Paginya saat aku udah rapi.
Seragam udah kepakai, rambut udah disanggul, makeup tipis. Aku mau berangkat ke kapal.
Diliatin lagi dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Mas jangan-"
"Rugi kalau nggak diliat! Istri secantik ini mata dianggurin!" katanya, senyumnya miring.
Aku bingung, aku masih suka sama Bara. Aku masih sayang sama Bara. Tapi kenapa digombalin kayak gitu pagi-pagi, aku malah salah tingkah?
"Mas, jangan hari ini ya, aku masih sayang sama Bara," kataku pelan. Aku jujur. Aku nggak mau pura-pura.
Dion condongin mukanya lagi. Deket banget.
"Kalau gitu, siap-siap aja ntar malem."
"Apa Mas?" Suaraku langsung naik. Jantungku langsung nggak enak.
"Kita kan 3 bulan, nggak lebih! Kalau Bara tau kita bisa putus, Mas tolong pikirin itu," kataku, hampir nangis. Aku takut. Aku takut banget kalau Bara tau aku udah nikah, dia pergi. Aku takut kalau Dion maksa malam ini, aku kehilangan semuanya.
Dion berhenti. Dia liat mataku yang udah basah.
Dia mundur. Jauh. Dia ngusap wajahnya sendiri, kayak marah sama dirinya sendiri.
"Acha, stop," katanya. "Dengerin aku."
Aku diam, masih pegang tas kerjaku erat-erat.
"Tadi aku ngomong 'siap-siap aja ntar malem' itu bukan maksud maksa kamu," katanya, nadanya pelan, beda dari tadi. "Aku nggak akan nyentuh kamu malam ini. Aku nggak akan nyentuh kamu besok. Aku nggak akan nyentuh kamu sampai kamu sendiri yang mau. Itu janjiku dari awal, dan aku nggak akan langgar lagi."
Aku masih diem. Takut ini cuma omongan.
"Siap-siap yang aku maksud itu, siap-siap ngomong jujur," lanjutnya. "Malam ini kita harus ngomong beneran. Soal Bara. Soal kita. Soal gimana caranya 3 bulan ini jalan tanpa ada yang bohong dan tanpa ada yang sakit hati. Bukan siap-siap yang lain. Ngerti?"
Aku ngangguk pelan. Lega, tapi masih gemetar.
"Mas janji?" tanyaku.
Dion ngangkat tangannya, kayak orang sumpah. "Janji. Kalau aku langgar, kamu boleh tampar aku. Boleh laporin aku. Boleh batalin kontrak hari itu juga."
Aku narik napas panjang. "Oke. Aku percaya Mas kali ini. Tapi jangan ngomong kayak tadi lagi ya, Mas. Aku beneran takut."
"Iya, maaf," katanya. "Aku kalau cemburu, ngomongku jadi ngawur. Maaf ya, Cha."
Dia bukain pintu buatku. Kayak biasa.
"Udah, berangkat. Nanti telat," katanya. "Malam ini aku tungguin. Kita ngomong baik-baik. Nggak ada anceman. Nggak ada maksa-maksa."
Aku jalan keluar. Di lift, aku pegangin dada. Ya Tuhan.
Aku masih sayang Bara. Tapi kenapa, pas Dion bilang dia nggak akan maksa aku, aku malah ngerasa... aman? Aman di dekat orang yang tadi bikin aku takut?
---Di kapal ketemu Bara.
Bekasnya udah hilang, aku suka Bara beneran suka, tiap ketemu kita pelukan lama, cium kangen. Ciuman yang singkat, yang cuma di kening sama di pipi, karena di kapal nggak bisa lama-lama. Tapi cukup buat bikin kangenku hilang sehari.
"Sayang?" panggilnya sambil mainin ujung rambutku.
"Khmmm?"
"Aku pengen deh, kalau kita udah nikah punya anak 2 sama kamu."
"Iya Mas aku juga," jawabku. Aku senyum. Senyum yang tulus. Karena itu memang impianku dari dulu sama Bara.
Nggak lama aku pulang, aku belum ngomong beneran, belum siap. Aku belum siap bilang ke Bara kalau aku udah nikah kontrak sama Dion. Aku takut dia pergi. Aku takut banget.
Aku bilang ke Dion kasih aku waktu.
Malam udah di apartemen.
"Maaf ya sayang, Mas nggak sempet jemput," katanya, pas aku baru keluar dari kamar mandi.
Aku yang denger itu, lagi megang hairdryer berhenti bengong.
Terlalu manis buat istri kontrak dipanggil sayang.
"Mas tolong! Jangan panggil aku gitu," kataku. Aku taruh hairdryer, rambutku masih setengah basah.
Dia nyender di sofa liatin aku lagi.
"Kamu tuh ya," katanya, senyumnya tipis. Senyum yang nggak galak, nggak gombal. Senyum capek.
"Kamu tuh ya apa?" tanyaku, aku duduk di ujung sofa yang lain. Jaga jarak. Udah jadi kebiasaan kita.
"Kamu tuh ya, di kapal pelukan sama Bara, ngomongin anak 2, pulang ke sini masih minta waktu," katanya. "Tapi pas aku panggil sayang, kamu marah."
Aku diam. Kena banget.
"Mas, beda," jawabku pelan. "Bara itu pacar aku. Mas itu... suami kontrak aku. Kalau Mas panggil sayang, rasanya..."
"Rasanya apa?" Dia nanya, nggak maksa. Beneran nanya.
"Rasanya kayak beneran," jawabku jujur. "Dan kalau rasanya kayak beneran, aku takut. Aku takut aku baper. Aku takut Bara sakit hati. Aku takut Mas juga sakit hati nanti pas 3 bulan ini habis."
Dion diam lama. Dia mainin jarinya sendiri.
"Oke," katanya akhirnya. "Aku nggak akan panggil kamu sayang lagi kalau kamu nggak mau. Aku panggil Acha aja. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi kamu juga jangan bohong lagi ke aku soal Bara. Tadi kamu bilang belum ngomong beneran ke dia. Kapan kamu mau ngomong?"
Aku nunduk. "Aku nggak tau, Mas. Aku belum siap."
Dion ngangguk. "Ya udah. Aku kasih kamu waktu. Seminggu. Seminggu kamu pikirin mau ngomong gimana ke Bara. Setelah seminggu, kita ngomong bertiga kalau perlu. Aku yang akan ngomong ke dia kalau kamu nggak sanggup."
Aku kaget. "Mas mau ngomong ke Bara?"
"Ya harus," jawabnya. "Aku nggak mau jadi orang yang ngumpet-ngumpet. Dan aku nggak mau Bara mikir kamu selingkuh dari dia. Karena kamu nggak selingkuh. Kamu nikah kontrak karena keadaan. Bara berhak tau."
Aku ngerasa mata aku panas lagi. Kok Dion bisa mikirin perasaan Bara juga?
"Mas..." suaraku kecil.
"Udah, kamu tidur gih," katanya, sambil berdiri. "Rambutmu masih basah. Nanti masuk angin. Aku buatin teh hangat ya?"
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Dion nggak nanya soal bekas, nggak nanya soal Bara, nggak ngancem, nggak gombal.
Dia cuma buatin teh hangat, naruh di meja, terus tidur di sofa. Seperti janji yang dia buat pagi tadi.
Dan aku tidur di kamar, megangin cangkir teh itu, mikir...
Malam ini nggak bisa tidur.
Aku bolak-balik di kasur. Dion udah tidur di sofa. Atau pura-pura tidur. Aku nggak tau.
Akhirnya aku keluar kamar. Duduk di lantai, dekat sofa. Pelan, biar dia nggak kebangun.
"Mas, tolong pikirin aku Mas, 3 bulan, sebulan lagi selesai, kalau Bara mutusin aku gimana? Mas jangan bikin aku bingung," kataku, suaraku kecil banget. Hampir bisikan.
Dion yang tadinya mau tidur langsung melek.
Dia duduk. Matanya masih setengah ngantuk, tapi langsung fokus ke aku.
"Acha? Kamu kenapa belum tidur? Jam berapa ini?" tanyanya.
Aku nggak jawab. Aku cuma peluk lututku.
"Sebulan lagi selesai," ulangku. "Kontrak kita tinggal sebulan. Terus aku gimana? Kalau aku jujur ke Bara, terus Bara mutusin aku, aku nggak punya siapa-siapa. Aku kehilangan pacar, kehilangan suami kontrak, kehilangan semuanya. Mas pikirin aku dong, Mas."
Dion diam. Dia nggak langsung jawab kayak biasanya. Dia mikir.
Terus dia turun dari sofa, duduk di lantai juga, depan aku. Jaraknya dijaga. Nggak nyentuh. Cuma duduk.
"Acha, dengerin aku ya," katanya, pelan. "Aku pikirin kamu. Dari awal aku pikirin kamu. Makanya aku nggak pernah maksa kamu."
"Aku tau Mas cemburu, aku tau Mas suka godain aku, tapi aku juga tau Mas nggak pernah bener-bener maksa aku. Dan itu yang bikin aku bingung."
Aku nangis. Lagi. Capek banget nangis terus 3 bulan ini.
"Kalau Bara mutusin kamu karena kamu jujur, berarti dia bukan orang yang tepat buat kamu," kata Dion. "Karena kamu jujur itu bukan salah. Kamu nikah kontrak ini bukan karena kamu mau selingkuh. Kamu lakuin ini karena kamu nolongin aku, nolongin ibu. Orang yang sayang sama kamu harusnya ngerti itu."
"Tapi kalau dia nggak ngerti gimana, Mas?" tanyaku.
"Ya udah," jawabnya. "Berarti kamu nggak kehilangan siapa-siapa. Kamu kehilangan orang yang nggak ngerti kamu. Dan kamu masih punya..."
Dia berhenti. Nggak jadi ngomong.
"Aku masih punya siapa, Mas?" tanyaku.
Dion natap aku. "Kamu masih punya diri kamu sendiri. Dan kamu masih punya aku, sebagai temen. Walaupun kontrak selesai, aku nggak akan hilang gitu aja. Aku janji. Aku nggak akan biarin kamu sendirian setelah 3 bulan ini."
Aku ngangguk. Air mataku masih jatuh, tapi hatiku sedikit lebih tenang.
"Mas, boleh aku duduk di sini sebentar aja? Aku nggak bisa tidur sendirian," kataku.
"Boleh," jawabnya. "Kamu duduk di sini. Aku di sini. Kita nggak usah ngomong apa-apa. Sampai kamu ngantuk."
Dan malam itu, kita duduk berdua di lantai, nyender ke sofa, nggak ngomong apa-apa. Cuma dengerin suara AC dan suara kota dari luar jendela.
Nggak ada pelukan. Nggak ada ciuman. Nggak ada yang macem-macem.
Cuma dua orang yang sama-sama nggak bisa tidur, saling nemenin.
Dan entah kenapa, malam itu aku tidur paling nyenyak selama 3 bulan ini. Ketiduran di lantai, bersandar di sofa, di sebelah Dion yang juga ketiduran sambil duduk.
--Paginya Dion nggak sengaja liat Acha ketemu Bara di lobi.
"Loh Mas?" kataku kaget. Bara datang tanpa bilang-bilang. Pakai kemeja rapi, bawa kotak kecil. Kayaknya mau ngasih kejutan.
"Cha? Mas kangen, ibu nanya terus kapan Acha main," kata Bara, senyumnya lebar. Ibu maksudnya ibunya Bara. Ibunya Bara udah sayang banget sama aku.
Aku narik Bara menjauh dari apartemen, nggak enak kalau Dion sampai liat. Jantungku udah mau copot. Dion ada di atas. Kalau dia turun sekarang, habis aku.
"Mas ayo keluar, aku mau makan," kataku cepat.
Bara ngangguk. Dia nggak curiga sama sekali. Dia pikir aku cuma kangen.
Di mobil kami ciuman lagi, kali ini lama. Ciuman kangen yang biasanya. Cuma di mobil, nggak ada yang liat. Aku yang selama ini ngerasa bersalah, kali ini malah ngerasa... lega. Karena cuma sama Bara aku bisa jadi Acha yang biasa. Bukan Acha istri kontrak.
"Sayang?"
"Khmm?"
"Secepatnya kita nikah ya? Biar kalau di kapal kita bisa bareng."
Aku yang lagi bingung diem, nunggu kontrak habis yang kurang 2 minggu ini.
"Iya Mas, aku mau," jawabku. Aku jawab itu karena aku sayang Bara. Tapi di dalam hati, aku juga mikir, 2 minggu lagi kontrakku habis. Terus gimana? Aku harus jujur sebelum 2 minggu itu habis. Kalau enggak, aku bohongin dua orang sekaligus.
Lanjut di apartemen kuliat Dion lagi debat dengan ibuku.
Aku nggak tau mereka ngapain aja, saat kepergok ibuku langsung pergi ninggalin apartemen. Ibu jalan cepat banget, mukanya tegang, nggak nengok ke aku sama sekali.
"Mas? Ibu ngapain?" tanyaku, aku masuk, napasku masih ngos-ngosan habis dari mobil.
"Ngajak balik," jawab Dion, suaranya datar. Dia lagi berdiri di tengah ruang tamu, tangannya masih mengepal.
"Terus?"
Dion natap aku. Matanya merah, kayak habis nahan marah.
"Ibu ngajak kamu balik ke rumah. Katanya kontraknya udah mau habis, jadi kamu harus pulang. Ibu bilang, ibu nggak mau kamu terus-terusan di sini, dikira orang kamu udah beneran jadi istriku."
Aku diam. Jadi ibu tau? Ibu tau ini kontrak?
"Terus Mas jawab apa?" tanyaku pelan.
Dion jalan mendekat. Pelan. Nggak kayak biasanya yang suka nyelonong. Kali ini dia hati-hati.
"Aku bilang, aku nggak mau balikin kamu," katanya. "Aku bilang ke ibu, 2 minggu ini biar aku yang tanggung jawab. Aku bilang, kalau ibu maksa bawa kamu sekarang, yang malu itu ibu sendiri. Karena di luar sana semua orang udah tau kamu istriku."
Aku bengong. "Mas... Mas ngebelain aku di depan ibu?"
"Iya," jawabnya. "Karena ibu yang nyuruh aku nikah kontrak sama kamu. Sekarang ibu mau seenaknya batalin? Nggak bisa."
Dia duduk di sofa. Capek.
"Acha," katanya, "2 minggu lagi kontrak habis. Aku udah janji nggak akan maksa kamu. Tapi aku juga nggak mau ibu maksa kamu pulang sebelum waktunya. Jadi... 2 minggu ini, kamu tetap di sini. Sama aku. Kita selesain baik-baik. Terus kamu bebas. Kamu mau balik ke Bara, silakan. Aku nggak akan nahan."
Aku duduk di sebelahnya. Jaraknya masih dijaga, tapi kali ini aku yang nggak mau jauh-jauh.
"Mas, ibu ngomong apa lagi?" tanyaku.
Dion diam sebentar. "Ibu bilang, kalau aku masih nahan kamu setelah kontrak habis, itu artinya aku udah jatuh cinta sama kamu."
Hening.
Aku natap dia. Dia natap lantai.
"Terus Mas jawab apa?" tanyaku, suaraku hampir nggak kedengeran.
Dion ngangkat kepala, natap aku lurus.
"Aku bilang... ibu bener."
Yang bikin Acha deg-degan sore itu Dion naik kapal, astaga pas liat mukanya beneran.
Aku lagi siap-siap di dek, cek penumpang, senyum ke semua orang. Tiba-tiba ada suara yang aku kenal banget.
"Selamat sore, Mbak."
Aku nengok. Dion. Pakai kemeja putih, kacamata hitam, bawa koper kecil. Gaya orang kaya yang mau liburan. Padahal ini kapal kerja.
Aku profesional, bener-bener profesional.
"Selamat sore, Pak. Boleh saya lihat tiketnya?" kataku, suaraku dibuat seprofesional mungkin. Tangan ku gemetar, tapi aku tahan.
Dion nyodorin tiket, sambil senyum tipis. Senyum yang cuma aku yang ngerti artinya: kaget kan kamu?
Pas kapal jalan, Bara masih di maskapai di depan lumayan jauh. Dia lagi fokus nyetir kapal. Dia nggak tau kalau di belakang, di kapal yang sama, ada suami kontrakku.
Aku yang lagi pusing beneran pusing, satu kapal 2 pikiran, gila. Di depan ada pacarku. Di belakang ada suamiku. Dan aku di tengah-tengah, pakai seragam pramugari kapal, harus senyum ke penumpang.
"Cha!"
Aku kaget. Dion manggil aku dari lorong sepi, dekat dapur kapal. Nggak ada penumpang di sana.
"Mas ngapain?" bisikku panik. Aku tarik dia ke pojok. "Mas ngapain naik kapal ini? Mas kan bisa naik kapal lain! Kalau Bara liat, habis aku!"
Dion malah santai. "Aku ada urusan kerja ke pelabuhan seberang. Kapal ini yang paling cepet. Ya udah aku naik ini."
"Bohong!" kataku. "Mas pasti sengaja!"
"Iya, sengaja," dia ngaku, nggak pake malu. "Aku sengaja mau liat kamu kerja. Aku penasaran, Acha yang di apartemen sama Acha yang di kapal itu beda atau sama."
Aku melotot. "Mas, ini bahaya! Bara di depan!"
"Aku tau," jawabnya. "Makanya aku diem-diem aja dari tadi. Aku nggak akan ganggu kamu. Aku cuma mau liat."
Dia natap aku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Lagi. Kayak di apartemen.
"Tapi kamu kelihatan cantik banget pakai seragam," katanya pelan.
Aku langsung buang muka. Pipiku panas. "Mas, jangan godain aku di sini. Ini tempat kerja aku."
"Oke, oke," katanya, angkat tangan nyerah. "Aku janji nggak godain. Aku cuma mau bilang satu hal."
"Apa?"
"2 minggu lagi kontrak habis. Tapi malam ini, di kapal ini, aku mau kamu pura-pura jadi istriku yang beneran. Bukan istri kontrak. Cuma malam ini. Boleh?"
Aku diam. Bara di depan. Dion di depan aku. Dua-duanya di satu kapal.
"Mas..." suaraku getar.
"Jangan jawab sekarang," katanya. "Nanti malam, pas kapal udah sandar dan Bara udah turun, temuin aku di dek atas. Aku tungguin."
Terus dia jalan pergi, balik ke kursinya, kayak penumpang biasa.
Dan aku berdiri di lorong itu sendirian. Pusing. Beneran pusing.
Malam ini, aku harus milih. Ketemu Dion di dek atas, atau langsung pulang dan pura-pura nggak terjadi apa-apa?
---Aku sengaja nggak nemuin Dion, ya kali.
Masa aku mau nemuin Dion di dek atas, pas Bara masih di kapal yang sama? Nggak. Aku nggak mau jadi cewek yang kayak gitu.
Aku ke tempat biasa ketemu Bara, cuma sebentar melepas kangen aja. Di ruang kecil dekat anjungan, yang biasa kita pakai buat ngobrol kalau kapal lagi istirahat. Cuma 5 menit. Cuma pelukan sebentar. Cuma buat bilang, aku masih ada di sini.
"Kangen terus sama kamu," kata Bara, peluk aku erat.
"Aku juga Mas," jawabku. Aku meluk balik. Pelukan yang bikin aku tenang. Pelukan yang udah aku kenal dari lama.
"Yaudah Mas istirahat dulu ya, kamu juga," katanya, sambil usap rambutku.
Aku ngangguk.
Pas Bara udah pergi, aku masih berdiri di situ. Nafasku baru lega. Untung nggak ketahuan.
Ternyata Dion liat semuanya di lorong.
Dia cuma senyum kecut.
Aku langsung kaku. Badan ku dingin. Ya Tuhan. Dia liat. Dia liat aku pelukan sama Bara.
Dion nggak marah. Nggak teriak. Nggak narik aku. Dia cuma berdiri di ujung lorong, tangannya masuk kantong celana, senyumnya kecut. Senyum orang yang udah tau bakal sakit, tapi tetep nonton.
"Mas..." kataku pelan. Aku jalan mendekat. "Mas dari tadi di sini?"
Dion ngangguk. "Dari tadi. Dari kamu masuk, sampai Bara keluar."
Aku nunduk. Malu. Bersalah. Rasanya kayak ketahuan selingkuh, padahal aku nggak selingkuh. Aku cuma... bingung.
"Maaf, Mas," kataku. "Aku nggak nemuin Mas di dek atas karena aku... aku milih ketemu Bara dulu."
"Iya, aku tau," jawabnya. "Aku liat."
"Aku nggak bermaksud bikin Mas sakit hati," lanjutku. "Aku cuma..."
"Udah, Cha," potongnya, suaranya pelan. Nggak marah. Justru itu yang bikin aku makin nggak enak. "Aku nggak marah. Beneran. Aku yang salah. Aku yang maksa kamu milih malam ini. Padahal aku tau kamu belum siap."
Dia jalan mendekat, tapi tetap jaga jarak. Satu meter. Jarak aman yang udah jadi kebiasaan kita.
"Kamu tau nggak, apa yang aku rasain pas liat kalian tadi?" tanyanya.
Aku geleng. Takut denger jawabannya.
"Aku cemburu. Cemburu banget. Tapi di saat yang sama, aku juga sadar. Bara itu yang bikin kamu senyum kayak tadi. Senyum yang selama 3 bulan ini jarang aku liat di apartemen. Senyum yang lepas."
Aku diam. Air mataku mulai ngumpul lagi.
"Jadi... aku nggak akan maksa kamu lagi," katanya. "2 minggu lagi kontrak habis. Kamu bebas. Kamu mau sama Bara, silakan. Aku nggak akan nahan. Aku nggak akan bilang ke Bara soal kontrak kita kalau kamu nggak mau. Itu urusan kamu."
"Mas..." Aku nggak tau harus ngomong apa.
Dion senyum lagi. Senyum kecutnya masih ada, tapi sekarang lebih tulus.
"Udah, kamu turun duluan. Aku masih di sini sebentar. Aku mau liat laut dulu," katanya. "Besok di apartemen, kita nggak usah bahas ini lagi. Kita pura-pura malam ini nggak pernah terjadi. Oke?"
Aku ngangguk. Aku jalan pergi. Tapi baru 3 langkah, aku berhenti. Nengok ke belakang.
"Mas," panggilku.
"Iya?"
"Makasih ya, Mas. Karena udah ngertiin aku."
Dion ngangguk. "Sama-sama, Cha."
Dan aku turun dari kapal itu dengan perasaan yang campur aduk. Lega karena Dion nggak marah. Tapi juga... nyesek. Nyesek karena senyum kecut Dion tadi masih kebayang terus di kepala ku sampai malam.
Seminggu menjelang kontrak habis godaannya makin kenceng.
Bertiga dinner bareng, buset, aku di tengah-tengah berusaha buat tenang.
Bayangin. Di kiri ada Bara, pacarku. Di kanan ada Dion, suami kontrakku. Di depan ada makanan yang enak banget, tapi aku nggak bisa ngerasain apa-apa. Semua rasanya hambar karena deg-degan.
Bara yang ngajak dinner. Katanya mau ngenalin aku ke temennya, eh ternyata yang datang malah Dion. Bara ngundang Dion karena Dion katanya temen bisnisnya. Dunia ini sempit banget, ya Tuhan.
Dion ngaku sebagai mantan pacar ibuku, yang gagal nikah. Aku sampai kaget. Sendokku hampir jatuh.
Dion cuma ngomong itu nggak lebih. Dia ngomongnya santai banget, kayak lagi cerita soal cuaca.
"Dulu saya hampir nikah sama ibu Acha. Tapi gagal. Jadi sekarang saya anggap Acha kayak anak sendiri," katanya.
Bara percaya. Bara ngangguk-ngangguk. "Oh, pantesan Om kenal Acha dari kecil ya?"
Aku diem. Di dalam hati aku teriak, Mantap, Mas. Aktingnya bagus banget. Mantan pacar ibu jadi om-om.
Dan Bara megangin tanganku kenceng banget. Di bawah meja. Tangannya dingin, tapi genggamannya erat. Kayak bilang, Aku di sini, jangan takut.
Habis itu Bara mutusin buat pulang ke penginapan, sementara aku pulang ke apartemen.
Bara masih nggak tau yang terjadi. Bara masih nggak tau kalau om-om yang duduk di sebelahnya tadi, yang ngaku mantan pacar ibuku, itu sebenarnya suami sahku selama 3 bulan ini.
Di mobil pulang ke apartemen, Dion yang nyetir. Aku di sebelahnya. Hening.
"Mas, kenapa Mas ngomong kayak gitu tadi?" tanyaku akhirnya.
"Ngomong apa?" tanyanya, pura-pura nggak ngerti.
"Ngomong Mas mantan pacar ibu. Kenapa nggak ngomong Mas itu siapa aja?"
Dion ngelirik aku sebentar. "Kalau aku ngomong aku suami kamu, Bara bakal ngamuk di restoran. Kamu mau dinner kita jadi berantem?"
Aku diam. Bener juga.
"Lagipula," lanjutnya, "seminggu lagi kontrak habis. Setelah itu, Bara nggak perlu tau aku siapa. Aku bakal hilang dari hidup kamu. Jadi biarin aja dia mikir aku ini om-om mantan pacar ibumu."
Kata-kata "aku bakal hilang" itu nusuk. Aku nggak tau kenapa, tapi dada ku sesek.
"Mas nggak akan hilang," kataku pelan. "Mas janji mau tetep jadi temen aku."
Dion senyum kecut lagi. Senyum yang sama kayak di lorong kapal kemarin.
"Iya, janji," katanya. "Tapi temen nggak perlu ketemu tiap hari, kan, Cha?"
Aku nggak jawab. Aku liat keluar jendela. Lampu kota lewat satu-satu.
Seminggu lagi. Tinggal seminggu. Kenapa seminggu ini rasanya paling berat dari 3 bulan kemarin?
---Ini nih untungnya KTP Acha nggak ganti status, cuma 3 bulan dan di KTP masih yang lama.
Yang kemarin itu iya bener nikah kontrak, tapi nikah siri.
Jadi di mata negara, aku masih sendiri. Masih Acha yang dulu. Nggak ada yang berubah di kertas. Yang berubah cuma di hati. Dan itu yang paling ribet.
Seminggu menjelang kontrak habis, aku jadi mikir terus soal itu.
Kalau ini nikah siri, berarti nggak ada surat cerai yang harus ditandatangan. Nggak ada sidang. Nggak ada pengadilan. Cuma... selesai. Begitu aja. 3 bulan habis, ya udah, kita bukan siapa-siapa lagi.
Enak, kan? Harusnya aku lega.
Tapi kenapa aku malah nggak lega?
Malam itu, di apartemen, Dion lagi beresin kertas-kertas. Bukan kertas cerai. Cuma kertas perjanjian kontrak yang kita tanda tangan di awal, di depan ibu. Kertas yang isinya: 3 bulan, nggak boleh maksa, nggak boleh cemburu, nggak boleh baper.
Dia naruh kertas itu di meja.
"Cha, ini kontraknya," katanya. "Seminggu lagi habis. Setelah itu, kertas ini nggak berlaku lagi. Kamu bebas. KTP kamu masih aman. Status kamu masih aman. Bara nggak akan tau apa-apa kalau kamu nggak cerita."
Aku natap kertas itu. Kertas tipis, tapi rasanya berat banget.
"Mas," kataku pelan. "Kalau ini nikah siri, berarti... kita nggak pernah beneran nikah ya?"
Dion natap aku. "Di mata negara, nggak. Di mata agama, iya. Di mata ibu, iya. Di mata aku..."
Dia berhenti. Nggak jadi ngelanjutin.
"Di mata Mas apa?" tanyaku.
Dion narik napas panjang. "Di mata aku, 3 bulan ini aku udah ngerasa punya istri. Walaupun siri. Walaupun kontrak. Walaupun KTP kamu nggak berubah."
Aku diam. Jantungku deg-degan lagi. Deg-degan yang sama kayak waktu di kapal, waktu di lobi, waktu di lorong.
"Terus kita gimana, Mas?" tanyaku. "Seminggu lagi kita pisah, terus kita pura-pura nggak pernah nikah siri? Pura-pura nggak pernah tinggal bareng?"
Dion ngangguk pelan. "Kalau itu yang kamu mau, iya. Aku akan pura-pura."
"Tapi kalau aku nggak mau pura-pura gimana?" Suaraku kecil banget. Sampai aku sendiri kaget aku berani ngomong kayak gitu.
Dion langsung melek. Dia yang tadi duduk santai, sekarang tegak.
"Cha, kamu ngomong apa?" tanyanya.
Aku geleng cepat. Panik sama omonganku sendiri. "Enggak, enggak. Aku cuma... aku cuma bingung. Aku masih sayang Bara, Mas. Aku masih mau nikah sama Bara. KTP aku masih lajang. Jadi aku harusnya balik ke Bara, kan?"
Dion diam lama. Terus dia lipet kertas kontrak itu, masukin ke amplop.
"Iya," katanya akhirnya. "Kamu harus balik ke Bara. Karena Bara yang ada di KTP masa depan kamu. Bukan aku. Aku cuma 3 bulan di KTP masa lalu kamu yang nggak pernah tercatat."
Dan malam itu, aku tidur di kamar, Dion tidur di sofa, seperti biasa.
Tapi untuk pertama kalinya, aku ngerasa... KTP ku yang masih lajang itu bukan bikin aku lega. Malah bikin aku ngerasa bersalah.
Karena ternyata, nikah siri yang nggak tercatat di negara itu, tetap tercatat di hati aku.
---Seminggu berlalu, aku udah jadi Acha yang sendiri.
Kontrak habis. Dion udah pergi dari apartemen. Kertas kontraknya udah disobek. Nggak ada lagi yang tidur di sofa. Nggak ada lagi yang buatin teh hangat. Nggak ada lagi yang godain aku pagi-pagi.
Apartemen itu sepi. Sepi banget.
Akhirnya aku berani tanya ke Bara kapan nikah.
"Cha, seminggu lagi ya, Mas nggak bisa lama-lama kalau kayak gini."
"Iya Mas," jawabku.
Nafasku ngos-ngosan padahal setiap kali ketemu juga ciuman. Ciuman kangen yang biasa. Tapi kali ini beda. Kali ini aku ngos-ngosan bukan karena deg-degan ketemu Bara. Tapi karena deg-degan mikir, aku beneran mau nikah seminggu lagi?
Bara peluk aku. "Kamu kenapa? Kok kelihatan capek banget?"
Aku nggeleng. "Nggak apa-apa Mas, cuma kecapean di kapal."
Bara ngangguk. Dia percaya. Dia selalu percaya sama aku.
"Seminggu lagi kita nikah, Cha. Aku udah ngomong ke ibu. Ibu seneng banget. Ibu udah siapin semuanya. Kamu tinggal datang, jadi pengantin paling cantik," katanya, senyumnya lebar.
Aku senyum. Aku harus senyum. Ini yang aku mau dari dulu, kan? Nikah sama Bara. Punya anak 2. Tinggal bareng. Itu mimpi aku.
Tapi kenapa pas Bara ngomong gitu, yang kebayang di kepala ku malah Dion? Dion yang lagi di mana sekarang? Dion yang udah janji mau hilang. Dion yang bilang dia udah ngerasa punya istri selama 3 bulan.
"Mas," kataku pelan.
"Iya sayang?"
"Kalau... kalau aku pernah bohong sama Mas, Mas maafin aku nggak?" tanyaku. Aku nggak bisa nahan lagi. Aku harus ngomong. Kalau aku nikah seminggu lagi tanpa jujur, aku bohong seumur hidup.
Bara diam. Dia lepas pelukannya. Natap aku.
"Bohong apa, Cha?" tanyanya, nadanya masih lembut, tapi matanya mulai serius.
Aku tarik napas panjang. Ini saatnya. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
"Mas, 3 bulan kemarin... aku... aku nikah siri."
Hening.
Bara bengong. "Nikah siri? Sama siapa?"
Aku nunduk. Air mataku jatuh. "Sama Dion. Om yang kemarin dinner bareng kita. Yang ngaku mantan pacar ibu. Itu bohong, Mas. Dion itu... suami kontrak aku. Ibu yang nyuruh. Cuma 3 bulan. KTP ku nggak berubah. Tapi aku nikah siri sama dia."
Aku udah siap Bara marah. Aku udah siap Bara pergi. Aku udah siap Bara mutusin aku, kayak yang aku takutin dari awal.
Tapi Bara diam. Diam lama banget. Dia nggak marah. Dia nggak pergi.
Terus dia duduk. Duduk di samping aku. Pegang tanganku. Tangannya masih kenceng, kayak waktu dinner dulu.
"Cha," katanya pelan. "Kenapa kamu baru cerita sekarang?"
"Karena aku takut Mas pergi," jawabku, nangis.
Bara ngusap air mataku. "Aku nggak akan pergi cuma karena itu. Aku tau kamu bukan cewek kayak gitu. Kamu pasti punya alasan."
Aku nangis makin kenceng. Lega. Takut. Bersalah. Semua campur jadi satu.
"Jadi... seminggu lagi kita tetep nikah?" tanyaku, suaraku gemetar.
Bara ngangguk. "Tetep. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Kamu harus selesain dulu sama Dion. Ngomong baik-baik. Jangan sampai ada yang gantung. Aku nggak mau nikah sama kamu kalau hati kamu masih nyangkut di tempat lain."
Aku ngangguk. Aku ngerti.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah seminggu sendirian, aku ngerasa... aku harus ketemu Dion. Bukan buat balik. Tapi buat pamit. Bener-bener pamit.
---Lanjut, ternyata Bara udah tau, makanya Dion santai banget, Bara juga.
Aku baru sadar itu pas besoknya aku ketemu Dion buat pamit.
Aku datang ke kafe langganan kita, yang biasa Dion ajak aku kalau dia lagi pengen ngobrol. Dion udah duduk di sana. Santai. Nggak kaget sama sekali pas liat aku datang.
"Aku udah tau kamu bakal datang," katanya, senyum tipis.
Aku duduk. "Mas kok tau?"
"Karena Bara udah cerita ke aku," jawabnya.
Aku bengong. "Bara cerita? Kapan?"
Dion nyeruput kopinya. "Seminggu yang lalu. Pas kontrak kita habis. Bara datang ke aku. Dia bilang, 'Om, makasih udah jagain Acha selama 3 bulan.'"
Aku langsung lemes. Jadi Bara udah tau dari seminggu yang lalu? Dari sebelum aku jujur?
"Jadi... Bara udah tau dari awal?" tanyaku, suaraku pelan.
Dion ngangguk. "Nggak dari awal banget. Dari tengah-tengah. Pas dinner bertiga itu. Pas aku ngaku jadi mantan pacar ibumu, Bara udah curiga. Dia kan kapten, Cha. Dia peka. Dia liat cara aku natap kamu, cara kamu natap aku, cara Bara megang tangan kamu, kamu malah liat ke aku."
Aku nutup muka ku. Malu banget. Jadi selama dinner itu, aku yang ngerasa pinter bohong, ternyata ketahuan semua.
"Terus kenapa Bara diem aja?" tanyaku.
"Karena Bara sayang sama kamu," jawab Dion. "Dia bilang ke aku, 'Kalau Acha belum siap cerita, aku nggak akan maksa. Aku tunggu sampai dia cerita sendiri.' Makanya dia santai. Makanya aku juga santai."
Aku diam. Jadi selama seminggu ini, aku yang deg-degan, takut, ngos-ngosan, mikir Bara bakal mutusin aku, ternyata Bara udah tau dan lagi nungguin aku jujur?
"Terus kenapa Mas nggak cerita ke aku?" tanyaku.
"Karena itu bukan urusan aku buat cerita," jawab Dion. "Itu urusan kamu sama Bara. Aku cuma janji ke Bara, aku nggak akan ganggu kamu setelah kontrak habis. Dan aku tepati janji itu. Aku hilang seminggu, kan?"
Aku ngangguk. Iya, dia hilang seminggu. Seminggu yang paling sepi.
"Mas," kataku. "Aku datang ke sini mau pamit. Seminggu lagi aku nikah sama Bara."
Dion ngangguk. "Aku tau. Bara udah ngundang aku."
"Hah? Bara ngundang Mas?" Aku kaget lagi.
"Iya," katanya, ketawa kecil. "Dia bilang, 'Om harus datang. Om kan yang jagain Acha pas aku nggak ada.' Dia nganggap aku om beneran, Cha."
Kita berdua ketawa. Ketawa yang lega. Ketawa yang akhirnya nggak ada lagi yang ditutup-tutupin.
"Cha," kata Dion, suaranya tiba-tiba serius. "Aku mau bilang makasih. Makasih karena 3 bulan ini kamu udah jadi istri kontrak yang baik. Walaupun kamu sayang sama Bara, kamu tetep tanggung jawab sama kontrak kita. Kamu nggak pernah selingkuh. Kamu nggak pernah bohong yang macem-macem."
Aku senyum. "Mas juga makasih. Makasih karena Mas nggak pernah maksa aku. Walaupun Mas sering godain, sering ngancem, tapi Mas selalu tepati janji buat nggak nyentuh aku."
Dion ngangguk. "Iya. Karena kalau aku nyentuh kamu waktu itu, aku nggak akan bisa pamit kayak gini sekarang. Aku nggak akan bisa datang ke nikahan kamu dengan tenang."
Hening sebentar. Hening yang enak. Bukan hening yang canggung.
"Jadi, kita temenan ya, Mas?" tanyaku.
Dion nyodorin tangannya buat salaman. Kayak waktu kita bikin deal di apartemen dulu.
"Temenan," katanya. "Sampai kapan pun."
Aku salaman sama dia. Salaman terakhir sebagai mantan suami kontrak.
Dan pas aku jalan keluar dari kafe itu, aku ngerasa ringan. Ringan banget. Karena ternyata, nggak ada yang dibohongin. Bara udah tau. Dion udah tau. Dan aku, akhirnya, nggak perlu bohong lagi.
---Akad lancar, Acha dan Bara resmi nikah sah.
Hari itu, aku nangis. Bara juga nangis. Ibu nangis. Semua nangis.
Pas ijab kabul, suara Bara gemetar. Tapi lancar. Sekali tarikan napas, sah.
Dan yang paling bikin aku kaget, di barisan tamu, ada Dion. Duduk paling belakang. Pakai batik. Senyum. Dia beneran datang, kayak janji dia ke Bara. Dia datang sebagai "Om".
Pas salaman, Dion salaman sama Bara, terus salaman sama aku. Salaman yang lama dikit.
"Selamat ya, Cha," katanya pelan. "Akhirnya kamu nikah beneran. Bukan nikah siri."
Aku senyum. "Makasih, Om," jawabku, ikutin peran kita.
Bara yang denger itu ketawa. Dia bisikin ke aku, "Om itu sebenarnya suami pertama kamu ya?"
Aku langsung cubit tangan Bara. "Mas!"
Bara ketawa. Dion ketawa. Kita bertiga ketawa. Ketawa yang cuma kita bertiga yang ngerti artinya.
Malam pertama mereka nggak ngapa-ngapain, capek.
Habis akad, habis resepsi, habis foto-foto sama ratusan tamu, badan rasanya remuk. Aku rebahan di kasur, masih pakai make up. Bara rebahan di sebelahku, masih pakai jas.
"Sayang, kita tidur aja ya?" kata Bara.
"Iya Mas, tidur aja," jawabku. "Besok aja kita..."
Bara ngangguk. Dia peluk aku dari belakang. Pelukan yang tenang. Bukan pelukan yang buru-buru. Pelukan suami yang tau istrinya capek.
Dan aku tidur. Tidur paling nyenyak setelah berbulan-bulan deg-degan.
Malam ke 3 juga di kapal, jadi bulan madunya sambil kerja.
Ini yang paling Bara banget. Bulan madu sambil kerja. Kapal jalan ke pelabuhan seberang, kita berdua tugas. Aku di dek, Bara di anjungan.
Orang-orang di kapal pada godain kita. "Wah, pengantin baru, bulan madu di kapal!"
Aku senyum-senyum aja. Bara juga senyum.
Pas istirahat, kita ketemu di tempat biasa kita. Tempat yang dulu aku ketemu Bara buat melepas kangen, dan tempat yang dulu Dion ngintip kita dari lorong.
"Sayang," kata Bara.
"Khmm?"
"Enak ya, sekarang kita udah sah. Nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Nggak perlu takut ketahuan siapa-siapa lagi."
Aku ngangguk. "Iya Mas. Sekarang kita udah halal. Udah sah. KTP ku udah berubah. Bukan lagi yang lama."
Bara peluk aku. Pelukan lama, kayak dulu. Tapi kali ini beda. Kali ini nggak ada rasa bersalah. Nggak ada rasa takut Dion liat. Nggak ada rasa takut kontrak habis.
"Kamu bahagia nggak, Cha?" tanya Bara.
Aku natap laut. Laut yang sama yang dulu aku lewatin bareng Dion. Laut yang sama yang dulu jadi saksi aku bingung.
"Bahagia, Mas," jawabku jujur. "Bahagia banget."
Dan malam itu, di kapal, di tengah laut, aku akhirnya ngerasa...
Acha yang dulu, yang nikah siri 3 bulan, udah selesai.
Sekarang, ini Acha yang baru. Acha istrinya Bara. Yang sah. Yang tercatat. Yang nggak perlu bohong lagi.
--"Jadi gimana Bu Kapten? Udah siap?" kata Bara, sambil ngelus rambutku.
"Apa?" tanyaku, aku pura-pura nggak ngerti. Padahal aku ngerti. Aku ngerti banget maksudnya.
Bara ngelus rambutku lagi. Pelan. Kayak dia selalu lakuin tiap kita ketemu.
"Kita tidur dulu, nggak usah buru-buru, Cha," katanya.
Acha ngangguk.
Ini pertama kalinya Acha tidur bareng di kamar kapal yang cuma muat 2 orang, baju seragam rapi digantung. Kamarnya sempit, tapi rasanya hangat. Karena sekarang ini kamar kita. Bukan kamar sembunyi-sembunyi lagi.
Klek. Bunyi kunci.
Bara peluk aku lagi, aku balik peluk.
"Kangennya nggak ilang-ilang Mas!" ujarku.
"Iya, tapi sekarang udah nggak nahan, Cha, kalau sekarang-"
"Boleh Mas, boleh banget," jawabku.
Bara diam sebentar. Dia natap aku. Natapnya beda. Bukan natap yang buru-buru. Natap yang bilang, aku mau pastiin kamu beneran mau, bukan karena capek, bukan karena kasihan.
"Cha, kamu yakin?" tanyanya pelan.
Aku ngangguk. "Yakin, Mas. Karena sekarang Mas suami aku. Yang sah. Bukan pacar yang harus sembunyi-sembunyi. Bukan suami kontrak yang harus jaga jarak."
Bara senyum. Senyum lega.
"Ya udah, kita tidur dulu," katanya, sambil narik selimut. "Kamu kan capek. Aku juga capek. Kita tidur pelukan aja dulu. Yang lain, nanti kalau kita udah nggak capek."
Aku ketawa kecil. "Mas, Mas tuh ya, tadi nanya udah siap, sekarang malah ngajak tidur."
"Ya karena aku sayang sama kamu, Cha," jawabnya. "Aku nggak mau malam pertama kita di kapal ini jadi cuma karena kita buru-buru. Aku mau kamu inget malam ini sebagai malam kita tidur bareng pertama kali sebagai suami istri. Yang tenang. Yang nggak ada yang ngintip. Yang nggak ada yang harus bohong."
Aku meluk Bara makin erat. Kepala ku nempel di dadanya. Denger detak jantungnya.
"Iya Mas," kataku. "Tidur pelukan aja. Itu aja udah cukup buat aku. Setelah 3 bulan deg-degan, bisa tidur kayak gini aja udah bahagia banget."
Dan malam itu, kita tidur. Beneran tidur. Di kamar kapal yang sempit, dengan suara ombak di luar, dan lampu kapal yang redup.
Nggak ada yang buru-buru. Nggak ada yang maksa. Cuma dua orang yang akhirnya sah, yang akhirnya bisa tidur bareng tanpa rasa bersalah.
Besok pagi, pas kita bangun, Bara masih meluk aku. Dan aku masih di tempat yang sama.
Dan untuk pertama kalinya, aku bangun bukan sebagai istri kontrak. Bukan sebagai pacar yang sembunyi-sembunyi.
Tapi sebagai istri Bara. Yang beneran.
--Lanjut paginya Bara gantian sama Kapten Paloh.
Kapal udah mau sandar. Giliran Bara yang jaga. Kapten Paloh udah nunggu di anjungan, sambil ngopi.
Aku bangun duluan. Aku langsung ke kamar mandi kecil, rapiin rambut, rapiin seragam. Bara masih ngantuk, duduk di kasur, ngeliatin aku.
"Mas, benerin dulu dasinya, ntar dikira orang ngapain," bisik Acha.
Dasinya Bara miring. Bekas tidur semaleman. Kalau dia keluar kayak gitu, semua orang di kapal pasti tau kita habis ngapain semaleman. Padahal kita cuma tidur pelukan doang. Tapi mana ada yang percaya?
"Yaudah benerin dong," kata Bara, manja.
Acha benerin dasi Bara, Bara benerin kancing Acha yang atas.
Kancing seragamku yang atas kebuka satu. Mungkin karena semaleman aku gerak-gerak pas tidur. Bara benerin, pelan-pelan, sambil senyum-senyum.
"Kancingnya kenapa bisa kebuka, Cha?" goda Bara.
"Mas! Bukan karena apa-apa! Karena aku tidur aja gerak-gerak!" kataku, mukaku langsung merah.
Bara ketawa. "Iya, iya, aku percaya. Tenang aja."
Kita berdua ngaca di kaca kecil di kamar kapal. Seragam rapi. Dasi rapi. Kancing rapi. Udah kayak bukan pengantin baru lagi. Udah kayak dua kru profesional.
"Udah, ayo keluar. Ntar Kapten Paloh nungguin," kataku.
Bara narik tanganku. "Tunggu."
"Apa lagi, Mas?"
Dia peluk aku sebentar. Pelukan pagi yang singkat. Pelukan sebelum kerja.
"Selamat pagi, istriku," katanya.
"Selamat pagi, suamiku," jawabku.
Kita keluar. Kapten Paloh langsung liat kita. Senyumnya lebar banget.
"Wah, pengantin baru nih. Muka nya seger-seger ya. Tidur nyenyak ya semaleman?" godanya.
Aku langsung nunduk, pura-pura sibuk cek daftar penumpang. Bara yang jawab, santai.
"Nyenyak, Kapten. Soalnya nggak ada yang ganggu. Nggak ada yang ngintip dari lorong," katanya, sambil ngelirik aku.
Aku langsung cubit pinggang Bara dari belakang. Bara ketawa.
Dan pagi itu, kapal jalan lagi. Bara di depan, aku di belakang. Seperti biasa. Tapi kali ini, setiap kali aku lewat anjungan, Bara selalu nyapa.
"Bu Kapten, udah sarapan?" katanya, pura-pura formal di depan kru lain.
Aku jawab, juga pura-pura formal. "Udah, Pak Kapten."
Tapi di dalam hati, kita berdua tau. Formal-formalan itu cuma buat nutupin kalau semaleman kita baru aja tidur bareng pertama kali sebagai suami istri yang sah.
Dan itu udah cukup buat bikin seharian ini jadi hari paling bahagia di kapal.
---