu jadi kuat-kuat. Di sini kamu anak tante juga. Ya?"
Di dalam rumah, suasananya hangat banget. Mama Alga masakin sop ayam, masakin rendang, masakin semua makanan kesukaan Alga yang ternyata juga jadi kesukaan Aviana.
"Vi, kamu tau nggak?" kata Mama Alga sambil makan. "Alga itu dari SMA nggak pernah bawa cewek ke rumah. Sekali bawa, langsung kamu. Mama udah tau dari dulu, yang bakal jadi menantu mama itu kamu."
"Ma!" Alga protes, mukanya merah. "Jangan ngomong gitu, Aviana malu!"
Aviana malah ketawa. Ketawa lepas. Ketawa yang udah lama nggak keluar dari dia.
Sore itu, pas mereka pulang, Aviana bersandar di mobil Alga, masih senyum-senyum sendiri.
"Ga," kata Aviana pelan.
"Iya?"
"Mama kamu baik banget ya."
"Iya," jawab Alga. "Karena dia tau, anaknya udah nemu rumahnya."
Aviana nengok ke Alga. "Rumah?"
"Iya. Kamu. Kamu itu rumah aku, Vi."
Aviana genggam tangan Alga yang lagi nyetir. "Dan kamu... kamu rumah aku juga, Ga."
-TIME SKIP - 1 TAHUN KEMUDIAN
Rooftop hotel yang sama.
Tapi kali ini bukan sarapan canggung. Bukan nembak grogi. Bukan juga tempat Aviana nangis.
Kali ini, rooftop itu penuh bunga putih. Ada panggung kecil. Ada kursi-kursi yang dihias pita. Dan ada ratusan orang yang datang.
Hari ini, hari pernikahan Aviana & Alga.
Di ruang ganti, Aviana berdiri di depan kaca. Gaun putihnya cantik banget. Simple, tapi elegan. Persis kayak yang dia mau dari dulu. Bukan gaun yang dulu dia pilih bareng Ifan yang penuh payet dan berat. Ini gaun pilihan dia sendiri, pilihan Alga.
"Vi, kamu cantik banget!" kata Mama Alga yang dari tadi bantuin benerin kerudung Aviana. "Tante udah bilang kan, menantu tante itu kamu!"
Aviana ketawa, matanya berkaca-kaca. "Makasih, Ma. Makasih udah nganggep aku anak sendiri."
"Tante nggak nganggep. Tante emang udah nganggep kamu anak tante dari dulu."
Di luar, Alga berdiri di depan altar. Jasnya rapi, tapi tangannya keringetan. Dia bolak-balik ngeliat jam, ngeliat pintu.
"Bro, santai lah," kata sahabatnya. "Nikah doang, bukan mau perang."
"Gimana mau santai? 7 tahun gue nunggu hari ini, bro!" kata Alga, suaranya gemetar.
Musik mulai main.
Pintu kebuka.
Dan Aviana jalan masuk.
Semua orang berdiri. Semua orang melongo.
Alga? Alga langsung nangis. Nangis beneran. Nggak malu-malu. Air matanya jatuh di depan semua tamu.
Karena cewek yang dari SMA cuma dia liatin dari jauh, yang dulu dia kira bakal nikah sama orang lain, sekarang jalan ke arah dia, pake gaun putih, senyum ke dia.
Pas Aviana sampai di depan Alga, Alga langsung bisik, suaranya serak karena nangis.
"Kamu cantik banget, Vi. Sumpah, aku... aku nggak nyangka akhirnya hari ini dateng juga."
Aviana bisik balik, sambil senyum, air matanya juga jatuh.
"Aku juga, Ga. Aku nggak nyangka, rumah aku ternyata kamu."
Prosesi berjalan lancar. Ijab kabulnya khidmat. Pas Alga ngucapin ijab, suaranya tegas, nggak ada groginya sama sekali. Karena dia yakin.
Pas sah, Alga langsung meluk Aviana. Bukan ciuman yang heboh. Cuma pelukan. Pelukan yang udah 7 tahun dia pengen lakuin di depan semua orang, tanpa sembunyi-sembunyi lagi.
Di kursi tamu, ada dua kursi kosong.
Satu harusnya buat Ifan. Satu harusnya buat Indah.
Mereka nggak diundang. Bukan karena Aviana dendam. Tapi karena Aviana udah belajar, kalau orang yang udah ngancurin kepercayaan, nggak perlu diajak merayakan kebahagiaan.
Di akhir acara, Aviana lempar bunga ke arah tamu-tamu cewek. Dan yang nangkep? Mama Alga.
Semua orang ketawa.
Malamnya, di kamar yang sama, kamar suite paling atas hotel itu, Alga gendong Aviana masuk ke kamar. Bukan kamar 405. Bukan kamar 712. Tapi kamar mereka. Kamar pengantin mereka.
Aviana duduk di kasur, masih pake gaunnya, ketawa.
"Ga, capek banget ya nikah."
Alga duduk di sampingnya, ngelepasin sepatunya, terus ngelepasin sepatu Aviana juga. "Capek. Tapi worth it."
Aviana bersandar di bahu Alga.
"Ga, makasih ya."
"Makasih buat apa?"
"Makasih udah nungguin aku. Makasih udah nggak nyerah pas aku masih sama Ifan. Makasih udah jadi orang yang pertama bilang aku boleh nangis dulu."
Alga ngecup kening Aviana, pelan, hangat.
"Vi, aku yang makasih. Makasih udah mau pulang ke aku."
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Aviana tidur bukan dengan rasa takut, bukan dengan rasa sakit.
Tapi dengan rasa aman. Di pelukan suaminya.
Suami yang dari dulu, selalu jadi rumahnya.
- TAMAT -
---