Episode 1: Pesan dari Orang Asing
Pukul 00.17, seseorang mengirimiku pesan yang membuatku yakin bahwa pindah sekolah ternyata adalah keputusan paling buruk dalam hidupku.
Bukan karena sekolah baruku jelek. Bukan juga karena teman-temannya menyebalkan.
Tapi karena seseorang di sekolah ini tahu sesuatu tentang diriku yang bahkan belum pernah kuceritakan kepada siapa pun.
Nomor tidak dikenal:
"Besok jangan duduk di bangku dekat jendela."
Aku mengernyit menatap layar ponsel.
Aku:
"Siapa ini?"
Pesan itu hanya dibaca. Tidak ada balasan.
"Orang iseng," gumamku sebelum meletakkan ponsel di samping bantal.
Namaku Alena Putri. Umurku 17 tahun. Dan sejak tiga hari lalu, aku resmi menjadi murid pindahan di SMA Garuda Nusantara.
Alasannya sederhana: pekerjaan Ayah membuat kami harus pindah kota.
Masalahnya, aku paling tidak suka memulai semuanya dari nol. Sekolah baru, teman baru, lingkungan baru. Rasanya seperti masuk ke film yang semua pemainnya sudah saling mengenal, kecuali aku.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru."
Aku berdiri di samping Bu Ratna sambil tersenyum canggung.
"Silakan perkenalkan diri."
"Hai, aku Alena. Panggil aja Lena. Semoga kita bisa berteman."
"YEEE!" seseorang berteriak dari belakang.
Aku sedikit tertawa.
"Silakan duduk di bangku kosong sebelah jendela, ya."
Seketika aku teringat pesan semalam.
Jangan duduk di bangku dekat jendela.
Tapi masa iya aku harus percaya sama orang asing?
Aku berjalan menuju bangku itu. Baru saja menarik kursi, seorang cowok tiba-tiba menahan sandarannya.
"Jangan duduk di situ."
Aku menoleh.
Cowok itu tinggi, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya... lumayan menyebalkan karena terlalu tampan.
"Hah?"
"Duduk di belakang aja."
"Kenapa?"
"Karena aku bilang begitu."
Aku mendengus. "Emang kamu siapa?"
Dia tersenyum tipis.
"Raka."
"Oh, terus?"
"Terus kamu tetap nggak boleh duduk di situ."
Aku memutar bola mata dan duduk di bangku tersebut.
"Dasar aneh."
Raka hanya mengangkat bahu lalu kembali ke tempat duduknya.
Lima menit kemudian, angin dari jendela tiba-tiba menerbangkan sebuah kertas kecil tepat ke mejaku.
Aku mengambilnya.
Tulisan di kertas itu membuat tengkukku merinding.
Jangan pernah percaya cowok bernama Raka.
Aku langsung menoleh ke arahnya.
Raka sedang menatap papan tulis. Seolah tidak terjadi apa-apa.
"LENAAAA!"
Aku hampir menjatuhkan minuman ketika seorang cewek tiba-tiba duduk di depanku.
"Kenalin, aku Naya. Teman sebangkumu mulai hari ini."
Aku tersenyum. "Oh, hai!"
Naya langsung mendekatkan wajahnya.
"Kamu udah kenal Raka?"
"Sedikit."
"Jangan dekat-dekat sama dia."
Aku menghela napas. "Kenapa semua orang ngomong begitu?"
Naya terdiam.
"Pokoknya, dia punya masa lalu yang nggak enak."
"Masa lalu apa?"
"Udah, nanti aja. Aku nggak mau ikut campur."
Belum sempat aku bertanya lagi, ponselku bergetar.
Nomor tidak dikenal:
"Jangan terlalu dekat dengan Raka."
Aku langsung membalas.
Aku:
"Kamu siapa sebenarnya? Kenapa ngatur hidupku?"
Beberapa detik kemudian, pesan masuk.
Nomor tidak dikenal:
"Karena aku tahu apa yang terjadi kalau kamu jatuh cinta sama dia."
Aku membeku.
Jatuh cinta?
Siapa juga yang mau jatuh cinta sama cowok menyebalkan itu?
Hari-hari berikutnya terasa semakin aneh.
Raka sering muncul di tempat yang sama denganku. Di perpustakaan, kantin, bahkan halte depan sekolah.
Anehnya, dia selalu punya alasan untuk mengajakku bicara.
"Kamu suka hujan?" tanyanya suatu sore.
Aku sedang berdiri di depan gerbang, menunggu hujan reda.
"Nggak terlalu. Kenapa?"
"Katanya orang yang suka hujan biasanya punya banyak rahasia."
Aku tertawa kecil. "Sok filosofis banget."
Dia ikut tertawa.
"Kalau kamu sendiri?"
"Aku suka langit setelah hujan."
"Kenapa?"
"Karena semuanya kelihatan lebih tenang."
Raka menatapku beberapa detik.
"Berarti kita sama."
Entah kenapa, jantungku berdegup sedikit lebih cepat.
Sial.
Sepertinya aku mulai menyukai cowok ini.
Padahal baru beberapa hari mengenalnya.
Malamnya, pesan anonim kembali masuk.
Nomor tidak dikenal:
"Jangan tersenyum terlalu lama saat bersama Raka. Kamu terlihat bahagia."
Aku langsung duduk.
Aku:
"Kamu mengawasiku?"
Nomor tidak dikenal:
"Aku hanya memastikan kamu baik-baik saja."
Aku:
"Kalau memang peduli, kenapa nggak berani nunjukin diri?"
Pesan itu datang beberapa saat kemudian.
Nomor tidak dikenal:
"Karena kalau kamu tahu siapa aku, semuanya akan berubah."
Aku menggigit bibir.
Ada sesuatu yang disembunyikan orang ini. Dan aku mulai yakin, semua pesan itu bukan sekadar lelucon.
Jumat sore, aku kembali ke kelas karena buku catatanku tertinggal.
Sekolah sudah hampir kosong.
Saat melewati ruang OSIS, aku mendengar suara benda jatuh dari dalam.
"Siapa di sana?"
Tidak ada jawaban.
Aku mendorong pintu perlahan.
Di atas meja terdapat sebuah ponsel hitam. Layarnya menyala, menampilkan aplikasi pesan.
Aku mendekat.
Ada satu percakapan yang masih terbuka.
Nama kontaknya: Lena.
Jantungku langsung berdegup kencang.
Aku membaca pesan terakhir yang terkirim.
"Besok jangan biarkan dia duduk dekat jendela."
Tanganku mulai gemetar.
Itu kalimat yang sama persis dengan pesan anonim pertama.
Aku membuka percakapan lebih jauh.
Pesan-pesan selama ini ada di sana. Semuanya.
"Jangan terlalu dekat dengan Raka."
"Aku tahu apa yang terjadi kalau kamu jatuh cinta sama dia."
"Karena kalau kamu tahu siapa aku, semuanya akan berubah."
Aku mundur satu langkah.
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
"Kamu lagi cari sesuatu?"
Aku berbalik.
Raka berdiri di ambang pintu.
Wajahku pucat. "Ini... ponsel siapa?"
Dia melirik meja, lalu menghela napas panjang.
"Punyaku."
Aku menatapnya tidak percaya.
"Jadi selama ini..."
Raka tidak menjawab.
"Raka, kamu yang kirim semua pesan itu?"
Dia berjalan mendekat. Kali ini tidak ada senyum jahil di wajahnya.
"Iya."
Dadaku terasa sesak.
"Kenapa? Kamu sebenarnya mau apa dariku?"
Raka terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan.
"Karena aku sudah mengenal kamu jauh sebelum kamu pindah ke sekolah ini."
Aku mengerutkan dahi.
"Omong kosong. Kita baru ketemu minggu lalu."
Raka menggeleng.
"Lena, kamu ingat kejadian tiga tahun lalu? Anak laki-laki yang kamu tolong di halte saat hujan deras?"
Aku terdiam.
Ingatan itu muncul perlahan. Seorang anak laki-laki yang menangis sendirian. Aku pernah memberinya payung dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Tunggu..." bisikku.
Raka mengangguk.
"Itu aku."
Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi kenapa kamu nggak langsung bilang?"
Raka mengeluarkan sebuah foto kecil dari saku jaketnya. Foto seorang anak perempuan sedang memegang payung kuning.
Di belakang foto itu ada tulisan tanganku sendiri.
Jangan sedih lagi. Besok pasti lebih baik.
"Aku mencari kamu selama tiga tahun," katanya.
Aku tak mampu berkata apa-apa.
Lalu Raka mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan satu pesan yang belum sempat kukirim.
Pesan itu berasal dari nomor anonim yang sama.
"Ada satu hal yang belum kamu tahu, Lena."
Aku menatapnya.
"Apa lagi?"
Raka mendekat, suaranya mendadak bergetar.
"Orang yang membuat kamu pindah ke sekolah ini... sebenarnya bukan ayahmu."
Aku membeku.
"Apa maksud kamu?"
Sebelum Raka sempat menjawab, ponselku berdering.
Nomor tidak dikenal.
Kali ini bukan pesan.
Sebuah panggilan masuk.
Dan nama yang muncul di layar membuat darahku serasa berhenti mengalir.
AYAH.
Raka langsung meraih tanganku.
"Jangan diangkat, Lena."
Aku menatapnya bingung.
"Kenapa?"
Dia menelan ludah.
"Karena ayahmu sudah meninggal tiga tahun lalu."
Bersambung...
Kalau kamu jadi Lena, kamu bakal percaya sama Raka atau justru menganggap dia orang paling berbahaya?