-Kuabadikan cerita kecilku dalam rangkaian cerita pendek ini, berharap jika insan didalamnya akan tetap abadi, meski aku tau tidak ada yang abadi didunia ini-
Kata orang, mereka yang sudah tiada akan menjadi bintang.
Malam itu, dalam perjalanan pulang, Anila menengadah dan menemukan satu bintang yang bersinar lebih terang dari yang lain. Cantik sekali, seolah langit sengaja menyisihkan satu titik untuknya. Ia memandanginya sepanjang jalan, sementara air matanya jatuh tanpa suara.
"Kalau benar begitu," bisiknya, "berarti itu Bapak."
Dada Anila sesak. Ia berjanji dalam hati untuk mengingat malam ini baik-baik, supaya suatu hari ia bisa menuliskannya kembali.
Setibanya di rumah, ia menulis untuk Dharma, bapaknya. Bapak, aku masih belum rela. Cepat sekali rasanya. Bahkan Bapak pergi tanpa pamit. Masih banyak yang ingin ia tanyakan, banyak cerita yang ingin ia ceritakan, banyak makanan yang ingin ia coba bersama Bapak, meski mungkin tidak boleh.
Ia mengingat bagaimana Bapak dulu lebih banyak diam dan mengamati. Namun di balik diamnya, lelaki itu tahu betul apa yang dibutuhkan anak-anaknya, tahu apa tantangan mereka, dan diam-diam sudah menyiapkan jalan keluarnya. Tak pernah sekalipun ia mengeluh. Ternyata semua itu sudah Bapak siapkan sejak lama, ya? Untuk kami semua. Bapak ingin kami hidup lebih baik, ya?
"Terlambat?" batin Anila. "Mungkin bisa dibilang begitu. Tapi aku senang bisa membantu Bapak waktu Bapak membutuhkan sesuatu, meski tidak semuanya bisa terpenuhi."
Ia diam-diam menyelipkan sebuah janji dan sebuah harapan. Kalau ada kehidupan selanjutnya, berjanjilah, Pak. Hidup lebih baik lagi, ya? Penuh semangat, selalu sehat, selalu bahagia, dijauhkan dari hal-hal yang berniat buruk. Kehidupan yang lebih pantas untuk Bapak. Dan jika semesta mengizinkan, Anila ingin bertemu lagi untuk melepas rindu yang ia simpan.
"Untuk sekarang," tulisnya, "aku akan belajar ikhlas. Meski sulit, akan kuusahakan. Kalau rindu, aku kirim doa dari sini."
Keesokan paginya, Anila tiba di desa tempat Dharma dulu menjalani KKN. Semua cerita Bapak beberapa waktu lalu terasa hidup di depan matanya.
"Bapak, tempatnya cantik sekali," tulisnya. "Sama persis seperti yang Bapak ceritakan kemarin. Katanya Bapak suka mandi di sungai, ya? Iya, Pak, di sini ada sungai, dan airnya segar sekali."
Di sana ia bertemu orang-orang yang baik sekali kepadanya. Mereka menyayanginya, memperhatikannya, bahkan selalu berusaha menghiburnya. Anila bersyukur tak terkira.
Salah satunya adalah seorang pemuda yang juga bernama Dharma, sama dengan nama bapaknya. Ia punya kebiasaan yang mirip pula, yaitu suka mandi di sungai, bahkan pernah ketiduran di sana. Awalnya Anila enggan memanggil nama itu, sebab setiap kali menyebutnya, ia pasti teringat Bapak. Tapi ia pikir, ikhlas juga berarti belajar beradaptasi. Maka ia tetap memanggilnya Dharma, pelan-pelan.
"Bapak, di sini aku masih sering ingat Bapak, masih sering menangis," tulisnya malam itu. "Maaf ya, aku belum bisa ikhlas sepenuhnya. Pelan-pelan, ya. Mungkin masih perlu waktu."
Di saat-saat sedihnya, Dharma yang satu ini datang menghibur. Mereka tidak banyak berinteraksi pada awalnya, tapi ia seakan mengerti hanya dengan melihat raut wajah dan mata Anila, tanpa perlu diceritakan. Kadang ia berusaha keras membuat Anila tertawa sampai gadis itu lupa bahwa ia sedang bersedih.
"Ada ya orang sebaik itu di dunia ini?" gumam Anila pada dirinya sendiri. Ia merasa tak enak. Tiap kali Dharma pusing memikirkan sesuatu, Anila bingung harus berbuat apa dan takut malah menambah bebannya. Maka ia memasakkan makanan untuknya, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan, dengan harapan bisa meringankan pikirannya walau tidak secara langsung.
Diam-diam ia memperhatikan dan mencoba memahami perjalanan hidup pemuda itu. Ternyata tidak mudah, cacian, hinaan, pengabaian, tidak dihargai, krisis keuangan, berulang kali. Anila tak tahu dari mana energinya terisi, tapi ia selalu punya tenaga untuk mencoba lagi, seakan energinya tak pernah habis. Dharma tahu jalannya tidak mudah, namun tetap memilih melanjutkan. Anila kagum.
Suatu malam ia meminjam nama itu dan menyelipkannya dalam doa. Ia berdoa agar Dharma mendapat kehidupan yang lebih baik, dipertemukan dengan orang-orang yang lebih baik, dimudahkan rezeki, kuliah, dan skripsinya, selalu sehat dan dilindungi di mana pun ia berada, selalu tersenyum, hidupnya diberkahi cinta. Dengan siapa pun nanti, meski mungkin ujungnya bukan denganku.
"Maaf, Tuhan, kalau aku terlihat serakah dalam meminta," bisiknya. "Aku hanya ingin yang terbaik untuknya. Seperti yang ia berikan kepadaku, aku ingin Engkau membalasnya berlipat ganda. Astungkara."
Empat hari sudah sejak kepergian Bapak.
Anila selalu menunggu mimpi bertemu Dharma, tapi sepertinya belum diizinkan. Belakangan ia tidur pulas tanpa mimpi, hanya istirahat. Mungkin Tuhan tahu aku akan semakin kepikiran kalau mimpi itu datang. Ia mencoba menerimanya.
"Bapak, Anila kangen banget," tulisnya. "Kangen sekali. Kira-kira Bapak lagi apa ya di sana? Jam segini biasanya Bapak sudah mau bersiap tidur, kan? Habis makan sore, Anila yang menyiapkan obat Bapak. Atau kadang Bapak mau ke kamar mandi, lalu minta dibantu untuk berdiri biar bisa bangun, iya, kan?"
Ia tersenyum kecil di antara air matanya. "Hehe, Anila kangen kebiasaan Bapak."
Subuh itu, di halaman depan rumah, Ibu memercikkan tirtha kepada Anila. Ia melihat pamannya datang membawa truk hijau tua. Di dalamnya ada Dharma, mengenakan pakaian adat Bali putih seperti seorang pemangku, lengkap dengan udeng khasnya. Tubuhnya kaku terbungkus plastik, tapi wajahnya masih segar dan tampan seperti biasa, hanya sedikit lebih kurus. Anila sudah memegangi kepala Bapak.
Lalu semuanya berpindah. Sebuah ruangan, seperti kamar rumah sakit. Anila dan Ibu menemani Dharma di tempat tidurnya. Bapak minta duduk. Ibu memeriksa tubuhnya satu per satu dan menemukan punggungnya memerah.
"Sing sakit ne? Bek sajan barak-barak di punggung ne," kata Ibu.
"Nah, sing kenken," jawab Dharma, tenang seperti biasa.
Lalu Bapak mengangguk kepada Anila, isyarat yang selalu sama, ia ingin disuapi makanan yang sedang Anila pegang. Anila sempat bertanya-tanya dalam hati, ini benar Bapak atau bukan yaa? Meskipun Anila tau ini adalah mimpi tapi ia memilih menyuapinya. Dharma mengunyah pelan sambil memejamkan mata, seolah sedang menikmati setiap rasa.
Lalu Anila terbangun. Air matanya sudah mengalir. Ia terbangun dan menangis diam-diam dalam gelap, mungkin tak ada yang mendengar, tapi Tuhan melihatnya.
Akhirnya, keinginan kecil itu terwujud, menyuapi Bapak untuk yang terakhir kalinya.
Dulu Anila mengira rumah adalah tempat di mana ada Bapak, Ibu, dirinya, dan adik-adiknya. Anggota yang lengkap, masing-masing memerankan perannya. Begitu baru boleh disebut rumah.
Sekarang ia belajar sesuatu yang lain. Rumah bisa ditemukan dalam kesederhanaan, meski anggotanya tak lagi lengkap. Hanya Ibu, dirinya, dan adik-adiknya, namun rasanya hangat, bahkan lebih hangat dari sebelumnya.
Entahlah, tulisnya. Apakah karena sesal yang datang belakangan? Atau karena kami baru menyadari betapa berharganya kehadiran sosok yang kini kami rindukan?
Yang jelas, ruang di rumah itu tetap terasa penuh, walau jumlah penghuninya tak lagi sama.
"Aku tak tahu bagaimana menceritakan semua ini," tulisnya di akhir halaman. "Sulit, tapi harus kujalani."
Pagi-pagi sekali, Dharma datang lagi dalam mimpi.
Anila melihat Bapak tertidur tergeletak di tepi tempat tidur. Ia mencoba membangunkannya untuk membetulkan posisi tidur. "Pak, benerin tidurnya."
Dharma menjawab setengah sadar, "Ini bukan mimpi kan? Pakai baju batik?"
"Iya," jawab Anila.
"Nah, Anila apa kabar?"
Seketika tangisnya pecah. Ia langsung terbangun, dan menangis. Ternyata bapak datang untuk menanyakan kabarnya. Anila ingin menjawab, tapi ia langsung menangis dan terbangun.
Berbulan-bulan berlalu. Lalu pada suatu malam, tanpa sebab yang jelas, rindu itu datang menyerang.
"Halo, Bapak," tulisnya.
"Bapak, bagaimana kabarnya di sana? Semoga selalu sehat, bahagia, dan baik-baik saja. Entahlah, Pak, tiba-tiba aku merindukanmu."
Air matanya tak terbendung. Ia teringat tawa Bapak. "Anila kangen lihat Bapak tertawa, kangen memijat Bapak, menyuapi Bapak, memandikan Bapak, mengantar Bapak ke kantor, dinasihati Bapak, ditanya 'sudah makan atau belum?', ditanya 'sudah buat tugas atau belum?', memasak untuk Bapak, disuruh belanja keluar, dipanggil Nila. Anila kangen semuanya, Pak."
"Mungkin karena selalu Anila pendam, ya, Pak? Anila belum pernah menceritakan ini kepada siapa-siapa. Gak ada yang tahu kayaknya."
Lalu mengalirlah semua maaf yang selama ini tertahan. "Pak, maaf ya. Anila nangis lagi. Anila masih sering nangis kangen Bapak. Makin hari kiranya Anila bisa belajar mengikhlaskan, tapi nyatanya sulit sekali, Pak."
"Anila gak bermaksud bikin Bapak sedih di atas sana. Anila cuma kangen. Bapak jangan sedih ya, janji? Walaupun sulit, Anila mau belajar mengikhlaskan Bapak, biar Bapak gak sedih lihat Anila sering menangis."
"Maaf kalau dulu Anila sering malas membantu Bapak. Anila menyesal, Pak. Maaf kalau Anila sering mengecewakan. Maaf kalau belum jadi anak yang baik. Maaf kalau waktu Bapak menasihati, Anila tidak mendengarkan. Maaf, Anila pernah membentak Bapak. Anila tahu itu salah, tidak seharusnya begitu. Untuk kesalahan yang disengaja, yang tidak disengaja, yang besar maupun yang kecil, Anila minta maaf, Pak."
Tapi di sisi lain, ada rasa syukur yang hangat. "Anila juga senang pernah membantu Bapak sewaktu Bapak sakit," lanjutnya. "Meski rasanya sesak setiap kali ingat. Membantu Bapak mandi, menyusun laporan, bangun dari kamar mandi, menggendong, membersihkan, mendorong kursi roda, mengantar kontrol, mencari surat rujukan, mengantar ke kantor, menyuapi, membelikan gorengan dan jajan pasar, membelikan minuman, memakaikan baju, celana, kaus kaki, dan sandal, menyisir rambut Bapak biar rapi, menyabuni Bapak, dan semua yang pernah Anila lakukan untuk Bapak. Anila tulis di sini semuanya, mumpung ingat. Bapak tahu sendiri, kan, Anila ini pelupa. Takut kenangan itu pelan-pelan hilang."
Ia teringat saat mengajari Bapak membuat laporan lagi di laptop. "Bapak lupa ya? Hehe, gapapa, Anila yang ajarin sekarang." Teringat pula saat membantu Bapak berlatih duduk agar tulang punggungnya kuat kembali, sampai akhirnya Bapak bisa duduk lagi.
Dulu, ketika Anila kecil, Bapaklah yang mengajarinya segalanya dengan antusias, tak peduli seberapa sering ia salah. Bertahun-tahun kemudian, giliran Anila yang mengajari, sampai Bapak bisa dan ingat lagi.
"Hiks. Anila nangis lagi," tulisnya. "Entahlah, Anila bingung. Antara senang karena Bapak bisa ingat lagi, atau sedih karena Anila mengajari Bapak yang sudah semakin menua. Tapi Anila tetap ajarin Bapak sampai Bapak bisa."
Malam makin larut. Anila mengaku bahwa tiap kali rindunya datang seperti ini, ia jarang bercerita kepada orang rumah atau teman. Takut mengganggu, apalagi di tengah malam. "Jadi Anila ceritakan semuanya sama Bapak aja ya."
"Di mana pun Bapak berada sekarang, semoga selalu sehat walafiat, selamat, bahagia, dan damai. Agar jiwa Bapak tenang di atas sana."
"Anila kirim doa dari sini. Semangat, Pak."
Dan di luar jendela, entah di mana di antara awan, mungkin ada satu bintang yang bersinar paling terang malam itu.