Besok pagi di rumah, aku masakin Bara sarapan pertama sebagai istri sah.
Aku bangun duluan. Jam 5 pagi. Biasanya aku bangun jam segini kalau mau kerja di kapal. Tapi kali ini aku bangun bukan buat kerja. Aku bangun buat masak.
Aku buka kulkas. Ada telur, ada nasi sisa semalam, ada tempe. Ya udah, nasi goreng aja. Nasi goreng pertama aku sebagai istri.
Bara masih tidur di kamar. Tidur pules. Aku liat dari dapur, dia masih meluk guling. Guling yang semaleman aku rebut. Sekarang gulingnya jadi korban.
Pas aku lagi ngiris bawang, Bara bangun. Rambutnya masih berantakan. Matanya masih setengah merem. Dia jalan ke dapur, masih pakai kaos oblong.
"Ngapain pagi-pagi udah di dapur, Cha?" tanyanya, sambil meluk aku dari belakang.
Aku kaget. Pisau hampir jatuh. "Mas! Aku lagi masak! Ntar kepotong!"
Bara ketawa. Dia nggak lepas pelukannya. "Masak apa?"
"Nasi goreng. Sarapan pertama aku sebagai istri sah. Mas harus habisin," kataku, sambil balik badan, pura-pura galak.
Bara cium keningku. "Pasti aku habisin. Walaupun gosong, aku habisin."
"Enak aja gosong! Ini enak!" kataku.
Kita berdua ketawa. Dapur kecil itu jadi rame.
Pas nasi gorengnya mateng, kita makan berdua di meja makan. Cuma berdua. Nggak ada Dion yang biasanya duduk di seberang. Nggak ada yang nanya "Cha, tehnya mana?" Nggak ada yang godain.
Cuma aku sama Bara.
"Gimana, Mas? Enak nggak?" tanyaku, deg-degan. Ini pertama kalinya aku masakin Bara. Kalau dia bilang nggak enak, aku bakal sedih seharian.
Bara makan sesuap. Dia diem. Dia makan lagi. Makan lagi.
"Mas, jawab dong," kataku, nggak sabar.
Bara natap aku. "Cha..."
"Apa? Nggak enak ya?"
"Enak banget," katanya. "Ini nasi goreng paling enak yang pernah aku makan. Soalnya yang masak istri aku."
Aku langsung senyum lebar. Senyum yang dari tadi aku tahan.
"Bohong," kataku.
"Beneran," jawabnya. "Sumpah. Kalau bohong, aku disuruh cuci piring seminggu."
Aku ketawa. "Yaudah, Mas cuci piring ya. Biar adil."
Bara langsung pura-pura lemes. "Lah, katanya enak? Kok tetep disuruh cuci piring?"
"Karena Mas suami aku. Suami harus bantuin istri cuci piring," jawabku, sambil nyodorin piring kotor ke dia.
Dan pagi itu, kita cuci piring berdua. Bara yang cuci, aku yang bilas. Sambil ciprat-cipratan air. Sambil ketawa-ketawa kayak anak kecil.
Nggak ada yang istimewa. Cuma nasi goreng, cuma cuci piring, cuma sarapan berdua.
Tapi buat aku, ini sarapan paling istimewa. Karena ini pertama kalinya aku sarapan sebagai istri yang sah. Bukan istri kontrak. Bukan pacar yang sembunyi-sembunyi.
Ini Acha. Istri Bara. Yang masak nasi goreng pagi-pagi buat suaminya.
Siang harinya, ibu datang ke rumah dan nanya, "Gimana malam pertama kalian?" dan aku langsung salah tingkah.
Ibu datang bawa rantang. Rantang isi sayur lodeh sama ayam goreng. Katanya, "Buat pengantin baru, biar nggak usah masak."
Aku bukain pintu, ibu langsung masuk, langsung liat sekeliling rumah. "Wah, udah rapi ya rumah kalian. Udah kayak rumah beneran."
Bara keluar dari kamar, masih pakai kaos oblong. "Eh, Ibu. Tumben siang-siang ke sini."
Ibu duduk di sofa. Senyum-senyum. Senyum yang mencurigakan.
"Gimana malam pertama kalian?" tanya ibu, langsung to the point. Nggak ada basa-basi.
Aku langsung keselek air liur sendiri. "Bu!"
Bara juga kaget. "Ibu!"
Ibu ketawa. "Loh, kenapa kaget? Ibu kan nanya baik-baik. Kan ibu pengen tau kalian udah rukun apa belum."
Aku langsung nunduk, muka ku merah banget. Sampai ke kuping. "Bu, kita... kita capek, Bu. Habis akad, habis resepsi, capek. Jadi kita tidur aja."
Ibu ngangguk-ngangguk. "Oh, tidur aja. Ya ampun, sayang banget. Malam pertama kok tidur aja."
"Bu!" kataku lagi, makin kenceng. "Kita tidur beneran! Tidur pelukan!"
Bara yang dari tadi diem, sekarang ikut ngomong. "Iya Bu, kita tidur. Soalnya Acha capek banget. Aku nggak tega."
Ibu liat kita berdua gantian. Terus ibu senyum. Senyum yang lebih lebar.
"Ya udah, ya udah. Ibu percaya. Ibu percaya kalian tidur," katanya, tapi nadanya kayak nggak percaya.
Aku langsung lempar bantal sofa ke Bara. "Mas, ini gara-gara Mas! Kenapa Mas nggak bangun dari tadi? Jadi ibu mikir yang aneh-aneh!"
Bara nangkep bantalnya, ketawa. "Lah, kok aku yang disalahin? Kan kamu yang bilang ke ibu kita tidur aja."
Ibu ketawa makin kenceng. "Udah, udah. Jangan berantem di depan ibu. Ibu seneng liat kalian rukun. Berantem-berantem kecil kayak gini nih yang bikin rumah tangga awet."
Aku duduk di sebelah ibu. Aku sandarin kepala ku di bahu ibu.
"Bu," kataku pelan. "Makasih ya, Bu."
"Makasih apa?" tanya ibu.
"Makasih karena Ibu udah... udah ngatur semuanya. Walaupun kemarin ada kontrak-kontrak aneh itu. Tapi sekarang aku udah nikah beneran sama Bara. Aku bahagia, Bu."
Ibu usap rambutku. "Ibu juga bahagia, Cha. Ibu tau 3 bulan kemarin kamu berat. Ibu tau kamu bingung. Tapi ibu liat, sekarang kamu udah lega, kan?"
Aku ngangguk. "Lega banget, Bu."
Ibu liat Bara. "Bara, titip Acha ya. Acha itu anaknya manja. Kalau dia ngambek, jangan dibiarin. Kalau dia nangis, peluk aja."
Bara ngangguk, serius. "Siap, Bu. Saya jaga Acha. Saya janji."
Dan siang itu, kita makan bareng bertiga. Makan sayur lodeh ibu. Makan ayam goreng ibu. Sambil ibu cerita-cerita soal tetangga yang nanya kapan kita punya anak.
Aku langsung keselek lagi. Bara langsung batuk.
Ibu ketawa lagi. "Loh, kan ibu cuma nanya. Kapan punya anak?"
Aku sama Bara saling liat. Kita berdua senyum.
"Nanti, Bu. Pelan-pelan," jawab Bara. "Kita baru nikah 3 hari. Kasih kita waktu buat pacaran dulu sebagai suami istri."
Ibu ngangguk. "Ya udah. Ibu tunggu. Tapi jangan lama-lama ya."
Dan pas ibu pulang, aku sama Bara langsung rebahan di sofa. Capek digodain ibu seharian.
"Mas," kataku.
"Apa, Cha?"
"Besok kalau ibu datang lagi, Mas yang jawab ya. Aku malu."
Bara ketawa. "Nggak bisa. Kamu yang harus jawab. Kamu kan istrinya."
Aku cubit lagi tangan Bara. Dan kita ketawa lagi.
Malamnya, pas kalian akhirnya ngobrol serius soal rencana punya anak dan Bara bilang dia mau anaknya kembar.
Habis ibu pulang, rumah jadi sepi lagi. Cuma aku sama Bara.
Kita berdua di kamar. Bara lagi lipet baju. Aku lagi sisiran. Suasananya tenang. Nggak ada yang godain. Nggak ada yang nanya macam-macam.
"Cha," kata Bara, tiba-tiba.
"Apa, Mas?"
"Kamu tadi denger nggak ibu nanya kapan kita punya anak?"
Aku langsung berhenti sisiran. "Denger, Mas. Denger banget. Sampai aku keselek."
Bara ketawa. "Aku juga batuk. Soalnya aku kaget ibu langsung nanya gitu."
Aku duduk di kasur, ngadep Bara. "Terus Mas jawab apa? Mas bilang pelan-pelan. Emang Mas maunya kapan?"
Bara berhenti ngelipet baju. Dia duduk di sebelahku. "Kalau aku sih, maunya... cepet. Tapi nggak buru-buru. Aku mau kita nikmatin dulu masa-masa pengantin baru. Masa-masa kita bisa pergi berdua, kerja bareng, tidur bareng tanpa diganggu."
Aku ngangguk. "Iya, aku juga mikir gitu. Aku mau kita pacaran dulu sebagai suami istri. Kan kemarin kita pacaran sembunyi-sembunyi mulu."
"Betul," kata Bara. "Sekarang kita udah bisa pacaran terang-terangan. Mau jalan ke mana aja, nggak perlu takut."
Kita diem sebentar. Terus Bara ngomong lagi, dengan muka serius banget. Muka yang biasa dia pakai kalau lagi ngomongin hal penting di kapal.
"Tapi Cha, kalau nanti kita punya anak, aku mau anaknya kembar."
Aku langsung bengong. "Kembar? Mas ngomong apa? Kembar tuh nggak bisa request, Mas! Itu rezeki!"
Bara ketawa. "Iya aku tau. Tapi aku pengen aja. Bayangin, Cha. Sekali punya anak, langsung dapet dua. Satu cowok, satu cewek. Yang cowok namanya kayak aku, yang cewek namanya kayak kamu."
Aku ketawa juga. "Mas, Mas tuh ya. Anak aja belum ada, udah ngatur nama."
"Ya harus diatur dari sekarang," jawab Bara, sok serius. "Biar nanti kalau Tuhan kasih kembar, kita udah siap."
Aku sandarin kepala ku ke bahu Bara. "Mas, kalau anaknya cuma satu gimana?"
"Ya gapapa," jawab Bara. "Satu juga aku sayang. Dua juga aku sayang. Tiga juga aku sayang. Berapa pun yang Tuhan kasih, aku sayang."
Aku senyum. "Kalau anaknya sepuluh gimana?"
Bara langsung kaget. "Sepuluh? Cha, kamu mau bikin tim sepak bola?"
Kita berdua ketawa lagi. Ketawa sampai perut sakit.
"Mas," kataku, pelan.
"Apa?"
"Janji ya, kalau nanti kita punya anak, Mas jangan berubah. Tetep jadi Mas yang selalu peluk aku, yang selalu benerin kancing aku, yang selalu benerin dasi Mas sendiri."
Bara peluk aku. Pelukan yang kenceng, kayak di lorong kapal tadi siang.
"Janji," katanya. "Aku nggak akan berubah. Aku akan tetep jadi Bara yang kangen kamu terus, walaupun ketemu kamu tiap hari."
Aku ngangguk. Aku merem. Dengerin detak jantung Bara.
Dan malam itu, kita tidur lagi. Tidur pelukan lagi. Bukan karena capek. Tapi karena kita lagi ngerencanain masa depan. Masa depan yang ada anak kembar, ada rumah rame, ada Bara yang cuci piring, ada Acha yang masak nasi goreng.
Masa depan yang nggak ada lagi kontrak. Nggak ada lagi Dion. Nggak ada lagi bohong.
Cuma ada kita. Acha dan Bara. Dan mimpi-mimpi kecil kita.
2 bulan kemudian, pas kamu telat datang bulan dan Bara panik banget sampai ngajak ke dokter.
Pagi itu aku bangun, liat kalender di hp. Aku hitung-hitung. Harusnya udah datang dari 5 hari yang lalu. Tapi belum datang juga.
Aku diam. Aku nggak langsung ngomong ke Bara. Aku takut. Takut salah hitung. Takut kecewa. Takut Bara kecewa juga.
Tapi Bara itu peka banget. Dia liat aku bolak-balik ke kamar mandi, liat aku pegang hp terus, liat muka ku yang bingung.
"Cha, kamu kenapa? Kok dari tadi diem aja?" tanya Bara, pas sarapan.
Aku tarik napas. "Mas... aku telat."
Bara bengong. "Telat apa? Telat kerja? Kan kita libur hari ini."
"Bukan telat kerja, Mas. Telat datang bulan," kataku, suaraku pelan banget.
Bara langsung meletakkan sendoknya. "Telat berapa hari?"
"Lima hari," jawabku.
Hening. Hening 3 detik yang rasanya kayak 3 jam.
Terus Bara langsung berdiri. "Yuk, ke dokter! Sekarang!"
"Mas, Mas, tunggu!" kataku, kaget. "Baru telat 5 hari, Mas. Belum tentu..."
"Nggak, nggak bisa. Harus ke dokter. Harus dicek. Kalau beneran, kita harus tau dari awal. Kalau nggak, kita juga harus tau kenapa telat," kata Bara, sambil udah ambil kunci motor, ambil jaket, ambil dompet. Panik banget. Panik kayak kapten yang kapalnya mau nabrak karang.
Aku ketawa kecil. "Mas, Mas tuh ya. Lebih panik dari aku."
"Ya jelas aku panik! Ini anak pertama kita, Cha!" katanya.
Kita berangkat ke dokter. Di jalan, Bara pegang tanganku terus. Tangannya keringetan. Padahal biasanya dia yang paling tenang di kapal.
Sampai di dokter, kita nunggu giliran. Bara duduk, berdiri, duduk lagi, berdiri lagi. Sampai susternya bilang, "Bapak, duduk aja, jangan mondar-mandir."
Akhirnya giliran kita. Dokternya nanya-nanya. Nanya kapan terakhir datang bulan, nanya ada keluhan apa, nanya...
Terus dokter bilang, "Coba kita tes dulu ya, Bu."
Aku tes. Bara nunggu di luar. 10 menit rasanya kayak 10 tahun.
Pas dokter keluar bawa hasil, Bara langsung berdiri. "Gimana, Dok?"
Dokternya senyum. "Selamat ya, Pak, Bu. Positif."
Aku bengong. Bara bengong.
"Positif apa, Dok?" tanya Bara, masih nggak percaya.
"Positif hamil, Pak. Usianya masih awal banget. Sekitar 5 minggu," kata dokter.
Aku langsung nangis. Nangis bahagia. Bara langsung peluk aku. Peluk kenceng banget. Sampai dokter ketawa liat kita.
"Mas," kataku, nangis. "Kita mau punya anak, Mas."
Bara ngangguk, matanya juga berkaca-kaca. "Iya Cha. Kita mau punya anak. Anak kita."
Di jalan pulang, Bara masih nggak berhenti senyum. Dia pegang perutku pelan-pelan, padahal perutku masih rata banget. Belum kelihatan apa-apa.
"Cha, ini anak kembar nggak ya?" tanyanya.
Aku ketawa. "Mas! Baru 5 minggu, Mas! Mana bisa kelihatan kembar apa nggak!"
"Ya siapa tau. Kan aku udah doa dari 2 bulan lalu pengen anak kembar," jawabnya, sok serius.
Aku cubit tangan Bara. "Mas, doa tuh jangan maksa-maksa!"
Bara ketawa. "Iya, iya. Berapa pun anaknya, aku sayang. Yang penting sehat. Kamu sehat, anaknya sehat."
Dan malam itu, kita telpon ibu. Ibu langsung teriak. "Hah? Hamil? Alhamdulillah! Ibu mau jadi nenek!"
Aku sama Bara ketawa. Ketawa bahagia.
2 bulan setelah nikah, 3 bulan setelah kontrak habis, 5 bulan setelah nikah siri yang nggak tercatat...
Akhirnya, ada yang tercatat. Ada kehidupan baru yang tercatat di perutku.
Anak aku sama Bara. Yang sah. Yang ditunggu-tunggu.
--USG.
Hari itu jadwal USG pertama.
Aku deg-degan dari semalam. Bara lebih deg-degan. Dari semalam dia udah nanya terus, "Cha, besok kita USG jam berapa? Udah siapin berkasnya? Udah sarapan? Jangan lupa bawa air putih."
Padahal yang USG aku, bukan dia. Tapi dia yang lebih panik.
Sampai di rumah sakit, kita masuk ruangan USG. Dokternya baik banget. Senyum terus.
"Bu, tiduran ya. Bapak, di sini aja, pegang tangan istrinya," kata dokter.
Bara pegang tanganku. Tangannya dingin. Keringetan lagi. Kayak waktu kita ke dokter pertama kali.
Dokter mulai USG. Layarnya nyala. Ada titik kecil. Ada detak kecil. Duk duk duk. Cepet banget.
Aku nangis. Bara juga nangis. Kita denger detak jantung anak kita pertama kalinya.
Terus dokter diem. Dokter ngeliatin layar lebih lama. Dia gerakin alatnya ke kiri, ke kanan. Dia diem lagi.
"Dok, kenapa, Dok? Ada apa, Dok?" tanya Bara, panik. "Anak saya kenapa?"
Dokter senyum. Senyum yang lebar banget.
"Wah, ini kembar, Bu!" kata dokter.
Aku bengong. "Kembar, Dok?"
"Iya, Bu. Liat ini. Ini kantong yang pertama. Ini kantong yang kedua. Dua-duanya sehat. Dua-duanya ada detaknya," kata dokter, sambil nunjukin layar.
Aku langsung liat Bara. Bara langsung liat aku.
"Mas, denger nggak? Kembar!" kataku.
Bara nggak jawab. Bara diem. Matanya melotot. Mulutnya kebuka.
Terus...
Brak.
Bara jatuh dari kursi. Pingsan di tempat.
"Dok! Mas!" teriakku. Aku langsung bangun dari tempat tidur USG, perutku masih ada gelnya.
Dokter sama suster langsung panik. "Pak! Pak! Bapak kenapa?"
Susternya ngambilin air, ngipasi Bara. Aku pegangin tangan Bara. "Mas, bangun Mas! Mas, ini kembar beneran! Doa Mas dikabulin!"
Bara pelan-pelan buka mata. "Cha..."
"Iya Mas, aku di sini."
"Kembar?" tanyanya, masih lemes.
"Iya Mas, kembar!" jawabku, sambil ketawa sambil nangis.
Bara senyum. Senyum yang lemes tapi bahagia banget. "Alhamdulillah... doa aku dikabulin... langsung dua..."
Dokter ketawa. "Bapak, ini pertama kalinya saya liat bapaknya yang pingsan, bukan ibunya yang pingsan. Biasanya ibunya yang lemes."
Semua orang di ruangan itu ketawa. Aku ketawa. Bara ketawa. Suster ketawa.
Di jalan pulang, Bara masih lemes. Dia nyetir pelan-pelan banget. Kayak nyetir kapal yang bawa muatan paling berharga di dunia.
"Cha," katanya.
"Apa Mas?"
"Kita mau punya anak kembar. Satu cowok, satu cewek. Kayak doa aku."
Aku pegang tangan Bara. "Iya Mas. Doa Mas dikabulin. Sekarang Mas jangan pingsan lagi ya. Nanti kalau anaknya lahir, Mas pingsan lagi gimana?"
Bara ketawa. "Nggak janji. Soalnya aku bahagia banget."
Dan malam itu, kita telpon ibu lagi. Ibu teriak lagi, lebih kenceng dari kemarin.
"KEMBAR? Ibu mau jadi nenek kembar!"
Aku sama Bara ketawa. Ketawa sampai perutku sakit. Perut yang sekarang isinya dua kehidupan kecil.
Dua detak jantung. Dua mimpi. Dua anak yang sah. Anak aku sama Bara.
Yang dulu doa Bara cuma bercanda, sekarang jadi beneran.
--Di akhir cerita, Bara ngadzanin Adzana, dan Dion bopong Alga.
Hari itu, hari yang paling ditunggu-tunggu.
Setelah 9 bulan, setelah perutku makin besar, setelah Bara makin protektif, setelah ibu tiap hari datang bawa sayur, akhirnya...
Adzana dan Alga lahir.
Adzana lahir duluan. Cewek. Nangisnya kenceng banget. Persis kayak aku kalau lagi ngambek sama Bara.
Alga lahir 5 menit setelahnya. Cowok. Nangisnya lebih pelan, tapi mukanya udah kayak Bara banget. Dahi lebar, hidung mancung.
Bara yang pertama kali gendong mereka. Tangannya gemetar. Tangannya yang biasanya megang kemudi kapal dengan tenang, sekarang gemetar megang anaknya sendiri.
"Cha, ini anak kita," katanya, sambil nangis. "Ini Adzana. Ini Alga."
Aku nangis juga. Nangis bahagia. Nangis lega. Setelah semua yang kita lewatin, dari nikah siri 3 bulan, dari bohong, dari kontrak, dari takut ketahuan, sekarang...
Kita punya dua anak yang sah.
Terus Bara ngadzanin Adzana.
Dia gendong Adzana, deketin ke kupingnya yang kecil banget itu. Suaranya pelan, tapi jelas. Suara adzan pertama yang didenger Adzana di dunia ini, suaranya bapaknya sendiri.
Allahu Akbar, Allahu Akbar...
Aku merem. Dengerin suara Bara. Suara yang dulu sering aku denger pas dia bangunin aku sahur di kapal. Suara yang dulu sering aku denger pas dia bisikin "aku kangen" di lorong kapal.
Sekarang suara itu buat anak kita.
Pas Bara selesai adzanin Adzana, dia mau adzanin Alga. Tapi tangannya penuh. Adzana di tangan kiri, Alga mau diambil...
Dan di situ, Dion datang.
Dion datang pakai kemeja rapi. Bawa dua kado. Satu pink, satu biru. Dia udah janji mau datang. Dia bilang dia mau jadi "Om" beneran buat anak-anak kita.
"Bara, sini, biar aku yang bopong Alga," kata Dion, pelan.
Bara liat Dion. Bara ngangguk. Bara ngasih Alga ke Dion.
Dion bopong Alga.
Cara dia bopong, hati-hati banget. Kayak dia takut Alga kenapa-kenapa. Dia gendong Alga, dia goyang-goyang pelan.
"Hai, Alga," bisik Dion. "Om Dion nih. Om yang dulu jagain mamamu 3 bulan."
Alga diem. Dia natap Dion. Mata kecilnya kebuka.
Dan Bara, di sebelahnya, lagi ngadzanin Alga yang sekarang ada di tangan Dion. Bara adzan, Dion yang gendong. Dua laki-laki yang dulu pernah jadi suami aku, sekarang berdiri berdampingan, buat anakku.
Aku nangis lagi. Nangis yang nggak bisa berhenti.
Dion liat aku nangis, dia senyum. "Cha, jangan nangis. Nanti Adzana sama Alga ikut nangis."
Aku ketawa sambil nangis. "Om, makasih ya udah datang."
Dion ngangguk. "Aku kan omnya. Om harus datang. Om yang jagain mamamu, sekarang om yang jagain kalian berdua."
Bara selesai adzan. Dia liat Dion bopong Alga. Dia liat aku gendong Adzana.
"Cha," kata Bara.
"Apa Mas?"
"Lihat, keluarga kita lengkap," katanya.
Aku ngangguk. "Lengkap, Mas. Ada aku, ada Mas, ada Adzana, ada Alga, ada Ibu, dan ada Om Dion."
Dion ketawa. "Aku jadi keluarga juga?"
"Jadi," jawabku sama Bara barengan.
Dan sore itu, di rumah sakit, di kamar yang sempit, ada 5 orang. Acha yang baru jadi ibu. Bara yang baru jadi bapak. Adzana yang baru lahir. Alga yang baru lahir. Dan Dion, yang dulu suami kontrak, sekarang jadi om.
Nggak ada lagi kontrak. Nggak ada lagi bohong. Nggak ada lagi sembunyi-sembunyi.
Yang ada cuma...
Adzan pertama Adzana dari bapaknya.
Alga yang dibopong omnya.
Dan Acha, yang akhirnya, beneran bahagia.
TAMAT