Ayah: Sang Pemimpin telah Gugur
17 tahun. Keluarga ini berjalan, melewati berbagai rintangan yang tak ada akhirnya. Keluh kesah adalah makanan keseharianku. Sebagai bukti bahwa begitu banyaknya rintangan yang telah mereka lewati.
"...Kalau saja ayahmu dulu mau di ajak kerja di perusahaan, sejahtera hidup kita..."
Selain permasalahan ekonomi, ada juga orang yang tak memikirkan keluarganya. Padahal, dialah yang memiliki tanggung jawab besarnya. Tapi serasa di lepas begitu saja.
"...Ayahmu itu kalau ada makanan di rumah, pasti besok paginya habis..."
Beliau bekerja serabutan. Hasil yang tak bisa ditentukan atau lebih ditetapkan. Ya, kalau beliau sendiri mau... kalau nggak mau? Hasilnya seperti berdiam di dalam kamar, semua makanan di rumah di habiskan, santai di dalam sana, sementara kita yang di luar sengsara merasakannya.
Dan beliau bukan lagi pahlawanku, bukan, memang dari dulu bukan pahlawanku. Memang, tanpa beliau aku tak bisa lahir di dunia ini. Memang tanpa beliau aku tak bisa bersekolah atau hal lainnya. Tapi apa yang bisa kujadikan beliau 'seseorang' bahkan dia sendiri begitu...?
Yang pantas kujadikan pahlawan adalah ibuku. Ia melahirkan diriku di dunia ini, merawatku hingga besar, dan mengurus semuanya. Melihat beliau yg bertahan selama ini... hebat. Sungguh, di luar sana mungkin banyak yang memilih kabur atau meminta cerai, tapi beliau sendiri... ia memilih bertahan.
Selain tak ada tempat pelarian, masih ada perasaan yang masih tertinggal di sana. Di rumah kami dan rumah nenek kami nggak terlalu jauh, mungkin kalau di perkiraan, antara handil 7 dan handil 5. Mungkin akan ada yang bilang,
"Kenapa nggak minggat ke rumah nenek aja?"
Hei, nggak semudah itu. Di sana juga sama halnya seperti kami, tapi kalau di sandingkan mungkin di sana yang lebih sengsara. Yang berjuang adalah ya, seorang ibu untuk keluarganya sendiri, lagi dan lagi, sementara yang lain sulit untuk berkontribusi.
Maka hal itu, ibuku memilih bertahan, 'sedikit lagi?' Di luar sana, ada seorang teman ibuku yang tahu begitu sulitnya hidup kami. Teman ibuku pun menyuruh ibuku untuk bercerai,
"...kenapa nggak cerai aja? Di luar sana masih ada lho cowok lain yang lebih baik..."
Dan ibuku hanya membalas senyum kecilnya. Perih... rasanya perih. Aku sebagai anaknya, mungkin kalau jadi beliau juga nggak akan tahan lama. 17 tahun. 17 tahun hidup menderita, beribu rintangan yang beliau lalui.
"Ciee, yang keluarganya keluarga cemara~"
Kalimat yang pernah kudengar dari teman sekolahku dulu. Dan... aku mulai berpikir.
"...apa ini yang di sebut keluarga cemara?"
Hidup susah, makan susah, terutama perekonomian yang entah sudah larut kemana. Bekerja serabutan memang tak selalu bisa di harapkan, terutama pada seseorang yang seperti sudah lepas dari tanggung jawabnya.
"...kalau akhirnya begini kenapa menikah? Kenapa seperti lepas tanggung jawab? Cinta bukan solusi, janji apa yang diikrarkan? Hal apa yang membuat ibuku yakin, dia pria yang tepat?"
Banyak pertanyaan yang tak sanggup aku berikan pada ibuku, aku takut. Takut mengenai hatinya atau rasa penyesalannya. Ibuku menikah di saat umurnya masih muda, yang seharusnya kalau menolak untuk menikah dengan ayahku, beliau akan hidup lebih baik, membantu nenek dan menemukan pria yang jauh lebih baik dari ayahku.
Aku tak masalah tak lahir di keluarga itu. Asal hidup ibuku sejahtera. Sungguh, kalau ada keajaiban yang dimana, lebih pilih uang miliaran atau keluar dari pintu itu dan kamu tak lahir dari keluarga itu, aku lebih milih opsi kedua.
Tapi mustahil ada keajaiban seperti itu, semua sudah jadi bubur dan sekarang berjalan dengan apa adanya...?
Mungkin, akan ada yang melihat kita 'kasihan' tapi bagaimana nggak berpikir begitu? Sang kepala keluarga telah lepas tangan, 'mungkin'
Di lain sisi, entah apa yang sedang ayahku pikirkan di dalam sana, apa dia memikirkan kita? Memikirkan masalah hidup? Atau hal lainnya? Aku nggak tau apa pun tentang ayahku. Karena, aku sedari dulu nggak terlalu dekat dengan beliau...
Mungkin terdengar aneh, aku yang lebih membela ibuku di bandingkan memikirkan apa yang sedang ayahku pikirkan di sana. Tapi... melihat semua sikapnya, aku ragu, ragu kalau dia sedang memikirkan keluarganya.
Kalau beliau memikirkan keluarganya, setidaknya dia tak berdiam di dalam kamar, atau makan seenaknya tanpa memikirkan orang yang ada di belakang. Atau setidaknya usaha, meski bekerja serabutan, ada teman atau orang lain yang bisa di pertanyaan perihal pekerjaan.
Apa ini yang di sebut, nggak mau usaha? Ibuku pernah menyuruh ayahku untuk bekerja di luar daerah ini, emang kesannya di situ santai dan bercanda, di bawa serius pun ayah akan kesal, haha.
Dan apa yang ayahku balas? Alasannya kangen anak atau nggak mau. Orang yang mau usaha, memang harus berpisah dari keluarganya. Kan masih ada ponsel, atau setidaknya pulang sekali gitu. Huh, memang sulit menyuruh beliau satu itu.
Bila ada uang hasil kerjanya pun, selalu dia yang dapat banyak, sementara ibuku? Dapat sisanya. Hal yang paling aku benci dari ini. Bila dapat uang, selalu di utamakan kesenangannya, bukan keluarganya. Egois. Memang nggak pantas hal ini dipertahankan.
Dari semua hal ini juga, aku takut menikah. Takut salah pilih pasangan dan berakhir sama. Walaupun kita bisa memilah dengan benar pasti akan memiliki akhir yang baik bukan? Ya, kalau takdir mau berkehendak seperti itu, bila tidak... semuanya akan kembali hancur dengan perubahan sikap seseorang sampai rasanya sulit untuk di percaya.
Walau begitu, sebenarnya ayahku memiliki banyak pengalaman hidup, tapi itu belum cukup menyadarkan hatinya. Bernasihat sana-sini, tapi melihat diri sendiri... sepertinya sulit? Sadar diri? Mungkin ada, tapi berakhir kembali ke awal.
Ah, ada satu hal yang sedikit aku takut'kan sekaligus pikirkan, bila beliau telah tiada (amit-amit) apa ada air mata untuk kepergiannya...? Apa ada rasa lega? Atau rasa sedih untuknya...? Entahlah, seperti tidak ada. Mungkin.
Ibuku terkadang bersyukur, beliau bila marah hanya main mulut bukan fisik. Sekali pun bermain fisik, mungkin aku akan maju dan... ya, membalasnya.
Oh, dan siapa yang mengurus sekolah kami dulu? Seperti dokumen atau hal lainnya? Ibuku. Yang rapat atau ambil raport? Ibuku. Semua itu Ibuku. Kalau suruh ayah... beliau nggak mau. Selalu nggak mau.
Ada satu hal masalah, beberapa bulan lalu, masalah sekolahku, orang tuaku di panggil ke sekolah, dan begitu tau ayahku langsung nyeletuk,
"...siapa yang mau ke sana? Ayah nggak mau."
Yah, lagi dan lagi, beliau nggak pernah sekali pun mengurus persuratan atau hal lainnya. Di pikir dengan memberi biaya sekolah cukup? Sangu sekolah nggak pernah di kasih lagi, uang beli buku atau pendaftaran aja susah. Kalau begitu maunya gimana ya?
Kini, aku berhenti sekolah karena muak dan sudah malas untuk bersekolah. Ekonomi terus terombang-ambing di lautan lepas dan aku memilih untuk bekerja, walau untuk saat ini masih menganggur, ya mungkin pekerjaan untuk cewek lebih sulit dari pada cowok yang gampang mencari pekerjaan.
Dan di sinilah aku, menulis cerita, atau bekerja yang tiada ada gajinya atau nihil. Bukan menulis aja, aku juga menjadi konten kreator di YT mencoba mencari penghasilan yang aku bisa lakukan.
Bila aku bekerja, aku tak akan pernah mau memberikan uang hasil kerja payahku untuk pria sepertinya, mungkin akan kuringankan kalau ingin membeli hal yang positif, bila membeli sesuatu hal yang negatif, sebaiknya aku larang keras. Aku tak peduli bila di omeli, 'anak durhaka'? Atau hal lainnya. Lebih baik aku memperhatikan keluargaku, di bandingkan menghidupi beliau yang tak juga jauh dari hal negatifnya.
Sebenarnya ada banyak lagi kisah lainnya dari beliau ini. Tapi aku memilih menyimpulkan hal yang menurutmu penting.
Untuk kalian, terutama para pria, kalau kalian mau menikahi seorang wanita nantinya, sebaiknya perhatikan masalah perekonomian, cinta tak akan berguna, emang bisa di makan untuk sehari-hari? Mustahil bukan.
Aku tahu, semua pasti berawal dari hati, kepercayaan, dan aku tahu, aku masih kecil, belum memiliki pemikiran yang dewasa, tapi... sedikit memberi saran tak ada salahnya bukan?
Aku hanya tak ingin orang lain merasakan apa yang pernah ku rasakan sekarang. Penyesalan, sakit hati, kebencian, kegagalan, dan hal lainnya.
Bukan hanya para pria, para wanita juga, kalian, aku tahu kita sesama perempuan pasti tau, bila ada orang yang kita cintai, akan sulit untuk di gantikan, nggak masalah, tapi bila lanjut ke jenjang serius, kalian juga harus memperhatikan sekeliling kalian dengan serius.
"Apa pria itu pantas untuk menuntun jalanku? Apa bisa kuterima dia dengan lapang dada." dll-nya?
Sekali lagi, aku masih kecil, gadis yang entah ingin menjalankan hidupnya kemana. Pokoknya begitu ya, pilih sesuatu yang benar dan pikirkan hal ke depannya, seperti hidup yang sejahtera? Makmur? Aman dan nyaman untuk keluarga kita?
Mungkin segini cukup, aku nggak mau terdengar sok pintar atau hal lainnya. Setidaknya kalian akan tahu jalan cerita ini. Terima kasih sudah membaca sekilas cerita atau curhat dari seorang gadis yang masih abu-abu. Mungkin berbagi lebih baik bukan...? See you.
— Sedikit Catatan dari Penulis
Terima kasih sudah membaca "Keluarga Cemara, Katanya" sampai akhir.
Kalau kalian ingin membaca cerita lain dariku, aku juga sedang menggarap sebuah novel berjudul My Idol is My Desktop Shortcut.
Sebuah kisah rom-com tentang cewek badass dan cowok yang kelihatannya sempurna di sekolah, tetapi punya sisi lain yang cukup... tidak terduga.
Sampai jumpa di cerita berikutnya! 🩵