Gila? Iya. Gila banget.
Tapi yang lebih gila, aku malah ngangguk waktu itu.
Dua hari menjelang nikah, ibuku kabur. Bukan kabur karena takut, tapi kabur karena cinta lamanya datang lagi. Dion, 38 tahun. Pengusaha. Tampan, tenang, dan... lebih muda dari ibuku.
Aku yang harusnya jadi saksi, malah jadi pengantin pengganti.
"Sebagai gantinya kamu harus nikah denganku!"
Aku kira dia bercanda. Ternyata enggak.
Dan sekarang aku di sini. Di apartemen miliknya. Kamarnya satu, tapi besar. Terlalu besar untuk dua orang asing yang terikat kertas kontrak 3 bulan.
"Cuma tiga bulan kan?" tanyaku, suaraku gemetar. Koperku masih di depan pintu, belum berani aku buka.
Dia ngangguk. "Iya."
"Tujuan dari awal apa sih, nikah kontrak gini?" tanyaku lagi. Aku butuh alasan. Aku butuh sesuatu yang masuk akal, karena semua ini tidak masuk akal sama sekali.
Dia menghela nafas panjang. Lama. Sampai aku kira dia tidak akan jawab.
"Sayang..."
Aku langsung melotot. "Eh?! Jangan panggil aku sayang!"
Dia malah senyum tipis. Senyum lelah yang anehnya... bikin jantungku ketuker ritme.
"Bukan manggil kamu," katanya pelan. "Sayang itu... kalau ibumu batal, semua bisnisku batal."
Aku diam.
"Undangan sudah disebar. Investor sudah datang dari luar kota. Keluarga besarku sudah booking hotel semua. Kalau pernikahan ini batal, bukan cuma malu. Aku bisa kehilangan proyek terbesar seumur hidupku."
Dia duduk di sofa, menatapku. Bukan tatapan genit. Tatapan orang yang putus asa.
"Aku butuh istri selama tiga bulan. Cuma untuk formalitas. Setelah proyek beres, kita cerai baik-baik. Kamu dapat uang, dapat apartemen ini kalau kamu mau. Ibumu... biar aku yang urus, biar dia tidak dikejar-kejar orang."
Dan di situ aku sadar.
Dion bukan menikahiku karena dia mau aku. Dia menikahiku karena dia tidak punya pilihan lain. Sama sepertiku.
"Terus... kenapa harus aku? Kenapa nggak cari orang lain aja?" tanyaku.
Dia menatapku lama. Terlalu lama.
"Karena cuma kamu yang mirip ibumu," jawabnya. "Nama di undangan, foto di undangan... masih bisa aku atur. Tapi wajah pengantinnya... orang-orang tidak akan terlalu memperhatikan kalau dari jauh. Apalagi kamu pakai hijab dan make-up pengantin."
Aku merinding. Jadi aku ini cuma... pemeran pengganti?
"Jadi aku ini cuma badut?" bisikku.
Dion berdiri, jalan ke arahku. Aku mundur selangkah. Dia berhenti, menjaga jarak.
"Bukan badut," katanya. "Kamu penyelamatku. Dan setelah tiga bulan, kamu bebas. Aku janji, aku tidak akan menyentuhmu tanpa izinmu. Kamar ini besar, tapi ada sekat. Kamu tidur di kasur, aku tidur di sofa. Oke?"
Aku mengangguk pelan, air mataku jatuh tanpa permisi.
Tiga bulan. Cuma tiga bulan.
Tapi kenapa, waktu dia bilang "Sayang..." tadi, hatiku malah berharap dia memang memanggilku?
Malam pertama aku buang muka.
Bukan karena aku benci dia. Tapi karena aku takut kalau aku menatapnya terlalu lama, aku malah ketahuan... kalau aku deg-degan.
Ranjang besar itu kita bagi dua. Dia tidur di sofa seperti janjinya. Aku tidur di kasur, membelakangi dia, selimut sampai leher. Tapi semalaman aku tidak bisa tidur.
Suara AC, suara napasnya, suara jantungku sendiri. Semua kedengaran.
Hari-hari setelah itu aku habiskan di kapal. Iya, aku memang kerja di kapal jadi pramugari.
Berangkat pagi pulang sore, kadang nginep kalau rutenya jauh. Enak, jadi aku tidak perlu terus-terusan ketemu Dion di apartemen itu. Karena jujur, semakin lama di dekatnya, semakin susah pura-pura benci.
Pagi itu rapi, aku udah siap berangkat. Ya memang gitu, seragam pramugari agak ketat, tapi bukan buat goda. Itu seragam kerja. Sudah dari sananya begitu. Rok span, blazer pas badan, rambut disanggul rapi.
Aku yang di depan kaca sadar Dion ngeliatin.
Dari pantulan kaca, matanya tidak lepas. Dari rambutku sampai ke ujung sepatuku. Lama.
"Jangan liat saya kayak gitu Om!" kataku, pura-pura galak. Padahal pipiku panas.
Dia malah makin jadi.
Dia berdiri dari sofa, jalan pelan ke arahku. Aku langsung pegang gagang pintu, siap kabur kalau dia macam-macam.
"Om?" ulangnya, senyumnya miring. Senyum yang bikin aku pengen lempar tas ke mukanya, tapi juga pengen... ah, enggak. Enggak boleh mikir gitu.
"Kamu itu istriku," katanya pelan. "Walaupun kontrak. Masa manggil Om?"
"Terus manggil apa? Mas? Bapak? Pak Dion yang terhormat?" Aku ngelirik sinis.
Dia ketawa kecil. Ketawa yang pertama kali aku dengar semenjak nikah kemarin. Ternyata ketawanya... enak didengar.
Dia ngambilin tas kerjaku yang jatuh di lantai, terus nyodorin ke aku.
"Udah, berangkat. Nanti telat," katanya. "Tapi sebelum berangkat..."
Dia benerin kerah blazerku yang agak miring. Tangannya cuma sekilas kena leherku. Sekilas doang. Tapi kenapa rasanya kayak kesetrum?
"Kerahnya miring," katanya. Suaranya tiba-tiba pelan banget. "Pramugari kapal paling cantik di seluruh pelabuhan ini, masa kerahnya miring."
Aku bengong. "Bapak gombal ya?"
"Bukan gombal," dia jawab sambil buka pintu buatku. "Fakta."
Aku langsung lari keluar. Setengah lari, setengah kabur. Di lift aku pegangin dada. Ya Tuhan. Ini baru hari ke tiga. Kontraknya tiga bulan.
Kalau tiap pagi diginiin terus, aku yang habis duluan, bukan kontraknya.
---Nah ini yang Dion nggak tau.
Aku punya pacar di kapal. Dan hari itu aku nggak pulang selama 2 hari, rutenya jauh.
"Sayang?"
"Mas, kangen!"
Dia kapten muda di kapal. Idaman pramugari lain. Kita backstreet, nggak ada yang tau. Makanya kalau ketemu ya gitu, kita pelukan lama. Lepas rindu. Cuma pelukan. Karena di kapal semua mata ngeliatin, jadi pelukan 10 detik itu rasanya kayak 10 jam.
Namanya Bara. Kapten Bara. Kalau senyum, semua pramugari meleleh. Tapi dia cuma senyum begitu ke aku.
Sore itu aku pulang. Capek, rambut agak lepek, seragam udah nggak serapi pagi. Aku lagi nunggu taksi di depan pelabuhan, sambil mikir, "Dion lagi ngapain ya di apartemen? Makan apa dia?"
Betapa kagetnya aku liat Dion di pelabuhan.
Dia berdiri nyender di mobil hitamnya. Kemeja putih digulung sampai siku, kacamata hitam, muka datar. Kayak orang lagi syuting iklan mobil.
"Om ngapain?!" Aku kaget setengah mati.
Tanpa basa-basi Dion menarik tanganku pelan ke mobil.
"Masuk!"
Saat aku mau masuk pintu belakang, Dion langsung buka pintu depan. "Depan," katanya singkat.
Di mobil Dion nggak tau apa-apa soal aku yang punya pacar. Dia nggak tau tadi aku habis pelukan sama Bara di dek kapal sebelum turun. Dia nggak tau 2 hari ini aku chat-an sama Bara sampai ketiduran.
Tapi tatapannya itu loh beda.
Biasanya tatapannya datar, kayak bos ke karyawan. Sore ini tatapannya... tajam. Kayak lagi nahan marah, tapi nggak tau marah ke siapa.
"Om kok bisa di sini?" tanyaku, coba mencairkan suasana. "Kan aku bilang rutenya 2 hari."
"Aku tau," jawabnya, matanya tetap ke jalan. "Makanya aku jemput. Dua hari kamu nggak ada kabar. HP mati."
"HP-ku lowbat, terus sinyal di tengah laut jelek, Om."
Diam.
Mobilnya jalan pelan, tapi hawa di dalam mobil panas. Bukan panas AC. Panas auranya dia.
"Om marah ya?" Aku ngelirik.
Dia nggak jawab. Malah tangannya yang satu megang setir, yang satu lagi... tiba-tiba ngambilin tas kerjaku dan naruh di pangkuannya. Seolah-olah tas itu berat dan dia nggak tega aku yang bawa.
Terus dia ngelirik ke leherku. Sekilas. Cepat banget. Tapi aku tau dia liat.
Aku langsung pegang leherku. Ya Tuhan. Jangan-jangan ada bekas... Tadi Bara sempat nyenderin dagunya di bahuku lama. Apa ada bekasnya? Aku panik sendiri.
"Kamu kenapa?" tanya Dion.
"Ng... nggak apa-apa. Gatel. Digigit nyamuk kapal," jawabku ngasal.
Dion ngangguk pelan. Tapi rahangnya mengeras. Dia tau aku bohong. Aku tau dia tau aku bohong.
Sampai di apartemen, dia bukain pintu mobil buatku. Biasanya dia langsung masuk duluan. Kali ini dia nungguin aku jalan duluan, terus dia jalan di belakangku, dekat banget. Kayak ngawal.
Begitu pintu apartemen ketutup, dia baru ngomong.
"Besok kamu libur, kan?"
"Iya, libur sehari."
"Bagus," katanya. "Kita perlu ngomong. Soal aturan baru."
"Aturan apa?"
Dia menatapku. Tatapan yang tadi di mobil, sekarang lebih jelas.
"Aturan kalau istriku pulang, dia harus kabarin suaminya. Walaupun kontrak."
Jantungku... duh. Kok malah deg-degan? Padahal dia cuma ngomongin aturan kontrak.
Tapi kenapa rasanya kayak cemburu?
---Paginya ternyata Dion ngajak aku ke lingkaran dunia kerjanya.
Bukan ke kantor biasa. Ke acara gathering perusahaan. Yang isinya investor, partner bisnis, semua orang penting yang kemarin datang ke nikahan kita.
Aku disuruh makai gaun yang dia beli.
Gaunnya... ya Tuhan. Gaun satin warna maroon, lehernya agak terbuka, belakangnya... aduh. Cantik banget, tapi bikin aku malu sendiri. Bukan gaun yang biasa aku pakai. Ini gaun istri pengusaha.
Aku keluar dari kamar mandi, masih berusaha nutupin leherku pakai rambut.
Dia tau ada bekas merah di leherku.
"Biarin aja keliatan!" katanya, santai banget sambil benerin jam tangannya.
"Hah?" Aku bengong.
"Itu saya yang bikin!" katanya lagi, lebih santai, tapi matanya ngunci mataku.
"Hah?!" Aku makin bengong. Jantungku mau copot. Kapan dia bikin? Perasaan semalam aku tidur sendiri, dia tidur di sofa...
Ternyata Dion mancingnya pinter banget.
Dion tau aku pulang dari kapal ada bekas itu, tapi bener-bener kecil, nggak keliatan kalau nggak diperhatiin banget. Dia cuma nebak. Dan aku... keceplosan.
Karena pas dia bilang "Itu saya yang bikin", mukaku langsung merah padam. Panik. Ketahuan banget kalau aku lagi nutupin sesuatu.
"Om... Om ngawur," kataku, suaraku kecil.
Dion jalan mendekat. Pelan. Dia ngangkat rambutku ke satu sisi, sampai leherku keliatan jelas. Bekas kecil itu... aduh, keliatan.
Jari telunjuknya nyentuh pelan di situ. Bukan kasar. Cuma nempel sebentar.
"Kecil," katanya. "Tapi kalau orang jeli, keliatan."
Aku nahan napas. "Jadi... Om tau?"
"Aku tau kamu bohong soal nyamuk kapal," jawabnya. "Nyamuk nggak gigit bentuknya begini."
Mati aku. Mati.
Hanya saja Dion belum tau persis siapa Bara. Dia belum tau namanya, belum tau mukanya, belum tau kalau cowok itu kapten di kapalku. Dia cuma tau... ada seseorang.
Dan itu yang bikin dia makin... beda.
Di acara itu, semua orang nyapa kami sebagai pasangan baru. "Wah, pengantin baru, mesra banget ya, masih ada tandanya," kata salah satu tante-tante investor sambil ketawa, ngelirik leherku.
Aku mau pingsan di tempat.
Dion, tanpa ragu, langsung merangkul pinggangku. Rangkulan yang dulu nggak pernah dia lakuin. Rangkulan posesif.
"Iya, maaf tante," katanya sambil senyum, tapi tangannya makin erat. "Istri saya masih malu-malu. Makanya saya yang nakal."
Semua orang ketawa. Aku? Aku cuma bisa senyum kaku.
Di mobil pulang, aku akhirnya meledak.
"Om! Kenapa Om ngaku-ngaku kayak gitu?! Itu bukan Om yang bikin!"
Dion nyetir, matanya lurus ke depan. "Terus siapa?"
Aku diam. Kecepit.
"Kalau kamu nggak mau aku ngaku-ngaku lagi, jawab," katanya. "Siapa yang bikin tanda itu di leher istriku?"
Istriku.
Padahal kontrak. Padahal cuma 3 bulan. Tapi kenapa kata "istriku" dari mulutnya sore ini, rasanya beda banget?
"Om kita -"
Aku mau bilang, kita kan cuma nikah kontrak. Kita kan bukan suami istri beneran. Aku punya hidupku sendiri. Aku punya...
"Cuma nikah kontrak, itu sah Acha!"
Dion motong omonganku. Suaranya naik, tapi bukan bentak. Lebih kayak... frustasi.
"Kalau kamu nggak ngaku, saya akan cari tau sendiri."
Aku hampir nangis, geleng. "Jangan jangan Om, aku mohon jangan!"
Aku takut. Bukan takut Dion marah ke aku. Aku takut Dion ngapa-ngapain Bara. Dion itu orang berkuasa. Sekali dia cari tau, karir Bara bisa habis. Karirku juga bisa habis.
"Bagus, jadi siapa dia?" Dion mendekat, matanya nggak lepas dari mataku.
"Dia temen kerja aku Om."
Aku nggak mau nyebut namanya. Aku nggak akan nyebut nama Bara. Sampai kapanpun.
Dion diam lama. Lama banget. Sampai aku kira dia bakal teriak.
Tapi dia malah ngomong santai, terlalu santai.
"Baik, karena kamu ngelanggar peraturan, mulai malam ini kita tidur bareng," ujarnya santai.
"Apa maksudnya Om?"
Jantungku langsung lari maraton.
Dia seketika protes lagi soal panggilan.
"Berhenti manggil aku Om!" katanya. "Aku suamimu. Di depan orang, di belakang orang, di rumah ini. Panggil aku Dion. Atau Mas. Terserah kamu. Tapi bukan Om."
Aku bengong. "Tapi Om kan lebih tua dari aku..."
"38 bukan 68, Acha," dia motong lagi. "Aku bukan om-ommu."
Aku mau ketawa, tapi air mataku udah di ujung mata. Jadi rasanya aneh. Mau nangis, mau ketawa, mau marah, jadi satu.
"Terus tidur bareng maksudnya apa? Aku nggak mau!"
Dion nghela napas. Dia duduk di sofa, nepuk-nepuk sebelahnya, nyuruh aku duduk. Aku duduk, tapi jaga jarak. Jauh banget, sampai hampir jatuh dari sofa.
"Tidur bareng itu maksudnya di kamar yang sama, di kasur yang sama," katanya. "Bukan yang aneh-aneh. Aku nggak akan nyentuh kamu kalau kamu nggak mau. Aku janji dari awal, kan?"
Aku masih melotot.
"Tapi aku perlu ngawasin kamu," lanjutnya. "Kamu pulang 2 hari nggak ada kabar, pulang-pulang bawa tanda di leher, terus bohong. Aku nggak bisa kerja tenang kalau kayak gini terus. Jadi mulai malam ini, kasur kita bagi dua. Aku kasih bantal di tengah sebagai perbatasan. Kamu nggak boleh lewat, aku nggak akan lewat. Deal?"
Aku diam.
Bantal di tengah. Itu bukan tidur bareng. Itu kayak perang dingin pakai bantal.
"Tapi... kenapa Om... eh, Dion peduli banget sih? Kan kontrak?"
Dion natap aku. Tatapan yang tadi marah, sekarang... capek.
"Karena kontraknya atas nama aku dan kamu, Acha. Kalau kamu kenapa-kenapa di luar sana, yang disalahin aku. Kalau kamu ketahuan punya pacar, yang malu aku. Jadi ya... aku peduli."
Dia berdiri, jalan ke kamar, bawa bantal tambahan.
"Malam ini kamu tidur jam 9. Besok kamu libur, kita ngomong lagi soal temen kerja kamu itu."
Dan aku cuma bisa diem di sofa. Bantal di tengah kasur udah disiapin.
Malam pertama kita tidur satu kasur... tapi ada benteng bantal di tengahnya.
Dan sialnya, kenapa aku malah nggak bisa tidur karena penasaran, dia udah tidur atau belum?
Aku nggak bisa tidur sama sekali. Dion juga.
Kasur besar itu rasanya sempit banget gara-gara benteng bantal di tengah. Aku denger dia bolak-balik. Dia denger aku bolak-balik. Akhirnya kami nyerah.
Duduk lagi di ranjang. Berdua. Punggung nyender ke kepala kasur. Lampu tidur nyala redup. Canggung.
"Kamu ngapain aja sama Dia?" tanyanya tiba-tiba.
Ya Tuhan pertanyaan apa ini. Jam setengah 12 malam, dia nanya kayak gini?
"Cuma pelukan, ciuman nggak lebih," jawabku, jujur. Karena aku capek bohong terus. "Aku nggak pernah lebih dari itu sama Bara."
"Ko ada bekas?"
"Iya- kemarin beneran kecil ko, nggak tau ko jadi jelas gini," ujarku bingung. Aku sendiri bingung. Di kapal tadi bekasnya hampir hilang. Kok pas pulang malah makin jelas?
"Karena saya yang nambahin!" ujarnya santai.
Aku kaget.
"Om- eh Mas jangan ngarang ya!"
Dion ngaku, malam itu saat aku tidur dia yang ngelakuin. Katanya dia cuma mau... ngecek. Terus kebablasan. Terus dia nambahin bekasnya biar kelihatan, biar di acara tadi orang-orang percaya kalau kita pasangan beneran.
Aku langsung buang muka.
Bukan malu. Marah. Tanganku gemetar.
"Mas..." suaraku getar. "Aku lagi tidur. Aku nggak tau apa-apa. Mas nggak boleh kayak gitu."
Dion diam. Senyum santainya langsung hilang.
"Acha, aku..."
Hari libur bukannya enak di apartemen sendirian, Dion malah bahas kontrak.
Aku yang dari tadi main HP, mau keluar jadi bingung.
Padahal rencanaku hari ini simple banget. Tidur siang, makan mie, nonton drakor, nggak ketemu siapa-siapa. Libur kan harusnya gitu.
Tapi dari pagi, Dion udah duduk di meja makan pakai kemeja rapi, laptop kebuka, map coklat tebel di depannya. Kayak mau rapat direksi, bukan mau ngobrol sama istri kontraknya.
"Acha, sini," katanya. "Kita bahas kontrak."
Aku males-malesan jalan ke sana. Masih pakai piyama, rambut masih acak-acakan. "Kontrak apa lagi, Mas? Kan udah ditanda tangan?"
"Kontrak tambahan," jawabnya. Dia geser map itu ke aku. "Peraturan baru. Biar nggak ada lagi kejadian kayak kemarin."
Aku buka mapnya. Isinya kertas-kertas. Mataku langsung pusing.
Pasal 1: Istri wajib memberi kabar jika pulang lebih dari 1x24 jam.
Pasal 2: Istri tidak boleh bertemu pria lain tanpa sepengetahuan suami selama masa kontrak.
Pasal 3: ...
"Mas, ini apaan?" Aku ngangkat kepala. "Ini kontrak nikah atau kontrak penjara?"
Dion nggak ketawa. Muka serius.
"Kemarin kamu bilang cuma pelukan. Aku percaya. Tapi aku nggak mau kejadian itu keulang. Aku nggak mau di acara berikutnya ada lagi yang nanya soal bekas di lehermu, dan aku harus bohong lagi."
Aku mainin HP-ku di bawah meja. Jujur, aku udah pengen keluar. Pengen ketemu Bara. Tadi pagi Bara udah chat, "Ketemu yuk, di cafe dekat pelabuhan. Aku kangen." Aku belum bales. Aku bingung bales apa. Kalau aku bales iya, Dion bisa tau. Kalau aku bales enggak, Bara pasti ngambek.
"Kamu dengerin aku nggak?" Dion nanya.
"Dengerin," jawabku cepat. Padahal enggak.
"Kamu main HP terus dari tadi," katanya. Dia ngelirik HP-ku. "Chat sama siapa?"
Aku langsung kunci HP. "Nggak ada siapa-siapa. Temen kerja. Nanya jadwal kapal besok."
Dion diam. Dia tau aku bohong lagi. Aku tau dia tau. Kita berdua udah ahli dalam saling tau bohong.
"Acha," dia nghela napas. "Aku nggak ngelarang kamu keluar. Kamu mau keluar silakan. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi keluarnya sama aku. Hari ini."
Aku bengong. "Hah? Kemana?"
"Ke mana aja. Kamu mau ke mana? Mall? Cafe? Pelabuhan? Aku anterin."
Ya Tuhan. Ini suami kontrak atau tukang ngawal?
"Aku mau keluar sendirian, Mas. Aku butuh udara," kataku pelan.
Dion nutup laptopnya. "Udara di apartemen ini kurang?"
"Kurang! Karena ada Mas yang ngawasin aku terus!"
Begitu kata-kata itu keluar, aku langsung nyesel. Dion diam. Muka-nya yang tadi serius, sekarang jadi... sedih.
"Aku ngawasin kamu karena aku takut kehilangan kamu, Acha," katanya pelan. "Bukan karena aku mau ngurung kamu."
Aku yang dari tadi main HP, mau keluar jadi bingung.
Mau keluar, tapi kalau keluar sama Dion, aku nggak bisa ketemu Bara. Mau nggak keluar, aku terjebak di sini bahas kontrak yang isinya kayak aturan asrama.
Akhirnya aku berdiri. "Ya udah. Aku ikut Mas keluar. Tapi aku yang tentuin tempatnya."
"Oke. Ke mana?"
Aku senyum tipis, senyum nakal yang baru pertama kali aku tunjukin ke dia.
"Ke pelabuhan."
Muka Dion langsung berubah. Dia tau. Di pelabuhan ada siapa.
"Kenapa? Takut?" godaku.
Dion berdiri, ngambil kunci mobil. "Takut? Aku suamimu. Ngapain takut."
Aku belum siap untuk ngadepin 2 pria sekaligus, aku langsung nolak.
Aku nggak mau Bara kaget, aku masih sayang sama Bara, aku nggak mau kehilangan dia.
"Mas jangan, aku mau dirumah aja -"
Aku tau Dion itu cuma trik aku aja, tapi yang bikin merinding tatapannya itu loh. Tatapan yang kayak bilang, "Aku tau kamu mau ketemu siapa."
"Baik, kalau disini kita quality time aja," katanya.
Kenapa sih nggak kerja aja, gumamku dalam hati.
Aku mandi lama banget, aku ngechat Bara di kamar mandi biar Dion nggak tau.
"Sayang, besok aja ya ketemunya."
Bara ngerti. Aku hapus lagi chatnya, takut Dion tau.
Hampir satu jam aku berendam, akhirnya aku keluar juga pakai daster pendek, selut rumahan. Rambut masih basah, muka tanpa makeup.
Diliatin lagi.
"Bekasnya -"
"Jangan dibahas Mas, ini udah mau ilang!" potongku cepat. Aku langsung duduk jauh di ujung sofa.
Siapa yang tahan kalau seharian berduaan terus. Di apartemen yang sepi, cuma berdua, habis kejadian semalam. Canggungnya tuh sampai ke tulang.
Dion tanya lagi.
"Kamu bener kan nggak ngapa-ngapain?"
"Kamu masih prawan kan?"
JEDER.
Aku langsung diem. Kupingku panas. Ini pertanyaan apa? Ini suami kontrak nanya kayak gini?
"Mas, jangan bahas hal yang nggak pernah aku lakuin, kita cuma pelukan, ciuman udah gitu aja," jawabku, suaraku getar tapi tegas.
Dia malah makin jadi.
"Lah Mas sendiri gimana dulu sama ibu? Nginep segala? Masih perjaka nggak?" tanyaku balik. Aku kesel. Kalau dia bisa nanya kayak gitu ke aku, aku juga bisa nanya balik.
Dion malah gercep deketin mukanya. Terlalu dekat. Sampai aku bisa ngerasain napasnya.
"Masih dong? Mau coba?"
Aku langsung dorong dadanya pelan, tapi tegas. Mundur.
"Jangan gitu! Kita nikah kontrak bukan beneran," kataku. "Mas udah janji nggak akan nyentuh aku. Mas udah janji nggak akan ngomong kayak gitu."
Dion nyender di ranjang.
"Cha? Gimana kalau dalam 3 bulan ini kita nggak kuat?"
"Mas yang nggak kuat! Kalau aku sih kuat-kuat aja! Soalnya -"
"Soalnya ada cadangan di luar!" Lanjutnya, nadanya sinis.
Aku langsung panas.
"Dia bukan cadangan Mas! Jauh sebelum nikah sama Mas aku udah sama dia!" lanjutku. "Aku sama Bara itu udah lama. Mas yang datang tiba-tiba. Mas yang minta aku gantiin ibu. Jadi jangan bilang Bara cadangan!"
"Iya, tapi yang lebih berhak atas diri kamu itu Mas!" ujarnya, maju beberapa langkah.
Aku langsung berdiri. Aku mundur sampai punggungku nempel tembok. Bukan karena aku takut dipukul. Tapi karena aku takut kalau dia terus ngomong kayak gitu, aku bakal nangis lagi. Dan aku capek nangis.
"Berhak?" Suaraku gemetar. "Mas pikir karena ada surat nikah, Mas berhak atas aku?"
Dion berhenti. Dia sadar kata-katanya kelewatan.
"Cha, maksudku -"
"Enggak, Mas. Dengerin aku," aku motong. "Badan aku itu bukan milik siapa-siapa. Bukan milik Bara, bukan milik Mas, bukan milik ibu. Milik aku. Kontrak kita itu cuma kertas. Kertas itu nggak bisa beli aku."
Hening.
Dion yang tadi maju, sekarang malah mundur selangkah. Mukanya berubah. Dari yang tadinya emosi, jadi... nyesel.
"Aku nggak bermaksud bilang kamu barang, Cha," katanya pelan. "Aku... aku cuma takut. Aku takut kamu lebih milih dia. Aku takut 3 bulan ini aku kalah."
Aku natap dia. "Mas, kalau Mas mau aku milih Mas, caranya bukan dengan ngaku-ngaku paling berhak. Caranya dengan bikin aku nyaman. Bukan bikin aku takut."
Dion duduk lagi di ujung ranjang. Jauh dari aku. Tangannya mengepal, kayak nahan emosi ke dirinya sendiri.
Aku sadar aku keceplosan nyebut Bara, Dion juga sadar.
"Ohh Bara."
"Bu bukan Om, eh Mas salah denger," kataku panik. Aku langsung nutup mulutku sendiri. Telat. Udah keceplosan.
Dia condongin mukanya ke aku.
"Cha! Kita suami istri sah ya, inget."
"Kalau kamu ngelanggar peraturan lagi, saya nggak mau cuma tidur seranjang."
Aku langsung mundur. Jantungku deg-degan, tapi bukan deg-degan yang manis. Deg-degan takut.
"Mas," suaraku pelan tapi tegas. Aku nggak mau nangis lagi. "Mas barusan ngancem aku?"
Dion diam. Dia sadar omongannya udah kelewatan jauh.
"Mas dengerin ya," lanjutku, aku berdiri biar nggak kelihatan kecil di depan dia. "Nikah sah itu bukan berarti Mas bisa ngapa-ngapain aku kalau aku salah. Salahku apa? Aku nyebut nama pacarku. Itu bukan kejahatan, Mas. Itu karena aku keceplosan."
"Aku nggak pernah setuju kalau hukuman buat aku itu... tidur seranjang atau yang lebih dari itu. Aku nggak pernah setuju, Mas."
Dion yang tadi condong ke aku, sekarang pelan-pelan tegak lagi. Mukanya berubah. Dari yang tadinya emosi, jadi pucat.
"Acha, aku... aku nggak bermaksud ngancem kayak gitu," katanya, suaranya tiba-tiba kecil.
"Tapi Mas udah ngomong," jawabku. "Dan aku denger. Dan aku nggak suka."
Aku jalan ke pintu kamar. Tanganku udah pegang gagang pintu.
"Mas, kalau Mas masih mau kontrak ini jalan 3 bulan, Mas harus janji satu hal lagi," kataku, nengok ke dia.
"Apa?"
"Jangan pernah jadikan badan aku sebagai hukuman atau hadiah. Aku bukan hadiah buat Mas yang nurut, dan bukan hukuman buat Mas yang marah. Aku manusia."
Hening.
Dion natap aku lama. Lama banget. Terus dia ngangguk, pelan. Kayak orang yang baru ditampar tapi sadar dia memang salah.
"Iya," katanya. "Kamu bener. Maaf. Aku janji, aku nggak akan ngomong kayak gitu lagi. Aku nggak akan maksa kamu apa-apa."
Dia jalan mundur, ngasih aku ruang. Jauh.
"Jadi... Bara itu nama dia ya?" tanyanya, tapi kali ini nadanya bukan nginterogasi. Lebih kayak... pasrah.
Aku ngangguk pelan. "Iya. Kapten Bara. Pacar aku sebelum aku nikah sama Mas."
Dion ngangguk juga. "Oke. Aku udah tau namanya. Aku nggak akan cari-cari dia. Aku nggak akan ngapa-ngapain dia. Tapi... boleh aku minta satu hal?"
"Apa?"
"Selama 3 bulan ini, jangan ketemu dia diam-diam di belakang aku. Kalau kamu mau ketemu, bilang ke aku. Aku anterin, atau aku tungguin di luar. Asal jangan bohong."
Aku diam. Permintaannya... masuk akal. Jauh lebih masuk akal dari ancaman tadi.